แชร์

Pengkhianatan di Tepi Jurang

ผู้เขียน: Kingdenie
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-28 06:42:38

Raungan Beruang Besi Punggung Duri itu bukan sekadar suara; itu adalah gelombang kejut yang menghancurkan moral dan mencabik keberanian.

BRAAAKK!

Tanah di lembah sempit itu berguncang hebat saat cakar raksasa binatang itu menghantam batu, menciptakan kawah sedalam lutut. Dua murid Divisi Tombak yang tadi terlempar kini tak lagi bergerak, tubuh mereka hancur tak berbentuk di antara serpihan baju zirah dan darah yang mulai menggenang.

"Formasi! Pertahankan formasi!" teriak Tetua Raksita, suaranya nyaris tenggelam oleh kekacauan. Ia melompat maju, pedang besarnya menyala dengan Qi kuning tebal, menghantam punggung beruang itu.

TANG!

Bunyi logam beradu dengan logam memekakkan telinga. Pedang Raksita, senjata tingkat menengah yang mampu membelah batu granit, terpental begitu saja saat menyentuh bulu-bulu keras di punggung beruang itu. Binatang itu bahkan tidak tergores. Kulitnya sekeras baja tempaan, dan kegilaan di matanya membuatnya kebal terhadap rasa sakit.

"Mustahil ..." wajah Raksita memucat, tangannya gemetar menahan getaran benturan. "Kulitnya dilapisi energi yang tercemar! Mundur! Cari titik lemahnya!"

Tetapi, mundur adalah kata yang asing bagi monster yang sedang mengamuk. Beruang itu berputar dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk makhluk sebesar itu. Ia mengibaskan lengan depannya, menyapu tiga murid sekaligus. Jeritan ngeri terdengar saat tulang-tulang patah seperti ranting kering.

Kepanikan menyebar seperti wabah. Barisan murid yang sombong saat keberangkatan tadi kini berhamburan seperti semut yang disiram air panas. Arogansi mereka lenyap, digantikan oleh insting bertahan hidup yang paling purba yaitu lari.

Di tengah kekacauan itu, Darius terdesak mundur hingga ke pinggir tebing. Wajah tampannya kini tercemar oleh ketakutan. Pedangnya teracung gemetar, tidak berani mendekat. Matanya liar mencari jalan keluar, mencari tameng, mencari apa saja yang bisa menyelamatkan nyawanya.

Tatapannya jatuh pada Aksara.

Pemuda pelayan itu berdiri mematung di dekat tumpukan logistik, matanya terpaku pada monster itu. Aksara tidak lari seperti pelayan lain. Ia berdiri di sana dengan ketenangan yang aneh, seolah sedang menunggu giliran.

Sebuah ide keji melintas di benak Darius. Beruang itu butuh mangsa untuk melampiaskan amarahnya. Jika monster itu sibuk memakan seseorang, Darius dan yang lain bisa punya celah untuk lari atau menyerang.

"Kau ..." desis Darius, seringai gila muncul di bibirnya. "Kau ingin jadi pahlawan, kan? Jadilah pahlawan!"

Tanpa peringatan, Darius berlari ke arah Aksara. Ia menangkap kerah jubah lusuhnya.

"Tuan Darius?!" Aksara tersentak kaget.

"Makan ini, Monster Sialan!" teriak Darius.

Dengan mengerahkan tenaga Qi-nya, Darius melempar tubuh Aksara ke udara, melontarkannya tepat ke arah Beruang Besi yang sedang meraung.

"AKSARA!" jerit Larasmaya dari kejauhan, suaranya pecah oleh ketakutan.

Tubuh Aksara melayang, jatuh terguling di lumpur berdarah, tepat tiga langkah di depan moncong monster itu.

Beruang itu berhenti mengamuk sesaat. Kepala besarnya menunduk, menatap gangguan kecil yang baru saja disajikan di hadapannya. Napasnya yang berbau belerang dan daging busuk menerpa wajah Aksara. Liur korosif menetes dari taringnya, mendesis saat menyentuh tanah di samping telinga Aksara.

Binatang itu menggeram, mengangkat cakar kanannya tinggi-tinggi. Cakar itu setajam pisau, siap memisahkan kepala Aksara dari tubuhnya dalam satu sabetan.

Aksara mendongak, menatap kematian yang menjulang di atasnya.

Waktu seolah melambat.

Ia bisa melihat Darius yang tersenyum lega di belakang. Ia bisa melihat Larasmaya yang berusaha lari menerobos kerumunan namun ditahan oleh temannya. Dan ia bisa melihat cakar raksasa itu mulai turun membelah udara.

Seharusnya ia takut.

Seharusnya ia menjerit memohon ampun.

Namun, di detik-detik terakhir itu, rasa panas di dada Aksara meledak. Darah emas di dalam nadinya bergolak, bukan karena takut, tapi karena tersinggung.

Berani sekali kau, bisik suara purba di dalam kepalanya. Berani sekali makhluk rendah ini mengangkat cakar padaku.

Pupil mata Aksara yang hitam kelam tiba-tiba berubah. Mengecil, memanjang, menjadi celah vertikal yang bersinar dengan cahaya keemasan. Itu adalah mata seekor predator puncak yang sangat nyata.

Aksara tidak menutup matanya. Ia justru membuka matanya lebar-lebar, menatap langsung ke dalam mata kuning monster itu.

Sebuah geraman rendah keluar dari tenggorokan Aksara. Itu bukan suara manusia. Itu adalah suara gesekan lempeng bumi, getaran yang membuat tulang berderit.

"DIAM!"

Satu kata. Hanya satu kata yang diucapkan dengan frekuensi yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.

Efeknya instan dan sangat tidak masuk akal.

Cakar raksasa itu berhenti mendadak di udara, hanya sejarak satu jengkal dari wajah Aksara. Angin dari hempasan cakar itu meniup rambut Aksara ke belakang, tapi kulitnya tidak tersentuh sedikit pun.

Beruang Besi Punggung Duri itu membeku. Kegilaan di matanya lenyap seketika, digantikan oleh teror murni. Tubuh raksasanya gemetar hebat, seolah baru saja melihat hantu rajanya sendiri bangkit dari kubur.

Perlahan, dengan gerakan kaku dan patuh, monster setinggi tiga meter itu menarik cakarnya. Ia tidak menyerang. Ia mundur selangkah, lalu menjatuhkan tubuh depannya ke tanah.

Monster itu bersujud.

Ia menempelkan moncongnya ke lumpur basah di depan kaki Aksara yang beralaskan sandal jerami, merintih pelan seperti anak anjing yang memohon ampun pada tuannya.

Kesunyian yang mencekam menyelimuti lembah itu. Hujan berhenti menetes. Angin berhenti berhembus.

Tetua Raksita menjatuhkan pedangnya karena syok. Para murid ternganga, otak mereka gagal memproses apa yang sedang terjadi. Seorang pelayan tanpa Qi, seorang "sampah" yang dilempar sebagai umpan, baru saja membuat monster tingkat tinggi bertekuk lutut hanya dengan tatapan mata.

Darius mematung, senyum kemenangannya membeku menjadi ekspresi ketakutan yang jelek. Kakinya gemetar.

Apa itu? batin Darius histeris. Makhluk apa dia? Itu bukan Aksara ... itu monster! Jika dia hidup ... jika dia kembali ke sekte dengan kekuatan itu ... akulah yang akan mati!

Rasa takut itu dengan cepat bermutasi menjadi niat membunuh yang gelap. Darius melihat sekeliling. Semua orang masih terpaku. Tetua Raksita masih syok.

Ini kesempatannya. Ia harus membunuh "ancaman" itu sekarang, sebelum Aksara menyadari kekuatannya sendiri.

