تسجيل الدخولVannya adalah gadis desa yang naas—takdir membawanya ke kota dengan harapan sederhana, namun justru memberinya luka yang tak pernah ia bayangkan. Ia harus menjalani kehidupan yang pahit setelah adik presdir perusahaannya dengan tega menidurinya, merenggut masa depan dan harga dirinya dalam satu malam kelam. Hidupnya hancur. Mimpinya runtuh satu per satu. Ia bahkan sempat berdiri di ambang keputusasaan, nyaris mengakhiri hidupnya sendiri karena tak sanggup menanggung beban rasa malu, trauma, dan ketakutan yang mencekiknya setiap hari. Namun tepat saat harapan itu hampir benar-benar padam, takdir kembali berbelok ke arah yang tak pernah ia duga. Jovan Fedorov—Presiden Direktur perusahaan tempatnya bekerja, sekaligus kakak kandung Damian—melangkah masuk ke dalam hidupnya. Bukan sebagai atasan yang dingin, bukan pula sebagai pria berkuasa yang menutup mata, melainkan sebagai seseorang yang dengan tegas dan penuh tanggung jawab memilih menanggung dosa adiknya. Di saat dunia seolah menelannya hidup-hidup, Jovan justru menjadi satu-satunya orang yang mengulurkan tangan. Dan dari sanalah, hidup Vannya perlahan berubah—meski luka itu tak pernah benar-benar hilang.
عرض المزيد"Tuan... Saya hamil"
Pria berdasi yang saat itu sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya sontak mendongak, netranya yang hitam kelam tertuju pada wanita muda yang berdiri di hadapannya. Wanita dengan rambut hitam bergelombang, yang mentapnya dengan rasa gugup sampai berkeringat dingin. Wajah cantiknya bahkan terlihat berkeringat meskipun ruangan ini ber- AC. "Ini surat pengunduran diri saya" Tangan seputih susu itu meletakan surat pengunduran di atas meja, membuat pria yang duduk di hadapannya melepaskan berkas-berkas di sisi lain, dan matanya menatap lekat surat pengunduran diri yang baru saja di ajukan. Jovan Fedorov... Sang Presdir yang selama ini di katakan sebagai pemimpin yang tegas juga displin, pria dengan karisma luar biasa yang dengan mudah menaklukan hati para wanita. Tapi selalu saja sikapnya terlalu santai, atau bisa di katakan cuek, dia selalu serius dalam pekerjaanya. "Kau akan menikah?" Jovan bersuara dengan nada penuh keharanan, sebab ia belum pernah mendengar jika sekretarisnya itu memiliki seorang kekasih. Lavannya Damara dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankan kekuatannya, ia menganggukan kepala dengan berat, dan dengan cepat menunduk untuk bersembunyi dari tatapan sang presdir yang penuh dengan intimidasi. Melihat anggukan dari sekretarisnya, Jovan terdiam cukup lama, seperti menimang-nimang keputusan yang hendak dirinya ambil. Vannya memegang sebagian besar pekerjaan penting di perusahaan, sangat sulit menemukan penggantinya, belum lagi jika harus mengajari dari awal kembali. "Kau sudah menemukan pengganti?" Vannya menggeleng sebagai jawaban, ia tidak memiliki persiapan karena semuanya begitu mendadak. "Temukan pengganti, sebelum itu saya tidak bisa memberhentikanmu" Gleg Vannya tahu ini akan terjadi, dan menemukan pengganti dirinya bukanlah hal yang mudah. Sangat sulit beradaptasi dengan Jovan yang sangat disiplin dan tidak suka kesalahan barang sedikitpun. "Tapi Tuan..." "Kau bisa mengambil cuti jika merasa tidak nyaman, perusahaan juga akan memberikan tunjangan untuk wanita hamil" Jovan tidak mau berdebat ataupun mengalah, ia tetap dengan keputusannya dan kembali melanjutkan pekerjaanya, sama sekali tidak melirik Vanya yang kala itu masih terdiam karena keputusan sepihak darinya. "Baik Tuan" Vannya kembali