Share

Suami orang?

Penulis: Vellichor_Ann
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-17 21:00:49

"Kamu yakin gak mau ke rumah sakit?"

Domini menatap cucunya yang tengah mengobati luka di kaki. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi pada Lyra siang tadi. Bukannya pergi ke rumah sakit atau ke klinik tapi dia malah tetap pergi ke butik. Cukup kesal karena bukannya langsung memberi kabar wanita itu malah menunggu pulang untuk menceritakannya.

"Kakek jangan berlebihan, deh. Ini cuma luka kecil, gak harus diamputasi," kekeh Lyra bercanda.

Mendengar Lyra yang asal bicara, pria itu memukul kakinya pelan dengan tongkat yang dipegangnya. "Mulut kamu itu jangan asal!"

Lyra hanya mengaduh dan menekuk bibirnya kesal. Matanya melirik Kinan yang sejak tadi duduk dengan toples makanan di pangkuannya, fokus dengan siaran TV. Ya, dia memang berada di sana karena ingin memastikan alasan temannya tidak bisa dihubungi seharian.

"Selamat malam." Di tengah pembicaraan rupanya ada yang datang.

Semuanya menoleh, termasuk Kinan yang sejak tadi fokus tak memperhatikan sekitar. Ternyata orang itu adalah Harry. Dia berjalan masuk begitu saja dengan senyuman khas. Matanya menatap Lyra yang membulatkan matanya terkejut. Sedangkan Domini langsung berdiri dan menyambutnya.

"Ada apa ini datang malam-malam?"

Harry memeluk Domini sesaat. "Aku mau ikut nginep kalau boleh. Soalnya aku cuma sehari di sini, dan besok harus ke luar kota."

"Enak aja, emangnya kamu siapa? Hotel kan banyak, lagian punya rumah sendiri juga," celetuk Lyra tak suka. Tatapannya terlihat sinis.

"Lyra!" tegur Domini. "Kenapa tidak sopan seperti itu? Mungkin Harry mau bermalam di sini untuk silaturahmi juga. Lagi pula Kakek setuju dia menginap di sini."

Sama sekali tidak berpengaruh entah Kedua pemuda ini masih memiliki hubungan atau tidak. Lagipula dia juga sudah kenal baik dengan Harry. Sudah seperti cucunya sendiri. Jadi tidak ada salahnya membiarkan pria itu menginap semalam.

"Terus aja Kakek belain dia! Kalau dia di sini, aku yang pergi."

Lyra bergegas ke kamarnya dengan kaki yang sedikit kesakitan. Kinan yang menyadari keadaan canggung hanya meringis dengan tangan mengusap tengkuknya. Heran juga, kenapa Harry tiba-tiba ingin menginap di sini. Kecuali dia memang ingin kembali mengganggu Lyra.

Menyadari Lyra yang semakin membencinya, Harry menoleh ke arah Kinan. Ia mendekat dan sedikit berbisik. "Jangan bohong. Bener dia udah punya pacar baru?"

Eh, pacar baru?

"Kata siapa? Dia aja gak deket sama cowok."

Harry mengangkat sudut bibirnya, menyeringai. Benar saja Lyra pasti belum bisa melupakannya. Wanita itu berbohong. Harry merasa masih ada sedikit harapan sampai Kinan kembali membuka suara.

"Kecuali..."

"Kecuali?"

"Gak jadi, deh." Kinan langsung menggeleng cepat.

Harry menatap tajam. Memaksa Kinan mengatakan apa yang dia tau tentang Lyra akhir-akhir ini. Jujur saja Kinan sebenarnya takut dengan Harry, apalagi adiknya sedang magang di perusahaan pria itu. Meski mereka berteman tapi terkadang Harry melakukan apa yang dia suka seenaknya. Tak ada ancaman dari mulut pria itu, namun matanya seakan mengatakan sesuatu.

"Yaudah, tapi janji jangan sampe Lyra tau aku yang kasih tau kamu," ucapnya dibalas anggukan. "Ada cowok yang pernah kasih Lyra bunga. Terus kata Jo, mereka ketemu di club malam. Waktu itu Lyra mabuk terus dia cium cowok-"

"Stop." Harry terlihat memejamkan matanya dengan rahang mengeras. "Siapa namanya?"

"Namanya..."

Lagi-lagi ucapan Kinan terhenti saat suara langkah kaki dari arah tangga. Lyra turun dengan tas di tangannya, wajahnya tertekuk, terlihat kesal. Melihat cucunya yang merajuk, Domini berusaha menahan.

"Mau kemana? Ini udah malam."

"Aku mau balik ke apartemen. Lagian Kakek udah ada yang nemenin." Wanita itu melirik Harry sesaat.

"Ra! tungguin! Anterin aku pulang," teriak Kinan mengejar Lyra yang meninggalkannya.

Awalnya Herry hendak mengejar namun Domini melarang. Memang keras kepala, seperti Ayahnya. Untuk menghadapi Lyra memang harus butuh kesabaran. Dia tau wanita itu sedang kesal sekarang.

"Sekarang Kakek mau tanya sama kamu. Sebenarnya apa alasan kalian putus? Apa benar kamu menyakiti Lyra?"

