MasukBOOOOM!!!
Ledakan energi melemparkan Cakra ke belakang, tubuhnya menghantam pagar kayu hingga hancur berkeping-keping. Rasa sakit menusuk tulang rusuknya, tapi ia memaksakan dirinya bangkit. Pemimpin Pemakan Jiwa jatuh beberapa meter di depannya, sebagian tubuhnya menguap dengan tangan kirinya yang lenyap, mengungkap tulang bayangan yang retak. Tapi makhluk itu masih hidup, masih mendesis dengan penuh kebencian. "Kau... kuat..." rintihnya. "Tapi... takkan... cukup..." Cakra menyeka darah dari sudut bibirnya. Penglihatannya berkunang-kunang, energi spiritualnya hampir habis. Di sekelilingnya, Kabut Pelindung mulai menipis dan masih banyak Pemakan Jiwa yang tersisa. Mereka sudah bersiap menyerang lagi. "Aku tidak boleh kalah... Tidak disaat Amara masih..." "CAKRA!" Suara itu memecah konsentrasinya. Amara berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat tapi matanya menyala dengan tekad. Sayap kupu-kupu cahayanya muncul kembali, lebih redup dari sebelumnya, tapi masih ada. "Jangan ke sini!" teriak Cakra. "Kembali ke dalam!" Tapi Amara sudah mengangkat tangannya. Cahaya keemasan memancar dari telapak tangannya, membentuk lingkaran-lingkaran seperti kelopak lotus yang melayang ke arah Cakra. Saat menyentuh tubuh Cakra, luka-lukanya mulai menutup, energinya pulih sebagian. "Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri," ucap Amara dengan suara yang bergetar tapi tegas. Pemimpin Pemakan Jiwa mendesis lebih keras. "Gadis... murni... akhirnya... kau keluar..." Semua makhluk bayangan itu berbalik menatap Amara, mata merah mereka terpaku. Mereka merangkak lebih cepat sekarang, kelaparan menguasai akal sehatnya. "Tidak!" Cakra berlari, menempatkan dirinya kembali di antara Amara dan gerombolan itu. Tapi tubuhnya telah mencapai batas, tangannya gemetar dengan lutut terseok tak bisa menjaga keseimbangan. "Aku butuh lebih banyak kekuatan. Aku butuh..." Tiba-tiba, Inti Awan di dadanya berdenyut kuat. Panas yang membakar menyebar ke seluruh tubuhnya. Visi asing menyerang pikirannya, fragmen kenangan yang bukan miliknya. Dalam visi itu, seorang pria dengan jubah awan berdiri menghadapi ribuan musuh. Tangannya bergerak dalam pola rumit, dan langit merespon. Kabut tebal turun seperti tirai, menelan semua yang ada di dalamnya. "Teknik Tingkat Dasar. Penjara Kabut..." Cakra mengerti. Ia lantas menghentakkan kedua tangannya ke tanah. Energi spiritual meledak keluar, menyebar dalam lingkaran sempurna. Kabut putih tebal muncul seketika, menyebar begitu cepat hingga dalam hitungan detik seluruh area terbungkus dalam kegelapan yang tak tembus pandang. Pemakan Jiwa berhenti, bingung. Mereka tidak bisa melihat. Tidak bisa mencium. Bahkan indera spiritual mereka terhalang oleh kabut Cakra yang dipenuhi energi Inti Awan. Tapi Cakra bisa melihat semuanya. Dalam kabut ciptaannya sendiri, ia adalah penguasa mutlak. Ia bergerak seperti hantu dengan Cambuk Awan di tangan kanannya. Satu ayunan, tiga Pemakan Jiwa lenyap. Ayunan kedua, lima lagi lenyap. Begitu seterusnya. Mereka bahkan tidak sempat berteriak, tubuh bayangan mereka hancur sebelum menyadari kematian menjemput. Pemimpin gerombolan mencoba melarikan diri, merangkak keluar dari kabut. Tapi Cakra sudah menunggunya. "Pergilah," ucap Cakra dingin. "Katakan pada siapa pun yang mengutusmu, bahwa Amara Kusuma berada di bawah perlindunganku. Siapa pun yang mencoba menyakitinya akan menghadapi aku, si Pengendali Awan." Pemimpin itu menatapnya dengan mata merah yang penuh kebencian lalu menghilang dalam kepulan asap, meninggalkan hanya bisikan terakhir yang terdengar seperti ancaman. "Mereka... akan datang... yang lebih... kuat... dariku!" Kabut menghilang. Cakra berdiri sendirian di tengah kehancuran pagar rumah yang roboh, tanah penuh bekas cakar dan darah hitam yang mengepul. Tubuhnya bergetar hebat, energi spiritualnya hampir terkuras total. Amara berlari mendekatinya tepat saat lututnya menyentuh tanah. "Ooops! Hampir saja!" Bisik Amara, menopang tubuh Cakra yang lebih berat. Cahaya penyembuh miliknya mengalir lembut, menenangkan luka-luka internal yang tidak terlihat. Cakra menatapnya, mata yang lelah bertemu mata yang cemas. "Kenapa kau keluar? Itu berbahaya." "Karena kau dalam bahaya juga jika sendirian," jawab Amara, sambil tersenyum tipis. "Kita melindungi satu sama lain, Cakra. Bukan hanya kau yang melindungi aku." Sesuatu menghangat di dada Cakra. Bukan Inti Awan, tapi sesuatu yang lebih sederhana. Lebih manusiawi. Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Tapi bersama cahaya mentari yang mulai muncul, Cakra tahu akan datang bahaya yang lebih besar. Tiga hari berlalu sejak serangan Pemakan Jiwa. Cakra menghabiskan waktunya berlatih mengendalikan kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya. Setiap pagi, ia pergi ke hutan di pinggir desa, tempat yang cukup jauh agar tidak menarik perhatian. Di sana, ia mencoba memahami bisikan-bisikan Inti Awan yang terus bergema di pikirannya. Hari ini, ia berdiri di tengah lapangan kecil yang dikelilingi pohon bambu. Matanya tertutup, napasnya teratur. Udara di sekelilingnya bergetar, uap air berkumpul perlahan, membentuk spiral kecil yang melayang. "Fokus... rasakan alirannya..." gumam Cakra pada diri sendiri. Tapi konsentrasinya buyar saat alunan suara tua dan penuh wibawa bicara dari belakangnya. "Teknikmu berantakan. Energimu bocor di tujuh titik. Jika kau bertarung dengan cara seperti itu, kau akan mati dalam sepuluh gerakan." Cakra berbalik dengan cepat, Cambuk Awan langsung muncul di tangannya. Tapi yang berdiri di sana bukanlah musuh. Seorang pria tua dengan janggut putih panjang, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Tongkat kayunya yang sederhana terlihat tidak berbahaya, tapi mata Cakra yang baru dapat melihat sesuatu yang lain. Ada aura spiritual yang mengalir di sekeliling pria itu, begitu padat, begitu terlatih, hingga terasa seperti samudera yang tenang namun menghanyutkan. "Siapa kau?" tanya Cakra, tidak menurunkan kewaspadaannya. Pria tua itu tersenyum tipis. "Namaku Rafael. Dulunya, aku adalah salah satu murid Pengendali Awan terakhir." Jantung Cakra berhenti sejenak. "Pengendali Awan terakhir...?" "Ya." Rafael melangkah maju, tongkatnya mengetuk tanah dengan ritme teratur. "Tuanku, Arya Samudra. Dia orang yang pernah menguasai langit dan menundukkan para dewa. Dia mati tiga puluh tahun yang lalu, dibunuh oleh pengkhianatan dari orang-orang yang ia