membuka suara setelah cukup lama terdiam. Meski terasa berat, ia mencoba untuk tetap kuat mengangkat kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Ingin sekali ia melawan, tapi Vannya juga mengerti dengan tanggungjawabnya di perusahaan ini. Lagi pula ini adalah mimpinya sejak dulu, menjadi bagian dari salah satu perusahaan terbesar di tanah air. "Gugurkan" "Aku tidak bisa mengakui anak itu" "Mungkin... Dia bukan anakku" "aku akan memberimu uang untuk menggugurkannya, dan kau bisa melanjutkan kehidupanmu seperti biasa" Di sepanjang hari hanya ada kalimat-kalimat menyayat itu yang Lavannya pikirkan, semuanya terus berputar seperti kaset rusak di dalam kepalanya. Rasa sakit yang ia rasakan terasa semakin menyiksa, dadanya sangat sesak seakan nafasnya akan berhenti saat itu juga. Entah kemana gadis malang itu harus pergi, tidak ada tujuan, tidak ada tempat untuk meminta bantuan, bahkan ia bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini kepada keluarganya. "Vannya..." Sapaan dari seseorang membuat lamunannya terpecah. "Berkas ini harus sampai ke Tuan Jovan sebelum jam makan siang, tolong berikan padanya ya! Aku akan pergi meeting sebentar" Vannya hanya mengangguk tanpa suara, ia kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke area kerjanya. Bukan hanya Vannya, setidaknya ada empat orang lagi yang selalu bekerja membantu Jovan mengurus perusahaan, mereka berada dalam satu ruangan yang tidak dapat di jangkau sembarangan orang di perusahaan ini. "Vannya, kau tidak enak badan?" Tatapan sayu Vannya terangkat, ia paksakan untuk tersenyum sambil menatap pria berkacamata yang duduk di sampingnya. "Hanya sedikit pusing" suaranya mengudara dengan lemah, Vannya tidak bisa menyembunyikan keadaanya yang tidak baik-baik saja. "Sepertinya kau tidak sehat, aku akan buatkan teh hangat, tunggu sebentar" Tidak ada respon dari Vannya, pikirannya sudah terlalu jauh melangkah, ia hanya terduduk diam dengan bersandar di sandaran kursi, matanya terpejam rapat tak ingin melihat peliknya dunia sedikitpun. "Ada apa? Tidak biasanya kau murung?" Vannya membuka matanya dan mendapati David sudah kembali dengan secangkir teh, pria itu meletakkanya di atas meja Vannya lalu kembali duduk di kursinya. "Tidak ada, hanya sedikit lelah" sedikit terdengar ketus dan lesu, sepertinya memang sedang ada masalah. Vannya memang bukan gadis yang ceria dan banyak energi, dia lebih ke arah anggun dan dewasa, sedikit pendiam tapi ramah. Karena itulah orang-orang gampang mengingatnya. Terlebih lagi senyumannya yang super manis itu membuat orang-orang meleleh melihatnya. Tapi kini kemurungan di wajahnya merenggut semua citra indah itu, Vannya tampak berbeda dan sangat putus asa, entah masalah apa yang sedang wanita itu hadapi. Tidak ada pilihan lain, Lavannya harus menyelesaikan pekerjaanya hari ini. Mungkin besok baru akan mulai mencari pengganti untuknya. Perusahaan ini sungguh bukan tempat yang tepat untuk Vannya bisa bertahan, ia harus segera pergi dan hidup aman bersama buah hatinya. Bukan akan menikah, tapi Vannya ingin kabur dari kota ini dan menjauhi pria brengsek yg tidak bertanggung jawab. Ia akan pergi sejauh mungkin agar anaknya tidak akan pernah tahu siapa Ayahnya yang begitu bajingan itu. .... "Damian, sang aktris muda yang saat ini sedang naik daun mengalami kecelakaan saat terlibat aksi balapan mobil Liar semalam" "Evakuasi berhasil di lakukan, dan dugaan sementara artis muda itu mengalami koma karena benturan hebat di kepalanya" Seluruh kota bahkan