Harry seketika diam tak bergeming. Tak mungkin juga ia memberitahu alasan sebenarnya karena jelas dirinya memang salah. Namun lebih salah lagi jika Harry tak jujur.

"Sebenarnya..."

***

Di dalam mobil Lyra dan Kinan diam saja. Lyra yang fokus pada jalanan dan Kinan yang memikirkan ucapannya tadi. Apa dia salah bicara? Bagaimana jika tidak seharusnya Kinan memberitahu tentang kedekatan Lyra dan seorang pria. Mereka belum tentu sedekat itu dan Kinan saja tidak tau seperti apa bentuk rupanya.

"Loh, kenapa berhenti?" tanya Kinan saat Lyra menghentikan mobil di samping jalan.

"Kayak kenal orang itu. Turun dulu, yuk."

Kinan hanya ikut saja saat melihat Lyra keluar. Mereka mendatangi seorang pria yang berdiri seorang diri di jalanan sepi. Terlihat kebingungan dengan mobil di hadapannya.

"Pak Victor?"

Pria itu menoleh. Iya. Victor sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang. Sedangkan Kinan terperangah, menyadari sosok di hadapannya adalah Victor yang dimaksud Jo. Dia bilang pria tua, tapi tua apa? Tidak peduli, dia masih terlihat tampan.

"Loh, kamu di sini? Kaki kamu sudah sembuh?"

"Udah. Saya mau antar temen pulang terus ke apartemen. Bapak ngapain di sini?"

"Mobil saya mogok. Mau telepon bengkel, tapi ponsel saya mati."

"Eum, ikut kita aja," ucap Kinan seketika dengan tersenyum lebar. Saat Pria itu menatap ke arahnya Kinan langsung menjulurkan tangan. "Saya Kinan. Salam kenal om."

"Om?" tanya Victor mengangkat sebelah alisnya. Apa dia setua itu.

"Eh, maksudnya Pak, atau mau dipanggil Mas?"

Victor terkekeh pelan. "Terserah kamu saja. Panggil nama juga boleh."

Lyra memutar bola matanya malas. Dasar Kinan, melihat yang bening langsung melotot. "Yaudah masuk mobil aja. Saya antar."

"Kamu gak repot? Ini sudah malam, loh."

"Enggak, santai aja. Ayo, Pak."

Bukan, itu bukan Lyra. Tapi Kinan yang menarik tangan Victor menuju mobil. Sedangkan Lyra menggelengkan kepala pelan dengan tingkah temannya. Padahal sebelumnya dia yang overthinking jika pria yang dimaksud Jonan adalah Bapak-bapak beristri dengan wajah tua.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Balikan sama mantan!

    Setelah berulang kali berpikir akhirnya Victor memang menerima tawaran agar dibebaskan. Rasanya lega, namun juga harga dirinya terasa hancur. Victor merasa Harry memang sedang mengolok-olok. Dia pasti merasa seperti pahlawan.Saat ini dirinya berada bersama Jihan di rumah wanita itu. Victor sudah kehilangan sebagian hartanya. Dengan baik hati Jihan justru menawarkan agar Victor menginap di tempatnya. Tanpa harus khawatir."Benar, kamu yang minta Lyra bebasin aku?" tanya Victor masih dengan tatapan kosong."Iya. Aku yakin kamu bisa berubah."Victor menggeleng seakan tak setuju. "Kalau kamu berharap balikan lagi sama aku, aku gak bisa.""Kenapa? Kamu masih suka sama Lyra? Kamu mau sama perempuan yang adik kamu suka? Satu lagi, kamu juga harus sadar sama keadaan kamu sekarang. Kamu udah gak punya apa-apa lagi, Lyra gak mungkin mau sama pria kayak kamu, dan cuma aku yang bisa terima kamu."Kalimat itu menampar dengan keras. Perusahaannya memang sudah hancur. Orang-orang hilang kepercayaan

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   bebas tahanan

    "Aku mau kamu bebasin Victor."Lyra dan orang-orang di sana terdengar terkejut dengan pernyataan Jihan. Tak terkecuali Victor yang menggeleng tak setuju. Padahal dia membawa Jihan ke sini agar Lura bisa meminta maaf, tapi wanita ini malah ingin Victor bebas? Sudah jelas pria itu yang mengacaukan semuanya."Aku gak bisa, mbak. Dia udah melakukan tindakan kriminal. Apa kamu juga gak takut sama dia?""Kalau kamu memang merasa bersalah sama aku, bebasin Victor. Aku masih mau balikan sama dia.""Aku gak setuju, Ra," ucap Harry menolak.Jihan mengangkat kedua bahunya acuh. "Terserah Lyra, kalau dia memang mau minta maaf. Kalau engga ya gapapa, dia juga yang hidup dengan nama pelakor.""Lyra bukan pelakor!" sahut Kinan tak terima.Lagi-lagi Jihan hanya memainkan bahunya. Ini kesempatan agar dia bisa kembali bersama Victor. Dalam hatinya ia masih mencintai pria itu. Tidak, Jihan tak membenci Lyra lagi. Hanya saja dia akan membuat Lyra mengikuti perintahnya kali ini."Udah cukup!" Lyra menatap

