FAZER LOGINMobil Elian berhenti tepat di depan lobi apartemen Vior. Lampu jalan yang remang-remang membuat bayangan mereka di dalam mobil tampak samar. Tanpa menunggu Elian mematikan mesin, Vior segera melepas sabuk pengamannya."Terima kasih tumpangannya, Pak. Saya langsung istirahat ya, Bapak juga hati-hati di jalan," ucap Vior cepat, memberikan isyarat tangan agar Elian tidak perlu repot-repot keluar untuk membukakan pintu.Elian terdiam sejenak, memperhatikan raut wajah Vior yang memang terlihat benar-benar lelah. Pria itu mengembuskan napas, memaklumi bahwa jarak yang Vior buat malam ini adalah cara gadis itu untuk menjaga kewarasannya sendiri."Baiklah. Istirahatlah, Vior. Sampai jumpa besok di lokasi syuting," jawab Elian lembut. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan Vior turun dan melangkah masuk ke lobi tanpa menoleh lagi.Tiga hari berlalu dengan cepat, dan hari yang ditunggu—sekaligus ditakuti—itu akhirnya tiba. Suasana studio di lantai dua kantor Baskara Group mendadak berubah menja
Langkah kaki Vior yang terburu-buru menuju lobi terhenti saat ia mendengar derap langkah yang familiar di belakangnya. Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu siapa itu. Aroma parfum woody yang khas milik Elian menyeruak, memenuhi ruang di sekitarnya."Vior, tunggu ," suara Elian memanggil. Pria itu menyamakan langkahnya dengan Vior, berjalan di sisi kiri dengan tenang. "Aku antar pulang malam ini, ya"Vior menoleh, memberikan senyum tipis yang terasa dipaksakan. "Tidak perlu, Pak. Saya ingin naik taksi saja. Lagipula, Bapak pasti lelah setelah rapat tadi. Sebaiknya Bapak langsung istirahat." Vior mempercepat langkahnya, berharap Elian mengerti dan berhenti mengekorinya.Elian tidak berhenti. Ia justru mempercepat langkahnya sedikit agar bisa menghalangi jalan Vior tepat di depan pintu keluar lobi. "Aku tidak sedang menawarkan pilihan, Vior. Aku sedang mengajakmu pulang."Vior menghela napas panjang, matanya menatap Elian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu Elian melakukan ini k
Elian menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya ibu jarinya menekan ikon panggil. Napasnya teratur, mencoba menekan detak jantung yang terasa tidak beraturan. Ia harus melakukan ini, bukan karena ia masih memiliki sisa perasaan, melainkan demi menuntaskan bayang-bayang yang terus mengintainya.Dering ketiga, panggilan itu tersambung."Halo, Elian?" Suara Nathasa di seberang telepon terdengar sangat santai, hampir ceria."Nathasa," Elian berdeham, berusaha menjaga suaranya tetap formal. "Ini soal kontrak iklan properti. Aku sudah menandatanganinya."Terdengar tawa kecil dari Nathasa. "Oh, benarkah? Tumben sekali CEO Baskara yang kaku ini melunak. Apa timmu yang menekannya?""Dengar," Elian memotong, suaranya sedikit meninggi. "Aku setuju karena aku tidak punya pilihan lain untuk proyek ini. Tapi aku ingin kita menjaga batasan yang jelas. Ini murni profesional. Aku tidak ingin ada masa lalu yang ikut campur di sini."Nathasa terdiam sejenak, namun nada suaranya tetap tenang
Suasana ruang rapat pagi itu terasa begitu berat. Di atas meja kayu panjang, berkas-berkas proposal proyek iklan properti Baskara Group tertata rapi. Pak Rizal, sebagai kepala tim, duduk dengan wajah serius, sesekali mengetuk-ngetukkan pulpen ke tabletnya. Di sisi lain meja, Vior duduk terdiam, matanya menatap kosong pada layar monitor. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak melirik ke arah Elian yang duduk di ujung meja sebagai pemimpin rapat."Pak Elian," suara Pak Rizal memecah kesunyian yang kental. "Kami sudah melakukan riset mendalam. Jika kita berbicara soal angka, profesionalisme, dan dampak pasar, Nathasa adalah pilihan mutlak. Popularitasnya sedang di puncak, dan agensinya menawarkan syarat yang sangat masuk akal bagi perusahaan. Mengganti model sekarang hanya akan membuat kita membuang waktu dan anggaran."Elian menyilangkan tangan di dada. Matanya tidak beralih dari satu titik di dinding, namun rahangnya mengeras. "Saya sudah bilang, cari opsi lain.""Dengan segala hormat,
