Chapter: PromoTerima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca cerita ini. yuk ramaikan cerita aku yg lain. judulnya Istri Gadai Marquess Kejam. Dan ada satu lagi judulnya Kakak Tingkatku Ternyata Pangeran Berdarah Perak dengan genre fantasi dan Young Adult. Terima kasih yaaa. semoga kalian sehat selalu.
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-04
Chapter: Bab 172: Warisan Kasih Sayang“Ivan! Kamu beneran mau naruh ide kampanye semulus ini di meja Direktur? Ini tuh terlalu kalem, nggak ada gigit-gigitnya! Kamu denger nggak sih?”Suara Alea melengking di tengah hiruk pikuk ruang divisi kreatif Arrazka Media. Gadis itu melemparkan map draf ke meja kerja Kaivan dengan bunyiplakyang cukup keras.Beberapa staf lain hanya melirik sekilas, sudah terbiasa melihat "anak magang" bernama Ivan itu menjadi sasaran empuk omelan Alea yang terkenal tanpa filter.Kaivan mengangkat kepalanya, membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum tenang.“Justru itu intinya, Al. Kita nggak perlu teriak-teriak buat narik perhatian audiens. Kadang, pesan yang disampaikan dengan lembut jauh lebih masuk ke hati daripada yang maksa.”Alea mendengus, ia menarik kursi di samping Kaivan dan duduk dengan gaya serampangan. “Lembut itu buat lagu n
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-02
Chapter: Bab 171: Jejak yang Terhapus“Selamat datang di rumah, Jagoan. Inggris beneran bikin kamu tambah tinggi ya?”Suara lembut Savita menyambut Kaivan tepat saat pemuda itu melangkah masuk ke ruang tengah rumah besar keluarga Arrazka. Savita berdiri dengan anggun, mengenakan tunik sutra berwarna pastel.Wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa, meskipun garis-garis usia mulai terlihat halus di sudut matanya.Lima belas tahun telah berlalu sejak badai besar itu, dan Savita telah menjelma menjadi salah satu pemimpin media paling berpengaruh di negeri ini setelah berhasil mengambil alih dan melakukanrebrandingtotal Janardana Media Grup menjadi Arrazka Media.Kaivan tersenyum lebar. Diletakkan koper kabinnya dan langsung memeluk ibunya erat-erat. Tubuh Kaivan kini menjulang tinggi, melampaui tinggi Savita.“Kangen banget sama masakan Mama. Di sana cuma makan roti sama past
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-02
Chapter: Bab 170: Janji di Balik Kelopak Bunga“Vita, kamu liat mawar putih yang baru mekar di pojok sana? Baunya enak banget, persis kayak parfum yang sering kamu pakai dulu.”Suara Dimas terdengar lembut saat berjalan perlahan di samping Savita menyusuri taman belakang rumah keluarga Arrazka.Sore itu, matahari tidak terlalu terik, sinarnya yang keemasan menyapu ribuan kelopak bunga yang sengaja ditanam oleh Ami dan Maia untuk merayakan kembalinya kehidupan di rumah ini.Taman yang dulu sempat terbengkalai kini berubah menjadi lautan warna-warni yang menyegarkan mata.Savita menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam.“Iya, Dim. Tante Ami pinter banget milih bibitnya. Aku nggak nyangka rumah ini bisa sehidup ini lagi. Dulu... tiap kali aku liat jendela, yang ada cuma bayangan tembok tinggi.”“Sekarang nggak ada lagi tembok yang ngurung kamu, Vita,” sahut Dimas.Pria itu berdiri tepat di hadapan Savita, menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu. Penuh dengan ketulusan yang mu
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-01
