LOGINSebagai tulang punggung keluarga, hidup Suci adalah tentang angka dan tuntutan yang seolah tidak ada habisnya. Hingga suatu hari, Arif datang membawa tawaran pernikahan tanpa cinta. Sebuah kontrak yang dibuat hanya untuk membungkam ambisi ibunya. Bagi Suci, semua itu hanyalah kesepakatan di atas kertas. Ia tahu posisinya, ia mengerti batasannya. Namun, saat tatapan dan perhatian kecil dari Arif mulai merayap masuk, benteng yang selama ini ia bangun perlahan runtuh. Jika sejak awal ini hanya tentang uang dan kontrak … Mengapa hatinya mulai berharap?
View More“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”
“Rif–”
“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan suaranya, “dan yang paling penting, jangan pernah lagi jodoh-jodohkan aku dengan siapa pun.”
“Bunda nggak pernah jodoh-jodohkan kamu,” balas Deswita cepat, nada suaranya mulai naik tetapi ia segera menahan diri karena mereka berada di tempat umum. Jika tidak didatangi di kantor, Arif pasti akan susah ditemui. “Bunda cuma mau kamu move on dan kenalan dengan anak teman-teman Bunda atau Ayahmu. Bukan mau jodohin kamu. Jadi, jangan selalu negative thinking.”
“Move on? Kenalan?” Arif tertawa singkat dan hambar. “Duduk satu meja, dipaksa basa-basi sama perempuan pilihan Bunda? Yang bener aja, Bun.”
Pernah sekali Arif akhirnya luluh karena Deswita kerap menanyakan kabar, memberi perhatian, dan datang menitipkan makanan untuknya di resepsionis gedung. Karena itulah, Arif mencoba berdamai dengan keadaan.
Arif berpikir, Deswita benar-benar ingin memperbaiki hubungan. Namun, ternyata ia salah. Di balik sikap hangat itu, ibunya sudah menyiapkan sesuatu. Sebuah makan malam yang sudah diatur. Arif dipertemukan dengan anak dari teman Deswita, lengkap dengan obrolan yang mengarah ke satu hal.
Penjodohan.
Sejak saat itu, Arif kembali menjaga jarak karena tidak ingin Deswita mengatur dan ikut campur dalam urusan perasaannya.
“Salah Bunda di mana?”
“Bunda masih tanya salahnya di mana?” Arif akhirnya berdiri lebih dulu karena beberapa rekan kerjanya mulai memandang dengan tatapan penuh curiga.
“Rif, Bunda ini bundamu, ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu,” ucap Deswita ikut berdiri. “Dan Bunda cuma ingin yang terbaik buat kamu. Nggak ada niatan lain.”
“Tapi cara Bunda yang salah.” Arif merentangkan satu tangannya menuju pintu keluar. “Biar aku antar sampai lift, silakan.”
Deswita menghabiskan jarak. “Kamu ngusir Bunda.”
“Bun, ini kantor.”
“Dan ini sudah waktunya pulang, kan?”
“Please, Bun, pleaseee.” Arif merangkul Deswita dengan senyum yang mau tidak mau harus dipaksakan. Ia membawa ibunya keluar dari area kantor. “Aku ada janji dengan orang satu jam lagi. Jadi, silakan pulang dan jangan pernah lagi datang ke kantorku.”
Deswita melepas rangkulan putranya begitu mereka berada di lorong menuju lift. Ia berhenti dan menatap tajam. “Sampai segitunya kamu sama Bundamu sendiri, Rif? Ini bukan pertama kali kamu ngusir Bunda, ninggalin Bunda, dan nggak mau bicara sama Bunda.”
Arif mengusap kasar wajahnya. Frustasi dengan tingkah kekanakan ibunya. “Aku butuh ruang, butuh jarak, butuh batas.”
“Sejak kapan seorang ibu harus berjarak dan harus dibatasi dengan anaknya sendiri?” Deswita meninggikan suaranya.
