LOGINRafael menatapnya lama. Ada sesuatu di mata pria tua itu. Ada kesedihan yang dalam, seperti kenangan menyakitkan yang tak pernah hilang. Tapi kemudian ia mengangguk.
"Baiklah. Tapi kau harus mengerti satu hal. Jalan hidup seorang Pengendali Awan adalah jalan yang penuh darah dan pengorbanan. Para dewa akan membencimu. Kultus-kultus spiritual menginginkan kekuatanmu. Bahkan manusia biasa akan takut padamu." Rafael menghentakkan tongkatnya ke tanah. "Apa kau siap untuk semua itu?" Cakra mengangguk tanpa ragu. "Selama aku bisa melindungi Amara, aku siap menghadapi apa pun." Senyum tipis muncul di wajah Rafael. "Cinta memang motivator terkuat. Baiklah. Latihanmu dimulai dari sekarang." Latihan pertama ternyata bukan tentang kekuatan atau teknik bertarung. Rafael membawa Cakra ke sebuah kolam kecil tersembunyi di dalam hutan. Air di kolam itu jernih seperti kristal, memantulkan cahaya matahari yang menembus celah dedaunan. "Duduk," perintah Rafael, menunjuk batu datar di tepi kolam. Cakra duduk bersila, bingung. "Apa yang harus kulakukan?" "Tidak melakukan apa-apa." Rafael pun lantas duduk di seberangnya. "Tutup matamu. Rasakan energi spiritual di dalam dirimu. Jangan coba mengendalikannya. Jangan coba membentuknya. Hanya... Rasakan." Cakra menutup mata, mencoba mengikuti instruksi. Tapi begitu ia fokus pada Inti Awan di dadanya, energi itu langsung bereaksi, bergejolak, bergolak, seperti badai yang ingin dilepaskan. Napasnya tercekat. Keringat mulai mengucur. "Jangan melawan," suara Rafael tenang. "Terimalah. Energi itu adalah bagian darimu sekarang. Seperti napasmu. Seperti detak jantungmu." Cakra mencoba menenangkan diri, tapi semakin ia berusaha, semakin liar energi itu bergolak. Rasa sakit mulai menyebar seperti ribuan jarum menusuk dari dalam. "Aku... tidak bisa..." erang Cakra. "Kau pasti bisa!" Ucap Rafael tegas. "Ingat alasanmu. Ingat untuk apa kau melakukan semua ini." Amara. Ya, itu alasannya! Wajahnya muncul di pikiran Cakra, senyumnya yang lembut, tatapannya yang percaya. Ia mengingat bagaimana Amara memeluknya saat turun dari altar. Bagaimana cahaya penyembuhnya mengalir hangat, menenangkan. Perlahan, energi liar di dada Cakra mulai tenang. Tidak sepenuhnya jinak, tapi tidak lagi bergejolak seperti sebelumnya. Seperti sungai yang deras, tapi mengalir dalam jalurnya. Cakra membuka mata, napasnya terengah. Rafael tersenyum puas. "Bagus. Kau lebih cepat belajar dari yang kukira." Tapi sebelum Cakra bisa menjawab, sesuatu berubah di udara. Aroma aneh seperti bau belerang dan logam, menyeruak dengan tiba-tiba. Burung-burung di pohon beterbangan panik. Rafael berdiri dengan cepat, wajahnya berubah serius. "Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku." "Siapa?" Cakra ikut berdiri, Cambuk Awan langsung muncul di tangannya. "Kultus Dewa Hujan," jawab Rafael. "Mereka tahu tentang kelahiran Pengendali Awan yang baru. Dan mereka tidak akan membiarkanmu hidup." Dari balik pepohonan, sosok-sosok berjubah merah mulai muncul. Ada dua belas orang, masing-masing membawa senjata yang berkilau dengan cahaya spiritual. Senjata pedang, tombak, dan kampak. Mata mereka tersembunyi di balik topeng kayu berbentuk wajah iblis. Yang terdepan melangkah maju, suaranya bergema dari balik topeng. "Pengendali Awan palsu! Kau telah menghina Dewa Hujan dengan menghentikan ritual suci. Sekarang, kau akan membayar dengan nyawamu!" Cakra menatap mereka tanpa rasa takut. "Ritual kalian adalah pembunuhan. Dan aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti siapa pun lagi." Pemimpin kultus tertawa, suara tawa yang dingin dan tanpa jiwa. "SOMBONG! Kau bahkan belum menguasai kekuatanmu sendiri. Kami akan menunjukkan perbedaan antara penerus amatir dan kultivator sejati." Ia mengangkat tangannya, dan sebelas anggota kultus lainnya langsung menyebar, mengelilingi Cakra dan Rafael. Energi spiritual mereka bergabung, menciptakan formasi yang membuat udara bergetar. Rafael berbisik, "Ini adalah Formasi Tombak Hujan Tujuh Lapis. Teknik tingkat menengah yang bisa menembus pertahanan apa pun. Jika kau tidak siap..." "Aku siap," potong Cakra. Matanya berpendar biru terang. "Ajari aku sambil bertarung." Rafael terdiam sejenak lalu tertawa pelan. "Kau benar-benar seperti tuanku yang dulu. Baiklah! Mari kita tunjukkan pada mereka apa yang terjadi jika mereka meremehkan seorang Pengendali Awan." Pemimpin kultus menghentakkan tongkat miliknya ke tanah. "BUNUH MEREKA!" Dan duel pun terjadi! Sebelas anggota kultus menyerang bersamaan. Gerakan mereka terkoordinasi sempurna, seperti satu tubuh dengan banyak lengan. Tombak mereka menusuk dari segala arah, masing-masing disertai kilatan cahaya merah yang membelah udara. Cakra bereaksi secara insting. "KABUT PELINDUNG!" Kubah kabut muncul mengelilingi Cakra dan Rafael, tapi kali ini berbeda. Tombak-tombak itu tidak terbakar saat menyentuh kabut. Sebaliknya, mereka menembus dengan perlahan, seperti jarum merobek kain. "Kabut biasa tidak akan cukup!" Teriak Rafael. "Kau harus memadatkannya! Bayangkan kabut itu menjadi perisai baja!" Cakra memejamkan matanya sejenak, merasakan energi Inti Awan. Ia membayangkan kabut itu menjadi padat, mengkristal, menjadi keras seperti berlian. Dan kabut itu merespon, warnanya berubah dari putih menjadi biru terang, teksturnya berubah, lebih padat dan lebih keras. CLANG! CLANG! CLANG! Tombak-tombak itu memantul, melempar para anggota kultus ke belakang. "Bagus!" Seru Rafael. "Sekarang serangan balik! Gunakan Cambuk Awan, tapi jangan hanya mengayun, masukkan niatmu ke dalamnya! Bayangkan cambuk itu adalah perpanjangan tanganmu sendiri!" Cakra mengayunkan Cambuk Awan dan kali ini dengan fokus penuh. Cambuk itu memanjang berkali lipat dari sebelumnya, bergerak seperti ular yang hidup. Ia menyapu secara horizontal, mengenai tiga anggota kultus sekaligus. Mereka terlempar, menghantam pohon dengan keras. Topeng mereka retak, mengungkap wajah manusia biasa, tapi tatapan mata mereka kosong, seperti dikendalikan oleh sesuatu yang lain. "Mereka adalah boneka spiritual," ucap Rafael. "Tubuh mereka dikendalikan oleh imam tinggi kultus. Untuk mengalahkan mereka, kau harus memutus koneksi spiritualnya." "Bagaimana caranya?" tanya Cakra sambil terus bertahan dari serangan bertubi-tubi. "Lihat dengan mata spiritualmu! Ada benang energi yang menghubungkan mereka dengan pengendalinya!" Terang Rafael. Cakra memfokuskan pandangannya. Dan, dia melihatnya... Benang-benang tipis berwarna merah, mengalir dari setiap anggota kultus, berkumpul pada pemimpin yang berdiri di belakang, mengendalikan semua seperti dalang. "Aku melihatnya!" "Bagus! Sekarang gunakan teknik baru. HUJAN PEDANG AWAN!" Cakra tidak tahu teknik itu. Tapi entah bagaimana, Inti Awan di dadanya merespon. Kenangan yang bukan miliknya mengalir, ia melihat Arya Samudra berdiri di tengah medan perang, mengangkat tangan, dan langit di atasnya merespon. Cakra meniru gerakan itu. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi. Awan-awan di atas berputar cepat, berputar, dan turun. Dari dalamnya, ribuan pedang es terbentuk, masing-masing berkilau tajam, melayang di udara seperti pasukan yang siap menyerang. "MAJU!" teriak Cakra. Ribuan pedang itu melesat ke bawah tapi tidak mengarah ke tubuh para anggota kultus. Sebaliknya, mereka menusuk benang-benang merah yang menghubungkan mereka dengan pemimpin. SYUUUUT! SYUUUUT! SYUUUUT! Benang-benang itu putus. Sebelas anggota kultus langsung ambruk, seperti boneka yang talinya dipotong. Pemimpin kultus mundur, terkejut. "Tidak mungkin... kau menguasai teknik tingkat menengah dalam hitungan menit...?" Rafael tersenyum tipis. "Itulah kehebatan Pengendali Awan sejati. Mereka tidak belajar teknik, mereka dilahirkan memang dengan pemahaman tentang langit itu sendiri." Pemimpin kultus menggeram marah. Ia melempar jubahnya, mengungkap tubuh penuh tato merah yang berpendar. Tangan kanannya berubah, kulitnya menghitam, cakar tajam muncul, seperti milik iblis. "Jika boneka tidak cukup," katanya dengan suara yang berubah menjadi gema mengerikan, "maka aku akan membunuhmu sendiri dengan Transformasi Iblis Hujan!" Ia melompat dengan gerakan yang sangat cepat. Cakarnya teracung langsung ke jantung Cakra. Tapi sebelum sampai, Rafael sudah berdiri di depan Cakra. Tongkat tuanya menghalangi cakar itu dan yang mengejutkan adalah, tongkat yang terlihat rapuh itu tidak patah. Sebaliknya, cahaya emas memancar dari tongkat itu, melempar pemimpin kultus ke belakang. "Cukup!" Bentak Rafael dingin. "Latihannya sudah cukup untuk hari ini. Cakra, kita pergi." "Tapi..." "Sekarang!" Perintah Rafael. Dengan gerakan tongkatnya, kabut tebal muncul menyelimuti mereka. Saat kabut menghilang, Cakra dan Rafael sudah tidak ada lagi, hanya meninggalkan pemimpin kultus yang meraung marah di tengah hutan.Indra sendirian bisa menandingi Cakra dalam Sinkronisasi Parsial, berubah menjadi petir murni, menyerang dari mana-mana sekaligus.Dewi Bulan menciptakan ilusi yang begitu sempurna hingga Cakra hampir menyerang Xander beberapa kali.Dewa Bintang memanipulasi gravitasi, membuat setiap gerakan Cakra seperti membawa gunung di punggung.Dewa Matahari membakar dengan panas yang bisa melelehkan batu dan Xander harus terus menyerap serangan ini atau Cakra akan terpanggang hidup-hidup.Dewi Angin mengambil kendali atas angin di Domain Cakra, pertama kalinya ada yang bisa melakukan itu.Dewa Guntur menyambar dengan petir yang jauh lebih kuat dari apa pun yang bisa Cakra ciptakan.Dan Dewi Hujan... ia adalah kebalikan langsung Cakra, mengendalikan air, bukan awan. Setiap tetes hujannya adalah peluru yang mengejar tanpa henti.Lima menit pertama, Cakra dan Xander bertahan dengan susah payah.Sepuluh menit kemudian, Xander
Hari kelima, mereka tiba di Reruntuhan Kuno, tempat di mana katanya Pengendali Awan pertama pernah bermeditasi lima ribu tahun lalu.Reruntuhan itu megah meski hancur, pilar-pilar batu raksasa masih berdiri, diukir dengan rune-rune kuno yang masih berpendar samar. Di tengah, sebuah altar batu dengan ukiran awan yang berputar."Tempat yang tepat untuk pertarungan terakhir," kata Xander, menatap sekeliling.Cakra berjalan ke altar dan saat jari-jarinya menyentuh ukiran itu, Inti Awan beresonansi kuat. Sebuah visi melintas di pikirannya...Pengendali Awan pertama, berdiri di tempat yang sama, menghadapi tujuh Dewa Tertinggi versi lima ribu tahun lalu. Pertempuran yang mengguncang langit dan bumi. Pertempuran yang akhirnya sang Pengendali Awan menang, tapi dengan harga sangat mahal. Ia mati setelah pertempuran, tapi warisannya hidup selamanya.Visi menghilang. Cakra terengah, merasakan beban sejarah yang berat di bahunya."
Ketukan di pintu memecah momen mereka.Xander masuk, wajahnya serius tampak. "Dewan Kota mengadakan pertemuan darurat. Mereka ingin kau hadir."Balai Kota Nusantara penuh sesak, ratusan kultivator senior, pemimpin guild, kepala sekte, dan perwakilan dari berbagai organisasi. Semua duduk dengan wajah tegang.Kaisar Pedang berdiri di podium, menatap Cakra yang baru masuk."Cakra Samudra," katanya dengan suara yang bergema ke seluruh aula. "Kami telah mendengar kabar yang dibawa oleh Pangeran Arkan sebelum ia dan aliansinya pergi. Bahwa Dewan Dewa Tertinggi akan datang dalam dua minggu."Bisikan kalut menyebar di seluruh aula."Dan kami mengadakan pertemuan ini," lanjut Kaisar Pedang, "untuk memutuskan apa yang akan dilakukan Nusantara."Ia menatap sekeliling. "Ada dua pilihan. Pertama, kita evakuasi kota. Semua penduduk pergi, tersebar ke berbagai tempat, biarkan kota ini kosong saat Dewa Tert
Tiga jam kemudian, Cakra akhirnya bisa duduk meski tubuhnya masih terasa seperti dihancurkan dan disusun kembali.Mereka berada di kamp medis sementara yang didirikan di pinggir dataran. Amara tidak meninggalkannya sedetik pun. Gadis itu duduk di sampingnya sambil terus menyalurkan energi penyembuhan dengan lembut.Pangeran Arkan dan kelima penguasa lainnya juga dalam perawatan di kamp terpisah, dijaga ketat. Mereka kalah, tapi masih hidup dan masih berbahaya bagi Cakra.Kaisar Pedang masuk ke tenda Cakra, wajahnya tampak serius."Pangeran Arkan ingin bicara denganmu," katanya. "Sendirian."Cakra menatap Amara yang mengangguk enggan. "Aku akan menunggu di luar. Berteriak lah jika terjadi sesuatu."Pangeran Arkan masuk dengan susah payah, tubuhnya diperban di mana-mana, lengan kanannya di gendongan. Tapi matanya masih menatap tajam, masih penuh dengan kecerdasan.Ia duduk dengan hati-hati di kursi di s
Langit berubah. Awan-awan berkumpul, tidak ratusan, tapi ribuan, menutupi seluruh dataran dalam kegelapan. Petir mulai menyambar, puluhan per detik, masing-masing mengejar keenam Dewa Sejati dengan akurasi sempurna.Hujan turun tapi bukan hujan biasa. Setiap tetes mengandung energi spiritual padat yang meledak saat menyentuh tanah.Angin bertiup kencang membawa pisau-pisau udara tak terlihat yang memotong apa pun yang dilewati.Dan dari awan itu, naga-naga awan raksasa muncul, puluhan naga, masing-masing sebesar gedung, semua menyerang keenam Dewa Sejati bersamaan.Ini bukan lagi pertarungan satu lawan enam... Tapi TAK TERBATAS, melawan Enam Dewa Sejati.Ini adalah seluruh langit melawan enam Dewa Sejati. Dan langit tidak bisa kalah.Menit Pertama...Pangeran Arkan bertahan dengan kesulitan. Tombak Penghakiman Langitnya menangkis petir, tapi terlalu banyak. Beberapa lolos, membakar lengannya, meretakkan armornya.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dalam pelukan, tidak bicara, tidak perlu kata-kata. Hanya kehadiran satu sama lain, kehangatan yang mungkin terakhir kali mereka rasakan.Saat fajar mulai menyingsing, Cakra perlahan melepaskan pelukan."Waktunya," bisiknya.Amara mengangguk, mencoba tersenyum meski hatinya hancur. "Aku akan menonton dari kejauhan. Dan aku akan menyembuhkanmu setelah kau menang.""Setelah aku menang," ulang Cakra, sebuah janji pada dirinya dan padanya.Dataran Tak Berujung terhampar luas, area datar yang membentang bermil-mil tanpa satu pohon pun, tanpa satu batu besar pun. Tempat sempurna untuk pertarungan skala besar tanpa kolateral damage.Saat Cakra tiba dengan Xander dan Amara, ribuan kultivator sudah berkumpul di pinggiran dataran, menonton dari jarak aman. Ini akan menjadi pertempuran yang tercatat dalam sejarah, dan semua ingin menyaksikan.Di tengah dataran, enam sosok menunggu.







