تسجيل الدخولAxelo mencibir. "Master Arlo sudah bilang dari awal kalau Pil Jiwa nggak dijual. Aku juga nggak punya pilihan, jadi terpaksa minta seorang senior untuk turun tangan.""Siapa sangka Master Arlo memang nggak mau menjualnya, tapi bersedia memberikannya kepada keluarga-keluarga bangsawan seperti kami.""Bahkan ginseng ribuan tahun yang sudah disepakati sebagai barang barter pun nggak mau diterima. Sampai-sampai aku jadi merasa nggak enak hati. Benar begitu, Dokter Leonard?"Wajah Leonard langsung memerah. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus menjelaskan dari mana.Arlo mengangguk pelan. "Jadi, kamu memang nggak pernah menyerahkan ginseng ribuan tahun itu kepada Leonard?""Dokter Leonard sendiri yang bersikeras nggak mau menerimanya. Aku paham, sekarang kamu sudah punya beban sebagai seorang master. Nggak enak kalau terang-terangan kasih hadiah, jadi harus lewat perantara.""Benar begitu, Dokter Leonard?" Axelo sengaja berkata begitu. Barang yang di depan umum dikatakan tidak dijual, ternyata
Melihat Leonard terus-menerus memberi isyarat dengan mata, Kamil merasa bingung. Namun, dia tetap berkata kepada Arlo, "Pak Arlo, gimana kalau aku kenalin dulu ke pengurus yang lain?"Kali ini bukan hanya Arlo, bahkan Sheila dan Fellis pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres.Arlo tersenyum tipis, tidak membongkarnya, lalu mengangguk setuju.Kamil berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Leonard mencari alasan untuk menariknya ke samping, lalu menceritakan soal Pil Jiwa yang dirampas."Ini gawat sekali. Aku tahu siapa Axelo itu, Tuan Muda Keluarga Prijaya dari ibu kota. Keluarga mereka memiliki hubungan pernikahan dengan Keluarga Kushanto di Kota Aramaya.""Jaringan di belakang Keluarga Prijaya sangat rumit. Kudengar mereka juga memiliki hubungan pernikahan dengan beberapa keluarga bangsawan besar di ibu kota. Mengusik satu pihak berarti mengguncang semuanya."Mendengar itu, kulit kepala Leonard langsung merinding. Pantas saja Bagas sampai merasa gentar setelah mendengarnya.Keluar
Arlo memberi isyarat kepada kedua wanita itu agar tidak bersuara. Dia hanya memperhatikan pemuda yang sedang sesumbar itu dari belakang.Sean yang untuk sementara menjabat sebagai pengurus Sekte Vitalitas, bersama beberapa tokoh besar industri farmasi di sana, semuanya pernah menyaksikan langsung pertandingan di Konferensi Pengobatan Tradisional.Mereka semua telah melihat sendiri betapa keras dan tegasnya cara Arlo bertindak. Melihat ada orang yang berani berbicara sesombong itu, mereka semua menunjukkan ekspresi terkejut."Rupanya Pak Axelo!" kata Sean setelah mengenali pemuda yang berbicara. "Angin apa yang membawamu datang ke Kota Aramaya? Dengan statusmu, tentu nggak perlu takut pada siapa pun!"Axelo melangkah maju, lalu tersenyum bangga. "Kalian terlalu memuja Arlo. Dia cuma seorang ahli bela diri yang kebetulan menguasai sedikit ilmu pengobatan dan alkimia.""Aku nggak menyangkal dia memang punya kemampuan. Tapi, masa cuma karena itu, dia mau menginjak kepala kalian dan kalian
Kedua wanita itu berpandangan dan sama-sama terdiam. Dalam hati, mereka merasa Arlo mulai gila. Bahkan Dewa Militer pun ingin dia pukul?Setelah keributan yang dibuat Ubaya, senyaman apa pun tempat peristirahatan itu, mereka tidak bisa lagi tinggal di sana. Ketiganya kembali ke lantai atas untuk membereskan barang-barang.Sheila kembali masuk ke kamar Arlo."Aku minta maaf. Urusanku malah menyeretmu ke masalah sebesar ini." Sheila menghela napas."Kalimat itu nggak terdengar seperti bisa keluar dari mulutmu." Arlo tertawa.Sheila terdiam sesaat, lalu tiba-tiba menerjang Arlo dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Dia langsung duduk di atas pinggang Arlo. Rambut panjang yang semula diikat dilepaskannya. Di wajahnya yang memikat terpancar senyum jahil."Kalau begini baru mirip aku, 'kan?" Usai berkata begitu, Sheila meninggalkan sederet bekas lipstik di wajah Arlo.Arlo menghela napas. "Nggak terlalu mirip juga. Malah terlihat seperti kamu lagi berakting.""Akting apa?" Sheila mengerucutkan
Yukara menurunkan kelopak matanya, seolah sedang menyindir. 'Bukannya kamu memang suka cari perhatian? Dengan kejadian ini, kurasa nggak akan ada lagi anak orang kaya di Kota Aramaya yang berani cari masalah denganmu.'Arlo mencibir. "Dewa Militer benar-benar melindungi anak-anak orang kaya ya!"Anak-anak orang kaya memang gemar membuat masalah. Saat mereka menindas rakyat biasa dan mengambil keuntungan seenaknya, tak ada seorang pun yang akan menghentikan.Namun, ketika mereka berhadapan dengan Arlo, Dewa Militer sengaja turun tangan. Mungkin dia khawatir Arlo marah, lalu memukul mati beberapa orang itu. Namun, tetap saja, pada akhirnya yang dilindungi adalah para anak orang kaya itu.Ini hanyalah cara "halus" untuk memberi tahu mereka bahwa Arlo adalah orang yang tidak boleh diusik.Yukara tidak menyangka Arlo bisa melihat semuanya dengan begitu jelas. Kalau orang lain yang mendapatkan perlindungan dari Dewa Militer, mereka pasti akan langsung dipenuhi kegembiraan dan kebanggaan.Pem
Nyaris saja mereka tertipu. Melihat seseorang datang dengan pasukan sebanyak ini, mereka sempat mengira ada tokoh besar yang turun tangan.Namun, barusan Azriel mengatakan bahwa tidak ada garnisun di kota yang mengerahkan pasukan. Kalau begitu, orang-orang ini kemungkinan besar hanya pasukan palsu!"Apa kata Pak Azriel? Pak Azriel harus bantu kita!""Betul! Ahli bela diri nggak bisa semena-mena menindas orang biasa cuma karena lebih kuat!"Marlon dan beberapa anak orang kaya lainnya langsung mengerubungi Ubaya. Biasanya mereka yang menindas orang lain dengan kekuasaan mereka. Ini pertama kalinya mereka dipermalukan habis-habisan seperti ini, mana mungkin mereka tidak marah?Mereka mengelilingi Ubaya sambil berbicara, bahkan berharap bisa berbicara langsung dengan Azriel.Ubaya mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka diam. Kemudian, dia menyerahkan ponselnya kepada Yukara."Pak Azriel ingin bicara denganmu. Berani juga kamu menyamar sebagai orang militer. Tahu Pak Azriel, 'kan? N
"Kamu ... bagaimana kamu bisa menemukanku? Apa yang kamu bicarakan?" Rosita baru tersadar belakangan. Setelah mengenali Arlo, wajahnya langsung berubah pucat karena terkejut.Arlo mengangkat sedikit kelopak matanya. Ekspresinya dingin saat berkata, "Kemarin kamu juga ada di ruang privat itu. Kalau a
Guram mendengus dingin dan berkata, "Paling-paling kamu cuma dapat kabar lebih dulu, lalu mengatur penyergapan terhadap mereka. Apa yang perlu dibanggakan?""Semua gara-gara orang bodoh dari Keluarga Sukendro itu, ngotot melakukan serangan mendadak. Ujung-ujungnya bukan cuma mati di Kota Naldern, ta
Andre menatap Arlo dari atas ke bawah dengan wajah suram.Nama Arlo sudah terlalu sering dia dengar hingga hampir bosan, tetapi ini pertama kalinya dia melihat orangnya secara langsung. Melihat penampilannya dan cara berdirinya, Andre memikirkan tiga kata, berbakat, dominan, dan lancang.Lasya sudah
Renata tampak sangat kesal, dalam hati juga setuju dengan pendapat Hendy dan Daniel. Sayangnya, dia tidak bisa mengendalikan Arlo.Melihat Renata goyah, Daniel tersenyum dan terus membujuk, "Aku tahu, anak muda apalagi yang sudah punya sedikit pencapaian, semua ingin dihormati. Nanti pulang, Bibi ce







