MasukDi ruang tamu, Krisno dan Lisa menunggu dengan bingung.
Suara itu semakin keras. Dua suara perempuan yang sangat dia kenali, suara ibunya dan kakaknya, bercampur dalam simfoni yang membuat perutnya mual. "MAMA!" Krisno berlari ke kamar ibunya, menggedor pintu dengan brutal. "MAMA! KAK SANTI! APA YANG TERJADI?!" Tidak ada jawaban. Hanya desahan dan teriakan yang semakin intens. Lisa berdiri di belakang Krisno, wajahnya pucat pasi. "Krisno... ini..." "BUKA PINTUNYA! CEPAT!!!" Krisno terus menggedor pintu hingga tangannya memerah. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit yang terasa seperti neraka. Akhirnya, suara-suara itu pun mereda. Dan kemudian, Langkah kaki terdengar dari dalam kamar itu. Pintu terbuka dengan santai. Dan sosok yang muncul membuat Krisno merasa kaget dan merasa seluruh dunianya runtuh. "Wiro?!" Wiro berdiri di ambang pintu, bertelanjang dada, dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakangnya, di atas tempat tidur, Widya dan Santi terbaring dengan kondisi yang tidak perlu dijelaskan. "Hai, Krisno," sapa Wiro dengan nada kasual. "Makasih ya, karena lo, gue datang ke rumah lo. Dan bertemu... Mama sama kakak lo... mereka ramah banget orangnya. Sangat memuaskan dan enak buat dicicipi." "KAU—!" Krisno gemetar, antara murka dan shock. Lisa menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak tidak percaya. "Wiro... kamu..." "Oh, hai juga Lisa," Wiro menoleh ke mantan kekasihnya dengan tatapan sedingin es. "Gimana rasanya, Krisno? Lo tidur sama pacar orang, sekarang gue tidur sama ibu dan kakak lo. Impas, kan?" "BRENGSEK!" Krisno melayangkan tinju ke wajah Wiro. Tapi Wiro bukan Wiro yang sama seperti beberapa jam lalu. Dengan gerakan ringan, dia menangkis pukulan Krisno, lalu membalas dengan hook kanan yang mendarat telak di rahang. KRAKK! Krisno terhuyung. Sebelum dia sempat pulih, Wiro sudah menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi. Uppercut ke dagu. Jab ke hidung. Hook ke pelipis. Dalam hitungan detik, Krisno sudah tersungkur di lantai, wajahnya lebam dan berdarah, persis seperti kondisi Wiro beberapa jam lalu di gang belakang cafe. "Ini buat pukulan lo di gang tadi," kata Wiro dingin, memberikan tendangan terakhir ke perut Krisno. "Dan ini buat penindasan yang lo tunjukkan ke gue di depan semua orang." Krisno tersungkur tak berdaya. Tubuhnya sakit oleh pukulan Wiro. Wiro mengambil kemejanya, memakainya dengan tenang, lalu berjalan melewati Lisa yang masih terpaku di tempatnya. "Lo tahu, Lisa," kata Wiro tanpa menoleh, "gue dulu bego. Kerja tiga shift tiap hari cuma buat biayain hidup lo. Sekarang gue sadar—lo nggak pernah pantas dapat semua itu." Lisa tidak menjawab. Dia masih kaget, dia masih shock. Wiro melangkah keluar dari rumah Krisno dengan kepala tegak. Untuk pertama kalinya sejak malam ini dimulai, dia merasa... puas. --- Udara malam terasa dingin di kulit Wiro saat dia berjalan menyusuri kompleks perumahan mewah itu. Langkahnya ringan, pikirannya lebih tenang dari sebelumnya. Dendam yang tadi membakar dadanya kini sudah padam, digantikan oleh kekosongan yang aneh. 'Apa yang terjadi padaku?'pikirnya sambil menyentuh liontin di dadanya. 