FAZER LOGINSophie tampaknya tidak yakin. Dia meletakkan troli belanjanya, mendekat, dan menatap langsung ke mata Anne. "Ini bukan hanya kelelahan," katanya dengan suara rendah. "Kau terlihat kurus. Wajahmu pucat. Matamu... kosong. Sepertinya kau belum tidur selama berminggu-minggu."Anne memalingkan kepalanya, tak sanggup menatap tatapan tajam itu. Ia merasakan air mata menggenang, gumpalan emosi mencekik tenggorokannya, mengancam akan meledak. Bukan di sini. Bukan sekarang. Bukan di depan Sophie, yang menatapnya dengan kekhawatiran yang sudah lama tak ia lihat."Ini memang masa-masa sulit," katanya, sambil memaksakan senyum. "Kau tahu kan bagaimana rasanya, rutinitas sehari-hari, anak-anak, rumah...""Dan Alexander?" tanya Sophie, dan suaranya berubah—lebih keras, lebih tajam, seolah-olah dia bersiap mendengar kabar terburuk.Anne ragu-ragu. Apa yang bisa dia katakan? Kebenaran? Bahwa suaminya berselingkuh, mengabaikannya, memaksanya menelan pil yang komposisinya tidak dia ketahui? Bahwa selama
Dia teringat kembali pada senyum yang pernah dikenakannya di depan teleponnya tadi. Senyum yang bukan ditujukan untuknya. Senyum untuk orang lain. Dan dia merasakan tekad baru muncul dalam dirinya, masih rapuh, masih ragu-ragu, tetapi sangat nyata.Dia tidak bisa terus seperti ini. Dia tidak bisa berpura-pura lagi. Dia tidak bisa tetap diam.Dia perlu tahu. Dia perlu menemukan kebenaran, seluruh kebenaran, betapapun menyakitkannya itu. Dan untuk itu, dia membutuhkan bantuan. Dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang akan mendengarkan tanpa menghakiminya, seseorang yang dapat membantunya melihat segala sesuatunya dengan jelas.Ia teringat Sophie. Sophie, sahabat lamanya, yang sudah berbulan-bulan tidak ia temui, yang telah ia abaikan, lupakan, dan tinggalkan. Sophie, yang pernah berkata kepadanya: "Jika kau membutuhkanku, aku akan ada di sana. Selalu."Mungkin sudah saatnya menghubunginya. Mungkin sudah saatnya memecah keheningan. Mungkin sudah saatnya, akhirnya, un
Kepulangan yang terlambat. Itu yang paling jelas, yang paling sulit diabaikan. Alexandre selalu bekerja keras—dia seorang dokter, dan jam kerja seorang praktisi rumah sakit sama sekali tidak teratur. Tetapi selama beberapa bulan terakhir, ketidakhadirannya menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih berkepanjangan. Dia berangkat pagi-pagi sekali, kadang-kadang sebelum fajar, dan pulang larut malam, seringkali setelah tengah malam. Ketika dia bertanya di mana dia berada, dia akan menjawab "sedang bekerja" atau "sedang rapat," tanpa pernah memberikan detail apa pun, tanpa pernah menawarkan penjelasan. Dan dia, yang penurut, patuh, takut akan konflik, menerima jawaban-jawaban yang mengelak ini tanpa mempertanyakannya.Lalu ada akhir pekan. Akhir pekan yang terkenal itu ketika dia "siaga," ketika dia harus "menggantikan seorang kolega," ketika dia "menghadiri konferensi di sisi lain Prancis." Dia akan berangkat Jumat malam, kembali Minggu siang, dan dia akan menghabiskan empat puluh delap
Ia berlama-lama di dapur setelah suaminya pergi. Piring-piring sudah dicuci, cangkir-cangkir sudah disimpan, meja sudah dilap. Rumah itu bersih, sunyi, rapi—seperti biasa, seperti yang diinginkan suaminya. Tetapi kesunyian pagi itu berbeda. Kesunyian itu terasa angker. Dipenuhi hantu, kecurigaan, pertanyaan yang tak terjawab. Dan yang terpenting, kesunyian itu dipenuhi dengan bayangan-bayangan. Bayangan-bayangan yang telah ia coba lupakan, tekan, kubur dalam-dalam di dalam dirinya, dan yang muncul ke permukaan seperti jiwa-jiwa yang tenggelam yang tak lagi bisa ia tahan.Dia duduk di sofa ruang tamu, menghadap jendela, dan membiarkan kenangan mengalir.Notifikasi-notifikasi itu. Di situlah semuanya bermula, berbulan-bulan yang lalu. Mungkin bahkan bertahun-tahun. Dia tidak ingat persis kapan pertama kali dia memperhatikan sesuatu yang tidak biasa—detail kecil, hampir tak terlihat yang tidak akan pernah diperhatikan oleh istri yang kurang jeli. Tapi Anne jeli. Dia selalu jeli, bahkan k
Kemudian datanglah panggilan-panggilan itu. Dia akan mengangkat teleponnya, merendahkan suaranya, berjalan keluar ke taman, atau mengunci diri di kantornya. Ketika dia bertanya siapa yang menelepon, dia akan menjawab "pekerjaan" atau "teman," tanpa pernah menyebutkan nama, tanpa pernah menjelaskan secara spesifik. Dia tidak mendesaknya. Dia tidak pernah mendesaknya.Lalu ada parfum itu. Aroma menyengat yang melekat pada pakaiannya, rambutnya, tubuhnya. Aroma yang tidak ia kenali, yang tidak pernah ia beli, yang tidak pernah ia pakai. Suatu malam, saat menyimpan mantelnya, ia menemukan sehelai rambut cokelat panjang tersangkut di kerah. Ia menatapnya dengan terkejut, lalu membuangnya ke tempat sampah tanpa berkata apa-apa. Ia tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan—atau lebih tepatnya, ia terlalu takut akan konsekuensi jika ia berani mengatakannya.Dia juga teringat foto itu. Foto yang pernah dilihatnya sekilas suatu hari, dari balik bahunya, ketika dia tanpa s
Dia tidak ingat persis kapan pertama kali mencium aroma itu. Itu terjadi secara bertahap, seperti semua hal penting dalam pernikahan mereka—dalam sentuhan-sentuhan yang berurutan, perubahan yang tak terlihat, pengkhianatan kecil sehari-hari yang awalnya dia tolak untuk lihat. Suatu malam, dia pulang lebih larut dari biasanya—bahkan lebih larut dari sebelumnya—dan ketika dia mencondongkan tubuh ke arahnya untuk memberikan ciuman yang kurang fokus di pipinya, aroma yang asing menyapanya. Sekilas, hampir tak terlihat, tetapi ada. Aroma bunga yang manis, dengan sentuhan vanili dan musk. Parfum wanita. Parfum yang belum pernah dia pakai, yang tidak akan pernah dia pilih, yang bukan berasal darinya.Malam itu dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia tetap diam, seperti biasanya. Dia menelan pertanyaan yang membakar bibirnya—Siapa wanita ini? Dari mana asalmu? Mengapa kau bisa mencium aroma parfumnya?—dan dia memalingkan muka, berpura-pura tidak memperhatikan apa pun. Keesokan harinya, pr