percayai." Nama itu bergema di pikiran Cakra. Arya Samudra. Entah kenapa, nama itu terasa akrab, seperti lagu yang pernah ia dengar dalam mimpi. "Dan sekarang," lanjut Rafael, matanya menatap tajam ke dada Cakra. "Inti Awan Abadi yang menjadi sumber kekuatan tuanku kini bersemayam di dalam dirimu. Kau adalah penerusnya." Cakra menelan ludahnya. "Aku... aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Inti Awannya tiba-tiba saja..." "Inti Awan tidak memilih sembarangan," potong Rafael. "Ia telah menunggumu. Atau lebih tepatnya, menunggu seseorang yang memiliki tekad yang cukup kuat untuk melindungi sesuatu yang berharga, bahkan dengan mengorbankan nyawa sendiri." Bayangan Amara di altar melintas di pikiran Cakra. Saat itu, ia memang rela mati demi menyelamatkannya. Rafael menghela napas panjang. "Tapi tekad saja tidak cukup. Kekuatan tanpa kendali adalah kutukan. Jika kau tidak belajar menguasai Inti Awan dengan benar, kekuatan itu akan menggerogotimu dari dalam. Atau lebih buruk lagi, kau akan menjadi monster yang membinasakan semua yang kau cintai." Kata-kata itu mengusik pikiran Cakra. Ia mengingat saat ia hampir hancur, saat tubuhnya mulai retak karena energi yang terlalu besar. Jika Amara tidak menyelamatkannya, maka... "Ajari aku," pinta Cakra, suaranya tegas. "Aku akan melakukan apa pun untuk mengendalikan kekuatan ini."Indra sendirian bisa menandingi Cakra dalam Sinkronisasi Parsial, berubah menjadi petir murni, menyerang dari mana-mana sekaligus.Dewi Bulan menciptakan ilusi yang begitu sempurna hingga Cakra hampir menyerang Xander beberapa kali.Dewa Bintang memanipulasi gravitasi, membuat setiap gerakan Cakra seperti membawa gunung di punggung.Dewa Matahari membakar dengan panas yang bisa melelehkan batu dan Xander harus terus menyerap serangan ini atau Cakra akan terpanggang hidup-hidup.Dewi Angin mengambil kendali atas angin di Domain Cakra, pertama kalinya ada yang bisa melakukan itu.Dewa Guntur menyambar dengan petir yang jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa Cakra ciptakan.Dan Dewi Hujan... ia adalah kebalikan langsung Cakra, mengendalikan air, bukan awan. Setiap tetes hujannya adalah peluru yang mengejar tanpa henti.Lima menit pertama, Cakra dan Xander bertahan dengan susah payah.Sepuluh menit kemudian, Xander
Hari kelima, mereka tiba di Reruntuhan Kuno, tempat di mana katanya Pengendali Awan pertama pernah bermeditasi lima ribu tahun lalu.Reruntuhan itu megah meski hancur, pilar-pilar batu raksasa masih berdiri, diukir dengan rune-rune kuno yang masih berpendar samar. Di tengah, sebuah altar batu dengan ukiran awan yang berputar."Tempat yang tepat untuk pertarungan terakhir," kata Xander, menatap sekeliling.Cakra berjalan ke altar dan saat jari-jarinya menyentuh ukiran itu, Inti Awan beresonansi kuat. Sebuah visi melintas di pikirannya...Pengendali Awan pertama, berdiri di tempat yang sama, menghadapi tujuh Dewa Tertinggi versi lima ribu tahun lalu. Pertempuran yang mengguncang langit dan bumi. Pertempuran yang akhirnya sang Pengendali Awan menang, tapi dengan harga sangat mahal. Ia mati setelah pertempuran, tapi warisannya hidup selamanya.Visi menghilang. Cakra terengah, merasakan beban sejarah yang berat di bahunya."
Ketukan di pintu memecah momen mereka.Xander masuk, wajahnya serius tampak. "Dewan Kota mengadakan pertemuan darurat. Mereka ingin kau hadir."Balai Kota Nusantara penuh sesak, ratusan kultivator senior, pemimpin guild, kepala sekte, dan perwakilan dari berbagai organisasi. Semua duduk dengan wajah tegang.Kaisar Pedang berdiri di podium, menatap Cakra yang baru masuk."Cakra Samudra," katanya dengan suara yang bergema ke seluruh aula. "Kami telah mendengar kabar yang dibawa oleh Pangeran Arkan sebelum ia dan aliansinya pergi. Bahwa Dewan Dewa Tertinggi akan datang dalam dua minggu."Bisikan kalut menyebar di seluruh aula."Dan kami mengadakan pertemuan ini," lanjut Kaisar Pedang, "untuk memutuskan apa yang akan dilakukan Nusantara."Ia menatap sekeliling. "Ada dua pilihan. Pertama, kita evakuasi kota. Semua penduduk pergi, tersebar ke berbagai tempat, biarkan kota ini kosong saat Dewa Tert
Tiga jam kemudian, Cakra akhirnya bisa duduk meski tubuhnya masih terasa seperti dihancurkan dan disusun kembali.Mereka berada di kamp medis sementara yang didirikan di pinggir dataran. Amara tidak meninggalkannya sedetik pun. Gadis itu duduk di sampingnya sambil terus menyalurkan energi penyembuhan dengan lembut.Pangeran Arkan dan kelima penguasa lainnya juga dalam perawatan di kamp terpisah, dijaga ketat. Mereka kalah, tapi masih hidup dan masih berbahaya bagi Cakra.Kaisar Pedang masuk ke tenda Cakra, wajahnya tampak serius."Pangeran Arkan ingin bicara denganmu," katanya. "Sendirian."Cakra menatap Amara yang mengangguk enggan. "Aku akan menunggu di luar. Berteriak lah jika terjadi sesuatu."Pangeran Arkan masuk dengan susah payah, tubuhnya diperban di mana-mana, lengan kanannya di gendongan. Tapi matanya masih menatap tajam, masih penuh dengan kecerdasan.Ia duduk dengan hati-hati di kursi di s
Langit berubah. Awan-awan berkumpul, tidak ratusan, tapi ribuan, menutupi seluruh dataran dalam kegelapan. Petir mulai menyambar, puluhan per detik, masing-masing mengejar keenam Dewa Sejati dengan akurasi sempurna.Hujan turun tapi bukan hujan biasa. Setiap tetes mengandung energi spiritual padat yang meledak saat menyentuh tanah.Angin bertiup kencang membawa pisau-pisau udara tak terlihat yang memotong apa pun yang dilewati.Dan dari awan itu, naga-naga awan raksasa muncul, puluhan naga, masing-masing sebesar gedung, semua menyerang keenam Dewa Sejati bersamaan.Ini bukan lagi pertarungan satu lawan enam... Tapi TAK TERBATAS, melawan Enam Dewa Sejati.Ini adalah seluruh langit melawan enam Dewa Sejati. Dan langit tidak bisa kalah.Menit Pertama...Pangeran Arkan bertahan dengan kesulitan. Tombak Penghakiman Langitnya menangkis petir, tapi terlalu banyak. Beberapa lolos, membakar lengannya, meretakkan armornya.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dalam pelukan, tidak bicara, tidak perlu kata-kata. Hanya kehadiran satu sama lain, kehangatan yang mungkin terakhir kali mereka rasakan.Saat fajar mulai menyingsing, Cakra perlahan melepaskan pelukan."Waktunya," bisiknya.Amara mengangguk, mencoba tersenyum meski hatinya hancur. "Aku akan menonton dari kejauhan. Dan aku akan menyembuhkanmu setelah kau menang.""Setelah aku menang," ulang Cakra, sebuah janji pada dirinya dan padanya.Dataran Tak Berujung terhampar luas, area datar yang membentang bermil-mil tanpa satu pohon pun, tanpa satu batu besar pun. Tempat sempurna untuk pertarungan skala besar tanpa kolateral damage.Saat Cakra tiba dengan Xander dan Amara, ribuan kultivator sudah berkumpul di pinggiran dataran, menonton dari jarak aman. Ini akan menjadi pertempuran yang tercatat dalam sejarah, dan semua ingin menyaksikan.Di tengah dataran, enam sosok menunggu.







