LOGINIn a world where werewolves ruled, Magnus Grayson, a notorious womanizer, found himself mated to Lara Jade, a Beta known for her playgirl ways. Their clash of personalities and undeniable attraction led to a reluctant marriage under the Wolf Code. Despite this, they resisted fully embracing their bond. Just as their feelings began to grow, painful secrets from their pasts came to light. Discovering a deep-seated hatred rooted in their intertwined histories, they learned that Magnus was the son of Lara's father's mistress, and Lara was the daughter of Magnus' mother's lover. Faced with this truth, they chose to sever their mate bond, risking their lives as per werewolf tradition, where one must perish.
View More“Kamu puas Humaira?! Kamu puas melihat suami kamu terbaring lemah seperti ini?” Suara perempuan tua itu terdengar bergetar—menahan pilu—melihat putranya tak sadarkan diri.
“Nggak, Bu. Ibu salah besar, mana mungkin ... mana mungkin saya merasa seperti itu ....” Ucapannya terputus—menyesali ketidakharmonisan yang sempat terjadi, sebelum kecelakaan tersebut bisa sampai terjadi.Plak!Hanya dalam beberapa saat, suara tamparan pun terdengar.“Ini bukan karena kesalahannya Kak Tama, tapi ini murni karena kesalahannya kamu! Kamu itu nggak becus jadi istri! Kamu itu nggak pantas jadi istrinya Kak Tama!” Selain tamparan, suara makian pun turut terdengar oleh Humaira.Begitu sedih hatinya, ia yang dulunya mendapat banyak perhatian dari sang ibu mertua pun, kini tak lagi mendapatkan hal yang sama. Kini, hanya kebencianlah yang harus ia dapatkan.Kejadian ini bukan tanpa sebab. Humaira harus mendapatkan perlakuan kasar itu dari mereka, akibat suatu fitnah yang telah berhasil meracuni pikiran ibu mertuanya dan juga sang adik iparnya.Tama adalah satu-satunya saudara yang Zayana punya. Lantas sebab hal ini, tentunya Zayana teramat menyayangi sang Kakak laki-lakinya itu.Dulunya, hubungan Humaira dan Zayana benar-benar begitu akrab. Bahkan Zayana tak sekalipun mampu memakinya seperti tadi.Lantas setelah ia kembali mendengar kalimat makian itu dari sang adik iparnya, untuk yang ketiga kalinya—setelah pikirannya Zayana ikut terkompori, maka hanya tambahan derai air matalah yang mampu mendatangi raut wajah cantiknya seorang Humaira.“Maafkan Ibu, Nak. Entah apa yang akan terjadi, setelah kamu lahir nantinya. M-maafkan Ibu ...," batin Humaira, sembari memegangi perutnya—merasa akan ada banyak rintangan lainnya, yang nantinya mungkin saja akan terjadi.Saat itu, sesekali mereka melihat ke arah Humaira dengan tatapan yang benar-benar sinis. Suasana di dalam ruang rawat inap itu memang terkesan sendu, tapi tak menutup kemungkinan, bahwa rasa benci yang telah Buk Sahra dan Zayana miliki, malah semakin memuncak pada Humaira.Ya, itu benar. Selain mereka melihat sinis ke arah Humaira yang tengah menangisi keadaan, Zayana pun turut menyuruh ibunya, untuk lekas mengusir Humaira dari sana.Zayana tampak mengelap air matanya—menahan sendu, setelah ia dengan sekejap kembali melihat ke arah Tama. “Mi, suruh aja si Humaira itu pergi dari sini! Zayana benar-benar benci sama dia! Gara-gara dia, Zayana harus lihat Kak Tama dalam keadaan yang kayak gini. Zayana nggak terima, Mi!”“Sabar Zayana, Umi juga merasakan hal yang sama, tapi bukan sekarang waktunya. Kita nggak punya waktu untuk urus perempuan licik kayak dia ....”“Tapi, Mi ....”“Zayana! Dengarkan kata-kata Umi! Percuma, meskipun kita seret dia untuk keluar dari sini, pastinya dia nggak akan pernah mau. Dia masih mau berusaha untuk mengembalikan nama baiknya ... setelah dia berhasil selingkuh dengan Fahran—merayu kita untuk bisa percaya lagi sama dia. Jadi Umi mohon jangan buat keributan, itu sama sekali nggak membantu Kakak kamu!” Buk Sahra lebih sedikit mengeraskan suaranya—berharap Humaira bisa mendengar itu semua.Humaira yang tadinya tertunduk pun lekas melihat ke arah ibu mertuanya. Kata-kata itu benar-benar telah mengiris hatinya—begitu pilu.***Beberapa waktu telah berlalu, kini Humaira pun memilih untuk melangkahkan kakinya, menuju masjid terdekat yang ada di area lingkup rumah sakit.Al-Malik namanya, sebuah masjid yang telah dibangun oleh sang pemilik rumah sakit swasta tersebut.Di dalam sana, ia tampak menadahkan kedua tangannya—mengharapkan banyak pertolongan dari Sang Maha Raja—Allah subhanahu wa ta’ala.Beberapa waktu ia lalui di sana, hingga azan zuhur pun terdengar begitu indah berkumandang. Humaira bangkit dari duduknya, hendak kembali mengambil air wudu. Meskipun wudunya belum batal, tapi Humaira memutuskan untuk kembali mengulangnya.Dengan derai air mata yang masih tersisa, Humaira lekas keluar dan tak sengaja melihat suatu hal yang cukup ia takuti. Sekarang, overthinking-nya mengenai kehadiran Fahran pun benar-benar telah terjadi.Deg!Betapa terkejutnya Humaira, setelah netranya telah berhasil menangkap rupa menawan dari seorang Fahran.“Astagfirullah. Aku harus melakukan apa? Kenapa Fahran sama sekali nggak bisa tolerir, soal hubungan rumah tangga aku yang udah benar-benar diambang keretakan?” batin Humaira—turut memegangi perutnya—setelah ia berhasil dengan sigap berlari kecil, menuju ke bagian belakang dari pintu masjid.Entah Fahran melihatnya atau tidak, tapi yang pasti, Fahran akan kembali berulah. Fitnah ini benar-benar kejam, teruntuk seorang Humaira yang tengah mengandung tujuh bulan.Fahran ialah mantan kekasihnya Humaira semasa ia SMA dulunya. Dari dulu hingga kini, ia benar-benar telah menunjukkan, betapa terobsesinya ia terhadap seorang Humaira.Seperti pada umumnya, keobsesian pasti akan menghancurkan banyak hal, termasuk mengenai kepercayaan. Ya, inilah yang tengah Humaira alami, ia harus kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang sempat menyayanginya, akibat keobsesian dari pria menawan kaya raya, layaknya seorang Fahran yang katanya teramat mencintainya.***Di sisi lainnya, setelah ia melewati masjid itu, Fahran pun tak segan-segan melangkah arogan—hendak menuju tempat rawat inapnya Tama—suami sahnya Humaira.Beberapa saat setelahnya.“Apa pun caranya, aku nggak pernah biarin kamu bahagia dengan Tama!” gumam Fahran beberapa saat setelahnya, di saat ia telah berada tepat di depan pintu sebuah ruangan rawat inap, di mana di dalamnya ada Tama yang tengah terbaring lemah.Saat itu, pintu tersebut tertutup, sehingga Fahran harus mengetuknya.Tok ... tok ... tok.“Assalamualaikum,” sapa Fahran dalam persembunyian niat liciknya.Hanya dalam beberapa saat, Zayana pun lekas melangkah, hendak membukakan pintu itu—tak tahu siapa yang tadinya telah mengetuk dan menyapa.“Waalaikumussalam,” sahut Zayana.Deg!Betapa terkejutnya Zayana, setelah pintu itu telah ia buka—melihat seorang pria charming yang kini tengah berada di hadapannya.Bukan merasa kagum, melainkan merasa benci. Ya, Zayana tahu siapa dia.“Ada apa?! Apa kamu belum puas, menyakiti hati Kakak saya? Kamu itu selingkuhannya Humaira, ‘kan? Ck! Fahran Mahendra, seorang pebisnis kaya raya ... yang nyatanya nggak sehebat nama belakangnya! Dasar PEBINOR!” Maki Zayana di hadapannya, sembari tak sungkan mengacungkan jari telunjuknya beberapa kali, di hadapannya.Mendengar dan turut melekatkan arah pandangnya ke arah Zayana, Fahran hanya tampak tersenyum remeh—menganggap Zayana hanya sebatas anak kemarin sore, yang bahkan belum tentu paham apa yang namanya rasa cinta.Itu menurutnya, tapi kenyataannya ‘Rasa cinta’ yang ia pahami, bukanlah mengenai rasa cinta yang sesungguhnya, melainkan hanya sebatas keobsesian yang secara transparan ia sebut-sebut sebagai rasa cinta.“Kamu Zayana? Adiknya Tama?” Berkuping tebal, hanya kalimat tanya terkesan ramah yang malah ia ajukan padanya.Tak mumpan, Zayana telah terlanjur benci padanya. Pertanyaan-pertanyaan itu tak ia gubris dengan hal-hal yang positif. Kini, tangan kanannya tampak mendarat pada pertengahan lengannnya Fahran, dan turut mencengkramnya dengan sekuat tenaga yang gadis berusia delapan belas tahun itu miliki. “PERGI!”Suara Zayana memekik ria—membuat sang ibunya tersadar—setelah begitu panjangnya untaian doa yang tengah ia ucapkan pada-Nya, selepas ia melaksanakan salat fardu zuhur-nya.“Ada apa ribut-ribut?” -gumam Buk Sahra, masih mengenakan mukena-nya- “Zayana ... ada apalagi, Nak?” tanya Buk Sahra, sebelum ia sampai ke depan sana—di mana putrinya tengah berada.Di sisi lainnya, pergerakan Zayana pun terhenti, cengkraman yang tengah ia lakukan terhadap sang PEBINOR yang ia maksudkan tadinya pun telah kian merenggang.Lalu, dalam beberapa detik setelah ia mendengar jelas suara ibunya, Zayana pun turut dengan kasar melepas cengkramannya itu terhadap lengannya Fahran.