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   satu syarat

    Hari ini Lyra sudah diperbolehkan untuk pulang. Kepulangannya disambut dengan baik oleh orang-orang di rumah. Mulai dari asisten rumah tangga hingga para temannya. Domini bahkan meminta agar kamar Lyra diubah dengan suasana baru agar wanita itu senang.Meski belum bisa memaafkannya, Domini yakin Lyra masih menyayanginya. Mungkin ada hari nanti dimana Lyra akan kembali berbicara dengannya. Atau bisa juga memaafkannya."Silahkan masuk, non. Kamarnya sudah bibi bereskan.""Makasih, ya, Bi."Lyra masuk digandeng oleh Kinan, sementara di belakangnya Jonan membawa tas berisi baju kotor. Jika ada yang bertanya dimana Harry, Lyra juga bahkan tidak tau pria itu dimana.Sejujurnya Harry ingin Lyra tetap di rawat di rumah sakit sampai benar-benar sembuh, dengan pengawasan dokter. Tapi Lyra tak ingin berlama-lama di sana dan untungnya mendapat izin dokter. Semalam Harry masih menjaganya di ruangan, tapi pagi tadi ia tak melihatnya lagi."Mau langsung ke kamar apa gimana?" tanya Kinan."Di sini aj

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   sembuh dan permintaan

    "Victor udah datang, Ra. Lo mau gue panggil dia?" tanya Jonan yang masuk ke dalam kamar."Iya, tolong panggilin dia, ya.""Kalau gitu aku tunggu di luar aja sama Jonan," ucap Kinan bangkit berdiri. "Sekalian aku mau pulang dulu, ya. Nanti sore aku balik lagi."Lyra tersenyum simpul dan menggenggam tangan sahabatnya itu. "Makasih udah nemenin aku. Kamu pulang aja gapapa, Ki. Jangan ke sini lagi, kamu istirahat aja. Lagipula besok aku mau pulang aja.""Yaudah, kamu cepet sembuh ya. Besok kabarin aku kalau kamu udah pulang."Kinan melambaikan tangannya sambil berjalan keluar kamar. Selang beberapa saat masuklah Harry seorang diri dengan senyuman khasnya. Dia menghampiri Lyra dan berdiri tepat di samping.Di luar sana Domini menunggu seorang diri. Sebenarnya dia ingin masuk tapi tak mau membuat Lyra semakin membencinya. Harry bahkan sampai mengatakan jika ia menjamin Lyra tak akan mengusir Domini lagi tapi pria tua itu tak mau dan memilih menunggu. Kecuali wanita itu sendir yang mengataka

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Lebih baik

    "Ayo ke luar, ada yang ingin bertemu dengan kamu."Victor bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri seorang polisi yang membukakan pintu sel. Yap, dia harus bermalam di kantor polisi dan menunggu proses hukum. Jujur saja dia sangat kecewa pada adiknya karena orang yang membawanya ke sini adalah Harry dengan laporannya."Ayo cepat!"Sebelum ke luar kedua tangannya diborgol. Entah siapa yang ingin bertemu dengannya. Mungkin Lyra? Ya, mungkin wanita itu ingin membebaskannya dari sini. Apa pengacaranya yang datang?Begitu masuk ke ruang jenguk, ternyata tak ada Lyra, tak ada juga pengacara yang dia sewa. Yang duduk di sana justru Domini bersama Harry. Dua pria itu terlihat menatap tajam ke arahnya. "Waktunya hanya 15 menit, tolong jangan berisik juga." Polisi tersebut pergi ke belakang dan menunggu di dekat pintu, masih memperhatikan. "Ngapain Lo di sini? Masih belum puas?" tanya Victor berdecih begitu menatap wajah adiknya.Harry masih menahan amarah, tangannya terkepal erat di ba

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Rasa sakit

    "Lyra, gimana keadaan dia sekarang?" Domini menghampiri Harry yang sedang menunggu di depan ruang rawat bersama Jonan dan 2 orang yang mungkin penjaga. Sementara Kinan juga baru datang setelah mendapat kabar jika Lyra ditemukan dan berada di rumah sakit sekarang."Masih diperiksa di dalam, kita masih tunggu dokternya keluar.""Harry, apa benar ini ulah Victor?"Harry mengangguk pelan. "Betul. Dia sudah dibawa ke kantor polisi sekarang. Aku malah ga curiga sama dia, padahal seharusnya dari awal kita tau.""Sudah, yang penting Lyra sudah selamat. Setelah ini Kakek akan temui Victor dan memastikan dia mendapat ganjaran dari semua tindakannya."Di belakang sana Kinan menarik Jonan menjauh dan menuntut penjelasan. Dia bahkan tak tau jika Jonan dan Harry pergi mencari Lyra, tanpa memberitahunya. Padahal Kinan berharap dilibatkan juga dalam mencari temannya. Mereka pikir perempuan tidak bisa menjaga dirinya sendiri.Setelah menunggu beberapa saat pintu ruangan terbuka dan keluar lah dokter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status