Chapter: Bab 12: Balasan EleganSisa hari itu dilalui Emily terasa lebih berat daripada biasanya. Emily tidak tahu mengapa pikirannya terus tertuju pada ciuman itu.Lucien hari itu mendampingi Alice. Namun, anehnya, tiap Emily melangkah disitulah ada Lucien. Entah sengaja atau tidak, menurut Emily itu termasuk janggal. Atau mungkin pria itu hanya memata-matai pekerjaannya.Ketika Emily sedang mengunyah sisa makan malamnya di dapur, Gable datang menghampirinya. Dan itu membuat Emily menghentikan makannya. Dia berdiri.“Ya, Mrs. Gable?” tanyanya sebelum Gable membuka mulutnya.“Bersihkan koridor atas.”Emily mengangguk. “Baik, Mrs. Gable.”Tanpa berkata dua kali, dia meninggalkan sisa makan malamnya dan segera mengambil peralatan kebersihannya lalu menuju lantai dua mansion itu.Emily mulai membersihkan koridor dengan peralatan yang dibawanya ketika dia menubruk seseorang dari belakang.Emily segera berbalik dan menunduk. “Maafkan saya. Saya tidak melihat. Saya—”Ucapannya terhenti saat melihat sepasang sepatu pria be
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab 11: Nyonya Alice‘Apa?’ batin Emily terkejut.Semua pelayan menunduk hormat kecuali Emily lalu mengucapkan serempak, “Selamat datang, Nyonya Alice.”Mata Emily bertemu pandang dengan Lucien. Tanpa harus berkata dengan suara keras, Emily tahu yang diperintahkan Lucien walau hanya dengan tatapan mata.Dengan setengah hati, Emily menunduk hormat dengan bibir bergerak pelan tanpa suara, “Selamat datang.”“Terima kasih sambutannya.”Alice berkata dengan suara lembut menatap satu per satu pelayan yang berjajar rapi di hadapannya. Alisnya berkerut saat melihat Emily. Dialihkan tatapannya pada Lucien.“Marquess, kau memiliki pelayan baru?” tanya Alice dengan suara yang bisa dikatakan lebih keras daripada biasanya.“Selalu ada pelayan baru setiap tahun, Alice.”Lucien menanggapi ucapan itu dengan kesan mengejek bagi Emily. Seolah dirinya hanya pelayan biasa yang akan pergi tidak lama lagi dikarenakan tidak betah.Alice mengangguk dengan senyum yang ramah bagi orang yang memandangnya. “Kuharap kalian betah bek
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab 10: Tamu Istimewa“Itu … itu ….”Emily tidak sanggup menjawab pertanyaan Lucien. Dia berusaha untuk mencari alasan yang tepat.Lucien menatap Emily. Matanya mulai menyapu penampilan Emily dari ujung rambut hingga ujung kaki.“Kau belum menjawab pertanyaanku, Emily,” desak Lucien.Emily berusaha membalas tatapan suaminya dengan tenang walau jantungnya berdebar sangat kencang. Emily berdehem. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sama sekali.“Mrs. Gable memintaku untuk membuang sampah. Lagipula, aku tidak bisa tidur,” jawab Emily. Akhirnya dia menemukan alasan yang tepat. “Jadi aku pergi ke halaman belakang untuk membuang sampah dan membakar sebagian tumpukan sampah di sana. Asapnya sangat tebal.”Lucien memicingkan mata mendengar jawaban itu. Dia melangkah maju hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Hidungnya masih membaui Emily.“Lalu dari mana asal bau parfum murahan ini?”“Ah, itu aroma sabun cuci piring dari dapur,” kilah Emily cepat. “Mrs. Gable memintaku mencuci setumpuk wajan berlemak.”Lucien t
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 9: Si Cantik Bertopeng“Em, kau bisa membantuku!”Mendengar itu, Emily menarik lengannya dengan kuat dari cengkeraman Jordan. Dia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya kembali.Dia tidak mungkin kembali lagi ke teater itu setelah menikah dengan Lucien. Walau hatinya berkata lain, dia harus tetap pada komitmen awalnya datang ke teater itu yaitu berpisah.“Lepaskan aku, Tuan Jordan,” kata Emily pelan tetapi tegas. Aku … aku datang untuk sampaikan kalau aku ingin berhenti. Aku tidak bisa membantu kalian.”Jordan kembali meraih tangan Emily. Dia tidak melepaskannya.“Emily, kau tidak ingin membantuku?” tanya Jordan pelan.Emily menggeleng.Jordan menatap Emily penuh permohonan. “Em, kau sudah tahu gerakan-gerakan itu. Kau juga tahu dialognya. Kumohon, Em, bantu aku.”Pria bertubuh