Setelah meletakkan buku yang sedari tadi tidak benar-benar ia resapi, Elian meraih ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar karena emosi yang masih tersisa dari pertemuan dengan ibunya. Layar menyala, menampilkan wajah Vior yang tersambung dalam panggilan video.Vior tampak sudah bersiap untuk tidur, rambutnya tergerai acak di atas bantal, memberikan kesan yang begitu lembut dan kontras dengan kekakuan yang baru saja Elian hadapi. Saat Vior bergerak untuk membetulkan posisi tidurnya, kerah baju tidurnya yang sedikit longgar melorot, memperlihatkan sekilas kulit di bagian dadanya. Jantung Elian berdegup kencang, sebuah sensasi hangat yang tidak terduga menghantam dadanya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan sejenak, menenangkan napasnya sebelum kembali menatap layar."Sudah mau tidur?" tanya Elian, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.Vior tersenyum, senyum yang membuat bahu Elian yang tegang perlahan turun. "Iya, baru saja mau rebahan. Kamu sendiri? Tadi katanya ada urusan
Suasana malam yang tenang di apartemen Vior perlahan berganti menjadi perjalanan yang kontras bagi Elian. Begitu pintu lift terbuka di lantai rumahnya, Elian merasakan sisa-sisa kehangatan dari pelukan Vior di sore tadi perlahan memudar, tertutup oleh insting pertahanan diri yang selama ini ia coba lepaskan.Langkah kakinya yang mantap terhenti di depan pintu kayu besar rumahnya. Terdengar suara tawa renyah dari ruang tamu—suara yang familiar, namun entah mengapa, malam ini terasa sangat asing dan mengganggu.Elian melangkah masuk dengan tenang. Begitu ia mencapai ruang keluarga, pemandangan yang tersaji di depannya seolah menariknya kembali ke realitas yang ingin ia tinggalkan. Nyonya Saraswati duduk anggun di sofa panjangnya, dan tepat di sampingnya, Natasha tampak sedang menuangkan teh dengan gerakan yang penuh keanggunan. Keduanya sedang terlibat percakapan yang tampak sangat akrab, seolah-olah Elian tidak pernah absen dari rumah itu dalam beberapa hari terakhir."Elian? Kamu baru
Mobil meluncur membelah kepadatan jalanan Jakarta, namun suasana di dalam kabin terasa jauh lebih hening daripada yang seharusnya. Nyonya Saraswati tetap pada posisinya sejak meninggalkan kafe, menatap kosong ke arah jendela, membiarkan sanggulnya yang berantakan menyisakan kesan liarnya yang baru
"Astaga, Bu Karin!" salah satu pegawai salon mencoba melerai dengan panik, mencoba menarik tubuh Karin yang sudah tersungkur di lantai. Vior akhirnya tahu, nama wanita itu adalah Karin. Namun, penyebutan nama itu justru membuat Vior kehilangan fokus sejenak. Kesempatan itulah yang digunakan Karin.
Langkah kaki Vior yang tidak pasti di atas lantai marmer butik eksklusif itu terasa seberat timah. Di sisinya, Nyonya Saraswati melangkah dengan punggung tegak, aura otoritasnya begitu kuat hingga para pelayan butik membungkuk hormat setiap kali mereka lewat. Kontras di antara mereka terlalu mencol
Pagi hari yang cerah di hari Sabtu seharusnya menjadi waktu bagi Vior untuk memulihkan diri, namun nada dering ponselnya yang nyaring justru menjadi pengingat bahwa ketenangannya hanyalah sebuah angan. Nama "Nyonya Saraswati" terpampang di layar, membuat Vior merasa mual. Dengan nada yang manisnya







