Mag-log inRuang rapat Grup Heriz yang sangat luas kini sudah dipenuhi seluruh pemegang saham perusahaan.Sebagai direktur eksekutif, Tirta duduk di bagian tengah meja rapat, sementara Isyana menempati kursi pertama di sebelah kanannya.Rifqi berdiri di belakang Isyana sambil terus memutar-mutar korek api berbahan baja antikarat di tangannya. Tatapannya terus menyapu setiap orang yang hadir."Risty, kenapa kamu ada di sini?" Tirta menarik napas dalam-dalam ketika melihat adiknya, Risty, juga berada di antara para pemegang saham.Risty tersenyum tipis. "Meskipun Grup Hadju sudah berganti nama menjadi Grup Heriz, keluarga kita tetap memiliki saham di perusahaan ini. Kakek memintaku mewakili Keluarga Hadju untuk menghadiri rapat umum pemegang saham. Nggak ada masalah dengan itu, bukan?"Tatapan Tirta langsung meredup.Kakek benar-benar sudah pikun!Meskipun Isyana tidak mengatakan apa-apa, sejak menerima panggilan telepon tadi, sikapnya terlihat jauh lebih tenang dan percaya diri.Tirta pun memiliki
Begitu kabar itu tersebar, Risty langsung diliputi kegembiraan karena merasa rencananya akan segera berhasil.Saat ini, Keluarga Hadju hanya memiliki sepuluh persen saham perusahaan dan menduduki posisi sebagai pemegang saham terbesar ketiga.Namun, Olivin, nyonya besar Keluarga Budiono, dan Leah, istri keempat dari Keluarga Sukendro, sudah berhasil menyuap beberapa pemegang saham.Jika Tirta berhasil disingkirkan dari jabatan direktur eksekutif, tanpa kehadiran Arlo, para pemegang saham lainnya bisa memilih Risty sebagai direktur eksekutif yang baru.Setelah itu, dia tinggal meminjam dana talangan jangka pendek dan menjual aset perusahaan dengan harga murah melalui transaksi antarperusahaan yang dia kendalikan.Dengan cara itu, dia bisa dengan mudah mendapatkan kembali dua puluh persen saham perusahaan.Itu merupakan kekayaan yang sangat besar!Jika berhasil, dia akan menjadi orang yang paling berjasa bagi Keluarga Hadju."Bu Olivin, Bu Leah, gimana kalau kalian ikut pergi bersamaku?"
"Gimana kalau kita mengalihkan sebagian bisnis ke atas nama Keluarga Wiyoko dan memindahkannya ke Provinsi Rimawe? Dengan jaringan bisnis Sekte Dokter Hantu di Provinsi Rimawe, sekalipun pihak ibu kota ingin ikut campur, mereka tetap membutuhkan waktu," ujar Bagya setelah berpikir sejenak."Gunung Berkah itu nggak boleh sampai jatuh ke tangan orang lain. Aku khawatir berbagai jenis cairan spiritual berasal dari sana!" Yukta mengetahui lebih banyak mengenai masalah tersebut."Semua rencana yang sedang kalian diskusikan sekarang nggak akan banyak berguna. Satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apakah Arlo masih hidup dan apakah dia masih sekuat sebelumnya! Tanpa dia, semua yang kita lakukan hanya akan mengulur waktu," ujar Rayanza dengan suara berat. Perkataannya bagaikan palu besar yang menghantam hati semua orang.Zaem mengangguk setuju.Kerajaan bisnis Arlo terlalu besar. Nilainya bahkan cukup untuk membuat para grandmaster terkuat tergiur. Terlebih lagi, pemerintah tidak ak
"Semua obat tradisional siap pakai yang kalian produksi menggunakan Cairan Kehidupan juga harus dihentikan produksinya atau dijual kepada pemerintah!"Nikhil menjentikkan jarinya. Sebentar lagi, semua bisnis yang dibangun Arlo akan jatuh ke tangannya. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya sangat puas!Meskipun masih berada cukup jauh dari gunung, dia bisa merasakan bahwa energi spiritual di tempat itu berbeda dari dunia luar.Gunung ini pasti merupakan markas utama Arlo, bukan? Nikhil bertanya-tanya, apakah dia bisa menemukan benda warisan Takdir di tempat ini?Sheila tertawa saking marahnya. "Jadi, maksudmu Kantor Inspeksi Militer Ibu Kota ingin mengambil alih seluruh bisnis Arlo?""Terserah kamu mau mengartikannya gimana. Sekarang aku hanya punya satu permintaan. Enyah dari sini!" ucap Nikhil seraya mengibaskan tangannya dengan tidak sabar.Sheila mengeluarkan ponsel lain dan langsung menghubungi Zaem.Nikhil hanya memandangnya sambil mencibir, dengan ekspresi seolah mempersilak