'Apa aku jadi monster? Tapi... Ini sebenarnya cukup bagus. Aku jadi kuat. Sangat kuat." Tapi sebelum dia sempat merenungkan lebih jauh, matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Seorang wanita berjalan terhuyung-huyung di trotoar, satu tangannya memegang kepalanya, yang satunya lagi meraba-raba pagar rumah untuk menjaga keseimbangan. Langkahnya tidak stabil, seperti orang mabuk, atau orang yang sangat kesakitan. Wiro mempercepat langkahnya. Tepat saat dia mendekat, wanita itu limbung. Wiro berlari, menangkapnya sebelum tubuhnya menghantam aspal. "Bu! Ibu tidak apa-apa?" Wanita itu membuka matanya. Usianya mungkin awal empat puluhan, dengan wajah yang ayu meski kini pucat pasi karena menahan sakit. Rambutnya panjang sebahu, dan meski kondisinya berantakan, ada keanggunan alami yang terpancar darinya. "Kepala... sakit sekali..." rintihnya. Dan saat itu, liontin di dada Wiro berdenyut lagi—tapi berbeda dari sebelumnya. Kali ini, bukan denyutan penuh hasrat, melainkan sesuatu yang lebih... informatif. Seperti ada suara yang berbisik langsung ke dalam pikirannya. 'Wanita ini menderita gangguan saraf yang sudah bertahun-tahun menyiksanya. Rasa sakit di kepalanya adalah gejala dari kerusakan saraf yang progresif. Kau bisa menyembuhkannya—dengan pijatan di titik-titik tertentu, kau bisa memulihkan aliran energi di sarafnya dan melenyapkan penyakit itu selamanya.' Wiro tersentak. Bagaimana dia bisa tahu semua itu? Dan sejak kapan dia bisa memijat untuk menyembuhkan penyakit? Tapi entah kenapa, dia tahu. Tangannya seolah sudah hafal di mana titik-titik yang harus dipijat, bagaimana tekanannya, berapa lama durasinya. "Bu," kata Wiro lembut, "saya bisa bantu. Saya... punya kemampuan untuk menyembuhkan sakit seperti ini." Wanita itu menatapnya dengan mata setengah terpejam menahan sakit. Anehnya, tidak ada kecurigaan di wajahnya, hanya keputusasaan seseorang yang sudah bertahun-tahun mencari kesembuhan. "Tolong..." bisiknya. "Apa saja... asal sakit ini hilang..." "Rumah Ibu di mana?" Wanita itu menunjuk dengan lemah. "Di sana... sepuluh rumah dari sini..." Wiro memapahnya berjalan, dan beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam sebuah rumah yang cukup besar. tidak semewah rumah Krisno, tapi tetap menunjukkan kemapanan pemiliknya. "Ibu tinggal sendiri?" tanya Wiro sambil membantu wanita itu duduk di sofa. "Iya... suami sudah meninggal tiga tahun lalu. Anak-anak di rumah kakek nenek mereka." Wanita itu meringis, memegang kepalanya lagi. "Ah... sakitnya..." Wiro berlutut di depannya. "Bu, izinkan saya memijat kepala dan leher Ibu. Saya yakin bisa membantu." Wanita itu mengangguk lemah. Wiro mulai bekerja. Tangannya bergerak dengan presisi yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri—menekan titik-titik di pelipis, di belakang telinga, di dasar tengkorak, di sepanjang tulang leher. Setiap tekanan terasa tepat, setiap gerakan terasa bermakna. Liontin di dadanya berdenyut hangat, seolah memandu setiap gerakannya. Lima menit berlalu. Wanita itu mulai bernapas lebih tenang. Sepuluh menit. Kerutan kesakitan di wajahnya mulai memudar. Lima belas menit. Dan kemudian... "Ya ampun..." wanita itu membuka matanya lebar-lebar, takjub. "Sakitnya... hilang?" Dia meraba kepalanya sendiri, seolah tidak percaya. "Benar-benar hilang! Lima tahun aku menderita sakit kepala ini, pergi ke dokter mana-mana, minum obat macam-macam, tidak ada yang berhasil. Dan sekarang..." Air matanya mengalir. "Bagaimana bisa? Kamu... kamu siapa sebenarnya?" Wiro tersenyum, meski dalam hatinya dia sama bingungnya. "Nama saya Wiro, Bu. Dan jujur, saya juga tidak sepenuhnya mengerti. Saya hanya... tahu apa yang harus dilakukan." Wanita itu menggenggam tangan Wiro erat-erat. "Aku Hartini. Dan aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Kamu sudah mengembalikan hidupku, Nak." Wiro menatap wanita itu, lalu menatap liontin di dadanya. Kakek misterius itu bilang kalung ini akan membantunya. Dia sudah menggunakannya untuk membalas dendam, dan sekarang ternyata kalung ini juga bisa digunakan untuk menyembuhkan orang. 