MasukHujan berhenti tepat saat fajar menyingsing.
Cakra membawa Amara turun dari bukit dengan cara yang mengejutkan. Terasa ringan dan tubuhnya yang tadinya hancur kini terasa asing, penuh dengan energi yang berdenyut di setiap urat nadi. Para penduduk desa membuka jalan, menatap Cakra dengan campuran rasa hormat dan ketakutan yang menyesakkan dada. "Jangan sentuh dia," gumam seorang ibu sambil menarik anaknya menjauh. "Dia dikutuk oleh langit," bisik yang lain. Cakra mengabaikan mereka. Yang penting sekarang adalah Amara, gadis di pelukannya bernafas teratur tapi lemah, sayap cahayanya sudah menghilang, meninggalkan hanya sedikit pendar keemasan di kulitnya. Cakra membawanya ke rumah keluarga Kusuma, gubuk sederhana di pinggir desa dengan taman bunga yang entah bagaimana masih hidup meski kekeringan melanda. Ibu Amara, namanya Wulan, membuka pintu dengan mata sembab. "Amara!" Wulan berlari, tapi ragu saat melihat Cakra yang... berubah. "Kau... apa yang terjadi padamu? Amara kenapa..." "Dia butuh istirahat," potong Cakra, suaranya lebih dalam dari biasanya. "Aku akan menjaganya." "Cakra Samudra," suara berat menginterupsi. Wiranto muncul dengan lima penjaga dan tombak teracung. "Kau telah menghina ritual suci. Dewan desa menuntutmu untuk…" "Untuk apa?" Potong Cakra berbalik, dan tiba-tiba angin berhembus kencang hanya di sekelilingnya. "Menuntut aku karena menyelamatkan nyawa yang tidak seharusnya ditumbalkan?" Mata Wiranto menyipit. "Kau telah melanggar kehendak Dewa Hujan. Konsekuensinya akan datang pada kita semua! Bukan hanya padamu!!" "Tidak ada Dewa Hujan yang menuntut pengorbanan, apalagi TUMBAL!" Cakra melangkah maju. Awan-awan kecil mulai terbentuk di sekelilingnya, berputar seperti pelindung. "Tapi jika ada yang datang mencari Amara, mereka harus melangkahi mayatku terlebih dahulu." Untuk pertama kalinya, Wiranto terlihat ragu. Energi spiritual yang memancar dari Cakra membuat udara bergetar, bahkan penjaga-penjaga yang tidak peka sekali pun dapat merasakannya. "Ini belum berakhir, anak muda!" Wiranto berkata sambil mundur. "Kau telah membangkitkan sesuatu yang tidak kau mengerti." Setelah mereka pergi, Cakra akhirnya membawa Amara masuk. Wulan menyiapkan tempat tidur dengan tangan gemetar, menatap Cakra dengan tatapan yang sulit dibaca. "Terima kasih," bisiknya. "Karena menyelamatkan putriku." Cakra mengangguk, meletakkan Amara dengan lembut. Gadis itu terlihat damai dalam tidurnya, nafasnya yang teratur membawa sedikit kelegaan. "Aku akan segera kembali," ucap Cakra. "Tolong jaga dia." Di luar, langit mulai berubah. Bukan langit yang biasa. Cakra kini dapat melihat lapisan-lapisan alam spiritual yang tumpang tindih dengan dunia fisik. Ada retakan-retakan kecil di sana, dan dari retakan itu, sesuatu mengintip. Mata merah?! Berpuluh-puluh pasang. Memandang Cakra dengan tatapan lapar. Cakra mengepalkan tinjunya. Kabut mulai berkumpul di tangannya, membentuk sesuatu seperti senjata namun belum sempurna, masih kasar, tapi cukup untuk bertahan. "Baiklah," gumamnya pada langit yang mendengarkan. "Jika kalian ingin Amara, datanglah! Aku akan menunjukkan apa akibatnya." Dari kejauhan, suara guntur menjawab. Tapi kali ini, bukan ancaman... Suaranya seperti sambutan dari dunia spiritual yang telah menunggunya selama bertahun-tahun. Malam