"Dia mengendalikan monster itu!" teriak Darius tiba-tiba, suaranya melengking memecah keheningan. "Dia penyihir aliran sesat! Dia memanggil iblis itu untuk membunuh kita! Bunuh dia sebelum dia memerintah beruang itu memakan kita semua!"

Itu tuduhan gila, tapi di tengah ketakutan, logika tidak berlaku. Beberapa murid yang panik mulai termakan hasutan itu.

Darius tidak menunggu. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Qi biru memancar deras, membentuk bilah angin tajam.

"Mati kau, Iblis!"

"Teknik Pedang Angin: Tebasan Pembelah Gunung!"

Aksara baru saja tersadar dari terpukaunya. Matanya meredup kembali menjadi mata manusia biasa. Tubuhnya lemas seketika setelah ledakan energi tadi. Ia menoleh saat mendengar teriakan Darius, hanya untuk melihat gelombang energi biru meluncur deras ke arahnya.

Ia tidak bisa menghindar.

Beruang Besi di depannya bereaksi. Didorong oleh insting melindungi "Raja"-nya, monster itu mengangkat tubuhnya, mencoba menjadi tameng.

SLAASH!

Tebasan pedang Darius menghantam bahu beruang itu, menyayat daging kerasnya, namun sisa energi tebasan itu terus melaju, menghantam tanah tepat di bawah kaki Aksara.

Pinggiran tebing itu yang memang sudah retak akibat pertarungan tidak kuat menahan ledakan energi sebesar itu.

KRAK!

Suara batu pecah terdengar seperti petir. Lantai bumi di bawah Aksara runtuh seketika.

Aksara merasakan pijakannya hilang.

Dunia berputar.

"AKSARA!!"

Teriakan Larasmaya terdengar jauh dan putus asa. Gadis itu berlari ke tepi jurang, mengulurkan tangannya, jemarinya menggapai udara kosong.

Aksara jatuh.

Ia melihat wajah Larasmaya yang menjauh, basah oleh air mata. Ia melihat Darius yang berdiri di atas tebing dengan napas terengah, matanya memancarkan kepuasan gila. Dan ia melihat Beruang Besi itu meraung sedih ke arah langit, meratapi tuannya yang jatuh.

Angin menderu di telinga Aksara. Kegelapan jurang Waringin Hitam membuka mulutnya lebar-lebar, menelan tubuh kurus itu bulat-bulat.

Cahaya di atas sana mengecil, lalu lenyap. Aksara jatuh semakin dalam, melewati lapisan kabut beracun yang pekat. Anehnya, ia tidak merasa takut. Rasa sakit di hatinya karena perlakuan Darius jauh lebih besar daripada rasa takut akan kematian.

Aku mati, pikirnya hampa. Aku mati karena aku lemah.

Tapi takdir memiliki rencana yang berbeda.

Tepat sebelum kesadarannya hilang, Aksara merasakan tubuhnya menembus permukaan cairan yang hangat dan kental di dasar jurang.

BYUUR!

Ia tidak hancur berkeping-keping. Cairan itu menangkapnya, memeluknya seperti rahim ibu.

Itu bukan air.

Itu darah.

Danau darah yang bercahaya keemasan di tengah kegelapan abadi.

Aksara tenggelam, melayang di dalam cairan itu. Luka-lukanya mendesis, menutup dengan kecepatan yang mengerikan.

Di kedalaman yang sunyi itu, sepasang mata raksasa terbuka di hadapannya.

Mata reptil purba berwarna emas, agung dan akrab.

Suara purba itu kembali bergema, bukan di telinganya, tapi langsung di dalam jiwanya, menggetarkan setiap atom keberadaannya.

"Sakit, bukan? Dikhianati oleh kaummu sendiri ..."

Sosok bayangan naga raksasa melingkari tubuh kecil Aksara di dalam darah itu.