'Apa sebenarnya benda ini?' pikirnya. 'Dan siapa sebenarnya kakek itu?' Satu hal yang pasti—hidupnya tidak akan pernah sama lagi. ---Kita kembali ke peristiwa sebelum itu, tiga hari setelah kejadian di rumah Viana, setelah pembunuhan yang gagal, Wiro berdiri di depan sebuah gedung tua di kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Angin malam membawa bau karat dan minyak mesin yang sudah lama mengering.Gedung itu dari luar terlihat seperti pabrik yang bangkrut. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya pecah, pagar kawatnya berkarat. Tapi Wiro bisa merasakan apa yang ada di dalamnya.Puluhan titik energi manusia. Sebagian besar terkonsentrasi di lantai bawah tanah. Beberapa di lantai atas sebagai penjaga.Ini adalah markas organisasi pembunuh bayaran yang telah mengirim enam orang untuk membunuh Viana.Wiro memandang gedung itu dengan tatapan datar. Baginya, gedung ini bukan benteng yang tidak bisa ditembus. Ini hanyalah sarang yang perlu dibersihkan.Dia melangkah masuk melalui pintu depan.Tidak mengendap. Tidak bersembunyi. Masuk langsung dari depan seperti tamu yang datang berkunjung.Dua penjaga di pin
Wiro duduk di tepi ranjang dan membelai rambut gadis itu dengan lembut.'Mereka mengincarmu. Sepupumu sendiri ingin kau mati. Tapi selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun yang bisa menyentuhmu.'Pagi datang dengan cahaya keemasan yang menyusup melalui celah tirai.Viana terbangun dan mendapati Wiro duduk di sofa dekat jendela, secangkir kopi di tangannya, sinar matahari pagi menimpa wajahnya yang tenang."Pagi," sapa Wiro sambil tersenyum.Viana mengerjapkan matanya, lalu tersenyum balik. "Pagi. Kau sudah bangun dari tadi?""Tidak bisa tidur. Terlalu banyak memikirkanmu."Viana tertawa kecil sambil melempar bantal ke arahnya. "Gombal."Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. Retakan di dinding dekat pintu masuk. Goresan di lantai marmer. Dan samar-samar, bau metalik yang tidak seharusnya ada di kamar hotel.Senyum Viana menghilang."Wiro." Suaranya berubah serius. "Apa yang terjadi semalam?"Wiro meletakkan cangkir kopinya. Dia tidak berniat menyembunyikan apapun dari Vian
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Udara di kamar itu dingin oleh hembusan AC yang konstan, namun kehangatan tetap terasa dari dua tubuh yang saling berpelukan di atas ranjang king size berlapis seprai sutra.Viana menyandarkan kepalanya di dada Wiro, jemarinya mencengkeram ujung kaus pria itu bahkan dalam tidurnya. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya damai tanpa beban. Seolah dunia di luar kamar ini tidak pernah ada.Wiro tidak tidur.Matanya terpejam, napasnya teratur, tapi kesadarannya menyala terang seperti obor di tengah kegelapan. Setiap detak jantungnya adalah radar. Setiap hembusan angin yang menyusup dari celah ventilasi tercatat oleh indra perasanya yang tajam.'Tiga orang di koridor timur. Dua orang di balkon lantai bawah. Satu lagi di atap.'Wiro sudah merasakannya sejak sejam yang lalu. Enam titik energi asing yang bergerak perlahan, menyusup seperti ular dalam kegelapan. Gerakan mereka terlatih, langkah mereka nyaris tanpa suara. Profesional.