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 8: Bayangan Masa Lalu“Kenapa tidak ditutup?” bisik Emily.Dia memicingkan matanya saat melihat penjaga malam itu tertidur pulas dengan kepala bersandar di meja.Terdapat sebuah botol anggur kosong menggelinding di kaki yang bersamaan dengan suara dengkurannya yang begitu keras.Pikirannya lagi tertuju pada teater yang diikutinya.Tangannya yang tadi menggenggam ember sambah, dilepaskan begitu saja.Dia melangkah dengan perlahanmendekati celah gerbang besi tersebut. sebuah kesempatan langka yang tidak pernah dia rasakan setelah terkurung di mansion itu.Dia merindukan teater. Untuk malam itu, dia ingin datang ke teater itu. Hanya untuk menyampaikan salam perpisahan sebab dia tidak akan ikut bekerja lagi di sana.“Aku akan melakukannya,” bisik Emily.“Aku hanya butuh datang ke sana untuk salam perpisahan,” Emily berkata penuh tekad. “Atau jika memungkinkan, aku akan meminta jatah pentasku minggu lalu.”Emily mengangguk pelan. Berharap dengan beberapa keping uang dapat membuatnya bertahan untuk makan beberap
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: Bab 7: Tugas Rendahan“Apa?” bisik Emily dengan mata nanar.Lucien sudah lama menghilang di balik pintu sayap utama mansion tetapi kata-katanya masih tertinggal dan terus menggema di telinga Emily.“Lucien memiliki wanita lain?” bisiknya lagi seolah tidak percaya pada pendengarannya.Emily terpaku di tempat. Tangannya terkepal di sisi gaunnya. Dia berusaha bernapas. Rasa sakit hati mulai merambat di dadanya dan perlahan mencabik kebanggaannya sebagai seorang wanita bangsawan.Walau begitu, Emily menolak untuk air matanya jatuh begitu saja. Sebab, menurutnya menangis tidak akan mengubah nasib yang terjadi dalam hidupnya.‘Aku mengerti yang engkau inginkan, Lucien,’ batin Emily. ‘Ini hanya kesepakatan utang. Aku hanya perlu bertahan hidup.’“Berhenti melamun, Nyonya Pelayan.”Suara Gable memecah keheningan yang terjadi di sekitar Emily. Gable berdiri tidak jauh darinya dengan mata menyipit. Sedang menilai.Emily melihat Gable sedang menggenggam sebuah sikat berbulu kasar dan ember kayu yang sepertinya begitu
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: Bab 136 Angin SegarAlis Maia naik. Dia menoleh cepat pada Dimas.“Apa? dia adiknya Mas Dimas? Dia?!” tunjuknya tidak percaya pada Danang.“Heh, emang kenapa?” Danang menyipitkan mata pada Maia. Jelas tidak suka.“Aneh.” Maia menyahut. “Mas Dimas yang kalem gini punya adik nggak jelas.”“Apa kamu bilang?!” Danang mulai geram.Dimas berdehem.“Udah, udah,” ucapnya menengahi. “Ini di rumah sakit. Ada Savita. Jangan berisik kalian berdua bisa?”Danang dan Maia diam seketika.“Kamu Danang, kenapa ke sini?” tanya Dimas pada adiknya.Mata Danang yang masih memelototi Maia akhirnya menatap Dimas. “Mau tanya. Donornya Mbak Savita udah datang, Mas?”Dimas mengangguk lalu menunjuk Maia dengan telunju
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Bab 135 Kedatangan dari Inggris“Ini bukan rumah sakitnya ya?”Maia turun dari taksi. Matanya menatap lurus pada rumah sakit lalu kembali pada ponsel yang dia genggam. Sopir taksi menurunkan koper besar milik Maia itu ke sisi jalan.“Mbak kopernya.” Sopir itu menunjuk koper tersebut. Maia menoleh.“Oiya,” balas Maia. Dia mengeluarkan uang dolar dari dalam tasnya. Karena terburu-buru, dia belum sempat menukarnya di money changer. “Pak, maaf bisa pakai dollar? Saya belum sempat nukar.”Sopir taksi itu segera mengangguk saat melihat lima puluh dollar terulur dari tangan penumpangnya tersebut. “Bisa, Mbak. Nggak apa-apa.”Maia menghela napas lega. “Makasih ya, Pak.”Sopir itu mengangguk. “Mau saya bantu, Mbak bawa kopernya?”“Nggak usah, Pak.” Maia menolak. “Saya aja. Makas
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Bab 134 Hitung Mundur Organ“Dimas, organnya hatinya sudah mulai shutdown. Kita kehabisan waktu.”Laporan dari Anwar terdengar. Mereka berdiri di ruang monitor di luar ICU. Setelah insiden serangan semalam, kondisi Savita yang tadinya stabil, kini merosot tajam. Stres akibat keributan itu sepertinya menjadi pemicu bagi tubuhnya yang sudah di ambang batas.“Lakuin dialisis darurat,” perintah Dimas putus asa. “Kita harus bersihin racun dari darahnya secepat mungkin.”“Sudah kita coba, Dim,” balas Anwar dengan wajah tampak lelah sambil menunjuk layar monitor. “Tekanan darahnya terlalu rendah. Jantungnya nggak akan kuat nahan prosedur dialisis. Tubuhnya nolak. Setiap kali kita coba hubungin ke mesin, irama jantungnya kacau.”Dimas memukul meja monitor dengan kepalan tangannya, pelan. “Jadi maksudmu kita cuma bisa diam dan nonton dia mati?!”
Last Updated: 2026-02-11
Chapter: Bab 133 Serangan Malam“Suster! Ada orang mencurigakan di tangga lantai empat!”Teriakan dari seorang perawat jaga yang sedang berpatroli memecah keheningan malam di koridor ICU. Dimas, yang sedang mencoba memejamkan mata di ruang dokter yang bersebelahan dengan ICU, segera terbangun.Dimas tidak benar-benar tidur. Sejak Savita dirawat, dia tinggal di rumah sakit, hanya pulang beberapa jam untuk mandi.Dia tidak bisa meninggalkan Savita, bahkan di bawah penjagaan ketat. Firasatnya selalu mengatakan Mahendra tidak akan tinggal diam.Jika bukan karena Danang yang mengingatkannya untuk membersihkan diri dan makan, dia tidak akan pulang ke rumah. Ketika di rumah pun pikirannya tertuju pada Savita. Dia selalu khwatir meninggalkan Savita sendirian.“Kenapa sih, Mas?” tanya Ajeng saat melihat Dimas yang selalu tidak tenang jika di rumah.“Mau ke RS, Ma.&rdquo
Last Updated: 2026-02-11
Chapter: Bab 132 Panggilan ke Inggris“Halo, Maia? Ini Mama. Kamu harus pulang, Nak. Sekarang. Mbak Vita butuh kamu.”Suara Ami bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Dia berdiri di koridor rumah sakit yang sepi, setelah baru saja keluar dari ruang rapat darurat dengan tim onkologi.Para dokter memberi informasi untuk mencari donor lebih cepat. Ami dan Bagus mengajukan diri sebagai donor dari keluarga akan tetapi tim dokter menolak karena masalah usia. Lalu mereka teringat Maia. Hanya Maia yang paling aman untuk usia. Maia masih muda dan kuat.Di London, Maia Ardianti yang baru saja bangun karena perbedaan waktu, mengerutkan kening mendengar nada suara Ami.“Pulang, Ma?” ulang Maia bingung. “Ada apa, Ma? Mama kenapa? Ini masih pagi buta di sini.”“Ini… ini tentang Mbak Savita.”“Mbak Vita?” Suara Maia terdengar lebih waspada. &ldq
Last Updated: 2026-02-10
Chapter: Bab 131 Sadar di Antara Mimpi“Kaivan … jangan bawa dia… jangan ….”Rintihan lirih itu terdengar. Ami yang sedang duduk di samping tempat tidur Savita, langsung menegakkan punggungnya. Dia mendekatkan telinganya ke bibir Savita yang pucat.“Sayang? Vita? Kamu bisa dengar Tante?” bisik Ami.Mata Savita bergerak gelisah di balik kelopaknya yang tertutup. Alisnya berkerut. Keringat mulai membasahi dahinya.“Jangan, Mahen… jangan sakitin anakku…” gumamnya lagi. Kali ini lebih jelas.Dimas masuk ke dalam ruangan itu ketika Ami masih mendekatkan telinganya di bibir Savita. Berusaha mendengar ucapan keponakannya itu.“Ada apa, Tante?” tanya Dimas penuh perhatian.“Dia mimpi buruk,” kata Ami pada Dimas yang hendak melakukan pemeriksaan rutin.Dimas mendekati ran
Last Updated: 2026-02-10