Share

BAB 4 JEJAK SANG GURU

Author: Onibi Flame
last update Last Updated: 2026-01-17 00:50:20

Rafael menatapnya lama. Ada sesuatu di mata pria tua itu. Ada kesedihan yang dalam, seperti kenangan menyakitkan yang tak pernah hilang. Tapi kemudian ia mengangguk.

"Baiklah. Tapi kau harus mengerti satu hal. Jalan hidup seorang Pengendali Awan adalah jalan yang penuh darah dan pengorbanan. Para dewa akan membencimu. Kultus-kultus spiritual menginginkan kekuatanmu. Bahkan manusia biasa akan takut padamu."

Rafael menghentakkan tongkatnya ke tanah.

"Apa kau siap untuk semua itu?"

Cakra mengangguk tanpa ragu.

"Selama aku bisa melindungi Amara, aku siap menghadapi apa pun."

Senyum tipis muncul di wajah Rafael.

"Cinta memang motivator terkuat. Baiklah. Latihanmu dimulai dari sekarang."

Latihan pertama ternyata bukan tentang kekuatan atau teknik bertarung.

Rafael membawa Cakra ke sebuah kolam kecil tersembunyi di dalam hutan. Air di kolam itu jernih seperti kristal, memantulkan cahaya matahari yang menembus celah dedaunan.

"Duduk," perintah Rafael, menunjuk batu datar di tepi kolam.

Cakra duduk bersila, bingung.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Tidak melakukan apa-apa."

Rafael pun lantas duduk di seberangnya.

"Tutup matamu. Rasakan energi spiritual di dalam dirimu. Jangan coba mengendalikannya. Jangan coba membentuknya. Hanya... Rasakan."

Cakra menutup mata, mencoba mengikuti instruksi. Tapi begitu ia fokus pada Inti Awan di dadanya, energi itu langsung bereaksi, bergejolak, bergolak, seperti badai yang ingin dilepaskan.

Napasnya tercekat. Keringat mulai mengucur.

"Jangan melawan," suara Rafael tenang.

"Terimalah. Energi itu adalah bagian darimu sekarang. Seperti napasmu. Seperti detak jantungmu."

Cakra mencoba menenangkan diri, tapi semakin ia berusaha, semakin liar energi itu bergolak. Rasa sakit mulai menyebar seperti ribuan jarum menusuk dari dalam.

"Aku... tidak bisa..." erang Cakra.

"Kau pasti bisa!" Ucap Rafael tegas.

"Ingat alasanmu. Ingat untuk apa kau melakukan semua ini."

Amara. Ya, itu alasannya!

Wajahnya muncul di pikiran Cakra, senyumnya yang lembut, tatapannya yang percaya. Ia mengingat bagaimana Amara memeluknya saat turun dari altar. Bagaimana cahaya penyembuhnya mengalir hangat, menenangkan.

Perlahan, energi liar di dada Cakra mulai tenang. Tidak sepenuhnya jinak, tapi tidak lagi bergejolak seperti sebelumnya. Seperti sungai yang deras, tapi mengalir dalam jalurnya.

Cakra membuka mata, napasnya terengah. Rafael tersenyum puas.

"Bagus. Kau lebih cepat belajar dari yang kukira."

Tapi sebelum Cakra bisa menjawab, sesuatu berubah di udara. Aroma aneh seperti bau belerang dan logam, menyeruak dengan tiba-tiba. Burung-burung di pohon beterbangan panik.

Rafael berdiri dengan cepat, wajahnya berubah serius.

"Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku."

"Siapa?" Cakra ikut berdiri, Cambuk Awan langsung muncul di tangannya.

"Kultus Dewa Hujan," jawab Rafael.

"Mereka tahu tentang kelahiran Pengendali Awan yang baru. Dan mereka tidak akan membiarkanmu hidup."

Dari balik pepohonan, sosok-sosok berjubah merah mulai muncul. Ada dua belas orang, masing-masing membawa senjata yang berkilau dengan cahaya spiritual. Senjata pedang, tombak, dan kampak. Mata mereka tersembunyi di balik topeng kayu berbentuk wajah iblis.

Yang terdepan melangkah maju, suaranya bergema dari balik topeng.

"Pengendali Awan palsu! Kau telah menghina Dewa Hujan dengan menghentikan ritual suci. Sekarang, kau akan membayar dengan nyawamu!"

Cakra menatap mereka tanpa rasa takut.

"Ritual kalian adalah pembunuhan. Dan aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti siapa pun lagi."

Pemimpin kultus tertawa, suara tawa yang dingin dan tanpa jiwa.

"SOMBONG! Kau bahkan belum menguasai kekuatanmu sendiri. Kami akan menunjukkan perbedaan antara penerus amatir dan kultivator sejati."

Ia mengangkat tangannya, dan sebelas anggota kultus lainnya langsung menyebar, mengelilingi Cakra dan Rafael. Energi spiritual mereka bergabung, menciptakan formasi yang membuat udara bergetar.

Rafael berbisik, "Ini adalah Formasi Tombak Hujan Tujuh Lapis. Teknik tingkat menengah yang bisa menembus pertahanan apa pun. Jika kau tidak siap..."

"Aku siap," potong Cakra.

Matanya berpendar biru terang.

"Ajari aku sambil bertarung."

Rafael terdiam sejenak lalu tertawa pelan.

"Kau benar-benar seperti tuanku yang dulu. Baiklah! Mari kita tunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika mereka meremehkan seorang Pengendali Awan."

Pemimpin kultus menghentakkan tongkat miliknya ke tanah.

"BUNUH MEREKA!"

Dan duel pun terjadi!

Sebelas anggota kultus menyerang bersamaan. Gerakan mereka terkoordinasi sempurna, seperti satu tubuh dengan banyak lengan. Tombak mereka menusuk dari segala arah, masing-masing disertai kilatan cahaya merah yang membelah udara.

Cakra bereaksi secara insting.

"KABUT PELINDUNG!"

Kubah kabut muncul mengelilingi Cakra dan Rafael, tapi kali ini berbeda. Tombak-tombak itu tidak terbakar saat menyentuh kabut. Sebaliknya, mereka menembus dengan perlahan, seperti jarum merobek kain.

"Kabut biasa tidak akan cukup!" Teriak Rafael.

"Kau harus memadatkannya! Bayangkan kabut itu menjadi perisai baja!"

Cakra memejamkan matanya sejenak, merasakan energi Inti Awan. Ia membayangkan kabut itu menjadi padat, mengkristal, menjadi keras seperti berlian.

Dan kabut itu merespon, warnanya berubah dari putih menjadi biru terang, teksturnya berubah, lebih padat dan lebih keras.

CLANG! CLANG! CLANG!

Tombak-tombak itu memantul, melempar para anggota kultus ke belakang.

"Bagus!" Seru Rafael.

"Sekarang serangan balik! Gunakan Cambuk Awan, tapi jangan hanya mengayun, masukkan niatmu ke dalamnya! Bayangkan cambuk itu adalah perpanjangan tanganmu sendiri!"

Cakra mengayunkan Cambuk Awan dan kali ini dengan fokus penuh. Cambuk itu memanjang berkali lipat dari sebelumnya, bergerak seperti ular yang hidup. Ia menyapu secara horizontal, mengenai tiga anggota kultus sekaligus.

Mereka terlempar, menghantam pohon dengan keras. Topeng mereka retak, mengungkap wajah manusia biasa, tapi tatapan mata mereka kosong, seperti dikendalikan oleh sesuatu yang lain.

"Mereka adalah boneka spiritual," ucap Rafael.

"Tubuh mereka dikendalikan oleh imam tinggi kultus. Untuk mengalahkan mereka, kau harus memutus koneksi spiritualnya."

"Bagaimana caranya?" tanya Cakra sambil terus bertahan dari serangan bertubi-tubi.

"Lihat dengan mata spiritualmu! Ada benang energi yang menghubungkan mereka dengan pengendalinya!" Terang Rafael.

Cakra memfokuskan pandangannya. Dan, dia melihatnya...

Benang-benang tipis berwarna merah, mengalir dari setiap anggota kultus, berkumpul pada pemimpin yang berdiri di belakang, mengendalikan semua seperti dalang.

"Aku melihatnya!"

"Bagus! Sekarang gunakan teknik baru. HUJAN PEDANG AWAN!"

Cakra tidak tahu teknik itu. Tapi entah bagaimana, Inti Awan di dadanya merespon. Kenangan yang bukan miliknya mengalir, ia melihat Arya Samudra berdiri di tengah medan perang, mengangkat tangan, dan langit di atasnya merespon.

Cakra meniru gerakan itu.

Ia mengangkat kedua tangannya tinggi. Awan-awan di atas berputar cepat, berputar, dan turun. Dari dalamnya, ribuan pedang es terbentuk, masing-masing berkilau tajam, melayang di udara seperti pasukan yang siap menyerang.

"MAJU!" teriak Cakra.

Ribuan pedang itu melesat ke bawah tapi tidak mengarah ke tubuh para anggota kultus. Sebaliknya, mereka menusuk benang-benang merah yang menghubungkan mereka dengan pemimpin.

SYUUUUT! SYUUUUT! SYUUUUT!

Benang-benang itu putus. Sebelas anggota kultus langsung ambruk, seperti boneka yang talinya dipotong.

Pemimpin kultus mundur, terkejut.

"Tidak mungkin... kau menguasai teknik tingkat menengah dalam hitungan menit...?"

Rafael tersenyum tipis.

"Itulah kehebatan Pengendali Awan sejati. Mereka tidak belajar teknik, mereka dilahirkan memang dengan pemahaman tentang langit itu sendiri."

Pemimpin kultus menggeram marah. Ia melempar jubahnya, mengungkap tubuh penuh tato merah yang berpendar. Tangan kanannya berubah, kulitnya menghitam, cakar tajam muncul, seperti milik iblis.

"Jika boneka tidak cukup," katanya dengan suara yang berubah menjadi gema mengerikan, "maka aku akan membunuhmu sendiri dengan Transformasi Iblis Hujan!"

Ia melompat dengan gerakan yang sangat cepat. Cakarnya teracung langsung ke jantung Cakra.

Tapi sebelum sampai, Rafael sudah berdiri di depan Cakra. Tongkat tuanya menghalangi cakar itu dan yang mengejutkan adalah, tongkat yang terlihat rapuh itu tidak patah. Sebaliknya, cahaya emas memancar dari tongkat itu, melempar pemimpin kultus ke belakang.

"Cukup!" Bentak Rafael dingin.

"Latihannya sudah cukup untuk hari ini. Cakra, kita pergi."

"Tapi..."

"Sekarang!" Perintah Rafael.

Dengan gerakan tongkatnya, kabut tebal muncul menyelimuti mereka. Saat kabut menghilang, Cakra dan Rafael sudah tidak ada lagi, hanya meninggalkan pemimpin kultus yang meraung marah di tengah hutan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 16 KONSPIRASI

    Malam setelah kemenangan Cakra, suasana di penginapan Bayu penuh perayaan.Para kultivator lain yang tinggal di sana mengangkat gelas, memberikan selamat, bahkan yang tadinya meragukan sekarang mengakui kekuatan Cakra. Bayu menyiapkan pesta kecil dengan makanan spiritual yang bisa memulihkan energi.Tapi Cakra tidak ikut merayakan. Ia duduk di kamarnya, merenungkan pertarungan tadi."Aku hampir kalah," pikirnya jujur. "Jika Surya sedikit lebih cepat, jika aku sedikit lebih lambat...""Berhenti memikirkan 'bagaimana jika'," suara Amara terdengar dari pintu. Ia masuk dengan nampan berisi makanan. "Kau menang. Itu yang penting."Cakra tersenyum lelah. "Aku hanya menang karena beruntung.""Bukan keberuntungan," Amara duduk di sampingnya, meletakkan nampan di atas meja. "Kau menang karena kau tidak panik. Karena kau ingat latihanmu. Karena kau tetap tenang meski hampir mati."Ia menyuapkan sepotong roti ke mulut Cakra yang menerimanya dengan sedikit protes. "Dan karena kau tahu aku men

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 15 FIRST DUEL!

    Setelah wasit berteriak, Surya pun tidak membuang waktu. Ia menghilang, teknik kecepatan yang sama seperti di desa Cakra waktu itu, dan muncul di belakang Cakra dengan pedang terayun ke arah tengkuk.Tapi Cakra sudah siap. Jurus Langkah Mendung, tubuhnya menguap menjadi kabut, pedang Surya melewati udara kosong, lalu ia muncul lima meter jauhnya dari Surya.Penonton bersorak, gerakan Cakra itu cepat dan elegan.Surya menyeringai. "Jadi kau sudah belajar beberapa trik baru. Bagus! Duel ini tidak akan membosankan!"Surya menyerang lagi, puluhan tusukan dalam sekejap, membentuk jala mematikan. Cakra bertahan dengan Cambuk Awan, menangkis setiap serangan, tapi kecepatan Surya luar biasa, ia hampir tidak bisa mengikuti.SRING!Salah satu tusukan lolos dan memotong lengan kiri Cakra. Darah pun menyembur. Penonton bersorak lebih keras."Darah pertama untuk Surya Kelana!" teriak pembawa acara.Cakra melompat mundur, menekan luka dengan tangan kanannya. Luka itu tidak dalam, tapi menyakitkan.

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 14 MALAM SEBELUM TURNAMEN

    Malam itu, Cakra tidak bisa tidur.Ia duduk di atap penginapan, menatap langit penuh bintang. Bulan purnama bersinar terang, bahkan terlalu terang baginya, hingga bayangannya tampak sangat gelap di atap."Tidak bisa tidur juga?"Cakra menoleh. Amara muncul dari tangga atap, membawa dua cangkir cokelat hangat."Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanya Cakra."Aku selalu tahu di mana kau berada," jawab Amara dengan senyuman lalu duduk di sampingnya. "Seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkan kita."Cakra menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang menyebar ke telapak tangannya. "Apa kau takut tentang hari esok?""Tentu saja," Amara mengangguk jujur. "Kau akan bertarung melawan kultivator-kultivator yang telah berlatih selama puluhan tahun. Beberapa dari mereka mungkin lebih kuat dari pemimpin Kultus Dewa Hujan yang kau kalahkan.""Tapi?" Cakra merasakan ada kelanjutan dari kalimat Amara."Tapi aku percaya padamu," Amara menatapnya, mata coklatnya bersinar diterpa cahaya bu

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 13 PENDAFTARAN TURNAMEN

    Pagi pertama di Nusantara dimulai dengan suara gong raksasa yang bergema ke seluruh kota.Cakra terbangun dengan cepat, tangan refleks mencari Cambuk Awan sebelum menyadari tidak ada bahaya. Hanya panggilan untuk sarapan pagi di penginapan Bayu.Kamar yang mereka tempati sederhana tapi nyaman, berisi dua tempat tidur terpisah (Rafael bersikeras, meskipun Cakra dan Amara sudah saling mencintai), jendela besar yang menghadap ke alun-alun kota, dan yang paling penting, formasi pelindung spiritual yang membuat mereka aman dari serangan tiba-tiba.Amara masih tidur di tempat tidur seberang, sayapnya muncul sebagian dalam tidur, kebiasaan baru sejak latihannya dengan Rafael. Wajahnya damai, rambut hitamnya tergerai di bantal seperti air terjun.Cakra tersenyum tipis, lalu bangkit tanpa membangunkannya. Ia berjalan ke arah jendela, menatap kota yang mulai bangun. Para pedagang membuka toko mereka, kultivator pagi berlatih di taman-taman kecil, anak-anak spiritual berlarian bermain."Kau tida

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 12 JALAN MENUJU NUSANTARA

    Mereka berangkat saat fajar. Rafael memimpin melalui jalur tersembunyi yang hanya diketahui sedikit orang. Perjalanan ke Nusantara, menurut perkataan Rafael, akan memakan waktu setidaknya sepuluh hari jika mereka berjalan. Tapi ada cara untuk sampai lebih cepat."Kita akan menggunakan Jalur Spiritual," ucap Rafael saat mereka berhenti di sebuah reruntuhan kuil yang lebih tua dari yang sebelumnya. Di tengah halaman kuil, ada lingkaran batu kuno dengan rune-rune yang masih berpendar samar."Jalur Spiritual?" tanya Cakra."Portal kuno yang menghubungkan tempat-tempat dengan energi spiritual tinggi," kata Rafael menjelaskan sambil berjalan mengelilingi lingkaran, memeriksanya. "Dulunya digunakan oleh kultivator untuk bepergian cepat. Tapi sebagian besar sudah hancur atau hilang."Ia meletakkan tangannya di atas salah satu batu. Energi spiritual mengalir dari telapak tangannya, mengaktifkan rune-rune yang tertidur. Satu per satu, rune itu menyala. Warnanya hijau zamrud, kemudian berubah

  • Warisan Kultivasi: Pengendali Awan   BAB 11 PEMBURU DARI ISTANA LANGIT

    Hari kelima sejak Cakra memasuki gunung.Amara berdiri di halaman kuil, Pedang Lotus Emas di tangannya. Senjata spiritual yang Rafael ajari untuk membentuk dari energinya sendiri. Pedang itu transparan, terbuat dari cahaya padat, dengan bunga lotus yang mekar di gagangnya.Ia mengayunkan pedang itu dalam pola yang Rafael ajarkan. Tarian Bunga Lima Kelopak, gerakan mengalir yang menggabungkan serangan, pertahanan, dan penyembuhan dalam satu alur."Lebih cepat!" teriak Rafael, menyerang dengan tongkatnya. "Musuhmu tidak akan menunggu kau siap!"Amara bereaksi, pedangnya memblokir tongkat Rafael dengan bunyi dentingan kristal. Ia berputar, mengayun horizontal, tapi Rafael menghindar dengan mudah."Prediksi gerakanku!" perintah Rafael, menyerang lagi dari sudut berbeda.Kali ini Amara tidak melihat dengan mata, ia merasakan aliran energi spiritual Rafael, merasakan niatnya sebelum tongkat itu bergerak. Ia mengangkat pedangnya tepat pada waktunya, menangkis serangan, lalu balas menyerang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status