Chapter: BAB 100: Agenda Utama Universitas“Gue nggak boleh lari sekarang,” bisik Alya.Suara Alya terdengar sangat pelan di antara isak tangisnya yang tertahan. Tangannya yang gemetar menyapu air mata dingin di pipinya secara kasar.Rasa sakit hati akibat kenyataan bahwa beasiswanya hanyalah umpan palsu sempat membuat kakinya ingin berlari menjauh dari gedung mencekam ini. Namun, Alya memaksakan dirinya untuk tetap bertahan di balik celah pintu.Ingatan Alya mendadak melayang pada pesan Revan. Revan memintanya untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tetap bertahan.Alya butuh informasi. Dia harus tahu apa rencana sebenarnya dari ayah dan anak gila kuasa itu terhadap dirinya dan Revan, agar dia dan Revan bisa menyusun rencana pembalasan.Di dalam ruangan kerja yang luas itu, suara langkah kaki Iwary terdengar berjalan mendekati meja kerjanya.“Terus rencana Papa selanjutnya apa pas malam bulan purnama nanti?” tanya Vanya, menyuarakan rasa penasarannya. “Bukannya selama ini kita udah cukup dapat ekstrak darah peraknya Revan?”
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: BAB 99: Kebohongan Terbesar“Umpan beasiswa...?” bisik Alya.Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di balik embusan angin pendingin ruangan yang keluar dari celah pintu. Alya masih berdiri kaku di balik dinding, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.Dunia Alya rasanya benar-benar runtuh seketika.Ingatannya melayang kembali ke hari di mana surat penerimaan Beasiswa Penuh Universitas Cakrawala tiba di Panti Asuhan Kasih Bunda.Alya ingat betul bagaimana Ibu Panti menangis terharu sambil memeluknya erat-erat hari itu. Alya ingat bagaimana adik-adik pantinya menatapnya dengan penuh rasa bangga, menganggap Alya sebagai sosok teladan yang berhasil membuktikan bahwa anak panti miskin pun bisa sukses lewat jalur prestasi.Alya telah belajar setengah mati setiap malam. Dia mengorbankan waktu tidurnya demi mempertahankan nilai akademisnya agar beasiswa itu tidak dicabut.Namun sekarang, seluruh kebanggaan dan kerja keras yang dia bangun selama ini hancur berantakan. Semua itu ternyata hanyalah skenario palsu yan
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: BAB 98: Rahasia Sang UmpanAlya menahan napasnya rapat-rapat. Dia semakin merapatkan telinganya ke celah pintu kayu yang terbuka sedikit. Suara Dekan Iwary dari dalam ruangan terdengar begitu menuntut dan tak sabar.“Apa maksudmu, Vanya? Jangan bertele-tele kalau ngomong,” ulang Dekan Iwary dengan nada suara yang semakin keras dan kesal ketika Vanya hanya menghela napas.Terdengar suara gesekan kursi kulit mahal saat Iwary menegakkan posisi duduknya di balik meja kerja raksasa.Vanya melangkah dua tindak lebih dekat ke meja ayahnya. Suara ketukan hak sepatunya terdengar melambat, dipenuhi oleh kepuasan yang luar biasa.“Alya Senandika itu seorang Penenun Realita, Pa,” desis Vanya mantap. “Dia seorang Weaver!”Keheningan mendadak menyergap ruangan kerja dekan yang luas itu.Alya yang berada di balik pintu merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Tangan kirinya mencengkeram dinding beton yang dingin untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas.“Weaver...?” cicit Dekan Iwary pelan.Suara pria tua
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: BAB 97: Menyelinap Lebih Awal‘Nggak bisa. Mendingan Nggak ke sini. Gue harus pergi dari sini...’ pikir Alya.Tumit sepatu Alya sudah berputar setengah langkah di atas lantai marmer yang dingin. Ketakutan yang melumpuhkan membuatnya ingin segera memutar balik tubuhnya dan berlari kencang menuruni anak tangga lantai tiga Gedung Rektorat.Alya sekali lagi menatap papan kuningan di dinding: RUANG KERJA DEKAN - PROF. DR. IWARY.Nama itu terasa seperti nama seorang algojo di dalam kepalanya.Ingatan Alya mendadak tertuju pada tatapan mata Revan di bawah pohon beringin tadi. Pria itu menyuruhnya tetap tenang melalui tatapan mata, tapi melangkah masuk ke ruangan ini rasanya seperti berjalan secara sukarela menuju tiang gantungan.Namun, sebelum kakinya sempat melangkah lari ke arah tangga utama, sebuah suara dari balik belokan lorong mendadak menghentikan gerakannya.Tuk. Tuk. Tuk.Irama ketukan sepatu hak tinggi itu terdengar sangat familiar, melangkah mantap di atas lantai marmer. Vanya sedang berjalan menyusuri loron