Chapter: Bab 169: Pulang ke Hati Mama“Maaf, Bu Gita. Berdasarkan verifikasi data di KUA dan catatan sipil, pernikahan Anda dengan Pak Mahendra Janardana dinyatakan tidak sah secara hukum. Anda tidak memiliki hak wali atas aset apa pun.”Suara Bastian terdengar datar di dalam ruang pertemuan kantor hukumnya. Gita, yang duduk di seberang meja dengan wajah pucat dan tanpa riasan, tampak seolah baru saja disambar petir.Dia tidak lagi mengenakan perhiasan mewah. Dia hanya mengenakan blus katun yang sudah mulai kusut dan tas yang sudah kusam.“Nggak mungkin! Kami punya buku nikah! Kami punya saksi!” teriak Gita.Suaranya melengking putus asa hingga memicu isak tangis bayinya di dalam kereta dorong.Bastian menyodorkan sebuah dokumen hasil investigasi forensik kepolisian.“Buku nikah itu dokumen palsu yang dipesan Mahendra. Saksi yang hadir saat itu orang bayaran,” ucap Bastian. “Mahendra sengaja melakukannya agar dia nggak perlu membagi sepeser pun hartanya jika suatu saat Anda menuntut cerai.”Gita merosot di kursinya. Air m
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-01
Chapter: Bab 168: Fajar Setelah Badai“Pa, lihat ke depan. Jangan nunduk lagi. Dunia harus lihat kalau Papa sudah bebas.”Suara Savita terdengar lembut saat menggandeng lengan Bagas Arrazka tepat di depan gerbang besar Lembaga Pemasyarakatan. Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah, seolah ikut merayakan keadilan yang akhirnya menemukan jalan pulang.Bagas, yang mengenakan kemeja katun rapi pemberian Savita, menghirup napas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca menatap hamparan aspal dan pepohonan di luar tembok penjara yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.“Rasanya kayak mimpi, Vita. Papa pikir Papa bakalan mati di dalam sana sebagai pecundang,” bisik Bagas, suaranya parau menahan haru.“Papa bukan pecundang. Papa itu pahlawan buat aku,” sahut Savita sambil mengeratkan gandengannya.Di belakang mereka, Bastian dan Bagus tersenyum lebar. Bastian baru saja menyelesaikan urusan administrasi pembebasan Bagas setelah Mahkamah Agung mengabulkan Peninjauan Kembali.Nama Bagas Arrazka resmi dibersihkan dari segala tuduhan
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-01
Chapter: BAB 68: Bayangan di Malam Hari“Orang-orang pasti udah tidur,” bisik Alya lalu melirik jam dinding.Jam dinding di kamar asrama menunjukkan tepat pukul satu dini hari. Keheningan menyelimuti seluruh gedung.Alya berdiri mematung di dekat pintu kamarnya. Dia sudah mengganti pakaian tidurnya dengan kaus hitam lengan panjang dan jaket kusam andalannya. Tudung jaket itu ditarik hingga menutupi separuh kepalanya.Pandangan Alya beralih menatap ranjang di seberangnya. Terdengar suara napas Rini yang teratur. Teman sekamarnya itu sudah tertidur pulas akibat kelelahan.“Maafin gue ya, Rin. Gue harus pergi malam ini. Maaf kalau gue bikinm lo repot,” bisik Alya.Alya menyentuh pipi kirinya perlahan. Memar kebiruan akibat tamparan cincin Vanya masih terasa berdenyut nyeri. Namun, rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan bayangan Revan yang disiksa di ruang bawah tanah.
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-18
Chapter: BAB 66: Fakta di Balik Bilik“Kampus segede gini, Kak Revan nggak ada,” keluh Alya sembari menatap sekeliling.Tubuhnya luar biasa lelah. Telapak kakinya mulai berdenyut nyeri karena berjalan tanpa henti. Universitas Cakrawala terlalu luas, dan dia belum menjelajahi semua fakultas di kampus itu.Bahkan, dia belum makan dengan benar seharian ini karena fokusnya hanya pada Revan yang mendadak hilang.Alya merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan yang sudah sedikit lusuh.“Cuma segini. Harus irit," gumamnya pelan. "Nggak mungkin gue numpang makan pakai uang Rini terus-terusan.”Alya kembali memasukkan uang itu ke sakunya, lalu menghela napas panjang.“Gue cuci muka dulu deh. Lelah banget.”Alya kembali melangkahkan kakinya yang terasa berat. Lututnya sudah gemetar karena kelelahan.
