Share

BAB 3 IBLIS PEMAKAN JIWA

Author: Onibi Flame
last update Last Updated: 2026-01-16 02:27:33

BOOOOM!!!

Ledakan energi melemparkan Cakra ke belakang, tubuhnya menghantam pagar kayu hingga hancur berkeping-keping. Rasa sakit menusuk tulang rusuknya, tapi ia memaksakan dirinya bangkit.

Pemimpin Pemakan Jiwa jatuh beberapa meter di depannya, sebagian tubuhnya menguap dengan tangan kirinya yang lenyap, mengungkap tulang bayangan yang retak.

Tapi makhluk itu masih hidup, masih mendesis dengan penuh kebencian.

"Kau... kuat..." rintihnya.

"Tapi... takkan... cukup..."

Cakra menyeka darah dari sudut bibirnya. Penglihatannya berkunang-kunang, energi spiritualnya hampir habis. Di sekelilingnya, Kabut Pelindung mulai menipis dan masih banyak Pemakan Jiwa yang tersisa. Mereka sudah bersiap menyerang lagi.

"Aku tidak boleh kalah... Tidak disaat Amara masih..."

"CAKRA!"

Suara itu memecah konsentrasinya. Amara berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat tapi matanya menyala dengan tekad. Sayap kupu-kupu cahayanya muncul kembali, lebih redup dari sebelumnya, tapi masih ada.

"Jangan ke sini!" teriak Cakra.

"Kembali ke dalam!"

Tapi Amara sudah mengangkat tangannya. Cahaya keemasan memancar dari telapak tangannya, membentuk lingkaran-lingkaran seperti kelopak lotus yang melayang ke arah Cakra. Saat menyentuh tubuh Cakra, luka-lukanya mulai menutup, energinya pulih sebagian.

"Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri," ucap Amara dengan suara yang bergetar tapi tegas.

Pemimpin Pemakan Jiwa mendesis lebih keras.

"Gadis... murni... akhirnya... kau keluar..."

Semua makhluk bayangan itu berbalik menatap Amara, mata merah mereka terpaku. Mereka merangkak lebih cepat sekarang, kelaparan menguasai akal sehatnya.

"Tidak!"

Cakra berlari, menempatkan dirinya kembali di antara Amara dan gerombolan itu. Tapi tubuhnya telah mencapai batas, tangannya gemetar dengan lutut terseok tak bisa menjaga keseimbangan.

"Aku butuh lebih banyak kekuatan. Aku butuh..."

Tiba-tiba, Inti Awan di dadanya berdenyut kuat. Panas yang membakar menyebar ke seluruh tubuhnya. Visi asing menyerang pikirannya, fragmen kenangan yang bukan miliknya.

Dalam visi itu, seorang pria dengan jubah awan berdiri menghadapi ribuan musuh. Tangannya bergerak dalam pola rumit, dan langit merespon. Kabut tebal turun seperti tirai, menelan semua yang ada di dalamnya.

"Teknik Tingkat Dasar. Penjara Kabut..."

Cakra mengerti. Ia lantas menghentakkan kedua tangannya ke tanah. Energi spiritual meledak keluar, menyebar dalam lingkaran sempurna. Kabut putih tebal muncul seketika, menyebar begitu cepat hingga dalam hitungan detik seluruh area terbungkus dalam kegelapan yang tak tembus pandang.

Pemakan Jiwa berhenti, bingung. Mereka tidak bisa melihat. Tidak bisa mencium. Bahkan indera spiritual mereka terhalang oleh kabut Cakra yang dipenuhi energi Inti Awan. Tapi Cakra bisa melihat semuanya. Dalam kabut ciptaannya sendiri, ia adalah penguasa mutlak.

Ia bergerak seperti hantu dengan Cambuk Awan di tangan kanannya. Satu ayunan, tiga Pemakan Jiwa lenyap. Ayunan kedua, lima lagi lenyap. Begitu seterusnya. Mereka bahkan tidak sempat berteriak, tubuh bayangan mereka hancur sebelum menyadari kematian menjemput.

Pemimpin gerombolan mencoba melarikan diri, merangkak keluar dari kabut. Tapi Cakra sudah menunggunya.

"Pergilah," ucap Cakra dingin.

