Beranda / Pendekar / Warisan Darah Langit / Menuju Gerbang Kematian

Share

Menuju Gerbang Kematian

Penulis: Kingdenie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-28 06:41:45

Aksara menatap genangan merah bercampur emas di depannya dengan napas tertahan. Jantungnya berpacu liar, memukul-mukul rusuk yang masih terasa nyeri. Di sekelilingnya, kesunyian Wana Jagad terasa menekan, seakan sedang menahan napas, mengamati apa yang baru saja keluar dari tubuh seorang pelayan hina.

"Wadah ... telah ... retak..."

Suara itu terdengar lagi di otaknya, gema purbanya bergetar di dalam tengkorak kepala Aksara. Itu bukan halusinasi. Aksara tahu itu. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang telah berubah malam ini. Tubuhnya yang selama ini hampa, "bejana bocor" yang dikutuk langit, tiba-tiba terasa penuh.

Penuh dengan sesuatu yang asing, panas, dan lapar.

Dengan tangan gemetar, Aksara meraup tanah beku di sekitarnya. Ia menimbun darah aneh itu dengan panik, menyembunyikannya di balik lapisan lumpur dan es. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun melihat ini. Jika para tetua tahu ada kelainan baru pada tubuhnya, mereka mungkin tidak akan membuangnya ke dapur, melainkan membedahnya di meja eksperimen.

"Hanya darah," bisiknya pada diri sendiri, mencoba meyakinkan logikanya yang mulai retak. "Aku hanya sakit parah. Itu saja."

Saat ia bangkit berdiri, rasa panas di dadanya tidak menghilang. Rasa itu justru merayap pelan ke seluruh pembuluh darahnya, memberikan sensasi energi yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Lelah di ototnya menguap. Nyeri di tulangnya mereda.

Ia menoleh sekali lagi ke utara, ke arah Pegunungan Waringin Hitam yang menjulang seperti raksasa tidur di kejauhan. Rasa takut itu masih ada, namun kini bercampur dengan dorongan lain yang lebih kuat: kerinduan.

"Baiklah," gumam Aksara, matanya menyipit tajam. "Jika kau memanggilku, aku akan datang."

Fajar di Sekte Wana Jagad biasanya disambut dengan kicauan burung, namun pagi ini, suara itu digantikan oleh hiruk-pikuk persiapan keberangkatan.

Lapangan di gerbang utama sekte telah dipenuhi oleh ratusan orang. Kabut pagi yang dingin tidak mampu meredam semangat dan arogansi para murid terpilih yang akan berangkat. Mereka berdiri dalam barisan rapi berdasarkan divisi masing-masing. Divisi Pedang dengan jubah putih bergaris perak, Divisi Tombak dengan aksen merah, dan Divisi Alkimia dengan jubah hijau daun yang menyejukkan mata.

Di sisi lain lapangan, jauh dari kemegahan barisan para kultivator muda, terdapat kelompok yang jauh lebih menyedihkan. Puluhan pelayan berpakaian lusuh, termasuk Aksara, berdiri berdesakan. Wajah mereka pucat, mata mereka liar memandang tumpukan peti kayu, tenda, dan perbekalan yang menggunung. Mereka tahu peran mereka hari ini bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai keledai pengangkut beban.

"Kau yakin mau ikut, Nak?"

Seorang pelayan tua di samping Aksara menyenggol lengannya. Pria itu ompong, punggungnya bongkok permanen karena beban tahunan. "Waringin Hitam bukan tempat piknik. Tahun lalu, dari dua puluh pengangkut, hanya lima yang kembali. Sisanya ... yah, mereka menjadi pupuk yang bagus."

Aksara mengencangkan ikatan tali jerami di pinggangnya. Ia tidak membawa senjata, hanya sebilah pisau dapur karatan yang ia selipkan di balik jubah.

"Aku butuh pil itu, Paman. Dan imbalan peraknya."

Si pelayan tua mendengus. "Uang tidak berguna bagi mayat."

Sebelum Aksara sempat menjawab, suara cambuk meledak di udara. Seorang pengawas logistik berteriak garang. "Diam kalian, tikus-tikus malas! Mulai angkat barangnya! Jangan ada yang tertinggal atau kukuliti punggung kalian!"

Aksara melangkah maju. Di depannya ada peti kayu besar berisi pasak besi penyegel. Ukurannya hampir sebesar tubuhnya sendiri. Dua pelayan lain mencoba mengangkat peti serupa dan terhuyung-huyung, wajah mereka memerah padam.

Aksara membungkuk, mencengkeram sisi peti itu. Ia bersiap mengerahkan seluruh tenaganya, bersiap merasakan ototnya menjerit.

Hup!

Matanya terbelalak.

Ringan.

Peti yang seharusnya berbobot ratusan kali itu terasa seringan kapas di tangannya. Aksara nyaris kehilangan keseimbangan karena menggunakan tenaga berlebihan. Ia menatap kedua tangannya dengan bingung. Qi? Tidak, ia tidak merasakan aliran Qi. Ini murni kekuatan fisik. Otot-ototnya terasa padat, dialiri panas yang sama seperti semalam.

"Hei! Jangan melamun!" bentak pengawas.

Aksara segera memanggul peti itu di bahunya dengan mudah, menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Sesuatu benar-benar telah terjadi padanya.

Saat ia berjalan menuju barisan belakang rombongan, sebuah tangan halus namun kuat mencengkeram lengan bajunya, menghentikan langkahnya.

"Kau gila."

Aksara menoleh. Larasmaya berdiri di sana, wajahnya pucat pasi. Ia mengenakan perlengkapan perjalanan lengkap, tas obat tersampir di bahu, namun matanya hanya tertuju pada Aksara. Tidak ada kelembutan di sana hari ini, hanya kemarahan yang dipicu oleh ketakutan.

"Nona Laras ..."

"Pulang," desis Larasmaya, suaranya bergetar. "Letakkan peti itu dan kembali ke gubukmu sekarang juga, Aksara. Kau tidak tahu apa yang kau hadapi. Waringin Hitam dipenuhi kabut uap racun. Tanpa Qi pelindung, paru-parumu akan membusuk dalam tiga hari!"

Aksara memandang gadis itu. Ia ingin menjelaskan bahwa tubuhnya terasa aneh, bahwa mungkin ia punya kesempatan tapi ia tidak bisa.

"Saya butuh Pil Pembersih Sumsum itu, Nona," jawab Aksara pelan namun tegas.

"Demi sebuah pil kau mau mati?!" Larasmaya mencengkeram lebih erat, kukunya menancap di lengan Aksara. "Aku bisa meracikkan obat untukmu! Aku bisa mencuri pil dari gudang jika perlu! Jangan lakukan hal bodoh ini!"

"Dan terus hidup dari belas kasihanmu?" Aksara menepis tangan Larasmaya  dengan kepedihan yang mendalam. "Nona bilang aku manusiawi. Tapi di dunia ini, manusia yang tidak punya kekuatan hanyalah beban. Aku lelah menjadi bebanmu, Nona Laras. Aku lelah melihatmu membelaku dan direndahkan karenanya."

Larasmaya tertegun. Matanya berkaca-kaca. "Kau bukan beban ..."

"Lihatlah," potong sebuah suara angkuh dari depan.

Darius berjalan mendekat, diiringi tawa para pengikutnya. Ia mengenakan baju zirah ringan yang berkilauan, tampak gagah layaknya pangeran perang. "Pasangan romantis kita sedang berpamitan. Sungguh mengharukan. Si Sampah benar-benar ingin melihat dunia sebelum mati."

Darius berhenti tepat di depan Aksara, menatapnya dari atas ke bawah dengan jijik. "Dengar baik-baik, pelayan. Tugasmu hanya membawa barang. Jika ada bahaya, jangan harap kami akan melindungimu. Kau adalah umpan. Jika ada harimau iblis datang, pastikan kau yang dimakan duluan supaya kami punya waktu untuk menyerang. Mengerti?"