di seluruh negeri telah mendengar berita duka itu. Para penggemar berbondong-bondong memberikan doa, sedangkan orang awam yang tidak mengenalnya justru memberikan cibiran karena pria muda itu kecelakaan akibat ulahnya sendiri. "Katanya dia sedang mabuk saat kecelakaan, di sana juga ada pacarnya" "Jadi dia kecelakaan bersama pacarnya? Lalu bagaima kondisi gadis itu?" "Katanya mengalami luka-luka yang parah, tapi sudah sadar" Jovan terus melangkah di tengah gunjingan semua orang, kakinya yang jenjang tampak tegas dan berlalu begitu cepat, para pengawal mengikutinya dengan tertip dan memastikan Jovan sampai di mobil dengan aman. "Kerumah sakit" Sopir yang sejak tadi telah menantikannya segera mengangguk dengan patuh dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang. "Sepertinya menjenguk Damian, tahu sendiri dia artis kita yang paling berharga" Semua orang kembali bergosip tetang Jovan yang tiba-tiba pergi saat sedang meeting untuk menjenguk Dimian. Tentu itu tidak mengagetkan lantaran perusahaan dan Damian terikat kontrak yang sangat menguntungkan. Perusahaan ini menaungi Damian sejak tiga tahun yang lalu, dan baru-baru ini sahamnya melonjak tinggi karena kesuksesan Damian dalam drama terbarunya, tentu saja akan mengalami guncangan karena berita tersebut. .... "Apa kita juga harus menjenguknya?" Di ruangan yang sepi itu, suara Calara-lah yang terdengar paling nyaring, dia memang terlalu ceria untuk para orang berekspresi datar di sekitarnya. "Apa dia mati?" Vannya bergumam tanpa sadar, dan itu di dengar oleh semua orang. "Katanya koma, sebaiknya kita jenguk sebagai rekan kerja yang baik" Vannya tersenyum kecut, ia melihat berita di layar ponselnya dengan tatapan kosong, wajahnya semakin pucat dan mengkhawatirkan. Sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya berusaha ia tahan mati-matian, ia meremat bajunya untuk menahan rasa mual yang semakin naik hingga ketenggorokannya. "Sebaiknya mati saja" Lagi-lagi Vannya bergumam, namun kali ini tanpa di sadari oleh seorang pun. Clara yang tidak menyadari kegelisahan Vannya itu justru mendekat, ia tersenyum sambil menepuk pundak Vannya. "Kau cukup dekat dengannya, apa tidak mau menjenguk? Kau penggemar nomor satunya, dan aku nomor dua, kita harus menjenguknya supaya... Hey..." Clara terdiam kala Vannya tidak meresponnya dan malah terburu-buru pergi ke arah kamar mandi. Biasanya Vannya pasti akan menanggapi ocehnya dengan senyuman dan tatapan yang lembut, tapi entah kenapa kini Clara melihat jika ada luka yang Vannya sembunyikan, gadis itu tampak murung sejak satu minggu yang lalu. "Sepertinya dia sedang ada masalah" David bersuara sambil menatap kepergian Vannya. "Sebaiknya jangan ganggu dulu, kita bicarakan lagi masalah ini saat pulang nanti" Clara mengangguk lirih dan kembali duduk di kursinya, meskipun sebenarnya ia masih sangat penasaran dengan perubahan Vannya akhir- akhir ini, tapi ia memilih untuk tetap diam demi kenyamanan rekan kerjanya itu."ayo Akhiri hubungan ini"Bagai tersambar petir, Angel terbungkam saat mendengar kalimat itu terucap dari mulut kekasihnya."Hey" Angel menarik Jovan untuk masuk kedalam apartemennya. Gadis itu tercengang, tapi tetap mempertahankan senyuman manisnya."Kau sedang bercanda? Apa ingin memberikan kejutan untukku?" Angel kembali bicara dengan keceriaan, ia membawa Jovan untuk duduk di sofa bersama, tapi pria itu segera menolaknya."Ada apa?" Angel bertanya sembari menggenggam kedua tangan Jovan, matanya terus menyorot kedalam tatapan Jovan untuk mencari kebohongan di sana, setidaknya sedikit saja itu sudah cukup untuk menenangkannya.Tapi sama sekali tidak ada kebohongan di manapun Angel mencari. Ada apa sebenarnya?"Ayo akhiri semua ini!" Jovan menatap Angel yang masih terkejut dengan ucapannya, tanpa senyuman ataupun tatapan lembut penuh makna seperti sebelumnya.Kalimat yang terdengar membuat senyuman Angel berubah getir, ia melepaskan genggaman tangannya dari sang pria lalu mengambil s