Setelah sesi *lotus* yang membuai di ranjang, Viana dan Wiro terbaring berpelukan, napas mereka teratur, namun sisa-sisa gairah masih terasa hangat di tubuh mereka. Kontol Wiro yang besar masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan puas. Keintiman yang baru saja mereka alami telah menyatukan mereka dalam level yang lebih dalam. Namun, Viana, yang merasakan kehangatan di hatinya, ingin mengakhiri sesi ini dengan sentuhan paling personal dan penuh kasih sayang. Viana mengangkat kepalanya dari dada Wiro, menatap mata pemuda itu dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Wiro..." bisiknya lembut, jari-jarinya yang ramping mengelus pipi Wiro yang berkeringat. "Aku ingin mengakhiri ini dengan yang paling mesra. Aku ingin kamu di atasku... aku ingin kita saling menatap, saling mencium, sampai kita tertidur bersama." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah eksplorasi liar dan intim, Viana menginginkan kepulangan ke posisi
Setelah eksplorasi doggy-style yang liar dan brutal, Viana dan Wiro ambruk di ranjang, tubuh mereka basah oleh keringat, napas terengah-engah, namun puas. Kontol Wiro yang besar dan panjang masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan sedikit membengkak. Meskipun baru saja merasakan gairah yang eksplosif, Viana merasa ada kerinduan akan sentuhan yang lebih dalam, lebih terhubung secara emosional. Ia ingin merasakan setiap inci Wiro menyatu dengan dirinya, namun dengan kelembutan yang membuai. Viana menggeliat pelan, memutar tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Wiro. Ia menatap mata pemuda itu, mengusap pipinya yang masih memerah. "Wiro... aku ingin kamu lagi," bisiknya serak, "tapi kali ini aku ingin kita saling menatap, saling merasakan setiap sentuhan. Aku ingin posisi lotus. Aku ingin kamu di dalamku, duduk berhadapan, seperti kita adalah satu." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah badai gairah yang menggila, Viana membutuhkan ketenangan, ke
Setelah keintiman mesra spooning yang membuai, Viana dan Wiro berbaring pelukan erat di ranjang sutra merah apartemen mewahnya. Napas mereka tenang, tapi hasrat Viana—gadis Tionghoa berusia 22 tahun dengan nafsu tak terbendung—kembali membara. Ia geliat pelan, putus pelukan, tatap Wiro dengan mata sipit berkilat liar. "Wiro... aku pengen yang lebih ganas sekarang," bisiknya serak, suara penuh godaan. "Aku mau kamu sodok dari belakang... mainin pantatku sampe puas. Explore doggy-style ini bareng aku." Wiro tersenyum tipis, kontolnya langsung tegang dengar kata-kata itu. Ia tahu Viana suka variasi, dan doggy-style jadi favoritnya buat eksplorasi dalam. "Siap, Viana. Aku bakal bikin kamu jerit nikmat," balasnya, suara rendah penuh janji. Viana bangkit cepat, berlutut di ranjang, posisi merangkak sempurna. Punggung rampingnya melengkung sensual, pantat bulat kenyal terangkat tinggi, belahan pantat terbuka lebar perlihatkan memek basah mengkilap rambut tipis dan lubang pantat pink mungil
Setelah malam penuh gairah yang melelahkan, Wiro dan Wilona terbangun pelan saat sinar pagi menyusup melalui tirai kamar. Tubuh mereka masih lengket oleh keringat dan sisa-sisa cairan kenikmatan dari sesi doggy style yang panjang itu. Wilona tersenyum malas, tangannya merayap ke dada Wiro yang bi
Setelah beberapa saat berbaring saling peluk, napas mereka mulai tenang, tapi api hasrat di antara Wiro dan Wilona belum padam. Tubuh Wilona masih bergetar ringan dari orgasme tadi, memeknya terasa penuh dengan sperma hangat Wiro yang bocor pelan ke paha dalamnya. Ia menggeser posisi, menatap waj
Pagi itu, kota terasa lebih cerah dari biasanya—setidaknya bagi Wiro.Semalam, setelah menyembuhkan Bu Hartini, Wiro kembali ke kosannya. Pagi ini, Wiro ingin mengambil barang-barangnya yang ditinggalkan di dekat cafe semalam. Dia berharap kardus berisi pakaian dan barang-barang pribadinya masih
"Kita lanjut dengan aku dari belakang," bisik Wiro mesra. Wilona langsung mengangguk. "Siapa takut?"Malam ini, di kamar tidur yang remang-remang diterangi lampu meja, Wiro dan Wilona masih mengikuti hasrat yang membara di dada masing-masing. Mereka berdua masih telanjang bulat, tubuh mereka sali







