Masuk"Kamu yakin gak mau ke rumah sakit?"
Domini menatap cucunya yang tengah mengobati luka di kaki. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi pada Lyra siang tadi. Bukannya pergi ke rumah sakit atau ke klinik tapi dia malah tetap pergi ke butik. Cukup kesal karena bukannya langsung memberi kabar wanita itu malah menunggu pulang untuk menceritakannya. "Kakek jangan berlebihan, deh. Ini cuma luka kecil, gak harus diamputasi," kekeh Lyra bercanda. Mendengar Lyra yang asal bicara, pria itu memukul kakinya pelan dengan tongkat yang dipegangnya. "Mulut kamu itu jangan asal!" Lyra hanya mengaduh dan menekuk bibirnya kesal. Matanya melirik Kinan yang sejak tadi duduk dengan toples makanan di pangkuannya, fokus dengan siaran TV. Ya, dia memang berada di sana karena ingin memastikan alasan temannya tidak bisa dihubungi seharian. "Selamat malam." Di tengah pembicaraan rupanya ada yang datang. Semuanya menoleh, termasuk Kinan yang sejak tadi fokus tak memperhatikan sekitar. Ternyata orang itu adalah Harry. Dia berjalan masuk begitu saja dengan senyuman khas. Matanya menatap Lyra yang membulatkan matanya terkejut. Sedangkan Domini langsung berdiri dan menyambutnya. "Ada apa ini datang malam-malam?" Harry memeluk Domini sesaat. "Aku mau ikut nginep kalau boleh. Soalnya aku cuma sehari di sini, dan besok harus ke luar kota." "Enak aja, emangnya kamu siapa? Hotel kan banyak, lagian punya rumah sendiri juga," celetuk Lyra tak suka. Tatapannya terlihat sinis. "Lyra!" tegur Domini. "Kenapa tidak sopan seperti itu? Mungkin Harry mau bermalam di sini untuk silaturahmi juga. Lagi pula Kakek setuju dia menginap di sini." Sama sekali tidak berpengaruh entah Kedua pemuda ini masih memiliki hubungan atau tidak. Lagipula dia juga sudah kenal baik dengan Harry. Sudah seperti cucunya sendiri. Jadi tidak ada salahnya membiarkan pria itu menginap semalam. "Terus aja Kakek belain dia! Kalau dia di sini, aku yang pergi." Lyra bergegas ke kamarnya dengan kaki yang sedikit kesakitan. Kinan yang menyadari keadaan canggung hanya meringis dengan tangan mengusap tengkuknya. Heran juga, kenapa Harry tiba-tiba ingin menginap di sini. Kecuali dia memang ingin kembali mengganggu Lyra. Menyadari Lyra yang semakin membencinya, Harry menoleh ke arah Kinan. Ia mendekat dan sedikit berbisik. "Jangan bohong. Bener dia udah punya pacar baru?" Eh, pacar baru? "Kata siapa? Dia aja gak deket sama cowok." Harry mengangkat sudut bibirnya, menyeringai. Benar saja Lyra pasti belum bisa melupakannya. Wanita itu berbohong. Harry merasa masih ada sedikit harapan sampai Kinan kembali membuka suara. "Kecuali..." "Kecuali?" "Gak jadi, deh." Kinan langsung menggeleng cepat. Harry menatap tajam. Memaksa Kinan mengatakan apa yang dia tau tentang Lyra akhir-akhir ini. Jujur saja Kinan sebenarnya takut dengan Harry, apalagi adiknya sedang magang di perusahaan pria itu. Meski mereka berteman tapi terkadang Harry melakukan apa yang dia suka seenaknya. Tak ada ancaman dari mulut pria itu, namun matanya seakan mengatakan sesuatu. "Yaudah, tapi janji jangan sampe Lyra tau aku yang kasih tau kamu," ucapnya dibalas anggukan. "Ada cowok yang pernah kasih Lyra bunga. Terus kata Jo, mereka ketemu di club malam. Waktu itu Lyra mabuk terus dia cium cowok-" "Stop." Harry terlihat memejamkan matanya dengan rahang mengeras. "Siapa namanya?" "Namanya..." Lagi-lagi ucapan Kinan terhenti saat suara langkah kaki dari arah tangga. Lyra turun dengan tas di tangannya, wajahnya tertekuk, terlihat kesal. Melihat cucunya yang merajuk, Domini berusaha menahan. "Mau kemana? Ini udah malam." "Aku mau balik ke apartemen. Lagian Kakek udah ada yang nemenin." Wanita itu melirik Harry sesaat. "Ra! tungguin! Anterin aku pulang," teriak Kinan mengejar Lyra yang meninggalkannya. Awalnya Herry hendak mengejar namun Domini melarang. Memang keras kepala, seperti Ayahnya. Untuk menghadapi Lyra memang harus butuh kesabaran. Dia tau wanita itu sedang kesal sekarang. "Sekarang Kakek mau tanya sama kamu. Sebenarnya apa alasan kalian putus? Apa benar kamu menyakiti Lyra?" Harry seketika diam tak bergeming. Tak mungkin juga ia memberitahu alasan sebenarnya karena jelas dirinya memang salah. Namun lebih salah lagi jika Harry tak jujur. "Sebenarnya..." *** Di dalam mobil Lyra dan Kinan diam saja. Lyra yang fokus pada jalanan dan Kinan yang memikirkan ucapannya tadi. Apa dia salah bicara? Bagaimana jika tidak seharusnya Kinan memberitahu tentang kedekatan Lyra dan seorang pria. Mereka belum tentu sedekat itu dan Kinan saja tidak tau seperti apa bentuk rupanya. "Loh, kenapa berhenti?" tanya Kinan saat Lyra menghentikan mobil di samping jalan. "Kayak kenal orang itu. Turun dulu, yuk." Kinan hanya ikut saja saat melihat Lyra keluar. Mereka mendatangi seorang pria yang berdiri seorang diri di jalanan sepi. Terlihat kebingungan dengan mobil di hadapannya. "Pak Victor?" Pria itu menoleh. Iya. Victor sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang. Sedangkan Kinan terperangah, menyadari sosok di hadapannya adalah Victor yang dimaksud Jo. Dia bilang pria tua, tapi tua apa? Tidak peduli, dia masih terlihat tampan. "Loh, kamu di sini? Kaki kamu sudah sembuh?" "Udah. Saya mau antar temen pulang terus ke apartemen. Bapak ngapain di sini?" "Mobil saya mogok. Mau telepon bengkel, tapi ponsel saya mati." "Eum, ikut kita aja," ucap Kinan seketika dengan tersenyum lebar. Saat Pria itu menatap ke arahnya Kinan langsung menjulurkan tangan. "Saya Kinan. Salam kenal om." "Om?" tanya Victor mengangkat sebelah alisnya. Apa dia setua itu. "Eh, maksudnya Pak, atau mau dipanggil Mas?" Victor terkekeh pelan. "Terserah kamu saja. Panggil nama juga boleh." Lyra memutar bola matanya malas. Dasar Kinan, melihat yang bening langsung melotot. "Yaudah masuk mobil aja. Saya antar." "Kamu gak repot? Ini sudah malam, loh." "Enggak, santai aja. Ayo, Pak." Bukan, itu bukan Lyra. Tapi Kinan yang menarik tangan Victor menuju mobil. Sedangkan Lyra menggelengkan kepala pelan dengan tingkah temannya. Padahal sebelumnya dia yang overthinking jika pria yang dimaksud Jonan adalah Bapak-bapak beristri dengan wajah tua."Selamat datang, Pak. Maaf karena Pak Johan belum datang. Dia masih di jalan terjebak macet.""Tidak apa-apa. Saya bisa tunggu.""Silahkan masuk ke dalam."Domini masuk ke ruang meeting setelah mendapat sambutan hangat. Di dalam ruang meeting sana sudah ada beberapa kolega yang sudah berkumpul. Salah satunya ada pria termuda yang ada di sana. Victor."Wah, akhirnya bertemu lagi secara langsung. Aku kira sudah digantikan dengan cucumu itu," celetuk seorang pria berumur dengan rambut yang ditutupi uban hampir setengahnya. "Dia belum siap, katanya masih muda. Takut belum bisa tanggung jawab.""Padahal kalau sudah turun ke dunianya bakal lebih mudah. Nanti juga bisa menyesuaikan."Domini hanya tersenyum. Dia tentu tak akan memaksa Lyra. Baginya keputusan Lyra untuk mengambil alih perusahaannya harus atas keinginan sendiri. Domini tak mau karena memaksanya justru menjadi beban untuk cucunya itu.Pria tua itu duduk di samping Victor yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diar
"Kakek mau kemana pagi-pagi udah rapih?" Lyra meletakkan sendoknya di atas piring dan menatap pria tua itu keluar kamar."Ada meeting penting di kantor. Kamu ke butik?""Iya. Aku gak enak sama karyawan di sana karena aku jarang datang ke butik. Pasti di sana repot."Domini tersenyum. Tangannya menggenggam erat tongkat kayu yang membantu langkahnya. "Suatu hari nanti kamu juga harus ambil alih usaha Kakek, semua. Kakek udah tua, gak bisa ngurus semuanya terus menerus."Lyra mengangguk pelan, hampir tak terlihat. Dia belum siap dengan tanggung jawab yang lebih besar. Mengurus butik saja terkadang masih kewalahan. Sayangnya mau tidak mau hari itu akan tiba. Kakeknya benar, umur setua itu tidak mungkin terus mengurus perusahaannya. Lyra pasti akan menggantikannya secepat mungkin."Kamu mau berangkat bareng?" tanya Domini sambil melangkah pergi."Duluan aja, aku mau makan dulu."Suara dentingan sendok kembali terdengar. Domini tau Lyra tak ingin semua ini, tapi yang dia punya sekarang hany
