Chapter: Bab 51: Terpesona Sepenuhnya"Perhatikan temponya, Lucien! Musiknya semakin cepat, seolah-olah penari itu sedang mengejar waktu yang hilang!" seru Alice dengan gembira yang dipaksakan.Dia berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.Lucien Montague tidak menjawab. Dia bahkan seolah tidak mendengar suara Alice yang berada tepat di sampingnya.Seluruh fokusnya, seluruh jiwanya, telah berpindah ke tengah panggung yang kini menjadi medan pusaran emosi.Musik orkestra kecil di sudut teater mencapai puncak kecepatannya. Gesekan biola yang tadinya melankolis kini berubah menjadi nada-nada tinggi yang progresif dan mendebarkan.Di bawah sorotan lampu yang semakin terang, Emily menari dengan intensitas yang belum pernah ditunjukkan sebelumnya.Tubuhnya bergerak mengikuti irama drum yang menghentak, berputar begitu cepat hingga gaun sutra hitamnya berubah menjadi lingkaran bayangan memabu
Last Updated: 2026-04-02
Chapter: Bab 50: TersihirLucien Montague tidak menyahut. Ia seolah kehilangan kemampuan merangkai kata. Di hadapannya, di bawah sorot lampu yang pucat, Emily melakukan serangkaian putaran cepat yang memukau.Kain sutra hitam pekat dari gaunnya terangkat tinggi dan berkibar dengan ritme sempurna. Gerakan Emily begitu bertenaga. Namun, tetap halus. Sebuah kontradiksi yang hanya bisa dihasilkan oleh seorang penari dengan disiplin tingkat tinggi.Seluruh aula teater yang tadinya riuh mendadak hening. Ratusan pasang mata penonton, mulai dari buruh pelabuhan yang kasar hingga para bangsawan yang bersembunyi di balik jubah mereka, semua terdiam.Mereka terhipnotis oleh emosi yang dipancarkan oleh setiap lekuk tubuh Emily. Tidak ada suara denting gelas, tidak ada bisikan cabul, bahkan napas para penonton pun seakan tertahan di tenggorokan."Dia tidak hanya menari, Alice. Dia seolah sedang menceritakan sebuah tragedi yang tidak bisa
Last Updated: 2026-04-02
Chapter: Bab 49: Cahaya dan Bayangan“Bersabarlah sebentar lagi, Lucien. Lihat, lampunya sudah mulai dipadamkan,” bisik Alice sambil menyentuh lengan Lucien lembut.Dia mencoba meredam kekesalan pria itu yang sudah berada di ambang batas.Lucien mendengus di balik sapu tangan sutranya. Matanya yang hijau berkilat tajam dalam kegelapan yang mulai menyelimuti teater.“Sepuluh detik, Alice. Jika dalam sepuluh detik panggung itu tetap kosong, aku akan menyeretmu keluar dari tempat ini.”Alice hanya tersenyum dengan mata menatap lurus ke depan. Dia tahu betul bahwa sepuluh detik adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Emily muncul dan menjerat lehernya sendiri ke dalam jebakan yang telah disiapkan.Tepat saat hitungan Lucien mencapai angka kelima, suara dentuman drum besar bergema satu kali hingga menggetarkan lantai kayu teater.Seketika, seluruh lampu minyak di aula dipadamk
Last Updated: 2026-04-02
Chapter: Bab 48: Gaun ‘Janda Hitam’Emily berusaha bangkit, membersihkan debu dari jubahnya."Maaf, Jordan. Pintu belakang dijaga preman. Aku harus memanjat pipa pembuangan dan masuk melalui ventilasi atap," jawabnya serak.Jordan melebarkan matanya.bahkan dia hampir menjatuhkan lampu di tangannya. "Memanjat pipa? Kau gila! Jika kau jatuh, teater ini akan menjadi tempat pemakamanmu! Cepat, jangan banyak bicara lagi. Tirai harus dibuka dalam tiga menit!"Jordan menarik lengan Emily untuk menuntunnya menuruni tangga kayu yang berderit menuju ruang ganti utama yang sempit.Di sana, suasana sangat kacau. Para penari latar sedang sibuk membetulkan riasan dan bau bedak murahan bercampur aroma minyak lampu memenuhi udara."Jordan, aku tidak bisa memakai gaun merah itu," ucap Emily tiba-tiba. Dia menghentikan langkahnya di depan lemari kostum utama."Apa maksudmu? Itu adalah kostum ikonik 'Si Cantik Be
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 47: Pelarian Nekat"Jangan berani-beraninya kau beristirahat sebelum semua kuali ini mengkilap, Emily! Dan pastikan pintu belakang terkunci rapat setelah kereta Marquess meninggalkan halaman!"Suara Gable yang melengking memecah keheningan dapur setelah Emily kembali dari ruang makan. Wanita tua itu membanting sebuah sikat kasar ke atas meja kayu, tepat di samping tumpukan alat masak.Matanya menyipit, mengawasi Emily yang matanya sesekali menata jendela kecil saat lampu kereta kuda yang perlahan bergerak menjauh menembus gerbang utama."Baik, Mrs. Gable," jawab Emily.Tangannya masih bergerak menggosok kuali yang sudah mengilap dengan suara yang diusahakan tetap tenang. Meski begitu, jemarinya sudah dingin dan gemetar saat menggosok kuali."Bagus. Aku akan memeriksa gudang perak. Jika aku kembali dan kau masih menggosok kuali itu tanpa semangat, hukuman gudang bawah tanah kemarin akan terasa seper
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 46: Bujukan Terakhir“Lucien.” Alice berkata setengah merayu saat melihat Lucien kembali makan.Lucien menyuap supnya perlahan, seolah sedang melakukan sebuah ritual. Kuah kaldu bening itu terasa begitu kaya di lidahnya; ada rasa gurih dari ayam yang direbus lama, segarnya seledri, dan jejak rasa lada yang memberikan kehangatan instan di dadanya.Lucien harus mengakui, meski hanya di dalam hati, bahwa masakan Emily memiliki kualitas yang tidak pernah ditemukan dalam hidangan para koki profesional yang dia sewa.Masakan Emily terasa... tulus. Tidak ada teknik yang dipamerkan secara berlebihan, tidak ada hiasan yang tak perlu.Hanya rasa yang jujur, seolah seluruh perhatian si pembuatnya dituangkan ke dalam mangkuk itu.Di tengah dunia bangsawan yang penuh dengan kemunafikan dan topeng, sup ini adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagi Lucien.Namun, ketenangan itu
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 136 Angin SegarAlis Maia naik. Dia menoleh cepat pada Dimas.“Apa? dia adiknya Mas Dimas? Dia?!” tunjuknya tidak percaya pada Danang.“Heh, emang kenapa?” Danang menyipitkan mata pada Maia. Jelas tidak suka.“Aneh.” Maia menyahut. “Mas Dimas yang kalem gini punya adik nggak jelas.”“Apa kamu bilang?!” Danang mulai geram.Dimas berdehem.“Udah, udah,” ucapnya menengahi. “Ini di rumah sakit. Ada Savita. Jangan berisik kalian berdua bisa?”Danang dan Maia diam seketika.“Kamu Danang, kenapa ke sini?” tanya Dimas pada adiknya.Mata Danang yang masih memelototi Maia akhirnya menatap Dimas. “Mau tanya. Donornya Mbak Savita udah datang, Mas?”Dimas mengangguk lalu menunjuk Maia dengan telunju
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Bab 135 Kedatangan dari Inggris“Ini bukan rumah sakitnya ya?”Maia turun dari taksi. Matanya menatap lurus pada rumah sakit lalu kembali pada ponsel yang dia genggam. Sopir taksi menurunkan koper besar milik Maia itu ke sisi jalan.“Mbak kopernya.” Sopir itu menunjuk koper tersebut. Maia menoleh.“Oiya,” balas Maia. Dia mengeluarkan uang dolar dari dalam tasnya. Karena terburu-buru, dia belum sempat menukarnya di money changer. “Pak, maaf bisa pakai dollar? Saya belum sempat nukar.”Sopir taksi itu segera mengangguk saat melihat lima puluh dollar terulur dari tangan penumpangnya tersebut. “Bisa, Mbak. Nggak apa-apa.”Maia menghela napas lega. “Makasih ya, Pak.”Sopir itu mengangguk. “Mau saya bantu, Mbak bawa kopernya?”“Nggak usah, Pak.” Maia menolak. “Saya aja. Makas
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Bab 134 Hitung Mundur Organ“Dimas, organnya hatinya sudah mulai shutdown. Kita kehabisan waktu.”Laporan dari Anwar terdengar. Mereka berdiri di ruang monitor di luar ICU. Setelah insiden serangan semalam, kondisi Savita yang tadinya stabil, kini merosot tajam. Stres akibat keributan itu sepertinya menjadi pemicu bagi tubuhnya yang sudah di ambang batas.“Lakuin dialisis darurat,” perintah Dimas putus asa. “Kita harus bersihin racun dari darahnya secepat mungkin.”“Sudah kita coba, Dim,” balas Anwar dengan wajah tampak lelah sambil menunjuk layar monitor. “Tekanan darahnya terlalu rendah. Jantungnya nggak akan kuat nahan prosedur dialisis. Tubuhnya nolak. Setiap kali kita coba hubungin ke mesin, irama jantungnya kacau.”Dimas memukul meja monitor dengan kepalan tangannya, pelan. “Jadi maksudmu kita cuma bisa diam dan nonton dia mati?!”
Last Updated: 2026-02-11
Chapter: Bab 133 Serangan Malam“Suster! Ada orang mencurigakan di tangga lantai empat!”Teriakan dari seorang perawat jaga yang sedang berpatroli memecah keheningan malam di koridor ICU. Dimas, yang sedang mencoba memejamkan mata di ruang dokter yang bersebelahan dengan ICU, segera terbangun.Dimas tidak benar-benar tidur. Sejak Savita dirawat, dia tinggal di rumah sakit, hanya pulang beberapa jam untuk mandi.Dia tidak bisa meninggalkan Savita, bahkan di bawah penjagaan ketat. Firasatnya selalu mengatakan Mahendra tidak akan tinggal diam.Jika bukan karena Danang yang mengingatkannya untuk membersihkan diri dan makan, dia tidak akan pulang ke rumah. Ketika di rumah pun pikirannya tertuju pada Savita. Dia selalu khwatir meninggalkan Savita sendirian.“Kenapa sih, Mas?” tanya Ajeng saat melihat Dimas yang selalu tidak tenang jika di rumah.“Mau ke RS, Ma.&rdquo
Last Updated: 2026-02-11
Chapter: Bab 132 Panggilan ke Inggris“Halo, Maia? Ini Mama. Kamu harus pulang, Nak. Sekarang. Mbak Vita butuh kamu.”Suara Ami bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Dia berdiri di koridor rumah sakit yang sepi, setelah baru saja keluar dari ruang rapat darurat dengan tim onkologi.Para dokter memberi informasi untuk mencari donor lebih cepat. Ami dan Bagus mengajukan diri sebagai donor dari keluarga akan tetapi tim dokter menolak karena masalah usia. Lalu mereka teringat Maia. Hanya Maia yang paling aman untuk usia. Maia masih muda dan kuat.Di London, Maia Ardianti yang baru saja bangun karena perbedaan waktu, mengerutkan kening mendengar nada suara Ami.“Pulang, Ma?” ulang Maia bingung. “Ada apa, Ma? Mama kenapa? Ini masih pagi buta di sini.”“Ini… ini tentang Mbak Savita.”“Mbak Vita?” Suara Maia terdengar lebih waspada. &ldq
Last Updated: 2026-02-10
Chapter: Bab 131 Sadar di Antara Mimpi“Kaivan … jangan bawa dia… jangan ….”Rintihan lirih itu terdengar. Ami yang sedang duduk di samping tempat tidur Savita, langsung menegakkan punggungnya. Dia mendekatkan telinganya ke bibir Savita yang pucat.“Sayang? Vita? Kamu bisa dengar Tante?” bisik Ami.Mata Savita bergerak gelisah di balik kelopaknya yang tertutup. Alisnya berkerut. Keringat mulai membasahi dahinya.“Jangan, Mahen… jangan sakitin anakku…” gumamnya lagi. Kali ini lebih jelas.Dimas masuk ke dalam ruangan itu ketika Ami masih mendekatkan telinganya di bibir Savita. Berusaha mendengar ucapan keponakannya itu.“Ada apa, Tante?” tanya Dimas penuh perhatian.“Dia mimpi buruk,” kata Ami pada Dimas yang hendak melakukan pemeriksaan rutin.Dimas mendekati ran
Last Updated: 2026-02-10