“Sejak Bunda masuk terlalu jauh dalam kehidupanku.”
“Nila!” Deswita tersenyum miring dan menggeleng. “Semua gara-gara perempuan itu!”
Rahang Arif sontak mengeras. Daripada terus berdebat, akhirnya ia pergi menuju lift lebih dulu dan berhenti di depannya.
“Rif …” Deswita buru-buru menyusul putranya. “Dengar, kamu bisa dapatkan perempuan yang bibit, bebet, bobotnya jauh lebih baik dari Nila. Jadi–”
“Bunda mau aku nikah?” putus Arif menahan pintu lift yang sudah terbuka di hadapannya.
“Jelas!” seru Deswita bersedekap. “Karena itulah Bunda betul-betul memilih dan memilah perempuan yang terbaik buatmu. Dan Bunda pastikan dia lebih baik dari Nila.”
Arif tersenyum tipis. “Oke! Kalau Bunda mau aku nikah, aku akan menikah!”
“Serius!” Mata Deswita mulai berbinar bahagia.
“Serius!” Arif kembali tersenyum tipis. “Tapi, dengan pilihanku sendiri. Sekarang silakan masuk, karena aku mau siap-siap ketemu orang. Permisi.”
💙💙💙💙💙💙💙
“Nikah … kontrak?” ulang Suci pelan, memastikan ia tidak salah dengar.
Arif mengangguk tanpa ragu. “Iya.”
Suci reflek tertawa canggung sambil memijat tengkuknya yang kaku setelah bekerja sehari penuh. Namun, tawa itu hanya sekejap saat melihat ekspresi Arif yang sama sekali tidak berubah. Ia lantas menegakkan tubuh dan kembali memasang wajah serius.
Suci mengusap wajahnya, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Pak. Tapi, ini nggak masuk akal. Saya cuma office girl dan Bapak … pengacara. Intinya, saya bukan siapa-siapa, jadi kenapa saya? Apa kata orang nanti?”
“Justru itu tujuannya.”
Suci mengerut dahi. “Maksudnya?”
Arif tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Napasnya tertahan sesaat sebelum akhirnya ia memejamkan mata.
“Pak …” tegur Suci pelan saat melihat keterdiaman Arif.
“Aku pernah hampir menikah,” ucap Arif akhirnya, datar. “Tapi, ibuku nggak setuju. Semuanya hancur… cuma karena status sosial yang berbeda. Bebet, bibit, bobot yang nggak setara menurut pendapat dia.”
Suci menelan ludah. “Jadi… saya ini cuma—”
“Alat.”
“Bapak mau balas dendam dengan ibu sendiri?” tebak Suci setelah mendengar jawaban gamblang dari pria itu. Sesungguhnya, ia agak tersinggung setelah mengerti alasan Arif ingin melakukan pernikahan kontrak dengannya.
Arif menatap dingin. Ia tidak akan menutupi hal apa pun di depan Suci agar semua jelas. “Aku cuma mau ibuku ... merasakan apa yang aku rasakan selama ini.”
Hening.
Suci akhirnya menggeleng pelan setelah berpikir, lalu memundurkan kursinya. “Maaf, Pak, saya–”
“Dua puluh juta sebulan.”
Gerakan Suci terhenti. Ia bahkan tidak jadi berdiri. Tubuhnya yang sudah sedikit bangkit akhirnya terduduk kembali. Harga diri yang sempat tertanam di dalam hati, mendadak goyah setelah mendengar angka yang akan diterimanya jika menerima tawaran Arif nanti.
“Fasilitas kesehatan, tempat tinggal, dan semua kebutuhan pokokmu, aku yang tanggung,” lanjut Arif semakin tegas. “Tugasmu cuma satu, pura-pura jadi istriku. Semua cuma di atas kertas dan nggak lebih dari itu.”