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: BAB 96: Pemanggilan Rektorat‘Gue harus tahan. Gue nggak boleh kepancing,’ pikir Alya.Alya masih berdiri mematung di tengah koridor Fakultas Sastra. Bahu kanannya masih terasa ngilu dan panas akibat cengkeraman keras Vanya dan tekanan Cincin Segel wanita itu.Suara tawa angkuh Vanya dan dua pengikutnya perlahan-lahan menghilang di ujung lorong.Alya menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya, mengusap bekas cengkeraman Vanya di kemeja flanel kusamnya dengan tangan gemetar.Ancaman Vanya yang dibisikkan di telinganya tadi masih bergaung sangat jelas, meneror pikirannya.'Nikmatin sisa-sisa hari tenangmu di kampus ini, Alya.'Alya menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa perih. Dia menundukkan kepalanya lebih dalam, memaksakan kakinya melangkah masuk ke dalam ruang kelas.Sepanjang jam perkuliahan, Alya mempertahankan aktingnya, berpura-pura menjadi mahasiswi lemah dan ketakutan di depan dosen dan teman-teman sekelasnya.Dua hari berlalu sejak ancaman Vanya di koridor itu. Dua hari pula dia tidak be
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: BAB 95: Topeng Sang Penenun“ALYA?! YA TUHAN, ALYA?!”Jeritan histeris Rini memecah keheningan subuh di kamar asrama nomor 204. Botol minum yang sedang dipegang Rini terlepas begitu saja dari tangannya, jatuh menghantam lantai keramik dengan bunyi brak yang nyaring.Rini berlari menerobos ruangan, langsung menerjang dan mencengkeram kedua bahu Alya dengan sangat kuat. Matanya yang sembab menatap wajah Alya dengan campuran antara rasa tidak percaya, marah, dan kepanikan yang membuncah.“Lo dari mana aja selama empat hari ini, hah?!” bentak Rini. Suaranya pecah, air mata langsung meluncur deras membasahi pipinya. “Gue nyariin lo ke seluruh kampus! Gue melabrak Revan! Gue pikir lo udah mati diculik Vanya!”Rini mengguncang-guncang tubuh Alya dengan gemetar hebat, memeriksa sekujur tubuh Alya untuk memastikan sahabatnya itu tidak terluka parah.Alya menelan ludah dengan susah payah. Hatinya seperti diiris-iris melihat Rini yang menangis histeris karena mencemaskannya. Namun, mengingat instruksi Revan di loteng tadi,
Last Updated: 2026-09-03
Chapter: Bab 131: Pengungkapan Jati Diri (2)"Mereka bilang aku dibuang. Berarti itu tidak benar?"Suara Emily terdengar sangat lirih. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tentang semua asal-usul dirinya. Ditatapnya kalung bulan sabit yang kini terasa sangat berat di telapak tangannya.Bayangan masa kecilnya di kediaman Fitzwilliam yang penuh dengan aroma asap rokok dan tumpukan kartu judi mendadak melintas di benaknya bagaikan mimpi buruk yang tidak berkesudahan."Itu tidak benar. Kau tidak dibuang oleh kami, Emmeline. Kau dirampas dari kami," ralat Adrian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.Emily tertawa pahit di sela isakannya. "Jasper selalu bilang aku adalah anugerah karena mereka tidak memiliki anak. Ternyata, aku hanyalah perhiasan yang dia curi agar bisa hidup mewah di Ashwood."Adrian terdiam. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu. Ditatapnya Emily lalu menghela napas pelan.“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya lirih.Emily menoleh. “Apa itu?”"Aku sengaja pergi ke Ashwood beberapa