"Ayo makan!" Vanya yang termenung di sudut kasur sederhananya segera menoleh, ia tersenyum kepada wanita tua yang masih berdiri di ambang pintu. "Nenek senang kau datang setelah sekian lama, tapi kenapa terus murung dan diam di kamar? Apa ada masalah?" Sudah sejak dua hari yang lalu Juliana meperhatikan cucunya. Gadis yang sejak dahulu selalu tersenyum dan memeluknya saat pulang, hari itu pulang tanpa kabar dan tanpa suara. Wajahnya sembab, terlihat sangat terpuruk dan gelisah, ada ketakutan yang terpancar dari matanya, namun entah hal apa yang membuat gadis itu murung. Vannya tersenyum simpul ketika nenek Juliana duduk di hadapannya, mengusap kepalanya dengan lembut dan memandang wajahnya dengan kasih sayang. "Bukankah hanya cuti selama tiga hari? Ayo keluar dan jalan-jalan" Juliana sebisa mungkin menghibur cucunya tanpa bertanya apa alasan gadis itu murung. Karena tidak mendapatkan ijin untuk berhenti bekerja, Vannya hanya bisa mengajukan cuti selama tiga hari. Ia berharap h
Hening... sangat sepi dan sunyi, Lavannya yang telah tersadar sejak lima belas menit yang lalu hanya berbaring tanpa suara. Terlihat sangat putus asa, yang ia lakukan sejak tadi hanyalah menatap langit- langit rumah sakit, tanpa memikirkan apapun.Dalam keheningan yang melanda, suara pintu yang terdengar berhasil memecahk lamunannya. Lavannya semakin terdiam saat melihat siapa yang datang."Ekhem..."Suara daheman yang manly membuat Vannya segera bangkit dari pembaringannya, ia pikir pria itu sudah pergi setelah menolongnya tadi."Tuan" cicit Vannya untuk menyapa.Jovan hannya diam, berdiri tepat di sisi brankar Vannya. Karena tidak ada suara yang terdengar, itu membuat suasana canngung bagi Vannya, ia tidak mengerti apa tujuan Jovan menghampirinya."Saya pikir Tuan sudah pergi" suara yang terdengar seperti hanya sebuah angin lalu untuk Jovan, pria itu tetap diam tanpa sedikitpun respon berarti di wajahnya.Karena terlalu canngung, Vannya akhirnya memberanikan diri untuk mendongak dan
Setelah kepergian Lavannya, Jovan masih terduduk diam di tempatnya, menyesap kopinya secara perlahan sembari mengetik pesan di ponselnya.Kecelakaan yang di alami Damian ini kemungkinan besar akan membuatnnya sibuk, perusahaan harus segera menjelaskan kondisinya kepada media, agar para penggemar bisa lebih tenang."Bagaimana kondisinya?"Suara yang tidak asing membuat Jovan dengan cepat mendongak, menghentikan kegiatannya yang teramat sibuk dengan pekerjaan di layar ponsel.Antonio Fedorov, ia yang saat itu sedang ada pekerjaan di luar kota segera datang setelah mendengar keadaan Damian, putra bungsunya yang saat ini sedang naik daun.Jovan bangkit dan berdiri di sisi ayahnya, menatap Damian yang tidak berdaya di atas brankar."Buruk, dokter bilang ada benturan hebat yang mengenai dadanya, itu membuat be.... Yah seperti itulah." Jovan berhenti bicara saat ayahnya tampak sudah cukup paham dengan keadaan Damian saat ini.Antonio menghela nafas, ia menatap putra sulungnya yang berdiri d














![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.