Aksara menatap lurus ke arah sepatu bot Darius. Dulu, ia akan gemetar ketakutan. Tapi hari ini, darah di tubuhnya berdesir panas, seolah ada naga kecil yang menggeram di dalam dadanya, ingin merobek leher pemuda sombong itu.

Aksara menelan amarahnya, menunduk dalam. "Saya mengerti ... Tuan Muda."

Darius mendengus puas, lalu menatap Larasmaya dengan senyum miring. "Jangan khawatir, Laras. Aku akan melindungimu. Biarkan saja dia mencari kematiannya sendiri. Itu seleksi alam."

Terompet tanduk berbunyi panjang, tanda keberangkatan.

Larasmaya menatap Aksara satu kali lagi, tatapan yang penuh dengan doa dan keputusasaan, sebelum akhirnya memutar tubuh dan bergabung dengan barisan penyembuh.

Aksara menghela napas panjang, membetulkan posisi peti di bahunya, dan melangkah maju. Langkah pertamanya keluar dari gerbang sekte terasa berat karena beban takdir yang kini ia pikul sendirian.

Perjalanan menuju kaki Pegunungan Waringin Hitam memakan waktu enam jam. Awalnya, jalan setapak masih lebar dan terang, namun semakin mereka mendekat ke utara, pemandangan berubah drastis.

Pepohonan hijau yang rimbun berganti menjadi hutan mati. Pohon-pohon Waringin raksasa dengan akar gantung yang menjuntai seperti rambut hantu mulai mendominasi. Daun-daunnya berwarna hitam pekat, menyerap cahaya matahari sehingga suasana di bawahnya selalu temaram seperti senja abadi.

Udara di sini berbau lembap dan bau darah tua.

Saat rombongan melintasi batas hutan, efek kabut beracun mulai terasa. Beberapa pelayan di depan Aksara mulai terbatuk-batuk, wajah mereka memucat. Bahkan beberapa murid kultivator tingkat rendah mulai melapisi tubuh mereka dengan Qi pelindung, wajah mereka tegang.

Aksara merasakan hal yang sebaliknya.

Semakin dalam mereka masuk ke wilayah Waringin Hitam, rasa panas di tubuhnya semakin nyaman. Rasa sesak yang biasanya menghimpit dadanya, akibat meridian yang bocor justru terasa longgar. Udara di sini, yang bagi orang lain beracun, bagi Aksara terasa ... manis.

Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan energi aneh hutan itu mengalir masuk ke paru-parunya, menyatu dengan darah emas yang bersembunyi di nadinya. Peti di punggungnya terasa semakin ringan, seolah gravitasi tidak berlaku baginya di tempat ini.

DUG... DUG... DUG...

Suara itu kembali. Detak jantung raksasa.

Kali ini bukan hanya di kepala Aksara. Tanah di bawah kakinya bergetar halus, seirama dengan detak itu.

"Berhenti!" perintah Tetua Raksita, pemimpin ekspedisi, mengangkat tangannya.

Rombongan berhenti mendadak di sebuah lembah sempit yang diapit dua tebing batu hitam. Angin bertiup di celah-celah batu, menciptakan suara seperti tangisan.

"Ada yang tidak beres," gumam Tetua Raksita, matanya menyapu sekeliling dengan waspada. "Peta mengatakan ini adalah jalur aman, tapi mengapa sunyi sekali. Di mana binatang-binatang hutan?"

Kecemasan merayap di wajah para murid. Hutan yang terlalu sunyi adalah pertanda buruk. Itu artinya ada predator puncak di dekat sana, membuat binatang lain lari ketakutan.

Aksara menurunkan petinya perlahan. Bulu kuduknya berdiri, karena sensasi yang menyengat kulitnya. Darahnya bergolak liar, mendesak-desak di bawah kulit.

Dia di sini, bisik instingnya. Sesuatu sedang melihat kita.

Tiba-tiba, Larasmaya yang berada di barisan tengah berteriak, "Awas! Di atas!"

Sebelum siapa pun sempat mendongak, bayangan hitam raksasa jatuh dari langit-langit hutan, menghantam tanah tepat di tengah formasi barisan depan.

BRAAAKK!

Tanah meledak, menerbangkan batu dan debu. Jeritan kesakitan terdengar saat dua murid Divisi Tombak terlempar seperti boneka kain, tubuh mereka hancur seketika.

Dari balik debu yang mengepul, sepasang mata kuning menyala muncul.

Itu adalah seekor Beruang Besi Punggung Duri. Tingginya tiga meter saat berdiri dengan empat kaki, bulunya keras seperti jarum logam, dan taringnya meneteskan liur korosif yang mendesis saat menyentuh tanah.

Ada yang salah dengan binatang ini. Matanya tidak memiliki pupil, hanya putih dan kuning yang berputar gila. Di punggungnya, tertancap sisa-sisa pedang patah yang sudah berkarat, pertanda bahwa makhluk ini telah bertarung dan membunuh banyak kultivator sebelumnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Warisan Darah Langit   Armada Hantu dan Lautan Ungu

    Laut Selatan biasanya merupakan jalur perdagangan yang paling aman di bawah perlindungan bendera Sekte Matahari Suci. Tidak ada bajak laut yang cukup gila untuk menyentuh kapal yang membawa lambang matahari emas di layarnya.Namun, malam ini, laut itu mati.Konvoi suplai raksasa yang terdiri dari dua puluh kapal kargo besar sedang berlayar menuju Kota Pelabuhan Tanjung Perak. Kapal-kapal itu memuat ribuan ton Batu Roh, senjata, dan bahan obat yang dikirim dari wilayah pusat untuk memperkuat garis pertahanan Aliansi di selatan.Di atas kapal utama, Kapten Surya, seorang kultivator Inti Emas Awal berdiri di anjungan, menatap kabut tebal yang tiba-tiba turun menyelimuti armada."Kabut sialan," gerutu Kapten Surya. "Penyihir Cuaca! Usir kabut ini! Aku tidak bisa melihat ujung hidungku sendiri!"Seorang penyihir angin di dek mencoba merapal mantra. Namun, bukannya menipis, kabut itu justru semakin pekat. Dan warnanya berubah. Dari puti

  • Warisan Darah Langit   Penobatan Raja Iblis

    Pertempuran di Arena Pusat Nusa Kencana tidak berlangsung lama. Itu bukan perang; itu adalah eksekusi massal.Lima puluh pengawal elit Jagal, para pembunuh bayaran veteran yang telah mencabut nyawa ratusan orang tumbang seperti gandum di hadapan sabit.Kabut ungu Larasmaya bergerak seperti makhluk hidup, menyusup ke dalam hidung dan telinga para pengawal. Mereka yang menghirupnya tidak mati seketika; mereka berhalusinasi, melihat teman sendiri sebagai monster, lalu saling tikam dalam kegilaan.Di tengah badai kekacauan itu, Aksara Linggar adalah pusat gravitasinya.Ia tidak menggunakan senjata. Ia tidak membutuhkannya. Tangan Kiri Asura-nya mencabut nyawa dari tubuh fisik musuh, sementara Cakar Naga Kanan-nya menghancurkan tulang dan baju zirah mereka.KRAK! SREET!Satu per satu pengawal jatuh. Darah membanjiri pasir arena, mengubahnya menjadi lumpur merah yang kental.Di balkon kehormatan, Si Jagal gemetar hebat. Gelas anggu

  • Warisan Darah Langit   Sejarah yang Dicuri dari Langit

    Dalam kegelapan tidur panjangnya, Aksara tidak bermimpi. Ia mengingat.Kesadarannya ditarik masuk ke dalam aliran darah Jantung Raja Naga yang baru saja ia tanam di dadanya. Darah itu bukan sekadar cairan kehidupan; itu adalah perpustakaan memori yang telah ada sejak dunia ini terbentuk.Aksara melihat zaman dahulu kala.Zaman di mana langit tidak berwarna biru, melainkan ungu keemasan. Zaman di mana manusia dan naga hidup berdampingan, bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara.Manusia menunggangi naga untuk membelah awan. Naga mengajarkan manusia cara menyerap Qi alam semesta. Peradaban mereka begitu maju, begitu kuat, hingga kultivator pada masa itu tidak perlu memakan pil atau membunuh sesama untuk naik tingkat. Mereka hidup dalam harmoni.Kekuatan gabungan antara Kebijaksanaan Manusia dan Fisik Naga menciptakan entitas yang nyaris sempurna.Lalu, Aksara melihat Mereka.Langit terbelah. Bukan oleh petir, tap

