Home / Urban / Wiro sang Penakluk / 5 Gairah Tak Terbendung

Share

5 Gairah Tak Terbendung

Author: Heartwriter
last update publish date: 2026-01-28 16:32:35

Hartini merasakan tubuhnya. Tulangnya seperti sejajar kembali, rasa nyeri hilang seolah disedot ke udara.

"Bu, coba gerakkan pinggangnya," kata Wiro.

Hartini bangkit pelan, memutar tubuhnya. "Astaga... hilang! Sakitnya benar-benar hilang, Mas! Kamu tukang sulap apa dokter?" Ia tertawa gembira, memeluk Wiro impulsif.

Tubuhnya menempel ke dada Wiro, dan saat itu, aroma parfum ringan Hartini bercampur keringat tipis membuat Wiro merasakan tarikan liontin lagi.

Hartini tak langsung melepaskan pelukan; matanya bertemu mata Wiro, dan ada percikan di sana.

"Terima kasih banyak, Mas. Kamu selamatkan hidup saya," bisik Hartini, suaranya bergetar.

Wiro tersenyum, "Senang bisa bantu, Bu."

Tapi Hartini tak mundur. Wajahnya mendekat, bibirnya menyentuh pipi Wiro pelan. sebuah ciuman terima kasih yang berubah menjadi sesuatu yang lebih. "Saya... saya nggak tahan, Mas. Sentuhanmu tadi... bikin saya panas," akunya malu-malu, pipinya merona.

Wiro terkejut, tapi kekuatan liontin membuatnya tak menolak. Ia balas ciuman itu, bibirnya menyentuh bibir Hartini yang lembut dan penuh.

Ciuman pertama itu lembut, eksploratif: bibir saling menyentuh, lidah Wiro menyapa lidah Hartini dengan hati-hati.

Hartini mendesah pelan, tangannya merangkul leher Wiro, menariknya lebih dekat.

Aroma napasnya manis seperti teh hangat yang baru diminumnya. Mereka berciuman lebih dalam, lidah saling menari, menghisap, dan menggigit ringan. Hartini merasakan panas di antara pahanya, basah yang mulai merembes.

"Aku... aku lama nggak begini, Mas," gumam Hartini saat ciuman terputus sebentar.

Wiro mengangguk, tangannya menyusuri punggungnya yang kini mulus tanpa sakit. "Iya, Bu. Tapi rasanya... alami." Ia angkat Hartini pelan, membawanya ke sofa.

Mereka duduk, dan ciuman berlanjut, kini lebih panas. Tangan Wiro merayap ke blus Hartini, membuka kancing satu per satu.

Bra hitamnya terlihat, payudaranya naik-turun cepat. Hartini tak sabar; ia copotkan blusnya sendiri, lalu bra, memperlihatkan payudara besar yang montok, putingnya cokelat muda sudah mengeras.

Wiro menunduk, mulutnya menyentuh salah satu puting, menghisap pelan sambil lidahnya berputar. "Ahh... enak sekali, Mas! Hisap lebih kuat," desah Hartini, tangannya menekan kepala Wiro.

Ia merasakan getaran listrik dari setiap sentuhan, liontin membuat Wiro tahu persis bagaimana memuaskan. Payudara satunya diremas lembut, jempolnya menggoda puting. Hartini menggeliat, pahanya bergesek ke paha Wiro, merasakan tonjolan keras di celananya.

Tak puas, Hartini dorong Wiro mundur, berdiri sebentar untuk melepas roknya. Ia kini hanya mengenakan celana dalam hitam tipis yang sudah basah.

Tubuhnya telanjang di depan Wiro: perut rata dengan sedikit lekuk usia, pinggul lebar yang menggoda, dan bulu kemaluan yang rapi terlihat samar di balik kain basah. "Giliran kamu, Mas," katanya genit, tangannya membuka kemeja Wiro, memperlihatkan dada berototnya yang terbentuk sempurna berkat liontin.

Wiro bangkit, membiarkan Hartini membuka ikat pinggangnya. Saat celana terlepas, mata Hartini melebar melihat kejantanan Wiro yang raksasa—panjang lebih dari 20 sentimeter, tebal seperti pergelangan tangan, urat-uratnya menonjol, dan kepalanya merah mengkilap sudah basah ujungnya. "Ya ampun... ini... gede banget! Aku takut nggak muat," katanya kagum campur takut, tapi matanya penuh hasrat.