"Bangunlah, Anakku. Tidurmu sudah terlalu lama. Dunia ini lupa rasa takut pada kita. Sudah saatnya kita ingatkan mereka."

Cairan emas itu menyerbu masuk ke dalam mulut dan hidung Aksara, membakar paru-parunya dengan kekuatan yang bisa menghancurkan dewa. Di dasar jurang kematian itu, jantung Aksara berhenti berdetak satu detik ...

... lalu berdetak kembali dengan suara yang menyerupai dentum genderang perang.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Warisan Darah Langit   Armada Hantu dan Lautan Ungu

    Laut Selatan biasanya merupakan jalur perdagangan yang paling aman di bawah perlindungan bendera Sekte Matahari Suci. Tidak ada bajak laut yang cukup gila untuk menyentuh kapal yang membawa lambang matahari emas di layarnya.Namun, malam ini, laut itu mati.Konvoi suplai raksasa yang terdiri dari dua puluh kapal kargo besar sedang berlayar menuju Kota Pelabuhan Tanjung Perak. Kapal-kapal itu memuat ribuan ton Batu Roh, senjata, dan bahan obat yang dikirim dari wilayah pusat untuk memperkuat garis pertahanan Aliansi di selatan.Di atas kapal utama, Kapten Surya, seorang kultivator Inti Emas Awal berdiri di anjungan, menatap kabut tebal yang tiba-tiba turun menyelimuti armada."Kabut sialan," gerutu Kapten Surya. "Penyihir Cuaca! Usir kabut ini! Aku tidak bisa melihat ujung hidungku sendiri!"Seorang penyihir angin di dek mencoba merapal mantra. Namun, bukannya menipis, kabut itu justru semakin pekat. Dan warnanya berubah. Dari puti

  • Warisan Darah Langit   Penobatan Raja Iblis

    Pertempuran di Arena Pusat Nusa Kencana tidak berlangsung lama. Itu bukan perang; itu adalah eksekusi massal.Lima puluh pengawal elit Jagal, para pembunuh bayaran veteran yang telah mencabut nyawa ratusan orang tumbang seperti gandum di hadapan sabit.Kabut ungu Larasmaya bergerak seperti makhluk hidup, menyusup ke dalam hidung dan telinga para pengawal. Mereka yang menghirupnya tidak mati seketika; mereka berhalusinasi, melihat teman sendiri sebagai monster, lalu saling tikam dalam kegilaan.Di tengah badai kekacauan itu, Aksara Linggar adalah pusat gravitasinya.Ia tidak menggunakan senjata. Ia tidak membutuhkannya. Tangan Kiri Asura-nya mencabut nyawa dari tubuh fisik musuh, sementara Cakar Naga Kanan-nya menghancurkan tulang dan baju zirah mereka.KRAK! SREET!Satu per satu pengawal jatuh. Darah membanjiri pasir arena, mengubahnya menjadi lumpur merah yang kental.Di balkon kehormatan, Si Jagal gemetar hebat. Gelas anggu

  • Warisan Darah Langit   Sejarah yang Dicuri dari Langit

    Dalam kegelapan tidur panjangnya, Aksara tidak bermimpi. Ia mengingat.Kesadarannya ditarik masuk ke dalam aliran darah Jantung Raja Naga yang baru saja ia tanam di dadanya. Darah itu bukan sekadar cairan kehidupan; itu adalah perpustakaan memori yang telah ada sejak dunia ini terbentuk.Aksara melihat zaman dahulu kala.Zaman di mana langit tidak berwarna biru, melainkan ungu keemasan. Zaman di mana manusia dan naga hidup berdampingan, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara.Manusia menunggangi naga untuk membelah awan. Naga mengajarkan manusia cara menyerap Qi alam semesta. Peradaban mereka begitu maju, begitu kuat, hingga kultivator pada masa itu tidak perlu memakan pil atau membunuh sesama untuk naik tingkat. Mereka hidup dalam harmoni.Kekuatan gabungan antara Kebijaksanaan Manusia dan Fisik Naga menciptakan entitas yang nyaris sempurna.Lalu, Aksara melihat Mereka.Langit terbelah. Bukan oleh petir, tap