  • Warisan Darah Langit   Penjaga Gerbang Jantung

    Lorong menuju perut bumi itu ternyata tidak gelap gulita seperti yang Aksara bayangkan.Dinding-dindingnya terbuat dari tulang rusuk yang membatu, memancarkan cahaya merah temaram yang berdenyut seirama dengan suara DUM yang menggema dari kedalaman. Udara di sini panas, kering, dan berbau belerang purba.Setiap langkah yang diambil Aksara terasa semakin berat. Bukan karena gravitasi bumi, melainkan karena Tekanan Spiritual yang dipancarkan oleh sisa-sisa keberadaan Raja Naga di bawah sana. Tekanan itu menolak kehadiran makhluk hidup lain. Bagi manusia biasa, tekanan ini sudah cukup untuk menghancurkan pembuluh darah otak dalam radius satu mil.Aksara terengah-engah. Keringat membanjiri tubuhnya yang setengah bersisik. Lututnya gemetar, seolah memikul gunung di pundaknya."Kau merasakannya?" suara Naga Wiratama terdengar bergetar, penuh rasa hormat dan duka. "Ini adalah aura Baginda Raja Antaboga. Bahkan dalam kematiannya, be

  • Warisan Darah Langit   Pelabuhan Dosa dan Darah Pertama

    Angin laut yang berhembus di Nusa Kencana membawa bau alkohol, keringat, dan darah yang mengering.Pulau itu tidak memiliki pemerintahan. Tidak ada bendera sekte yang berkibar. Yang ada hanyalah ribuan bangunan kayu yang ditumpuk sembarangan di atas tebing karang, saling sambung-menyambung dengan jembatan gantung yang rapuh. Kapal-kapal bajak laut, pedagang budak, dan buronan berlabuh berdesakan di pelabuhan yang kumuh.Di sinilah sampah dunia berkumpul. Di sinilah mereka yang dibuang oleh Aliansi menemukan rumah.Siang itu, kesibukan di pelabuhan terhenti sejenak.Sebuah perahu kecil merapat di dermaga utama. Tidak ada layar, tidak ada dayung. Rakit itu bergerak membelah ombak seolah ditarik oleh hantu air.Tiga sosok melangkah turun ke dermaga kayu yang berderit.Seorang pemuda dengan jubah hitam longgar yang menutupi satu lengannya. Wajahnya tertutup topeng kayu polos.Seorang wanita cantik dengan kulit pucat dan tato bunga hitam d

  • Warisan Darah Langit   Pulau Jantung Berdetak

    Kesadaran Aksara kembali dengan perlahan dari dasar laut yang gelap dan sunyi. Tidak tergesa, tidak menyakitkan, hanya pelan, seolah dunia memberinya waktu untuk bernapas kembali.Hal pertama yang menyentuhnya bukanlah suara, melainkan bau.Bukan bau darah. Bukan asap mesiu. Bukan racun yang menusuk paru-paru. Yang ada hanyalah garam, lumut basah, dan aroma herbal asing yang lembut dan menenangkan, hampir seperti janji bahwa ia masih hidup.Perlahan, Aksara membuka matanya.Cahaya biru yang lembut menyambut pandangannya. Ia tak lagi tergeletak di pantai berpasir kasar tempat kesadarannya terputus. Ia berada di dalam sebuah gua luas, sunyi dan megah.Dinding-dinding gua dipenuhi kristal biru berpendar, memancarkan cahaya alami yang dingin namun menenangkan. Kilauannya menari di permukaan batu, memantul ke langit-langit yang menjulang tinggi. Dari sana, tetes-tetes air jatuh perlahan, menciptakan irama halus saat menyentuh kolam-kolam kecil di lantai gua, seperti napas dunia yang masih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status