"Katakan pada siapa pun yang mengutusmu, bahwa Amara Kusuma berada di bawah perlindunganku. Siapa pun yang mencoba menyakitinya akan menghadapi aku, si Pengendali Awan."

Pemimpin itu menatapnya dengan mata merah yang penuh kebencian lalu menghilang dalam kepulan asap, meninggalkan hanya bisikan terakhir yang terdengar seperti ancaman.

"Mereka... akan datang... yang lebih... kuat... dariku!"

Kabut menghilang. Cakra berdiri sendirian di tengah kehancuran pagar rumah yang roboh, tanah penuh bekas cakar dan darah hitam yang mengepul. Tubuhnya bergetar hebat, energi spiritualnya hampir terkuras total.

Amara berlari mendekatinya tepat saat lututnya menyentuh tanah.

"Ooops! Hampir saja!" Bisik Amara, menopang tubuh Cakra yang lebih berat.

Cahaya penyembuh miliknya mengalir lembut, menenangkan luka-luka internal yang tidak terlihat.

Cakra menatapnya, mata yang lelah bertemu mata yang cemas.

"Kenapa kau keluar? Itu berbahaya."

"Karena kau dalam bahaya juga jika sendirian," jawab Amara, sambil tersenyum tipis.

"Kita melindungi satu sama lain, Cakra. Bukan hanya kau yang melindungi aku."

Sesuatu menghangat di dada Cakra. Bukan Inti Awan, tapi sesuatu yang lebih sederhana. Lebih manusiawi.

Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Tapi bersama cahaya mentari yang mulai muncul, Cakra tahu akan datang bahaya yang lebih besar.

Tiga hari berlalu sejak serangan Pemakan Jiwa.

Cakra menghabiskan waktunya berlatih mengendalikan kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya. Setiap pagi, ia pergi ke hutan di pinggir desa, tempat yang cukup jauh agar tidak menarik perhatian. Di sana, ia mencoba memahami bisikan-bisikan Inti Awan yang terus bergema di pikirannya.

Hari ini, ia berdiri di tengah lapangan kecil yang dikelilingi pohon bambu. Matanya tertutup, napasnya teratur. Udara di sekelilingnya bergetar, uap air berkumpul perlahan, membentuk spiral kecil yang melayang.

"Fokus... rasakan alirannya..." gumam Cakra pada diri sendiri.

Tapi konsentrasinya buyar saat alunan suara tua dan penuh wibawa bicara dari belakangnya.

"Teknikmu berantakan. Energimu bocor di tujuh titik. Jika kau bertarung dengan cara seperti itu, kau akan mati dalam sepuluh gerakan."

Cakra berbalik dengan cepat, Cambuk Awan langsung muncul di tangannya. Tapi yang berdiri di sana bukanlah musuh.

Seorang pria tua dengan janggut putih panjang, mengenakan jubah abu-abu lusuh. Tongkat kayunya yang sederhana terlihat tidak berbahaya, tapi mata Cakra yang baru dapat melihat sesuatu yang lain. Ada aura spiritual yang mengalir di sekeliling pria itu, begitu padat, begitu terlatih, hingga terasa seperti samudera yang tenang namun menghanyutkan.

"Siapa kau?" tanya Cakra, tidak menurunkan kewaspadaannya.

Pria tua itu tersenyum tipis.

"Namaku Rafael. Dulunya, aku adalah salah satu murid Pengendali Awan terakhir."

Jantung Cakra berhenti sejenak.

"Pengendali Awan terakhir...?"

"Ya."

Rafael melangkah maju, tongkatnya mengetuk tanah dengan ritme teratur.

"Tuanku, Arya Samudra. Dia orang yang pernah menguasai langit dan menundukkan para dewa. Dia mati tiga puluh tahun yang lalu, dibunuh oleh pengkhianatan dari orang-orang yang ia percayai."

Nama itu bergema di pikiran Cakra. Arya Samudra. Entah kenapa, nama itu terasa akrab, seperti lagu yang pernah ia dengar dalam mimpi.

"Dan sekarang," lanjut Rafael, matanya menatap tajam ke dada Cakra.

"Inti Awan Abadi yang menjadi sumber kekuatan tuanku kini bersemayam di dalam dirimu. Kau adalah penerusnya."

Cakra menelan ludahnya.

"Aku... aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Inti Awannya tiba-tiba saja..."