  • Warisan Darah Langit   Penjaga Gerbang Jantung

    Lorong menuju perut bumi itu ternyata tidak gelap gulita seperti yang Aksara bayangkan.Dinding-dindingnya terbuat dari tulang rusuk yang membatu, memancarkan cahaya merah temaram yang berdenyut seirama dengan suara DUM yang menggema dari kedalaman. Udara di sini panas, kering, dan berbau belerang purba.Setiap langkah yang diambil Aksara terasa semakin berat. Bukan karena gravitasi bumi, melainkan karena Tekanan Spiritual yang dipancarkan oleh sisa-sisa keberadaan Raja Naga di bawah sana. Tekanan itu menolak kehadiran makhluk hidup lain. Bagi manusia biasa, tekanan ini sudah cukup untuk menghancurkan pembuluh darah otak dalam radius satu mil.Aksara terengah-engah. Keringat membanjiri tubuhnya yang setengah bersisik. Lututnya gemetar, seolah memikul gunung di pundaknya."Kau merasakannya?" suara Naga Wiratama terdengar bergetar, penuh rasa hormat dan duka. "Ini adalah aura Baginda Raja Antaboga. Bahkan dalam kematiannya, be

  • Warisan Darah Langit   Pelabuhan Dosa dan Darah Pertama

    Angin laut yang berhembus di Nusa Kencana membawa bau alkohol, keringat, dan darah yang mengering.Pulau itu tidak memiliki pemerintahan. Tidak ada bendera sekte yang berkibar. Yang ada hanyalah ribuan bangunan kayu yang ditumpuk sembarangan di atas tebing karang, saling sambung-menyambung dengan jembatan gantung yang rapuh. Kapal-kapal bajak laut, pedagang budak, dan buronan berlabuh berdesakan di pelabuhan yang kumuh.Di sinilah sampah dunia berkumpul. Di sinilah mereka yang dibuang oleh Aliansi menemukan rumah.Siang itu, kesibukan di pelabuhan terhenti sejenak.Sebuah perahu kecil merapat di dermaga utama. Tidak ada layar, tidak ada dayung. Rakit itu bergerak membelah ombak seolah ditarik oleh hantu air.Tiga sosok melangkah turun ke dermaga kayu yang berderit.Seorang pemuda dengan jubah hitam longgar yang menutupi satu lengannya. Wajahnya tertutup topeng kayu polos.Seorang wanita cantik dengan kulit pucat dan tato bunga hitam d

  • Warisan Darah Langit   Pulau Jantung Berdetak

    Kesadaran Aksara kembali dengan perlahan dari dasar laut yang gelap dan sunyi. Tidak tergesa, tidak menyakitkan, hanya pelan, seolah dunia memberinya waktu untuk bernapas kembali.Hal pertama yang menyentuhnya bukanlah suara, melainkan bau.Bukan bau darah. Bukan asap mesiu. Bukan racun yang menusuk paru-paru. Yang ada hanyalah garam, lumut basah, dan aroma herbal asing yang lembut dan menenangkan, hampir seperti janji bahwa ia masih hidup.Perlahan, Aksara membuka matanya.Cahaya biru yang lembut menyambut pandangannya. Ia tak lagi tergeletak di pantai berpasir kasar tempat kesadarannya terputus. Ia berada di dalam sebuah gua luas, sunyi dan megah.Dinding-dinding gua dipenuhi kristal biru berpendar, memancarkan cahaya alami yang dingin namun menenangkan. Kilauannya menari di permukaan batu, memantul ke langit-langit yang menjulang tinggi. Dari sana, tetes-tetes air jatuh perlahan, menciptakan irama halus saat menyentuh kolam-kolam kecil di lantai gua, seperti napas dunia yang masih

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status