datang lebih cepat dari biasanya. Cakra duduk di atap gubuk keluarga Kusuma, matanya yang berpendar samar memindai cakrawala. Sejak sore tadi, ia merasakan sesuatu yang salah, seakan udara itu sendiri menahan nafas, menunggu sesuatu yang mengerikan terjadi. Di bawah sana, Amara masih tertidur. Nafasnya teratur, tapi wajahnya kadang berkerut karena mimpi buruk yang tak bisa ia hindari. "Kau tidak tidur?" Cakra menoleh. Wulan berdiri di ambang pintu, membawa secangkir teh panas yang mengepulkan uap. "Tidak bisa," jawab Cakra jujur. "Ada yang akan segera datang." Wulan naik dan duduk di sampingnya, memberikan cangkir teh. "Kau berubah, Cakra. Bukan hanya kekuatanmu. Matamu... seperti sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat manusia." Cakra menyeruput teh itu. Hangat... Dengan aroma jahe dan madu. Rasanya seperti kenangan masa kecil yang kini terasa sangat jauh. "Aku melihat mereka," jawabnya pelan. "Makhluk-makhluk dari alam spiritual. Mereka mengincar Amara." "Karena kekuatannya?" Tanya Wulan. "Karena kemurniannya," jawab Cakra sambil menatap langit yang tak berbintang. "Amara bukan hanya penyembuh. Energi spiritualnya... seperti suar bagi mereka yang kelaparan. Seperti lentera di tengah kegelapan yang abadi." Wulan terdiam lama. "Maka kau akan melindunginya?" "Dengan nyawaku," jawab Cakra spontan. "Bahkan jika itu berarti melawan para dewa?" Tanya Wulan bingung. Cakra tersenyum pahit. "Terutama jika itu berarti melawan para dewa." Tepat saat itu juga, angin berhenti berhembus. Cakra berdiri dengan cepat, cangkir tehnya terjatuh dan pecah. Kabut mulai merayap masuk ke desa dari segala arah, tapi ini bukan kabut biasa. Warna ungu gelap dengan bercak-bercak kemerahan, bergerak dengan satu tujuan, mencari keberadaan seseorang. "Masuk ke dalam, Bu. Kunci semua pintu dan jendela," pinta Cakra. "Jangan keluar apa pun yang terjadi." Wulan berlari menuruni tangga. Cakra melompat dari atap, mendarat dengan ringan di atas tanah. Kakinya bahkan tidak menimbulkan suara. Kabut aneh itu pun mendekat. Dan dari dalamnya, sosok-sosok mulai muncul… Mereka hampir seperti manusia. Hampir. Tubuh mereka terlalu kurus, lengannya terlalu panjang, jari-jari bercakar hitam. Mata mereka menyala merah, tanpa pupil, tanpa jiwa. Mulut mereka terbuka terlalu lebar, menampilkan barisan gigi seperti jarum. "Pemakan Jiwa," suara bisikan menjamah pikiran Cakra. "Makhluk rendahan dari Alam Bayangan. Mereka berburu energi spiritual murni." Ada sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh... Mereka terus muncul dari kabut, bergerak merangkak seperti hewan, menuju rumah keluarga Kusuma dengan kelaparan yang dapat Cakra rasakan hingga ke tulang. Cakra melangkah maju, menghalangi jalan mereka. "Kalian tidak akan bisa menyentuhnya," suaranya bergema dengan kekuatan yang membuat tanah bergetar. Pemakan Jiwa yang terdepan mendesis, suaranya seperti kuku digesek di batu tulis. Lalu... Dia menyerang Cakra! Gerakannya cepat, tapi sayangnya Cakra lebih cepat. Cakra mengangkat tangan, dan kabut merespon. Uap air di udara membeku seketika, membentuk cambuk panjang yang berkilau seperti kristal. Cakra mengayunkannya. Cambuk Awan. Senjata itu membelah Pemakan Jiwa yang pertama menjadi dua bagian. Makhluk itu meledak menjadi asap hitam yang berbau