"Inti Awan tidak memilih sembarangan," potong Rafael.

"Ia telah menunggumu. Atau lebih tepatnya, menunggu seseorang yang memiliki tekad yang cukup kuat untuk melindungi sesuatu yang berharga, bahkan dengan mengorbankan nyawa sendiri."

Bayangan Amara di altar melintas di pikiran Cakra. Saat itu, ia memang rela mati demi menyelamatkannya.

Rafael menghela napas panjang.

"Tapi tekad saja tidak cukup. Kekuatan tanpa kendali adalah kutukan. Jika kau tidak belajar menguasai Inti Awan dengan benar, kekuatan itu akan menggerogotimu dari dalam. Atau lebih buruk lagi, kau akan menjadi monster yang membinasakan semua yang kau cintai."

Kata-kata itu mengusik pikiran Cakra. Ia mengingat saat ia hampir hancur, saat tubuhnya mulai retak karena energi yang terlalu besar. Jika Amara tidak menyelamatkannya, maka...

"Ajari aku," pinta Cakra, suaranya tegas.

"Aku akan melakukan apa pun untuk mengendalikan kekuatan ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 16 KONSPIRASI

    Malam setelah kemenangan Cakra, suasana di penginapan Bayu penuh perayaan.Para kultivator lain yang tinggal di sana mengangkat gelas, memberikan selamat, bahkan yang tadinya meragukan sekarang mengakui kekuatan Cakra. Bayu menyiapkan pesta kecil dengan makanan spiritual yang bisa memulihkan energi.Tapi Cakra tidak ikut merayakan. Ia duduk di kamarnya, merenungkan pertarungan tadi."Aku hampir kalah," pikirnya jujur. "Jika Surya sedikit lebih cepat, jika aku sedikit lebih lambat...""Berhenti memikirkan 'bagaimana jika'," suara Amara terdengar dari pintu. Ia masuk dengan nampan berisi makanan. "Kau menang. Itu yang penting."Cakra tersenyum lelah. "Aku hanya menang karena beruntung.""Bukan keberuntungan," Amara duduk di sampingnya, meletakkan nampan di atas meja. "Kau menang karena kau tidak panik. Karena kau ingat latihanmu. Karena kau tetap tenang meski hampir mati."Ia menyuapkan sepotong roti ke mulut Cakra yang menerimanya dengan sedikit protes. "Dan karena kau tahu aku men

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 15 FIRST DUEL!

    Setelah wasit berteriak, Surya pun tidak membuang waktu. Ia menghilang, teknik kecepatan yang sama seperti di desa Cakra waktu itu, dan muncul di belakang Cakra dengan pedang terayun ke arah tengkuk.Tapi Cakra sudah siap. Jurus Langkah Mendung, tubuhnya menguap menjadi kabut, pedang Surya melewati udara kosong, lalu ia muncul lima meter jauhnya dari Surya.Penonton bersorak, gerakan Cakra itu cepat dan elegan.Surya menyeringai. "Jadi kau sudah belajar beberapa trik baru. Bagus! Duel ini tidak akan membosankan!"Surya menyerang lagi, puluhan tusukan dalam sekejap, membentuk jala mematikan. Cakra bertahan dengan Cambuk Awan, menangkis setiap serangan, tapi kecepatan Surya luar biasa, ia hampir tidak bisa mengikuti.SRING!Salah satu tusukan lolos dan memotong lengan kiri Cakra. Darah pun menyembur. Penonton bersorak lebih keras."Darah pertama untuk Surya Kelana!" teriak pembawa acara.Cakra melompat mundur, menekan luka dengan tangan kanannya. Luka itu tidak dalam, tapi menyakitkan.

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 14 MALAM SEBELUM TURNAMEN

    Malam itu, Cakra tidak bisa tidur.Ia duduk di atap penginapan, menatap langit penuh bintang. Bulan purnama bersinar terang, bahkan terlalu terang baginya, hingga bayangannya tampak sangat gelap di atap."Tidak bisa tidur juga?"Cakra menoleh. Amara muncul dari tangga atap, membawa dua cangkir cokelat hangat."Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Cakra."Aku selalu tahu di mana kau berada," jawab Amara dengan senyuman lalu duduk di sampingnya. "Seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkan kita."Cakra menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang menyebar ke telapak tangannya. "Apa kau takut tentang hari esok?""Tentu saja," Amara mengangguk jujur. "Kau akan bertarung melawan kultivator-kultivator yang telah berlatih selama puluhan tahun. Beberapa dari mereka mungkin lebih kuat dari pemimpin Kultus Dewa Hujan yang kau kalahkan.""Tapi?" Cakra merasakan ada kelanjutan dari kalimat Amara."Tapi aku percaya padamu," Amara menatapnya, mata coklatnya bersinar diterpa cahaya bu

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 13 PENDAFTARAN TURNAMEN

    Pagi pertama di Nusantara dimulai dengan suara gong raksasa yang bergema ke seluruh kota.Cakra terbangun dengan cepat, tangan refleks mencari Cambuk Awan sebelum menyadari tidak ada bahaya. Hanya panggilan untuk sarapan pagi di penginapan Bayu.Kamar yang mereka tempati sederhana tapi nyaman, berisi dua tempat tidur terpisah (Rafael bersikeras, meskipun Cakra dan Amara sudah saling mencintai), jendela besar yang menghadap ke alun-alun kota, dan yang paling penting, formasi pelindung spiritual yang membuat mereka aman dari serangan tiba-tiba.Amara masih tidur di tempat tidur seberang, sayapnya muncul sebagian dalam tidur, kebiasaan baru sejak latihannya dengan Rafael. Wajahnya damai, rambut hitamnya tergerai di bantal seperti air terjun.Cakra tersenyum tipis, lalu bangkit tanpa membangunkannya. Ia berjalan ke arah jendela, menatap kota yang mulai bangun. Para pedagang membuka toko mereka, kultivator pagi berlatih di taman-taman kecil, anak-anak spiritual berlarian bermain."Kau tida

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 12 JALAN MENUJU NUSANTARA

    Mereka berangkat saat fajar. Rafael memimpin melalui jalur tersembunyi yang hanya diketahui sedikit orang. Perjalanan ke Nusantara, menurut perkataan Rafael, akan memakan waktu setidaknya sepuluh hari jika mereka berjalan. Tapi ada cara untuk sampai lebih cepat."Kita akan menggunakan Jalur Spiritual," ucap Rafael saat mereka berhenti di sebuah reruntuhan kuil yang lebih tua dari yang sebelumnya. Di tengah halaman kuil, ada lingkaran batu kuno dengan rune-rune yang masih berpendar samar."Jalur Spiritual?" tanya Cakra."Portal kuno yang menghubungkan tempat-tempat dengan energi spiritual tinggi," kata Rafael menjelaskan sambil berjalan mengelilingi lingkaran, memeriksanya. "Dulunya digunakan oleh kultivator untuk bepergian cepat. Tapi sebagian besar sudah hancur atau hilang."Ia meletakkan tangannya di atas salah satu batu. Energi spiritual mengalir dari telapak tangannya, mengaktifkan rune-rune yang tertidur. Satu per satu, rune itu menyala. Warnanya hijau zamrud, kemudian berubah

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 11 PEMBURU DARI ISTANA LANGIT

    Hari kelima sejak Cakra memasuki gunung.Amara berdiri di halaman kuil, Pedang Lotus Emas di tangannya. Senjata spiritual yang Rafael ajari untuk membentuk dari energinya sendiri. Pedang itu transparan, terbuat dari cahaya padat, dengan bunga lotus yang mekar di gagangnya.Ia mengayunkan pedang itu dalam pola yang Rafael ajarkan. Tarian Bunga Lima Kelopak, gerakan mengalir yang menggabungkan serangan, pertahanan, dan penyembuhan dalam satu alur."Lebih cepat!" teriak Rafael, menyerang dengan tongkatnya. "Musuhmu tidak akan menunggu kau siap!"Amara bereaksi, pedangnya memblokir tongkat Rafael dengan bunyi dentingan kristal. Ia berputar, mengayun horizontal, tapi Rafael menghindar dengan mudah."Prediksi gerakanku!" perintah Rafael, menyerang lagi dari sudut berbeda.Kali ini Amara tidak melihat dengan mata, ia merasakan aliran energi spiritual Rafael, merasakan niatnya sebelum tongkat itu bergerak. Ia mengangkat pedangnya tepat pada waktunya, menangkis serangan, lalu balas menyerang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status