Matahari terbit dari timur. Di sebuah vila milik Keluarga Hadju di Gunung Shurai, Hondaria.Tirta baru saja menerima pemberitahuan bahwa dewan direksi telah mengajukan permohonan untuk mengadakan rapat umum pemegang saham.Sebagai penanggung jawab perusahaan, Tirta memiliki dua pilihan, yaitu menunda rapat atau menyelenggarakannya."Bu Isyana, menurutmu gimana kita harus menangani masalah ini?" Tirta menatap Isyana dengan sangat hati-hati.Isyana tidak menjawab.Jika rapat umum pemegang saham diselenggarakan, nyawa Tirta bisa terancam.Namun, menunda rapat juga memiliki risiko besar.Jika Arlo masih hidup, penundaan itu tentu akan memberi waktu sampai dia kembali. Begitu Arlo kembali, semua kekacauan pasti akan mereda dengan sendirinya.Namun, bagaimana jika Arlo benar-benar sudah mati?Semakin lama Arlo menghilang, semakin banyak orang yang akan percaya bahwa dia sudah meninggal. Ketika berbagai krisis muncul secara bersamaan, situasinya akan semakin sulit dikendalikan.Bahkan, Isyana
"Bajura?" Yolanda memberi isyarat kepada Arlo agar menghentikan serangannya. Sepasang mata indahnya memperlihatkan sedikit keraguan.Arlo memiringkan kepala dan menatap Yolanda.Yolanda memberikan tatapan yang mengisyaratkan bahwa dia akan menjelaskannya nanti, lalu kembali bertanya, "Kenapa dia bisa berada di Hondaria? Bukannya tiga guru agung Aliran Esoteris nggak pernah meninggalkan Tiben?""Aku nggak tahu soal itu! Karena kamu kenal guruku, seharusnya kamu melepaskanku!" Rolen menyeka darah di sudut mulutnya. Sorot licik melintas di wajahnya.Menurutnya, selama kedua orang itu mengetahui reputasi Bajura, mereka pasti tidak akan berani berbuat apa-apa lagi terhadap dirinya."Kamu malah semakin kurang ajar!"Arlo langsung melayangkan beberapa tendangan hingga kedua tangan Rolen patah.Rolen menjerit kesakitan berkali-kali. Para awak kapal yang menyaksikan kejadian itu sampai tercengang. Satu per satu dari mereka diam-diam menyelinap kembali ke kabin.Yolanda mencibir dan menatap Role
Rayanza tertawa lepas. "Berapa nilainya nyawaku dan anakku ini? Setelah pernah berjalan di ambang kematian, sia-sia saja hidupku kalau masih nggak bisa bedakan mana yang lebih penting!"Fellis merasa terkejut dengan keputusan ayahnya, tetapi tidak menunjukkannya.Arlo tersenyum dan berkata, "Pak Ray
"Ada urusan apa, Pak Dandy? Menurut aturan, Andre sekarang nggak bisa menerima tamu!" kata Jarwa.Dandy tidak berkata apa-apa, sementara Zaem juga menundukkan kepala. Jarwa mengerutkan kening.Saat itu, pemuda yang berdiri di tengah berkata, "Nggak ada hubungannya dengan mereka. Aku yang ingin datan
Kolam dingin yang telah dimurnikan oleh guntur itu tetap dipenuhi hawa dingin yang menusuk tulang.Arlo menduga di dasar kolam ini kemungkinan tersembunyi sesuatu yang lain. Tanpa ragu, dia langsung menyelam masuk, membuat Mohit dan Jivano terkejut.Tak lama kemudian, Mohit seperti teringat sesuatu
Namun, sebenarnya Arlo sejak awal juga tidak berniat menyembunyikannya.Sekarang dia langsung mengerti, sebagian besar dari orang-orang ini datang karena dirinya, lebih tepatnya karena Air Suci.Bahkan orang-orang dari Keluarga Kushanto di Kota Aramaya pun tertarik pada Air Suci. Dari situ sudah ter