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Bab 130: Pengungkapan Jati Diri (1)Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Bab 129: Kepulangan“Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Bab 128: Depresi Sang Marquess"Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Bab 127: Hukuman untuk Pengkhianat“Pelayan! Pastikan Alice mengemasi barangnya dan cepat pergi dari mansion ini!”Teriakan Lucien yang menggema itu membuat para pelayan serta merta masuk ke dalam kamar tersebut.“Prajurit! Awasi Alice! Pastikan dia keluar dari mansion ini sekarang juga!Setelah meneriakkan itu, Lucien berjalan cepat keluar dari kamar itu. Dia mengabaikan Sterling dan juru tulis lainnya yang tergopoh-gopoh mengikutinya.“Tuan, apa rencana Anda selanjutnya?” tanya Sterling mensejajari langkah Lucien yang lebar.“Aku ingin ke suatu tempat, Tuan Sterling,” sahut Lucien lalu segera berjalan cepat dan Sterling hanya menganggukkan kepalanya.Dengan kemarahan yang memuncak, Lucien keluar dari mansion itu lalu segera menaiki kudanya yang masih ada di depan mansion.Dipacu kudanya dengan cepat tanpa memedulikan para pengawal dan prajuritnya yang tampak kebingungan melihat majikannya yang sangat murka. Mereka hanya mengikuti Lucien tanpa berani berspekulasiLucien berkuda menuju suatu tempat kumuh. Perjalanan mem
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Bab 126: Pencabutan Gelar“Kau dan orang tuamu benar-benar lintah!” maki Lucien kasar.Dari sudut matanya, dia melihat Duke Harrington yang mencoba untuk kabur melalui pintu balkon yang terbuka ketika pengawal lengah."Kau mau lari ke mana, Harrington? Seorang Duke biasanya melangkah dengan dagu terangkat, bukan merangkak seperti tikus got yang ketahuan mencuri keju!"Suara bariton Lucien memotong langkah Duke Harrington.Lucien kini berdiri tegak di tengah ruangan. Tatapannya tidak lagi tertuju pada Alice, melainkan pada pria yang telah mengotori kehormatan rumah tangganya."Montague, jaga bicaramu! Aku adalah seorang Duke, pangkatku jauh di atas Marquess sepertimu!" raung Harrington sembari mencoba menggertak meski lututnya bergetar.Lucien tertawa sangat meremehkan dan dingin. Dia melangkah maju dengan gerakan yang tenang namun mematikan, memperpendek jarak di antara me
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: PromoTerima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca cerita ini. yuk ramaikan cerita aku yg lain. judulnya Istri Gadai Marquess Kejam. Dan ada satu lagi judulnya Kakak Tingkatku Ternyata Pangeran Berdarah Perak dengan genre fantasi dan Young Adult. Terima kasih yaaa. semoga kalian sehat selalu.
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 172: Warisan Kasih Sayang“Ivan! Kamu beneran mau naruh ide kampanye semulus ini di meja Direktur? Ini tuh terlalu kalem, nggak ada gigit-gigitnya! Kamu denger nggak sih?”Suara Alea melengking di tengah hiruk pikuk ruang divisi kreatif Arrazka Media. Gadis itu melemparkan map draf ke meja kerja Kaivan dengan bunyiplakyang cukup keras.Beberapa staf lain hanya melirik sekilas, sudah terbiasa melihat "anak magang" bernama Ivan itu menjadi sasaran empuk omelan Alea yang terkenal tanpa filter.Kaivan mengangkat kepalanya, membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum tenang.“Justru itu intinya, Al. Kita nggak perlu teriak-teriak buat narik perhatian audiens. Kadang, pesan yang disampaikan dengan lembut jauh lebih masuk ke hati daripada yang maksa.”Alea mendengus, ia menarik kursi di samping Kaivan dan duduk dengan gaya serampangan. “Lembut itu buat lagu n
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 171: Jejak yang Terhapus“Selamat datang di rumah, Jagoan. Inggris beneran bikin kamu tambah tinggi ya?”Suara lembut Savita menyambut Kaivan tepat saat pemuda itu melangkah masuk ke ruang tengah rumah besar keluarga Arrazka. Savita berdiri dengan anggun, mengenakan tunik sutra berwarna pastel.Wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa, meskipun garis-garis usia mulai terlihat halus di sudut matanya.Lima belas tahun telah berlalu sejak badai besar itu, dan Savita telah menjelma menjadi salah satu pemimpin media paling berpengaruh di negeri ini setelah berhasil mengambil alih dan melakukanrebrandingtotal Janardana Media Grup menjadi Arrazka Media.Kaivan tersenyum lebar. Diletakkan koper kabinnya dan langsung memeluk ibunya erat-erat. Tubuh Kaivan kini menjulang tinggi, melampaui tinggi Savita.“Kangen banget sama masakan Mama. Di sana cuma makan roti sama past
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 170: Janji di Balik Kelopak Bunga“Vita, kamu liat mawar putih yang baru mekar di pojok sana? Baunya enak banget, persis kayak parfum yang sering kamu pakai dulu.”Suara Dimas terdengar lembut saat berjalan perlahan di samping Savita menyusuri taman belakang rumah keluarga Arrazka.Sore itu, matahari tidak terlalu terik, sinarnya yang keemasan menyapu ribuan kelopak bunga yang sengaja ditanam oleh Ami dan Maia untuk merayakan kembalinya kehidupan di rumah ini.Taman yang dulu sempat terbengkalai kini berubah menjadi lautan warna-warni yang menyegarkan mata.Savita menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam.“Iya, Dim. Tante Ami pinter banget milih bibitnya. Aku nggak nyangka rumah ini bisa sehidup ini lagi. Dulu... tiap kali aku liat jendela, yang ada cuma bayangan tembok tinggi.”“Sekarang nggak ada lagi tembok yang ngurung kamu, Vita,” sahut Dimas.Pria itu berdiri tepat di hadapan Savita, menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu. Penuh dengan ketulusan yang mu
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Bab 169: Pulang ke Hati Mama“Maaf, Bu Gita. Berdasarkan verifikasi data di KUA dan catatan sipil, pernikahan Anda dengan Pak Mahendra Janardana dinyatakan tidak sah secara hukum. Anda tidak memiliki hak wali atas aset apa pun.”Suara Bastian terdengar datar di dalam ruang pertemuan kantor hukumnya. Gita, yang duduk di seberang meja dengan wajah pucat dan tanpa riasan, tampak seolah baru saja disambar petir.Dia tidak lagi mengenakan perhiasan mewah. Dia hanya mengenakan blus katun yang sudah mulai kusut dan tas yang sudah kusam.“Nggak mungkin! Kami punya buku nikah! Kami punya saksi!” teriak Gita.Suaranya melengking putus asa hingga memicu isak tangis bayinya di dalam kereta dorong.Bastian menyodorkan sebuah dokumen hasil investigasi forensik kepolisian.“Buku nikah itu dokumen palsu yang dipesan Mahendra. Saksi yang hadir saat itu orang bayaran,” ucap Bastian. “Mahendra sengaja melakukannya agar dia nggak perlu membagi sepeser pun hartanya jika suatu saat Anda menuntut cerai.”Gita merosot di kursinya. Air m
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Bab 168: Fajar Setelah Badai“Pa, lihat ke depan. Jangan nunduk lagi. Dunia harus lihat kalau Papa sudah bebas.”Suara Savita terdengar lembut saat menggandeng lengan Bagas Arrazka tepat di depan gerbang besar Lembaga Pemasyarakatan. Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah, seolah ikut merayakan keadilan yang akhirnya menemukan jalan pulang.Bagas, yang mengenakan kemeja katun rapi pemberian Savita, menghirup napas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca menatap hamparan aspal dan pepohonan di luar tembok penjara yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.“Rasanya kayak mimpi, Vita. Papa pikir Papa bakalan mati di dalam sana sebagai pecundang,” bisik Bagas, suaranya parau menahan haru.“Papa bukan pecundang. Papa itu pahlawan buat aku,” sahut Savita sambil mengeratkan gandengannya.Di belakang mereka, Bastian dan Bagus tersenyum lebar. Bastian baru saja menyelesaikan urusan administrasi pembebasan Bagas setelah Mahkamah Agung mengabulkan Peninjauan Kembali.Nama Bagas Arrazka resmi dibersihkan dari segala tuduhan
Last Updated: 2026-05-01