busuk. Tapi yang lainnya tidak berhenti. Mereka datang mengeroyok Cakra, mencakar, menggigit, dan berusaha menembus pertahanan Cakra. "KABUT PELINDUNG!" Cakra berteriak, energinya meledak keluar. Kabut putih tebal muncul mengelilingi rumah Kusuma, membentuk kubah yang berputar. Pemakan Jiwa yang menyentuhnya terbakar, mereka mendesis dan menguap. Tapi Cakra merasa tenaganya terkuras. Ia belum terbiasa dengan kekuatan ini. Setiap gerakan, setiap teknik membutuhkan konsentrasi penuh. Keringat bercucuran di keningnya meski malam ini dingin. Pemimpin Pemakan Jiwa yang lebih besar dari yang lain, dengan tanduk kecil di kepalanya, berdiri di belakang gerombolan. Ia menatap Cakra dengan tatapan yang menakutkan. "Pengendali... Awan..." Suaranya seperti kaca yang pecah. "Kau... masih lemah... Berikan... gadis... itu..." "Tidak akan pernah!!" Bentak Cakra. Cakra menarik nafas dalam, merasakan Inti Awan di dadanya berdenyut. Energi murni mengalir ke tangannya, berkumpul dan menjadi padat. "Kalau begitu... mati..." Pemimpin Pemakan Jiwa kemudian melompat. Gerakan yang cepat untuk tubuh sebesar itu. Cakarnya teracung menuju ke jantung Cakra. Cakra tidak menghindar. Ia menerjang balik. Tangan kanannya mengeluarkan cahaya biru terang. Mereka bertabrakan dan sekitar mereka pun meledak menjadi cahaya. BOOOM!!!Malam setelah kemenangan Cakra, suasana di penginapan Bayu penuh perayaan.Para kultivator lain yang tinggal di sana mengangkat gelas, memberikan selamat, bahkan yang tadinya meragukan sekarang mengakui kekuatan Cakra. Bayu menyiapkan pesta kecil dengan makanan spiritual yang bisa memulihkan energi.Tapi Cakra tidak ikut merayakan. Ia duduk di kamarnya, merenungkan pertarungan tadi."Aku hampir kalah," pikirnya jujur. "Jika Surya sedikit lebih cepat, jika aku sedikit lebih lambat...""Berhenti memikirkan 'bagaimana jika'," suara Amara terdengar dari pintu. Ia masuk dengan nampan berisi makanan. "Kau menang. Itu yang penting."Cakra tersenyum lelah. "Aku hanya menang karena beruntung.""Bukan keberuntungan," Amara duduk di sampingnya, meletakkan nampan di atas meja. "Kau menang karena kau tidak panik. Karena kau ingat latihanmu. Karena kau tetap tenang meski hampir mati."Ia menyuapkan sepotong roti ke mulut Cakra yang menerimanya dengan sedikit protes. "Dan karena kau tahu aku men
Setelah wasit berteriak, Surya pun tidak membuang waktu. Ia menghilang, teknik kecepatan yang sama seperti di desa Cakra waktu itu, dan muncul di belakang Cakra dengan pedang terayun ke arah tengkuk.Tapi Cakra sudah siap. Jurus Langkah Mendung, tubuhnya menguap menjadi kabut, pedang Surya melewati udara kosong, lalu ia muncul lima meter jauhnya dari Surya.Penonton bersorak, gerakan Cakra itu cepat dan elegan.Surya menyeringai. "Jadi kau sudah belajar beberapa trik baru. Bagus! Duel ini tidak akan membosankan!"Surya menyerang lagi, puluhan tusukan dalam sekejap, membentuk jala mematikan. Cakra bertahan dengan Cambuk Awan, menangkis setiap serangan, tapi kecepatan Surya luar biasa, ia hampir tidak bisa mengikuti.SRING!Salah satu tusukan lolos dan memotong lengan kiri Cakra. Darah pun menyembur. Penonton bersorak lebih keras."Darah pertama untuk Surya Kelana!" teriak pembawa acara.Cakra melompat mundur, menekan luka dengan tangan kanannya. Luka itu tidak dalam, tapi menyakitkan.
Malam itu, Cakra tidak bisa tidur.Ia duduk di atap penginapan, menatap langit penuh bintang. Bulan purnama bersinar terang, bahkan terlalu terang baginya, hingga bayangannya tampak sangat gelap di atap."Tidak bisa tidur juga?"Cakra menoleh. Amara muncul dari tangga atap, membawa dua cangkir cokelat hangat."Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Cakra."Aku selalu tahu di mana kau berada," jawab Amara dengan senyuman lalu duduk di sampingnya. "Seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkan kita."Cakra menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang menyebar ke telapak tangannya. "Apa kau takut tentang hari esok?""Tentu saja," Amara mengangguk jujur. "Kau akan bertarung melawan kultivator-kultivator yang telah berlatih selama puluhan tahun. Beberapa dari mereka mungkin lebih kuat dari pemimpin Kultus Dewa Hujan yang kau kalahkan.""Tapi?" Cakra merasakan ada kelanjutan dari kalimat Amara."Tapi aku percaya padamu," Amara menatapnya, mata coklatnya bersinar diterpa cahaya bu
Pagi pertama di Nusantara dimulai dengan suara gong raksasa yang bergema ke seluruh kota.Cakra terbangun dengan cepat, tangan refleks mencari Cambuk Awan sebelum menyadari tidak ada bahaya. Hanya panggilan untuk sarapan pagi di penginapan Bayu.Kamar yang mereka tempati sederhana tapi nyaman, berisi dua tempat tidur terpisah (Rafael bersikeras, meskipun Cakra dan Amara sudah saling mencintai), jendela besar yang menghadap ke alun-alun kota, dan yang paling penting, formasi pelindung spiritual yang membuat mereka aman dari serangan tiba-tiba.Amara masih tidur di tempat tidur seberang, sayapnya muncul sebagian dalam tidur, kebiasaan baru sejak latihannya dengan Rafael. Wajahnya damai, rambut hitamnya tergerai di bantal seperti air terjun.Cakra tersenyum tipis, lalu bangkit tanpa membangunkannya. Ia berjalan ke arah jendela, menatap kota yang mulai bangun. Para pedagang membuka toko mereka, kultivator pagi berlatih di taman-taman kecil, anak-anak spiritual berlarian bermain."Kau tida
Mereka berangkat saat fajar. Rafael memimpin melalui jalur tersembunyi yang hanya diketahui sedikit orang. Perjalanan ke Nusantara, menurut perkataan Rafael, akan memakan waktu setidaknya sepuluh hari jika mereka berjalan. Tapi ada cara untuk sampai lebih cepat."Kita akan menggunakan Jalur Spiritual," ucap Rafael saat mereka berhenti di sebuah reruntuhan kuil yang lebih tua dari yang sebelumnya. Di tengah halaman kuil, ada lingkaran batu kuno dengan rune-rune yang masih berpendar samar."Jalur Spiritual?" tanya Cakra."Portal kuno yang menghubungkan tempat-tempat dengan energi spiritual tinggi," kata Rafael menjelaskan sambil berjalan mengelilingi lingkaran, memeriksanya. "Dulunya digunakan oleh kultivator untuk bepergian cepat. Tapi sebagian besar sudah hancur atau hilang."Ia meletakkan tangannya di atas salah satu batu. Energi spiritual mengalir dari telapak tangannya, mengaktifkan rune-rune yang tertidur. Satu per satu, rune itu menyala. Warnanya hijau zamrud, kemudian berubah
Hari kelima sejak Cakra memasuki gunung.Amara berdiri di halaman kuil, Pedang Lotus Emas di tangannya. Senjata spiritual yang Rafael ajari untuk membentuk dari energinya sendiri. Pedang itu transparan, terbuat dari cahaya padat, dengan bunga lotus yang mekar di gagangnya.Ia mengayunkan pedang itu dalam pola yang Rafael ajarkan. Tarian Bunga Lima Kelopak, gerakan mengalir yang menggabungkan serangan, pertahanan, dan penyembuhan dalam satu alur."Lebih cepat!" teriak Rafael, menyerang dengan tongkatnya. "Musuhmu tidak akan menunggu kau siap!"Amara bereaksi, pedangnya memblokir tongkat Rafael dengan bunyi dentingan kristal. Ia berputar, mengayun horizontal, tapi Rafael menghindar dengan mudah."Prediksi gerakanku!" perintah Rafael, menyerang lagi dari sudut berbeda.Kali ini Amara tidak melihat dengan mata, ia merasakan aliran energi spiritual Rafael, merasakan niatnya sebelum tongkat itu bergerak. Ia mengangkat pedangnya tepat pada waktunya, menangkis serangan, lalu balas menyerang