Victor berdiri menatap rumah megah di hadapannya. Dia ingin masuk ke dalam sana dan bertemu dengan seseorang yang mungkin akan merubah alur. Hidupnya sudah berantakan, jadi ia rasa sudah terlanjur. Kenapa tidak langsung membawa dirinya ke hal yang lebih ekstrim?"Mau bertemu siapa, Pak? Biar saya sampaikan ada tamu," ucap satpam menghampiri Victor yang sejak tadi diam di depan gerbang. "Tidak perlu. Saya pacarnya Lyra, dan udah buat janji ketemu sama kakeknya."Pria paruh baya itu mencoba mengingat wajah Victor dan dia ingat jika pria ini pernah datang bersama Lyra. Saat itu ia bahkan melihat sendiri Lyra digendong masuk ke dalam. Sepertinya tidak perlu laporan lagi."Kalau begitu langsung masuk saja, Bapak ada di dalam. Non Lyra dan teman-temannya juga ada.""Teman-temannya?"Victor menyadari jika ada mobil Harry di sana. Bibirnya tertarik membentuk senyum misterius. Akan lebih menyenangkan jika ada adik kesayangannya di sini.Langkah kakinya berjalan dengan tegas masuk ke area peka
Huek...Kinan dan Jonan terbangun mendengar suara Lyra yang muntah-muntah. Dengan cepat Kinan menghampiri Lyra ke kamar mandi, sementara Jo berniat membangunkan Harry namun pria itu tak ada di sana."Kamu kenapa?""Kayaknya gara-gara kebanyakan minum semalam." Lyra mencuci mulutnya dan mengambil tisu di dekat wastafel."Kamu ingat kejadian semalam?"Wanita itu menatap dirinya di cermin sambil mengangguk. Wajahnya memerah. Dia pikir Victor berbeda. Sampai nanti ia bertemu lagi dengan orang itu Lyra berjanji untuk membalasnya. "Yang penting Kakek jangan sampai tau semua ini.""Kakek?" Kinan teringat sesuatu. "Astaga! Ini jam berapa? Kakek kan pulang pagi ini, kamu harusnya udah pulang sekarang.""Ya ampun aku lupa."Mereka kembali ke kamar dan melihat Jonan sedang berbicara dengan Harry di depan pintu masuk. Ternyata Harry sudah bangun sejak tadi. Setelah mendengar alarm di ponsel Kinan pria itu pergi ke luar mencari udara segar.Harry yang melihat Lyra berniat mendekatinya tapi Kinan
"kamu gak apa-apa, kan? Dia udah ngapain aja?""Tolongin aku, panas."Lyra berdiri dan mendekati Harry. Jelas selimut yang sebelumnya menutupi tubuh kini tersingkap dan jatuh. Tubuh Harry terpaku sejenak. Wanita itu memeluknya dan berjinjit, mencoba mencium bibirnya. Tak ada balasan, Harry masih diam tanpa respon. Tubuh Lyra kembali merasa tersengat begitu bersentuhan dengan Harry. Ia bersemangat dan menggoda pria di hadapannya sambil meraba tubuh seakan ingin lebih. Bahkan air matanya luruh karena tak kuat menahan hasrat.Tak ingin semakin lama melihat Lyra tersiksa, Harry langsung melepaskan ciuman dan mengangkat tubuh wanita itu ke pundaknya. Menggendong layaknya karung beras."Lepasin! Plis sentuh aku. I need your touch... My skin.""If not because that fucking drug, I will. Kamu bakal marah sama aku besok kalau aku lakuin itu malam ini."Harry membawa Lyra ke dalam kamar mandi dan menyalakan keran air di bathtub, mengisinya dengan air dingin. Setelah terisi setengah ia memasukan
"panas, gak kuat.""Aku bakal bantu kamu. Buka bajunya sekarang."Victor membantu melepaskan pakaian yang dikenakan Lyra. Satu persatu kain yang menutupi tubuhnya tersingkirkan. Meninggalkan bra dan panties. Tubuhnya meremang melihat pemandangan tersebut. Lyra yang menggeliat dan meremat seprai dengan kuat.Tak ada cara lain, untuk membuat Lyra menetap di hidupnya adalah dengan memberikan benihnya. Dengan begitu Lyra tak akan pernah meninggalkannya. Dia tak bisa kehilangan cinta barunya."Lama banget sih!" Lyra yang semakin hilang kendali langsung mendorong Victor ke atas kasur. Dirinya melepas kancing baju pria tersebut dan menciumnya."Oh, shit. Apa gue kebanyakan ngasih obatnya?" gumam Victor hampir tak terdengar.Kini Victor kembali memegang kendali. Ia mempermainkan tubuh Lyra hingga wanita itu menggelinjang. Mata indahnya bergulir karena rasa nikmat. Desah demi desah terdengar dari setiap sentuhan yang didapat."Ahh... Cepet masukin," titah Lyra dengan nafas terengah.Di tengah