“Aghhh.”Lara woke up slowly, her eyes adjusting to the soft glow of sunlight streaming through the window. As she blinked, she felt the warmth of someone next to her—Magnus. She turned her head and gasped softly. Could this be real? Her heart pounded in disbelief, and she pinched her cheek to make sure she wasn’t dreaming. The slight sting confirmed it. Tears welled up in her eyes, spilling over as the weight of everything sank in. They were back. It was all real.A snort of emotion escaped her, startling Magnus awake. He stirred and turned his head towards her, his brows furrowing as he took in her tear-streaked face. “Lara?” His voice was rough with sleep and confusion.Without hesitation, Lara threw her arms around him, hugging him tightly. "Magnus, we’re back," she sobbed, her voice full of both relief and joy. "It’s all over. We defeated the Queen of Darkness." She pulled back slightly, smiling through her tears as they continued to fall, each drop carrying the weight of everything they h
The battle between Lara and Thana was fierce and unrelenting. Fangs bared, the two clashed in a whirlwind of primal fury—fangs versus fangs, strength against strength. The air crackled with dark magic, but Lara's resolve remained unshaken. She was driven not only by her love for her family but by the unyielding belief that good would always triumph over evil. Her heart beat faster as she recalled the words of the Wolf Healer from her dream, telling her that the power to defeat Thana lay within her.As she dodged Thana's swift attack, Lara caught a fleeting glimpse of the wedding ring on her finger. It glittered, as if trying to speak to her. The ring, a symbol of her bond with Magnus, seemed to pulse with an energy she'd never noticed before. "Embrace the power within it." The Wolf Healer’s voice echoed in her mind.When Thana lunged again, her claws poised to strike, Lara tripped and fell hard onto the cold, rocky ground. For a moment, her breath was knocked out of her, the impact jar
Lara had spent three agonizing, sleepless nights by the side of her husband and son's lifeless bodies, refusing to leave them even for a moment. Their once-warm faces were now cold and still, yet she couldn't bring herself to believe they were truly gone. The pain was unbearable, gnawing at her soul, but her denial ran deeper. The entire town of Tribiano shared in her mourning; whispers of grief echoed through the streets, and the wolves howled in sorrow for the loss of their Alpha and his heir.But Lara would not let them be buried. Not yet. She wasn't ready to say goodbye. She sat by their side, her eyes hollow, the weight of loss pressing down on her chest. Her heart still clung to the smallest shred of hope, a whisper that perhaps this was all a nightmare she would soon wake from. The thought of moving on without them, of continuing life alone, was unimaginable.Exhaustion finally caught up with her. Her eyelids grew heavy, and despite her resistance, she fell into a deep sleep, h
Lara slowly regained consciousness, her eyelids fluttering open as a dull ache pulsed through her body. The sterile smell of antiseptic filled her nostrils, and the faint hum of machinery buzzed in the background. Her vision was blurry at first, but as her senses sharpened, she realized she was lying on a cold metal bed inside the infirmary of Tribiano. White walls and the soft glow of fluorescent lights above cast a sterile, almost haunting ambiance around her.It took several moments before the fog in her mind began to clear. She blinked, her breath quickening as fragmented memories came rushing back—flashes of Magnus, the battle, and, most of all, the dark figure of Thana taking her son's life.Her heart leaped in her chest as panic set in"Where is Magnus? I want to see him!" she rasped, her throat dry, the words barely audible. She tried to sit up, her body trembling with weakness, but a sharp pain in her ribs forced her back down. Her head spun, but her desperation overpowered th






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews