MasukIn a world where werewolves ruled, Magnus Grayson, a notorious womanizer, found himself mated to Lara Jade, a Beta known for her playgirl ways. Their clash of personalities and undeniable attraction led to a reluctant marriage under the Wolf Code. Despite this, they resisted fully embracing their bond. Just as their feelings began to grow, painful secrets from their pasts came to light. Discovering a deep-seated hatred rooted in their intertwined histories, they learned that Magnus was the son of Lara's father's mistress, and Lara was the daughter of Magnus' mother's lover. Faced with this truth, they chose to sever their mate bond, risking their lives as per werewolf tradition, where one must perish.
Lihat lebih banyak“Haoming, mana kekasihmu? Dia tidak mungkin tidak datang merayakan ulang tahunmu, kan?”
Suara itu terdengar jelas melalui celah pintu kayu berkualitas tinggi yang menghiasi ruang Lantian di dalam Golden Club. Li Jiao terhenti tepat di depan pintu, tangannya yang menggenggam kotak kue berukuran sedang sedikit bergetar karena gugup yang tiba-tiba menyerang. “Mungkin sebentar lagi datang.” Jawaban yang keluar dari dalam terdengar dingin dan tak acuh, sama seperti sosok pria yang mengucapkannya. Udara di sekitarnya terasa semakin berat, membuat Jiao Jiao harus menahan napas untuk meredakan degup jantungnya. Dia telah belajar membuat kue rasa mangga kesukaan Feng Haoming, mengenakan gaun malam merah terang, dan menyembunyikan sebuah jam tangan sebagai hadiah. Semua itu dia persiapkan dari jaih hati, hanya demi menyenangkan Feng Haoming. “Kapan kamu akan menikahinya?” Pertanyaan kedua itu berhasil membuat jantung Jiao Jiao berdebar lebih kencang hingga dia seperti bisa mendengar debarannya. Jiao Jiao menahan diri untuk tidak masuk, menanti jawaban Haoming dengan penuh harapan. Dia mengintip, melihat Haoming menghembuskan asap rokok sebelum menjawab, “Hanya teman ranjang, tidak untuk dinikahi.” Enam kata saja. Cukup dengan enam kata, Feng Haoming berhasil mematahkan hati Jiao Jiao yang mencintainya selama dua tahun penuh. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi dia dengan cepat mengusapnya sebelum bisa jatuh ke pipinya. Jiao Jiao seketika ingat momen-momen manis bersama Haoming, makan malam romantis, nonton bioskop, liburan bersama bahkan menghabiskan malam-malam yang tak terhitung jumlahnya. Semua itu hanya sekadar permainan baginya? “Haoming, kamu tidak mungkin masih menyimpan bayangan cinta pertamamu, kan?” Suara teman Haoming yang lain muncul dengan nada bercanda namun terdengar sangat serius. “Sudah dua tahun lebih, seharusnya kamu sudah bisa melupakannya, kan?” Cinta pertama? Jiao Jiao merasa kepalanya berdengung seperti ada ribuan lebah yang terbang di dalamnya. Selama dua tahun bersama, Haoming tidak pernah sekali pun menyebutkan bahwa dia pernah memiliki seseorang yang dicintai sebelum mereka bertemu. Bahkan ketika dia bertanya tentang masa lalunya, pria itu selalu mengubah pembicaraan ke topik lain dengan lembut. Jiao Jiao selalu mengira itu karena Haoming adalah tipe pria yang tidak suka membicarakan masa lalu, tapi ternyata ada alasan yang jauh lebih dalam dibaliknya. Haoming diam sejenak, dan Jiao Jiao bisa melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini—matanya yang biasanya dingin tampak melunak sedikit. “Mungkin waktu itu aku tidak memberinya rasa aman, jadi dia ingin berpisah,” ujar Haoming dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Dia bilang dia ingin keluar negeri untuk mengejar mimpi, dan memberikan aku waktu dua tahun untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Jika aku masih menyukainya ketika dia kembali, maka kita bisa bersama lagi.” Kata-katanya seperti batu besar yang dilempar ke hati Jiao Jiao, menimbulkan riak besar yang menghancurkan semua ketenangannya. Selama dua tahun, aku selalu mengira berhasil menaklukkannya dan menjadi satu-satunya di hatinya. Ternyata aku hanyalah pengganti untuk mengisi kekosongan menunggu cinta pertamanya? Tubuh Jiao Jiao kaku seperti patung es, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya hampir melukai kulitnya. Semua sentuhan lembut, kata manis, dan janji yang kukira tulus ... semuanya adalah kebohongan yang indah? “Haoming, kau sudah dua tahun bersama Jiao Jiao, jika tidak menikahinya, bukankah kau tidak bertanggungjawab?” Teman Haoming terdengar tidak puas dengan jawaban pria itu. “Jiao Jiao sudah menyerahkan segalanya untukmu. Aku melihat bagaimana dia selalu ada di sampingmu, merawatmu dan menghiburmu ketika kamu rapuh karena ditinggal cinta pertamamu. Bukankah itu cukup untuk membuatmu mencintainya?” “Kalau bukan karena dia penurut dan tahu bagaimana cara membuatku nyaman, mana mungkin aku mau bersamanya selama dua tahun,” jawab Haoming tanpa ragu, membuat Jiao Jiao merasa seperti sedang ditusuk dengan pisau tajam berulang-ulang kali. “Jika dia mulai terobsesi dengan status atau meminta lebih, aku tidak keberatan untuk meninggalkannya. Lagipula ....” Suara pria itu sedikit meningkat dengan nada yang penuh harapan. “Sudah dua tahun, dia seharusnya akan kembali.” “Benar juga, tapi kamu tidak bisa menyangkal kalau tubuh Jiao Jiao sangat seksi, kan?” Salah satu teman lain menyela dengan tawa rendah yang menyakitkan hati. “Pantas saja kamu bisa bertahan lama bersamanya. Aku sendiri pun kagum dengan bentuk tubuhnya yang sempurna.” Haoming kembali menghembuskan asap tebal dari mulutnya. “Kenapa? Kamu menyukainya?” Dia menaikkan alis sebelah dan berkata dengan tak berperasaan. “Kalau kamu suka, aku akan memberikannya untukmu.” Pada saat itu, Jiao Jiao merasa seluruh dunia di sekelilingnya runtuh. Air mata yang sudah lama dia tahan akhirnya menetes deras di pipinya, menyiram riasan wajahnya yang dia susun dengan sangat hati-hati. Dia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara tangisan, tapi tubuhnya tetap bergoyang sedikit karena kesedihan yang luar biasa. Setelah dua tahun mengejar dan mencintai seorang pria dengan sepenuh hati, dia ternyata hanya dianggap sebagai benda yang bisa diberikan kepada siapapun yang menginginkannya? Dengan semua kekuatan yang dimiliki, Jiao Jiao menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan korek api dari dompetnya. Dia menyalakan lilin yang ada di atas kue ulang tahun, kemudian membuka pintu ruangan Lantian dengan kecepatan yang cukup membuat semua orang di dalam terkejut. Cahaya lilin menerangi wajahnya yang masih basah karena air mata, namun dia tetap mengangkat dagunya dengan sikap sombong yang sudah menjadi ciri khasnya selama ini. Ruangan yang tadinya ramai dengan obrolan dan tawa menjadi sunyi total. Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Feng Haoming yang hanya menunjukkan ekspresi tenang tanpa sedikitpun rasa bersalah. Jiao Jiao berjalan dengan langkah yang terasa berat, tapi tetap gagah menuju meja di mana Haoming duduk, lalu menempatkan kotak kue di atas meja dengan lembut. “Haoming ....” Suaranya terdengar jelas dan sedikit bergetar di tengah keheningan yang menyelimuti ruangan. “Apa bagimu aku hanyalah mainan yang bisa diberikan kepada siapa saja?” Haoming hanya mengerutkan kening, tampak kesal dengan pertanyaan Jiao Jiao. “Kamu mau berulah hari ini?” “Berulah?” Jiao Jiao tertawa, tapi dua baris air mata mengalir di wajahnya. Meski menyedihkan, dia juga tampak penuh martabat dan tidak sedikit pun menunjukkan kerentanan di saat bersamaan. Jiao Jiao melihat sekeliling ruangan, melihat wajah-wajah teman Haoming yang sekarang hanya menatapnya dengan ekspresi iba. Namun, Jiao Jiao tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Dia hanya peduli pada harga dirinya yang harus diapertahankan! Jiao Jiao mengambil segelas air mineral yang ada di atas meja dengan gerakan anggun, lalu dengan cepat menyiramkannya langsung ke wajah Feng Haoming. “Ini baru berulah! Dan ingat—tidak seorang pun berhak merendahkan aku—Li Jiao!” Semua orang terkejut, beberapa di antaranya bahkan membuka mulut dan mata mereka lebar-lebar menyaksikan tindakan Jiao Jiao yang tidak tak terduga. Air mengalir dari wajah Haoming yang tampak kaget sebentar, sebelum kemudian digantikan oleh kemarahan. Dia mengelap wajahnya dengan tangan gemetar karena menahan amarah, matanya memuntahkan kobaran api yang membuat beberapa orang mengecilkan tubuh. “Jiao Jiao, kamu gila ya?!” Suara Haoming pelan saja, tapi siapa pun bisa merasakan kemarahannya yang berkobar. “Beraninya kamu melakukan ini?!” “Ya, aku gila!” Jiao Jiao menjawab dengan suara yang samkerendah dan tenangnya. “Aku gila sampai rela mencintaimu selama tiga tahun lamanya! Aku gila karena berpikir bahwa kamu benar-benar mencintaiku! Aku gila sampai berharap suatu hari nanti kita akan menikah dan hidup bahagia bersama!” Air mata sudah menutupi pandangannya, tapi dia tetap bisa melihat ekspresi wajah Haoming yang kini tetap dingin seperti es. “Kenapa kamu marah?” tanya Haoming dengan nada remeh, seolah-olah sedang membicarakan hal-hal sepele. "Bukankah dari awal kamu juga hanya melihatku sebagai alat taruhan dengan Shu Yi?"Lara woke up slowly, her eyes adjusting to the soft glow of sunlight streaming through the window. As she blinked, she felt the warmth of someone next to her—Magnus. She turned her head and gasped softly. Could this be real? Her heart pounded in disbelief, and she pinched her cheek to make sure she wasn’t dreaming. The slight sting confirmed it. Tears welled up in her eyes, spilling over as the weight of everything sank in. They were back. It was all real.A snort of emotion escaped her, startling Magnus awake. He stirred and turned his head towards her, his brows furrowing as he took in her tear-streaked face. “Lara?” His voice was rough with sleep and confusion.Without hesitation, Lara threw her arms around him, hugging him tightly. "Magnus, we’re back," she sobbed, her voice full of both relief and joy. "It’s all over. We defeated the Queen of Darkness." She pulled back slightly, smiling through her tears as they continued to fall, each drop carrying the weight of everything they h