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-18
Chapter: BAB 65 : Hari Pertama Tanpanya"Kak Revan?"Alya terbangun dari tidurnya dengan bisikan parau yang reflek keluar dari bibirnya. Dia duduk tegak dengan mata mengerjap di tengah kegelapan ruang tengah rumah kayu Revan.Dia terbangun seolah ada yang menggoyangkan tubuhnya. Namun, kenyataannya ponsel di saku jaket kusamnya bergetar hebat tanpa henti. Alya mengeluarkan ponsel itu. Layarnya yang menyala terang menampilkan nama Rini yang melakukan panggilan berulang kali.“Ya, Rin?” bisik Alya lalu memejamkan mata lagi dan menyandarkankan kepalanya di sisi sofa."Al! Lo di mana sih?! Gue kebangun mau ke kamar mandi malah lihat kasur lo kosong!" suara Rini terdengar sangat panik begitu Alya menjawab teleponnya."Rin, tenang dulu. Gue...” ucapan Alya terputus. masih memejamkan mata, dia mengerutkan keningnya mencoba mencari jawaban yang tepat, “gue lagi jalan-jalan cari angin di taman asrama bel
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-16
Chapter: BAB 64: Siksaan di Ruang Tertutup“Rin, lo lihat Kak Revan nggak?”Alya membuka pintu asrama 204 dan langsung mengatakan itu ketika melihat Rini duduk di kursi belajarnya. Sedang menggunakan laptopnya.Rini menoleh lalu menggeleng. "Lo emangnya nggak lihat Kak Revan seharian ini, Al?"Rini malah balik bertanya sambil menatap Alya yang baru saja menutup pintu kamar dengan langkah lesu. Alya tidak langsung menjawab.Dia melempar tas selempangnya ke atas tempat tidur lalu menjatuhkan diri di kasurnya sendiri. Surat penangguhan uang saku dari bagian keuangan masih digenggam erat dengan tangan kiri.Alya menggeleng pelan sebagai jawaban. Matanya menatap langit kamar. "Nggak, Rin. Gue nggak lihat dia di koridor atau manapun seharian ini."Rini menghela napas panjang. Matanya menatap memar di wajah Alya yang sudah mulai mereda berkat salep Revan kemarin."Tumben bang
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-15
Chapter: BAB 63: Sabotase"Alya, minggir dikit. Lo ngalangin jalan."Suara salah satu teman perempuan sekelasnya yang berjalan melewati koridor menyentak kesadaran Alya. Gadis itu masih mematung di koridor kelas seraya menatap punggung Vanya yang berjalan menjauh dengan angkuh. Bahu kanan Alya masih terasa sedikit ngilu akibat tabrakan sengaja dari Vanya.“Eh, iya. Maaf ya,” balas Alya pelan. Temannya itu hanya mengangkat bahu.Alya merogoh saku jaket kusamnya lalu mengeluarkan ponselnya. Dia hendak mengirim pesan singkat untuk Rini bahwa dia akan ke perpustakaan. Ketika layar ponselnya menyala menampilkan sebuah notifikasi email masuk dari Universitas Cakrawala.Dengan alis berkerut, Alya membuka notifikasi email tersebut.[PEMBERITAHUAN RESMI: Penerima Beasiswa penuh atas nama Alya Senandika (Sastra Indonesia) harap segera menghadap ke loket Sub-Bagian Keuangan di Gedung Rektorat pada jam is
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-13
Chapter: BAB 62: Pengakuan KeberanianAlya segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Rin?""Al! Lo di mana sih?! Gue mandi bentar lo udah ngilang dari kamar!" suara Rini terdengar sangat panik di seberang sana. "Lo jangan bikin gue jantungan napa sih, Al! Kondisi muka lo kan lagi lebam begitu!"Alya melirik Revan sekilas. Gerakan pulpen Revan di atas kertas terhenti seketika, pria itu rupanya ikut mendengarkan percakapan mereka dalam diam.Alya berdehem pelan. Dia mengedipkan mata sekilas. Mencoba mengabaikan Revan yang sepertinya ingin tahu percakapannya dengan Rini."Rin, tenang dulu. Gue nggak apa-apa kok," ucap Alya menenangkan temannya. "Gue... gue lagi di rumah Kak Revan sekarang."Keheningan melanda seberang telepon selama beberapa detik sebelum Rini berteriak histeris. "Hah?! Ngapain lo di tempat si pangeran es itu? eh, ngapain gue tanya? Al, jangan bilang..."
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-11
Istri Gadai Marquess Kejam
POV 3DewasaWanita KuatBangsawanBeraniCinta Setelah MenikahNikah KontrakIdentitas TersembunyiPerjodohan
Demi melunasi utang orang tuanya, Emily Fitzwilliam dipaksa menjadi milik Lucien Montague yang merupakan seorang Marquess dingin.
Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, Emily harus memendam identitas aslinya serta mimpinya. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Emily menyadari bahwa dirinya bukan sekadar penebus utang. Melainkan bagian rencana besar sang Marquess.
Apakah ini awal keselamatannya atau justru awal dari kehancurannya?
Lesen
Chapter: Bab 131: Pengungkapan Jati Diri (2)"Mereka bilang aku dibuang. Berarti itu tidak benar?"Suara Emily terdengar sangat lirih. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tentang semua asal-usul dirinya. Ditatapnya kalung bulan sabit yang kini terasa sangat berat di telapak tangannya.Bayangan masa kecilnya di kediaman Fitzwilliam yang penuh dengan aroma asap rokok dan tumpukan kartu judi mendadak melintas di benaknya bagaikan mimpi buruk yang tidak berkesudahan."Itu tidak benar. Kau tidak dibuang oleh kami, Emmeline. Kau dirampas dari kami," ralat Adrian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.Emily tertawa pahit di sela isakannya. "Jasper selalu bilang aku adalah anugerah karena mereka tidak memiliki anak. Ternyata, aku hanyalah perhiasan yang dia curi agar bisa hidup mewah di Ashwood."Adrian terdiam. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu. Ditatapnya Emily lalu menghela napas pelan.“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya lirih.Emily menoleh. “Apa itu?”"Aku sengaja pergi ke Ashwood beberapa
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-25
Chapter: Bab 130: Pengungkapan Jati Diri (1)Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-22
Chapter: Bab 129: Kepulangan“Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-22
Chapter: Bab 128: Depresi Sang Marquess"Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-22
Chapter: Bab 127: Hukuman untuk Pengkhianat“Pelayan! Pastikan Alice mengemasi barangnya dan cepat pergi dari mansion ini!”Teriakan Lucien yang menggema itu membuat para pelayan serta merta masuk ke dalam kamar tersebut.“Prajurit! Awasi Alice! Pastikan dia keluar dari mansion ini sekarang juga!Setelah meneriakkan itu, Lucien berjalan cepat keluar dari kamar itu. Dia mengabaikan Sterling dan juru tulis lainnya yang tergopoh-gopoh mengikutinya.“Tuan, apa rencana Anda selanjutnya?” tanya Sterling mensejajari langkah Lucien yang lebar.“Aku ingin ke suatu tempat, Tuan Sterling,” sahut Lucien lalu segera berjalan cepat dan Sterling hanya menganggukkan kepalanya.Dengan kemarahan yang memuncak, Lucien keluar dari mansion itu lalu segera menaiki kudanya yang masih ada di depan mansion.Dipacu kudanya dengan cepat tanpa memedulikan para pengawal dan prajuritnya yang tampak kebingungan melihat majikannya yang sangat murka. Mereka hanya mengikuti Lucien tanpa berani berspekulasiLucien berkuda menuju suatu tempat kumuh. Perjalanan mem
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-21
Chapter: Bab 126: Pencabutan Gelar“Kau dan orang tuamu benar-benar lintah!” maki Lucien kasar.Dari sudut matanya, dia melihat Duke Harrington yang mencoba untuk kabur melalui pintu balkon yang terbuka ketika pengawal lengah."Kau mau lari ke mana, Harrington? Seorang Duke biasanya melangkah dengan dagu terangkat, bukan merangkak seperti tikus got yang ketahuan mencuri keju!"Suara bariton Lucien memotong langkah Duke Harrington.Lucien kini berdiri tegak di tengah ruangan. Tatapannya tidak lagi tertuju pada Alice, melainkan pada pria yang telah mengotori kehormatan rumah tangganya."Montague, jaga bicaramu! Aku adalah seorang Duke, pangkatku jauh di atas Marquess sepertimu!" raung Harrington sembari mencoba menggertak meski lututnya bergetar.Lucien tertawa sangat meremehkan dan dingin. Dia melangkah maju dengan gerakan yang tenang namun mematikan, memperpendek jarak di antara me
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-21