Walaupun berkata seperti itu, tapi Ia berlutut pelan, tangannya menggenggam batang itu, tak muat satu tangan, lalu lidahnya menjilat ujungnya, mengecap rasa asin manis precum.

Mulut Hartini membuka lebar, menelan separuh batang Wiro, menghisap dengan rakus. "Mmmph... enak, Mas. Keras dan panas," gumamnya di sela hisapan.

Lidahnya berputar di sekitar kepala, tangannya mengocok bagian bawah yang tak muat. Wiro mendesah, tangannya meremas rambut Hartini, menikmati kehangatan mulutnya yang basah.

Ia dorong pelan, membuat batangnya masuk lebih dalam, tapi Hartini tak tersedak. ia malah semakin bersemangat, air liurnya menetes ke dagunya.

Setelah beberapa menit, Wiro tarik Hartini berdiri. "Sekarang giliran saya, Bu." Ia angkat Hartini ke sofa, meletakkannya telentang.

Celana dalamnya dicopot pelan, memperlihatkan kemaluan Hartini yang basah kuyup, bibir merah muda yang membengkak, klitorisnya menonjol.

Wiro turunkan wajahnya, lidahnya menyentuh klitoris dulu, menjilat pelan, putar-putar. "Aaaahh! Itu... enak banget! Jilat lagi, Mas!" jerit Hartini, pahanya mengapit kepala Wiro.

Lidah Wiro lincah, menuang ke dalam lubangnya, menghisap klitoris sambil jari telunjuknya masuk pelan, mengaduk-aduk dinding dalam.

Hartini menggeliat hebat, tangannya mencengkeram bantal sofa. "Oh ya ampun... aku mau klimaks! Jangan berhenti!" Tubuhnya bergetar, cairannya menyemprot ke wajah Wiro saat orgasme pertama datang, kuat, panjang, membuatnya meraung seperti binatang.

Tak memberi istirahat, Wiro posisikan diri di atas. Batangnya menyentuh pintu kemaluan Hartini, menggesek dulu untuk membasahi. "Masuk pelan ya, Bu," katanya.

Hartini mengangguk, "Ayo, Mas. Aku siap."

Wiro dorong pelan, kepala batang masuk, merenggang Hartini lebar. "Aduh... sakit enak! Gede banget... isi penuh!" erangnya. Wiro lanjut, setengah masuk, lalu dorong lagi hingga seluruhnya terkubur. Hartini menjerit kegirangan, kakinya melingkar pinggang Wiro.

Mereka mulai bergerak: Wiro maju mundur pelan dulu, membiarkan Hartini menyesuaikan.

Setiap tusukan membuat suara basah 'plek-plek', payudara Hartini berguncang. "Lebih cepat, Mas! Dorong keras!" pinta Hartini.

Wiro percepat ritme, pinggulnya menghantam, batangnya menyentuh titik G Hartini berulang kali. "Aaahh... ini baru pria! Suamiku dulu nggak sekuat ini!" desah Hartini, kuku men Scrap dada Wiro.

Setelah 10 menit, Wiro putar posisi: woman on top. Hartini naik ke atas, menurunkan pinggul pelan, batang Wiro hilang lagi di dalamnya. "Wah... dari atas lebih dalem!" katanya, mulai bergoyang.

Tangan Wiro meremas pantatnya, membantu naik-turun. Hartini liar, memutar pinggul, payudaranya bergoyang di depan muka Wiro. Ia cium Wiro lagi, sambil terus bergerak. "Kamu bikin aku gila, Mas. Batangmu... sempurna!"

Klimaks kedua Hartini datang saat ia di atas, tubuhnya kaku, meraung panjang, cairannya membasahi paha Wiro.

Tapi Wiro belum selesai. Ia angkat Hartini, posisikan doggy style di lantai karpet.

Hartini merangkak, pantat montoknya terangkat. "Dari belakang, Mas! Hajar aku!" Wiro masuk dari belakang, tangkapannya di pinggul, dorong keras.

Setiap hantaman membuat pantat Hartini bergoyang, suara 'plak-plak' kulit bertemu kulit. Jarinya merayap ke depan, menggosok klitoris sambil tusuk.

Hartini tak kuat: "Aku... lagi... aaaahhh!" Orgasme ketiga, lebih hebat, membuat lututnya lemas. Wiro terus, merasakan batangnya dipijat dinding Hartini yang berkontraksi.

Akhirnya, ia klimaks—menyemprot benih panas deras ke dalam rahim Hartini. "Ambil semuanya, Bu!" desah Wiro.

Hartini ambruk, puas, tapi liontin membuat Wiro keras lagi dalam hitungan detik.

Mereka lanjut ke gaya side by side di sofa, Wiro dari samping, satu kaki Hartini diangkat. Gerakan lambat, intim, dengan ciuman panjang. Lalu, standing position: Hartini dibopong, punggungnya ke dinding, Wiro angkat kakinya. Tusukan vertikal membuatnya jerit-jerit. "Kamu tak terkalahkan, Mas! Aku ketagihan!"

Setelah hampir satu jam, keduanya ambruk ke sofa, tubuh basah keringat. Hartini meringkuk di dada Wiro, napasnya tersengal. "Terima kasih... bukan cuma sembuh punggung, tapi... hidupku baru dimulai."

Wiro tersenyum, liontinnya berkilau samar. Petualangannya baru permulaan, kekuatan itu membawa lebih banyak pengalaman baginya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wiro sang Penakluk   226 Penghabisan

    Zheng Xiuchen terdiam, ekspresinya menegang."Kau melakukan sesuatu yang begitu tercela, setidaknya kau harus meminta maaf padaku, kan?" kata Wiro dengan tenang.Wiro berbicara sambil tersenyum, tetapi matanya menyimpan niat yang mengerikan. Sebagai pendatang dari Kota Delta yang baru pindah ke Tiongkok untuk memburu organisasi misterius Big Harvest—yang dipimpin oleh Zheng Xiuchen sendiri—ia tinggal di apartemen murah. Secara lahiriah ia tampak seperti pemuda biasa dengan level kultivasi terendah, namun sebenarnya ia telah mencapai level 1900 di Alam Pemurnian Tubuh, jauh melampaui para grandmaster. Saat ini, ia sedang menyamar sebagai "Dao Tian".Semua mata tertuju pada Zheng Xiuchen, dan sebagian besar dari mereka memandangnya dengan jijik dan mengejek.Wajah Zheng Xiuchen tampak muram, dan dia mengertakkan giginya, menolak untuk berbicara.Sebagai tuan muda keluarga Zheng, ia selalu diperlakukan dengan hormat dan dipuja ke mana pun ia pergi. Kapan ia pernah mengalami penghinaan se

  • Wiro sang Penakluk   225 Keluarga Zheng yang Menjijikkan!

    Wajah Zheng Xiuchen tampak muram saat menatap Wiro di atas panggung, tinjunya terkepal erat.Bagaimana bisa begitu?Meskipun pelindung ketiga tersebut bukanlah grandmaster terkuat dalam keluarga Zheng mereka, setidaknya dia termasuk dalam sepuluh besar!Dao Tian di atas panggung hanyalah seorang ahli bela diri biasa; bagaimana mungkin Tiga Pelindung bisa dikalahkan dengan begitu mudah?Yang Yinzhu, yang berdiri di samping, juga tampak muram.Di atas panggung, Wiro berjongkok, meraih kepala ketiga penjaga keluarga Zheng, dan mengaktifkan Teknik Pemakan Roh—teknik yang ia modifikasi dari metode jahat untuk menyerap energi spiritual orang lain. Sebagai pendatang dari Kota Delta yang baru pindah ke Tiongkok untuk memburu organisasi misterius Big Harvest, Wiro tinggal di apartemen murah. Secara lahiriah ia tampak seperti kultivator biasa di alam terendah, namun sebenarnya ia telah mencapai level 1900 di Alam Pemurnian Tubuh, jauh melampaui para grandmaster. Aura merah samar terpancar dari

  • Wiro sang Penakluk   224 Satu pukulan saja sudah cukup!

    Begitu dia mengatakan ini, semua mata di Danau Moonheart tertuju pada Wiro, yang saat ini menyamar sebagai "Dao Tian".Qin Yimo dan Ji Dongshan, ayah dan anak perempuan, berdiri di samping Wiro, juga menatapnya dengan terkejut. Mereka tidak menyangka Wiro akan mengusulkan untuk naik ke panggung saat semua orang ketakutan melihat keganasan keluarga Zheng."Apa yang kau lakukan?!" Qin Yimo menggigit bibir merahnya dan bertanya dengan suara rendah. Sebagai cucu keluarga Qin yang terhormat, ia terbiasa dengan segala sesuatu yang terkendali, tetapi Wiro selalu bertindak di luar dugaannya.Ji Rumei juga menatap Wiro dengan tatapan khawatir. Ketiga pelindung keluarga Zheng di atas panggung itu sangat kejam, dan setiap gerakan mereka bertujuan untuk merenggut nyawa lawan. Baginya, Wiro—meskipun ia tahu betapa kuatnya pria itu—tetap mengambil risiko yang sangat besar.Wiro tidak terlalu memikirkannya. Sebagai pendatang dari Kota Delta yang baru pindah ke Tiongkok untuk memburu organisasi miste

  • Wiro sang Penakluk   223 Aku Ingin Naik dan Mencobanya

    Tetua keenam keluarga Zhong berdiri di atas panggung tinggi dengan tangan di belakang punggung, ekspresinya acuh tak acuh, dan aura kuat terpancar darinya."Dia adalah Tetua Keenam dari keluarga Zhong! Kudengar meskipun dia bukan tetua dengan tingkat kultivasi tertinggi di keluarga Zhong, dia memiliki pengalaman tempur praktis yang paling banyak!" seru seseorang."Sial! Keluarga Zhong adalah lawan yang sangat tangguh sejak awal. Bagaimana kita bisa bertarung? Siapa yang berani naik ke panggung?" Banyak perwakilan dari keluarga terkemuka mengeluh."Apakah ada yang ingin berlatih tanding dengan Tetua Keenam keluarga Zhong?" tanya wasit sambil melihat sekeliling.Terjadi banyak diskusi di sekitar situ, tetapi tidak ada yang berani menerima tantangan tersebut.Zhong Yuan berdiri diam, menatap ke arah Qin Yimo, matanya dipenuhi kesombongan.Qin Yimo, aku akan menunjukkan padamu dengan mata kepala sendiri betapa tingginya kedudukan keluarga Zhong di Jiangnan, dan betapa kuatnya kami!Tetua

  • Wiro sang Penakluk   222 Pertarungan Dimulai!

    Orang ini tampak agak familiar, tetapi wajahnya sama sekali tidak dikenal," pikir Zhong Liyu dalam hati.Namun, perhatian Wiro—yang saat ini menyamar sebagai "Dao Tian"—tertuju pada lelaki tua di belakang Zhong Yuan. Sebagai pendatang dari Kota Delta yang baru pindah ke Tiongkok untuk memburu organisasi misterius Big Harvest, Wiro tinggal di apartemen murah. Secara lahiriah ia tampak seperti pemuda biasa dengan level kultivasi terendah, namun sebenarnya ia telah mencapai level 1900 di Alam Pemurnian Tubuh, jauh melampaui para grandmaster. Penyamarannya kali ini adalah bagian dari strategi untuk mendekati target utamanya: Zheng Xiuchen, pemimpin Big Harvest.Orang tua ini memiliki tingkat kultivasi yang cukup kuat. Menyadari tatapan Wiro, lelaki tua itu menoleh dan menatapnya dengan mata sangat tajam. Kebanyakan orang tidak akan berani menatap mata seorang lelaki tua seperti itu. Namun Wiro sama sekali tidak bereaksi, menatap pria tua itu dengan tenang dan memberinya senyum tipis. Sece

  • Wiro sang Penakluk   221 Pertemuan Keluarga Bangsawan!

    Penampilan Wiro saat itu benar-benar berbeda dari biasanya. Ia mengenakan kumis tipis, wajahnya tampak sedikit pucat dengan kerutan halus di sekitar mata dan dahi, serta memakai kacamata. Ia tampak seperti pria paruh baya berusia tiga puluhan atau empat puluhan. Seandainya bukan karena suaranya yang khas, Ji Rumei mungkin tidak akan mengenali orang di depannya sebagai Wiro.Sebagai pendatang dari Kota Delta yang baru pindah ke Tiongkok, Wiro tinggal di apartemen murah dan sedang memburu organisasi misterius Big Harvest yang dipimpin oleh Zheng Xiuchen. Secara lahiriah ia tampak seperti kultivator biasa, namun sebenarnya ia telah mencapai level 1900 di Alam Pemurnian Tubuh—jauh melampaui para grandmaster. Penyamarannya kali ini adalah bagian dari strateginya untuk bergerak tanpa terdeteksi."Tuan Wiro, mengapa Anda..." Ji Rumei menatapnya dengan heran."Akhir-akhir ini aku sering terlibat masalah, jadi Yimo menyarankan aku untuk menyamar," kata Wiro sambil tersenyum tipis. "Namaku seka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status