The battle between Lara and Thana was fierce and unrelenting. Fangs bared, the two clashed in a whirlwind of primal fury—fangs versus fangs, strength against strength. The air crackled with dark magic, but Lara's resolve remained unshaken. She was driven not only by her love for her family but by the unyielding belief that good would always triumph over evil. Her heart beat faster as she recalled the words of the Wolf Healer from her dream, telling her that the power to defeat Thana lay within her.As she dodged Thana's swift attack, Lara caught a fleeting glimpse of the wedding ring on her finger. It glittered, as if trying to speak to her. The ring, a symbol of her bond with Magnus, seemed to pulse with an energy she'd never noticed before. "Embrace the power within it." The Wolf Healer’s voice echoed in her mind.When Thana lunged again, her claws poised to strike, Lara tripped and fell hard onto the cold, rocky ground. For a moment, her breath was knocked out of her, the impact jar
Lara had spent three agonizing, sleepless nights by the side of her husband and son's lifeless bodies, refusing to leave them even for a moment. Their once-warm faces were now cold and still, yet she couldn't bring herself to believe they were truly gone. The pain was unbearable, gnawing at her soul, but her denial ran deeper. The entire town of Tribiano shared in her mourning; whispers of grief echoed through the streets, and the wolves howled in sorrow for the loss of their Alpha and his heir.But Lara would not let them be buried. Not yet. She wasn't ready to say goodbye. She sat by their side, her eyes hollow, the weight of loss pressing down on her chest. Her heart still clung to the smallest shred of hope, a whisper that perhaps this was all a nightmare she would soon wake from. The thought of moving on without them, of continuing life alone, was unimaginable.Exhaustion finally caught up with her. Her eyelids grew heavy, and despite her resistance, she fell into a deep sleep, h
Lara slowly regained consciousness, her eyelids fluttering open as a dull ache pulsed through her body. The sterile smell of antiseptic filled her nostrils, and the faint hum of machinery buzzed in the background. Her vision was blurry at first, but as her senses sharpened, she realized she was lying on a cold metal bed inside the infirmary of Tribiano. White walls and the soft glow of fluorescent lights above cast a sterile, almost haunting ambiance around her.It took several moments before the fog in her mind began to clear. She blinked, her breath quickening as fragmented memories came rushing back—flashes of Magnus, the battle, and, most of all, the dark figure of Thana taking her son's life.Her heart leaped in her chest as panic set in"Where is Magnus? I want to see him!" she rasped, her throat dry, the words barely audible. She tried to sit up, her body trembling with weakness, but a sharp pain in her ribs forced her back down. Her head spun, but her desperation overpowered th
The battle was raging on with fury that threatened to consume the entire Tribiano. The sky, once clear, had darkened as if reflecting the grim fate that awaited the town. The howls of wounded wolves echoed in the distance, mixing with the roars of their enemies—hybrid wolves that were partly wolves
Thana, upon witnessing Draven's downfall, felt an uncontrollable fury surge within her. The flames of rage flickered in her eyes, a manifestation of the deep resentment she had harbored for centuries. Draven's defeat was a blow to her carefully orchestrated plans, but Thana remained resolute to succ
Thana stood in the cold darkness of her chamber, her thoughts swirling like the shadows that enveloped her. Her fingers tapped rhythmically on the armrest of her obsidian throne, her sharp nails clicking against the cold stone. The plan was simple, elegant even, and in its simplicity lay its greates
Alone in her dark dwelling, Thana was lost in her thoughts. The memories of those days, long buried beneath layers of cruelty and power, resurfaced in her mind like a blade twisting in an old wound. Once, she had not been the queen of darkness, the fearsome ruler of shadows. No, once, she had been a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan