ログインKini sepasang pasutri itu terjebak dalam suasana canggung di dalam mobil, Vannya sepertinya juga agak takut karena Jovan baru saja marah-marah tadi siang.
"Ingin sesuatu?" Ah tapi sepertinya sikap Jovan mulai berbeda ketika berbicara pada Vannya, pria itu terkesan sedikit merendahkan nada bicaranya dan bahkan cukup perduli."Tidak" Vannya cepat-cepat menggeleng untuk menolak. Rasanya terlalu asing untuk meminta sesuatu kepada Jovan.Jovan yang saat itu sedang menyetKunjungan tamu telah selesai, semua wajah tampak merasa lega sekaligus senang setelah mendapatkan penilaian bagus.Para asisten dan Jovan sudah bekerja keras untuk hari ini, terutama Jovan yang begitu bekerja keras menunjukan citra baik perusahaan. Semuanya berjalan lancar sesuai keinginan."Malam ini ayo makan bersama" Andi berseru di tengah kegiatan kerja yang membosankan, tentu mereka berharap mendapatkan lebih banyak waktu istirahat setelah menyambut tamu, tapi itu hanyalah sebuah mimpi karena kenyataanya mereka harus tetap kembali bekerja."Ada tempat makan baru tidak jauh darisini" Andi sekali lagi bicara untuk membujuk timnya yang tampak lesu, tapi sepertinya mereka benar-benar kehilangan semangat dan hanya bisa diam saja."Aku yang bayar" kata Andi lagi dengan senyuman kecil."Yess, AYO" Clara bercletuk semangat dengan senyuman mengembang lebar. Sedangkan yang lain ikut tersenyum dengan tidak kalah semangat."Kalian menje
Pagi ini Vannya terbangun dengan sedikit rasa tidak nyaman, tubuhnya terasa kaku dan sulit untuk di gerakan, tapi suasananya terasa jauh lebih hangat dari biasanya.Matanya perlahan terbuka, menangkap setiap tempat di sisinya dan menyadari kehadiran suaminya di atas ranjang yang sama.Mata Vannya terbuka semakin lebar, hampir saja keluar dari tempatnya karena terkejut. Jovan Fedorov yang selalu terkenal dingin itu tidur tepat di sisinya, tertidur pulas dengan wajah damai dan hembusan nafas yang hangat.Rona merah perlahan merambat di wajahnya, malu sekali saat mengingat dirinyalah yang meminta Jovan untuk menemaninya tidur semalam. Kini ia terbangun dengan Jovan yang masih memeluk pinggangnya, mungkin karena tidak tidak sadar, tapi Vannya tetap saja merasa berdebar karena terlalu dekat.Vannya tidak berani mengusik tidur Jovan, ia memilih untuk tetap diam dan menahan gejolak di dalam dadanya. Vannya sadar ia mulai bergantung kepada Jovan, tapi buk
"jadi... Kau tidak sengaja menidurinya?"Jovan tidak menyahut, justru fokus menonton tv dan membiarkan kedua temannya membereskan semua kekacauan yang telah mereka buat. Lagi pula jarang sekali Jovan memiliki waktu santai seperti ini, sesekali ia ingin menikmati waktu luangnya.Aldo dan Kevin menghela nafas, Aldo sibuk menyapu sedangkan Kevin mengumpulkan semua sampah, Jovan bilang harus benar-benar bersih jika tidak mau di tendang paksa."Bagaimana bisa tidak sengaja meniduri seorang gadis?" Kevin sekali lagi ingin mencari jawaban atas rasa penasarannya, tapi Jovan belum juga mau menjelaskan.Sedangkan Vannya, ia fokus mengikuti alur cerita di televisi, tampaknya kehadiran Aldo dan juga Kevin tidaklah penting untuk wanita itu, asal Jovan sudah pulang maka ia bisa bersantai.Hanya saja... Vannya merasa terharu karena Jovan mengakui anak di dalam kandungannya sebagai anaknya, dia mengakui kesalahan adiknya yang bresek dan tidak bertanggung
Vannya benar-benar tidak tahu jika Jovan telah menyiapkan segalanya, bahkan pakain dan seluruh kebutuhannya sudah tersedia di dalam apartemen ini, semuanya masih baru termasuk pakaian rumahan yang Vannya kenalan saat ini.Hari sudah sore dan menjelang malam, Vannya tidak tahu apa suaminya lembur atau tidak, masalahnya ia menginginkan sesuatu tapi tidak enak jika mengatakannya kepada Jovan."Apa tidak masalah jika aku minta langsung?"Vannya terus bergumam bimbang sejak satu jam yang lalu, ia menatap ponselnya yang di letakan di atas meja sofa, sedangkan dirinya tidak bisa duduk dengan tenang. Meskipun Jovan memang memperlakukannya dengan sangat baik, tapi Vannya tetap akan takut jika harus hidup mendampingi pria seperti itu.Sungguh Vannya belum menemukan sisi terbaik pria itu, padahal katanya dia menyukai Vannya, tapi sikapnya masih sama saja. Kevuali...Senyumannya yang tadi siang itu, apa dulu Angela juga sering melihatnya? Melihat sen
Di dalam mobil Vannya hanya menunduk, sesekali melihat keluar jendela hanya untuk menghindari kontak mata dengan suaminya.Jovan duduk diam di sampingnya, terdengar pria itu menghela nafas beberapa kali untuk meredakan emosi. Wajahnya yang sangat dingin ketika sedang marah itu bahkan membuat sopir merinding, ia benar-benar seperti iblis yang siap menerkam siapa saja."Jangan bergaul dengannya lagi" itu adalah kalimat pertama setelah menempuh jalanan berkilo-kilo meter."Saya tidak suka istri pembangkang" Jovan melanjutkan kalimatnya, masih dengan amarah yang tersisa.Lavannya yang duduk tepat di sampingnya hanya bisa menunjukan raut wajah bersalah. "Maaf" dan hanya kata maaf yang sanggup ia sampaikan.Jovan diam membuat suasana di dalam mobil kembali hening. Merasa situasinya sudah lebih tenang, Vannya akhirnya berani menoleh dan melihat kepada suaminya.Sebenarnya apa yang membuat Jovan begitu marah? apa karena Adeline membawa V
"kau bukan tipenya, sangat berbeda dengan Angela yang selalu glamor""Kau hamil duluan, apa itu bukan karena kau yang menggoda Jovan?""Iya kan? Bisa saja kau jalanh yang sengaja menjebaknya agat mau tidur bersamamu. Kalau tidak mama mungkin Jovan mau dengan wanita seperti dirimu""Hah" Vannya menghela nafas berat, rasanya ia tidak akan bisa bernafas jika masih di dalam ruangan ini.Situasinya semakin kacau, Vannya tidak bisa menghentikan mulut mereka yang tajam itu. Semua perkataan buruk mereka keluarkan hanya untuk menghina Vannya, rasanya sesak sekali."Vannya ngomong-ngomong keluargamu pasti bahagia menantu kaya raya kan? Berapa uang yang mereka minta setiap bulannya?"Vannya diam, tidak menjawab satupun ucapan mereka. Bahkan jamuan yang katanya di adakan untuk menyambut Vannya ini, nyatanya ia bahkan tidak mencicipi satupun makanan yang tersedia.Sementara itu, ibu mertua yang duduk di sampingnya jauh lebih banyak tersenyum, ia bahagia melihat para sepupu dan keponakan jauhnya mu
Ini adalah kali pertamanya untuk Jovan menghadapi seorang wanita hamil. Banyak hal yang tidak ia ketahui, bahkan waktu awal-awal ia pikir Vannya keracunan makanan karena terus mual dan muntah.Vannya juga tidak mengerti bagaimana bisa pria sedingin bongkahan es itu rela begadang sepanjan
Setelah hari-hari berlalu, hari ini Lavannya kembali memancarkan sinarnya, ia datang ke perusahaan setelah satu bulan lamanya, dan itu membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya. Kali ini mereka mulai menyadari perubahan fisiknya yang tambah berisi, tapi tidak ada yang berani berkomentar samp
Pagi ini adalah pertama kalinya Vannya dan Jovan duduk bersama di meja makan untuk menikmati sarapan pagi mereka. Tentu saja interaksi mereka jauh berbeda dari pasangan pada umumnya, bahkan seperti tidak ada interaksi sama sekali. "Menurutmu siapa yang akan bicara terlebih dahulu?" Para pelayan
Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula







