Beranda / Urban / Wiro sang Penakluk / 4 Teknik Memijat

Share

4 Teknik Memijat

Penulis: Heartwriter
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-28 16:23:10

Di ruang tamu, Krisno dan Lisa menunggu dengan bingung.

Suara itu semakin keras. Dua suara perempuan yang sangat dia kenali, suara ibunya dan kakaknya, bercampur dalam simfoni yang membuat perutnya mual.

"MAMA!" Krisno berlari ke kamar ibunya, menggedor pintu dengan brutal. "MAMA! KAK SANTI! APA YANG TERJADI?!"

Tidak ada jawaban. Hanya desahan dan teriakan yang semakin intens.

Lisa berdiri di belakang Krisno, wajahnya pucat pasi. "Krisno... ini..."

"BUKA PINTUNYA!"

Krisno terus menggedor hingga tangannya memerah. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit yang terasa seperti neraka.

Akhirnya, suara-suara itu mereda.

Langkah kaki terdengar dari dalam.

Pintu terbuka dengan santai.

Dan sosok yang muncul membuat Krisno merasa seluruh dunianya runtuh.

"Wiro?!"

Wiro berdiri di ambang pintu, bertelanjang dada, dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakangnya, di atas tempat tidur, Widya dan Santi terbaring dengan kondisi yang tidak perlu dijelaskan.

"Hai, Krisno," sapa Wiro dengan nada kasual. "Makasih ya udah nganterin gue ke rumah lo. Mama sama kakak lo... ramah banget orangnya. Enak buat dicicipi."

"KAU—!" Krisno gemetar, antara murka dan shock.

Lisa menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak tidak percaya. "Wiro... kamu..."

"Oh, hai juga Lisa," Wiro menoleh ke mantan kekasihnya dengan tatapan sedingin es. "Gimana rasanya, Krisno? Lo tidur sama pacar orang, sekarang gue tidur sama ibu dan kakak lo. Impas, kan?"

"BRENGSEK!"

Krisno melayangkan tinju ke wajah Wiro.

Tapi Wiro bukan Wiro yang sama seperti beberapa jam lalu. Dengan gerakan kasual, dia menangkis pukulan Krisno, lalu membalas dengan hook kanan yang mendarat telak di rahang.

KRAKK!

Krisno terhuyung. Sebelum dia sempat pulih, Wiro sudah menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi. Uppercut ke dagu. Jab ke hidung. Hook ke pelipis.

Dalam hitungan detik, Krisno sudah tersungkur di lantai, wajahnya lebam dan berdarah, persis seperti kondisi Wiro beberapa jam lalu di gang belakang cafe.

"Ini buat pukulan lo di gang tadi," kata Wiro dingin, memberikan tendangan terakhir ke perut Krisno. "Dan ini buat penindasan yang lo tunjukkan ke gue di depan semua orang."

Wiro mengambil kemejanya, memakainya dengan tenang, lalu berjalan melewati Lisa yang masih terpaku di tempatnya.

"Lo tahu, Lisa," kata Wiro tanpa menoleh, "gue dulu bego. Kerja tiga shift tiap hari cuma buat biayain hidup lo. Sekarang gue sadar—lo nggak pernah pantas dapat semua itu."

Lisa tidak menjawab. Dia masih kaget, dia masih shock.

Wiro melangkah keluar dari rumah Krisno dengan kepala tegak. Untuk pertama kalinya sejak malam ini dimulai, dia merasa... puas.

---

Udara malam terasa dingin di kulit Wiro saat dia berjalan menyusuri kompleks perumahan mewah itu. Langkahnya ringan, pikirannya lebih tenang dari sebelumnya. Dendam yang tadi membakar dadanya kini sudah padam, digantikan oleh kekosongan yang aneh.

'Apa yang terjadi padaku?'pikirnya sambil menyentuh liontin di dadanya. 'Apa aku jadi monster?'

Tapi sebelum dia sempat merenungkan lebih jauh, matanya menangkap sesuatu di kejauhan.

Seorang wanita berjalan terhuyung-huyung di trotoar, satu tangannya memegang kepalanya, yang satunya lagi meraba-raba pagar rumah untuk menjaga keseimbangan. Langkahnya tidak stabil, seperti orang mabuk, atau orang yang sangat kesakitan.

Wiro mempercepat langkahnya.

Tepat saat dia mendekat, wanita itu limbung. Wiro berlari, menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam aspal.

"Bu! Ibu tidak apa-apa?"

Wanita itu membuka matanya. Usianya mungkin awal empat puluhan, dengan wajah yang ayu meski kini pucat pasi karena menahan sakit. Rambutnya panjang sebahu, dan meski kondisinya berantakan, ada keanggunan alami yang terpancar darinya.

"Kepala... sakit sekali..." rintihnya.

Dan saat itu, liontin di dada Wiro berdenyut lagi—tapi berbeda dari sebelumnya. Kali ini, bukan denyutan penuh hasrat, melainkan sesuatu yang lebih... informatif.

Seperti ada suara yang berbisik langsung ke dalam pikirannya.

'Wanita ini menderita gangguan saraf yang sudah bertahun-tahun menyiksanya. Rasa sakit di kepalanya adalah gejala dari kerusakan saraf yang progresif. Kau bisa menyembuhkannya—dengan pijatan di titik-titik tertentu, kau bisa memulihkan aliran energi di sarafnya dan melenyapkan penyakit itu selamanya.'

Wiro tersentak. Bagaimana dia bisa tahu semua itu? Dan sejak kapan dia bisa memijat untuk menyembuhkan penyakit?

Tapi entah kenapa, dia tahu. Tangannya seolah sudah hafal di mana titik-titik yang harus dipijat, bagaimana tekanannya, berapa lama durasinya.

"Bu," kata Wiro lembut, "saya bisa bantu. Saya... punya kemampuan untuk menyembuhkan sakit seperti ini."

Wanita itu menatapnya dengan mata setengah terpejam menahan sakit. Anehnya, tidak ada kecurigaan di wajahnya, hanya keputusasaan seseorang yang sudah bertahun-tahun mencari kesembuhan.

"Tolong..." bisiknya. "Apa saja... asal sakit ini hilang..."

"Rumah Ibu di mana?"

Wanita itu menunjuk dengan lemah. "Di sana... sepuluh rumah dari sini..."

Wiro memapahnya berjalan, dan beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam sebuah rumah yang cukup besar. tidak semewah rumah Krisno, tapi tetap menunjukkan kemapanan pemiliknya.

"Ibu tinggal sendiri?" tanya Wiro sambil membantu wanita itu duduk di sofa.

"Iya... suami sudah meninggal tiga tahun lalu. Anak-anak di rumah kakek nenek mereka." Wanita itu meringis, memegang kepalanya lagi. "Ah... sakitnya..."

Wiro berlutut di depannya. "Bu, izinkan saya memijat kepala dan leher Ibu. Saya yakin bisa membantu."

Wanita itu mengangguk lemah.

Wiro mulai bekerja. Tangannya bergerak dengan presisi yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri—menekan titik-titik di pelipis, di belakang telinga, di dasar tengkorak, di sepanjang tulang leher. Setiap tekanan terasa tepat, setiap gerakan terasa bermakna.

Liontin di dadanya berdenyut hangat, seolah memandu setiap gerakannya.

Lima menit berlalu. Wanita itu mulai bernapas lebih tenang.

Sepuluh menit. Kerutan kesakitan di wajahnya mulai memudar.

Lima belas menit. Dan kemudian...

"Ya ampun..." wanita itu membuka matanya lebar-lebar, takjub. "Sakitnya... hilang?"

Dia meraba kepalanya sendiri, seolah tidak percaya.

"Benar-benar hilang! Lima tahun aku menderita sakit kepala ini, pergi ke dokter mana-mana, minum obat macam-macam, tidak ada yang berhasil. Dan sekarang..." Air matanya mengalir. "Bagaimana bisa? Kamu... kamu siapa sebenarnya?"

Wiro tersenyum, meski dalam hatinya dia sama bingungnya. "Nama saya Wiro, Bu. Dan jujur, saya juga tidak sepenuhnya mengerti. Saya hanya... tahu apa yang harus dilakukan."

Wanita itu menggenggam tangan Wiro erat-erat. "Aku Hartini. Dan aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Kamu sudah mengembalikan hidupku, Nak."

Wiro menatap wanita itu, lalu menatap liontin di dadanya. Kakek misterius itu bilang kalung ini akan membantunya. Dia sudah menggunakannya untuk membalas dendam, dan sekarang ternyata kalung ini juga bisa digunakan untuk menyembuhkan orang.

'Apa sebenarnya benda ini?' pikirnya. 'Dan siapa sebenarnya kakek itu?'

Satu hal yang pasti—hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wiro sang Penakluk   9 Hujan Ciuman

    Setelah gelombang kenikmatan mereka mereda dalam posisi menyamping, Wiro perlahan menarik kontolnya yang masih setengah tegang dari memek Hartini yang basah dan penuh cairan mereka. Hartini menggeliat pelan, memutar tubuhnya menghadap Wiro dengan senyum lelah tapi penuh hasrat. “Aku ingin melihat wajahmu saat kita lakukan lagi,” bisiknya, tangannya menyentuh pipi pria itu lembut. Wiro mengangguk, matanya menatap mata Hartini yang berbinar, lalu ia bergeser ke atas, memposisikan tubuh macho-nya di antara paha wanita itu yang terbuka lebar.Hartini berbaring telentang di atas seprai yang kusut, rambutnya tersebar seperti mahkota hitam di bantal. Tubuhnya yang montok naik-turun pelan dengan napasnya, payudaranya yang besar bergoyang ringan. Wiro mencondongkan tubuhnya, tangan kanannya menopang berat badannya di samping kepala Hartini, sementara tangan kirinya menyusuri perutnya yang lembut, turun ke pinggul. “Kau cantik sekali, Tante,” gumamnya, suaranya dalam dan penuh kelembutan, s

  • Wiro sang Penakluk   8 Kau Luar Biasa

    Setelah beberapa saat berbaring saling peluk, napas mereka mulai tenang, tapi hasrat masih membara di antara keduanya. Hartini bergeser pelan, memutar tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dada Wiro yang lebar dan hangat. “Peluk aku dari belakang, sayang,” bisiknya lembut, tangannya meraih tangan Wiro dan menariknya melingkar di pinggangnya. Wiro tersenyum, tubuh macho-nya menyesuaikan posisi, kakinya menyatu dengan kaki Hartini dalam pelukan intim itu. Kontolnya yang mulai mengeras lagi menekan pantat bulat Hartini, merasakan kelembutan daging di sana.Hartini menggeliat pelan, pinggulnya bergoyang mundur untuk menggesekkan memeknya yang masih basah dan licin oleh campuran cairan mereka sebelumnya. “Masuk lagi, Wiro... pelan-pelan,” desahnya, suaranya penuh kelembutan mesra. Wiro mengangguk, tangan kirinya naik meraih payudara Hartini yang montok, jarinya memijat putingnya dengan lembut sementara tangan kanannya turun ke bawah, meraih batang kontolnya yang tebal. Ia mengarahka

  • Wiro sang Penakluk   7 Hartini Ingin di Atas

    Wiro berdiri di ambang pintu kamar mandi, napasnya masih tersengal setelah sesi panas tadi. Tubuhnya yang kekar, berotot dari latihan gym, basah oleh keringat dan air sisa mandi. Kontolnya yang masih setengah tegang bergoyang pelan saat ia melangkah keluar, siap menuju kamar tidur untuk berpakaian dan meninggalkan rumah ini. Tapi tiba-tiba, tangan lembut Hartini meraih lengannya dari belakang, menahannya dengan kuat.“Tunggu dulu, sayang,” bisik Hartini dengan suara serak penuh nafsu. Wanita berusia 29 tahun itu, dengan lekuk tubuhnya yang montok dan payudara besar yang masih basah, menatap Wiro dengan mata penuh hasrat. Rambutnya yang panjang menempel di kulitnya yang mulus, dan bibirnya melengkung dalam senyum menggoda. “Kita belum selesai. Aku ingin lanjut lagi di ranjang. Kali ini, aku yang di atas.”Wiro berbalik, alisnya terangkat terkejut tapi senyum nakalnya langsung muncul. “Oh ya? Kau nggak puas dengan yang tadi di kamar mandi?” tanyanya sambil memandang tubuh Hartini dar

  • Wiro sang Penakluk   6 Mandi Bareng

    Setelah sesi panas yang melelahkan di ruang tamu, Wiro dan Hartini terbaring di sofa, tubuh mereka basah keringat dan cairan cinta yang bercampur. Napas Hartini masih tersengal, dadanya naik-turun cepat, sementara Wiro memeluknya lembut dari samping, tangannya menyusuri punggungnya yang kini bebas dari rasa sakit. Liontin di leher Wiro masih hangat, seolah memberi energi tak habis-habis. "Bu, kita mandi yuk? Tubuh kita lengket semua," usul Wiro dengan suara rendah, bibirnya menyentuh telinga Hartini. Hartini tersenyum malu-malu, pipinya merona meski usianya sudah matang. "Iya, Mas. Ayo... bareng." Matanya berbinar penuh hasrat sisa, tangannya meraba-raba dada berotot Wiro. Ia bangkit pelan, kakinya agak gemetar karena orgasme berulang tadi, tapi langkahnya lebih ringan, punggungnya benar-benar sembuh. Wiro ikut berdiri, memeluk pinggang Hartini dari belakang saat mereka berjalan ke kamar mandi utama di ujung koridor. Tubuh Hartini yang montok terasa hangat menempel ke dadanya,

  • Wiro sang Penakluk   5 Gairah Tak Terbendung

    Hartini merasakan tubuhnya. Tulangnya seperti sejajar kembali, rasa nyeri hilang seolah disedot ke udara. "Bu, coba gerakkan pinggangnya," kata Wiro. Hartini bangkit pelan, memutar tubuhnya. "Astaga... hilang! Sakitnya benar-benar hilang, Mas! Kamu tukang sulap apa?" Ia tertawa gembira, memeluk Wiro impulsif. Tubuhnya menempel ke dada Wiro, dan saat itu, aroma parfum ringan Hartini bercampur keringat tipis membuat Wiro merasakan tarikan liontin lagi. Hartini tak langsung melepaskan pelukan; matanya bertemu mata Wiro, dan ada percikan di sana. "Terima kasih banyak, Mas. Kamu selamatkan hidup saya," bisik Hartini, suaranya bergetar. Wiro tersenyum, "Senang bisa bantu, Bu." Tapi Hartini tak mundur. Wajahnya mendekat, bibirnya menyentuh pipi Wiro pelan. sebuah ciuman terima kasih yang berubah menjadi sesuatu yang lebih. "Saya... saya nggak tahan, Mas. Sentuhanmu tadi... bikin saya panas," akunya malu-malu, pipinya merona. Wiro terkejut, tapi kekuatan liontin membuatnya tak me

  • Wiro sang Penakluk   4 Teknik Memijat

    Di ruang tamu, Krisno dan Lisa menunggu dengan bingung. Suara itu semakin keras. Dua suara perempuan yang sangat dia kenali, suara ibunya dan kakaknya, bercampur dalam simfoni yang membuat perutnya mual. "MAMA!" Krisno berlari ke kamar ibunya, menggedor pintu dengan brutal. "MAMA! KAK SANTI! APA YANG TERJADI?!" Tidak ada jawaban. Hanya desahan dan teriakan yang semakin intens. Lisa berdiri di belakang Krisno, wajahnya pucat pasi. "Krisno... ini..." "BUKA PINTUNYA!" Krisno terus menggedor hingga tangannya memerah. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit yang terasa seperti neraka. Akhirnya, suara-suara itu mereda. Langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu terbuka dengan santai. Dan sosok yang muncul membuat Krisno merasa seluruh dunianya runtuh. "Wiro?!" Wiro berdiri di ambang pintu, bertelanjang dada, dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakangnya, di atas tempat tidur, Widya dan Santi terbaring dengan kondisi yang tidak perlu dijelaskan. "Hai, Krisno,"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status