Suci semakin mencengkram erat tali tas selempangnya yang warnanya sudah sangat pudar. Bayangan dua puluh juta mendarat mulus di rekeningnya setiap bulan, langsung menari di pikiran. Beban bulanan yang di pikulnya selama ini juga bisa terbayar dengan begitu mudah jika ia menerima tawaran tersebut.
Dan bagi Suci, jelas angka tersebut sangatlah besar. Terlebih itu semua di luar kebutuhan pokok hariannya.
“Kamu masih bisa nego,” lanjut Arif, kali ini dengan senyum tipis. “Aku kasih waktu dua hari.”
Arif meraih ponselnya di meja kemudian berdiri. Menurutnya, semua hal sudah ia sampaikan pada Suci, jadi, gadis itu tinggal memikirkannya saja. Sebelum pergi meninggalkan Suci, ia berujar, “kita ketemu lagi sabtu pagi, jam tujuh. Di sini. Dan ingat, pembicaraan ini hanya antara kamu dan aku. Sampai jumpa.”
“Seratus juta … dua puluh lima juta sebulan.” Suci menelan ludah setelah mengucap hal tersebut. “Tapi … Bi-bisa saya minta uang mukanya dulu, Pak … seratus, juta.” Dengan jemari yang bergetar dan jantung yang mulai bertalu kencang, Suci membuka tas dan mengeluarkan dompetnya. “Ba-bapak … Bapak bisa bawa KTP sama SIM saya sebagai jaminan, karena cuma itu yang saya punya. Saya janji nggak bakal melarikan diri.”
Arif memperhatikan ekspresi dan gestur tubuh Suci dengan seksama. Gadis itu tampak gelisah, takut, juga ragu. Bahkan, rona wajahnya mulai terlihat pias saat jemari yang bergetar itu meletakkan dua buah kartu identitas di meja.
“Itu artinya, kamu setuju?” tebak Arif menyimpulkan.
Suci menelan ludah. Menatap Arif sembari mengangguk pelan. Lupakan tentang harga diri, karena saat ini ia tidak sedang menjual tubuhnya pada Arif. Suci hanya perlu berpura-pura menjadi istri di atas kertas dan tidak lebih dari itu. “Saya setuju.”
“Datang ke apartemenku besok kalau begitu, jam enam pagi,” pinta Arif setelah melihat jam tangannya. Kemudian, ia mengeluarkan dompet dan menarik access card yang dulu pernah dipinjamkan pada Suci. “Ada yang harus kita bicarakan, sebelum seratus juta pindah ke tanganmu.”
“A-apa yang mau kita bicarakan?”
“Semua … tentangmu dan tentang kontrak kita,” ucapnya sambil menyodorkan access card di hadapan gadis itu. “Jadi, sampai ketemu besok, di tempatku.”
🩵🩵🩵🩵🩵🩵🩵
Halu, Mba beb ter~💙
Kita ketemu lagi di judul baru, dengan tokoh lama dari “Setitik Nila” yang akhirnya dilanjut di sini. Dan ternyata, bu Deswita masih sama saja ~~ 🫣
Hepi riding yaaa ~~
Kisseesss
💋💋💋💋
“Yakin mau ngambil psikologi?” tanya Sahli duduk melantai di samping Suci yang sedang menatap laptop. Ia meremas mi instan yang dibawanya dari dapur lalu membuka bungkusnya. Suci menoleh pelan. Menatap mi instan yang ada di tangan Sahli lalu menelan ludah. “Nggak dimasak minya?”“Nggak,” jawab Sahli sambil mengeluarkan bumbu mi tersebut dari dalam bungkus. “Mau kumakan gini aja.”Suci menghela panjang. Ia harus bersabar, karena masih tidak diperkenankan memakan makanan seperti itu oleh Arif dan kedua adiknya. “Eh, itu tadi belum dijawab,” ujar Sahli mengingatkan. “Jadi ngambil psikologi?”Suci mengangguk pelan. Harusnya ia sudah mendaftar kuliah beberapa bulan lalu. Namun, karena ada insiden dengan Deswita yang mengharuskannya bedrest, maka Suci terpaksa menunda niatnya untuk kuliah. “Nggak jadi,” jawab Suci kemudian menoleh pada Hadi yang sedang bersama Aska area bermain.Setelah kembali dari rumah mertuanya kala itu, Suci pun berinisiatif untuk mengubah sebagian ruang keluarganya
“Wah …” Langkah Suci berhenti di ruang tengah kediaman Adiningrat. Ia takjub, terkejut, dan tidak menduga jika separuh ruangan tersebut ternyata dijadikan area bermain. Untuk siapa lagi jika bukan untuk Aska. Sebuah playmat luas terhampar dengan beragam mainan bayi dan tempat tidur mungil di sisinya. Pagar pengaman warna-warni pun juga sudah disiapkan sebagai pengaman di sekitarnya. Padahal, saat ini Aska belum bisa berguling ke mana-mana, tetapi semua sudah tersedia di rumah mertuanya. Bahkan, Suci tidak memiliki barang-barang seperti itu di rumahnya sendiri. Sepertinya, Aska akan menjadi “Raja” kecil di keluarga Adiningrat.“Langsung ke atas aja,” ujar Deswita yang sudah duduk lebih dulu di area bermain bersama Aska. “Aska biar sama Oma.”Suci menggaruk pelan sisi lehernya. Sebenarnya, hubungannya dengan Deswita sampai saat ini masih tetap berjarak. Mereka memang sudah tidak lagi bersitegang seperti dulu, tetapi keduanya juga belum memiliki kedekatan yang membuat Suci bisa bersik
“Ayah tadi itu serius, ngajak kita minggu depan nginap di rumahnya?” tanya Suci setelah mobil Ivan keluar dari pagar. Ia masih berdiri di teras rumah bersama Arif, sementara Aska sudah tidur dengan lelapnya di ayunan di ruang tengah. Arif mengangguk sambil mengalungkan sata tangan di pinggang Suci. Ia mengangguk dan tersenyum kecil pada Jaja yang baru menutup pagar, kemudian membawa istrinya kembali masuk ke dalam rumah. “Tadinya cuma makan malam,” terang Arif, “tapi, mendadak Bunda nyuruh sekalian nginap sana. Bawa Aska.”“Haaah …” Setelah mendesah panjang, Suci lantas memajukan bibirnya. Masih separuh hati dengan ajakan Ivan tersebut. Bukan karena trauma, tetapi ia pasti merasa canggung bila harus menginap di rumah mertua yang pernah membenci dan menolaknya mati-matian. “Kenapa? Kamu nggak mau?” tanya Arif.“Aku nggak enak,” jawab Suci sambil melingkarkan tangan di lengan Arif. “Mana bawa bayi, terus juga masih nyusuin. Kalau aku lapar, terus mau makan ini itu pas malam, kan, su
“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti,” ujar Ivan sambil melepas dasi yang melingkar di lehernya setelah duduk sofa. Deswita yang sedang menatap ponselnya langsung menoleh. Apa ia tidak salah dengar?Arif mengundang Deswita makan malam Sabtu nanti?“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti?” Deswita mengulang kalimat yang dilontarkan Ivan. “Malam minggu nanti?”“Iya.” Ivan meluruskan kedua kakinya, meletakkan di atas meja. “Kalau mau, kita berangkat sore biar bisa lama dengan Aska.”Deswita terdiam. Dari ekspresi dan kalimat Ivan, tampaknya suaminya itu juga sudah tahu jika Deswita sering berkunjung ke rumah Arif untuk menengok Aska. “Nggak ada yang perlu disembunyikan lagi,” lanjut Ivan ketika melihat istrinya tidak bersuara. “Aku sudah tau kalau Bunda sering ke rumah Arif kalau siang.”Deswita langsung membuang wajah dari suaminya. Enggan menanggapi ucapan tersebut.“Kalau bisa, jam tiga sudah berangkat,” ujar Deswita kembali melihat vi
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko
“Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore