LOGINDi dalam kamar, Widya berlutut di depan Wiro, tangannya gemetar membuka ikat pinggang celananya. Saat celana terbuka, matanya membelalak kaget. kejantanan Wiro yang luar biasa besar dan gagah membuatnya terpana.
"Ya ampun... ini... Kok bisa segede ini. Emph" gumamnya, sebelum bibirnya langsung melumatnya dengan rakus, penuh hasrat yang tak terkendali. Wiro terkejut, tapi kekuatan baru dalam dirinya membuatnya tak menolak, malah, ia merasakan gelombang kenikmatan yang membuat dendamnya sejenak terlupakan. Siapa sangka, kalung ajaib itu bukan hanya untuk balas dendam, tapi juga membuka pintu baru dalam hidupnya... *** Di dalam kamar tidur Widya yang mewah, suasana semakin panas. Widya, dengan mata berbinar penuh nafsu, terus menikmati batang besar Wiro yang gagah dengan mulutnya yang rakus. Lidahnya berputar-putar, menghisap dengan lahap sambil bergumam penuh kekaguman, "Ahh... batangmu ini luar biasa, Nak! Besar sekali, keras seperti besi... Ibu belum pernah rasain yang segede dan sekuat ini. Kamu pejantan sejati!" Wiro hanya menggeliat nikmat, tangannya meremas payudara montok Widya, merasakan kekuatan liontin yang membuatnya seperti ahli ranjang berpengalaman. Tak puas hanya begitu, Widya mendorong Wiro ke kasur dan naik ke atasnya dalam posisi woman on top. Ia menurunkan pinggulnya perlahan, merenggangkannya oleh ukuran raksasa Wiro. "Aaaahhh! Gede banget! Masuk semua... oh ya ampun, enaknya!" Widya mulai bergoyang liar, naik-turun dengan ritme gila, payudaranya berguncang hebat. Ia berteriak-teriak kegirangan, "Ini baru pria tangguh! Suamiku nggak ada apa-apanya dibanding ini! Aku klimaks terus... aaahh!" Tubuhnya bergetar hebat, tapi Wiro masih kuat, mendesak balik dari bawah hingga Widya meraung-raung tak terkendali. *** Sementara itu, di luar rumah, Krisno baru saja tiba dengan mobil mewahnya, membawa Lisa yang tersenyum manja di sisinya. "Ayo, sayang, aku kenalin kamu ke Ibu. Dia pasti suka kamu," kata Krisno sambil memeluk pinggang Lisa. Mereka masuk, disambut pelayan rumah. "Dimana ibuku?" "Tuan Krisno, Nyonya sedang di kamar tidur bersama seorang pemuda tampan," lapor pelayan polos. Krisno mengerutkan dahi. Ia tahu orang tuanya tak harmonis, ayahnya punya wanita simpanan, tapi ibunya, Widya, selalu menjaga image. "Apa? Bersama seorang pemuda? Itu nggak mungkin!" gumamnya. Saat mereka mendekat ke koridor, suara keras dari kamar ibunya terdengar jelas, kamar itu memang tak kedap suara. "Aaaahh! Batangmu bikin Ibu gila! Lebih besar dari suamiku! Lagi... kasih lagi!" erang Widya. Lisa terbelalak, tapi Krisno lebih heran lagi. Saat itu, kakak perempuannya Krisno, Santi, seorang wanita 25 tahun yang seksi dengan tubuh atletis dan rambut panjang, keluar dari kamarnya. Ia juga mendengar suara ibunya yang vulgar itu. "Apa-apaan ini? Ibu kok begitu?" gumam Santi, tapi anehnya, suara rintihan itu justru membangkitkan gairahnya. Tubuhnya panas, celana dalamnya mulai basah. *** Di dalam kamar, Widya mencapai klimaks luar biasa, meraung panjang sambil menyemprotkan cairannya deras ke batang Wiro. "Aaaahhhh! Klimaksnya gila! Kamu dewa ranjang!" Saat itulah ketukan pintu terdengar. Wiro, dengan senyum licik, bangkit dan membuka pintu sedikit. Santi berdiri di sana, matanya melebar melihat Wiro yang telanjang, badannya berotot dan aura maskulinnya memabukkan. Wiro langsung menariknya masuk dan menutup pintu rapat, tanpa sempat dilihat Krisno dan Lisa yang masih di ujung koridor. Tapi Wiro tahu Krisno ada di dekat sana; ia sempat dengar suaranya. 'Sempurna untuk balas dendam,' pikir Wiro. 'Krisno tiduri Lisa? Jadi Aku balas dengan akan tiduri ibu dan kakaknya!* Santi langsung terpana melihat kejantanan Wiro yang masih tegak berdiri, basah oleh cairan Widya. "Kamu... siapa? Tapi... wow, gede banget!" katanya, gairahnya meledak. Widya tertawa mesum dari kasur, "Ini pemuda ajaib, San! Coba rasain, kamu bakal ketagihan!" Wiro tak buang waktu. Ia posisikan Santi doggy style, membungkuk dari belakang sambil dia menusuk Santi dalam-dalam. "Aduh! Sakit! Tapi enak... gede banget, sobek rasanya!" jerit Santi kegirangan. Sambil itu, jari-jari Wiro yang lincah, pengetahuan instan dari liontin, meski ia perjaka sebelumnya, dia kini dengan lihay, mengobrak-abrik kemaluan Widya yang masih basah. Widya menggeliat, "Jarimu ajaib... oh ya, disitu! Bikin Ibu basah lagi!" Wiro memuaskan keduanya secara bergantian: missionary pada Widya sambil Santi menunggang wajahnya, lalu reverse cowgirl pada Santi dengan Widya menciumnya di seluruh tubuhnya. Bahkan saat Wiro klimaks hebat, menyemprotkan benihnya deras ke dalam Santi, secara ajaib batangnya langsung mengeras lagi, besar, keras, siap tempur. "Ini nggak habis-habis! Kamu monster!" pekik Widya, sementara Santi meraung, "Lagi, Wiro! Jangan berhenti! Kami milikmu sekarang!" Kedua wanita itu semakin ketagihan, tubuh mereka lemas tapi haus akan kejantanan Wiro yang tak terkalahkan. Di luar kamar, Krisno dan Lisa hanya bisa mendengar rintihan demi rintihan, tanpa tahu bahwa dendam Wiro baru saja terbalaskan...Kita kembali ke peristiwa sebelum itu, tiga hari setelah kejadian di rumah Viana, setelah pembunuhan yang gagal, Wiro berdiri di depan sebuah gedung tua di kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Angin malam membawa bau karat dan minyak mesin yang sudah lama mengering.Gedung itu dari luar terlihat seperti pabrik yang bangkrut. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya pecah, pagar kawatnya berkarat. Tapi Wiro bisa merasakan apa yang ada di dalamnya.Puluhan titik energi manusia. Sebagian besar terkonsentrasi di lantai bawah tanah. Beberapa di lantai atas sebagai penjaga.Ini adalah markas organisasi pembunuh bayaran yang telah mengirim enam orang untuk membunuh Viana.Wiro memandang gedung itu dengan tatapan datar. Baginya, gedung ini bukan benteng yang tidak bisa ditembus. Ini hanyalah sarang yang perlu dibersihkan.Dia melangkah masuk melalui pintu depan.Tidak mengendap. Tidak bersembunyi. Masuk langsung dari depan seperti tamu yang datang berkunjung.Dua penjaga di pin
Wiro duduk di tepi ranjang dan membelai rambut gadis itu dengan lembut.'Mereka mengincarmu. Sepupumu sendiri ingin kau mati. Tapi selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun yang bisa menyentuhmu.'Pagi datang dengan cahaya keemasan yang menyusup melalui celah tirai.Viana terbangun dan mendapati Wiro duduk di sofa dekat jendela, secangkir kopi di tangannya, sinar matahari pagi menimpa wajahnya yang tenang."Pagi," sapa Wiro sambil tersenyum.Viana mengerjapkan matanya, lalu tersenyum balik. "Pagi. Kau sudah bangun dari tadi?""Tidak bisa tidur. Terlalu banyak memikirkanmu."Viana tertawa kecil sambil melempar bantal ke arahnya. "Gombal."Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. Retakan di dinding dekat pintu masuk. Goresan di lantai marmer. Dan samar-samar, bau metalik yang tidak seharusnya ada di kamar hotel.Senyum Viana menghilang."Wiro." Suaranya berubah serius. "Apa yang terjadi semalam?"Wiro meletakkan cangkir kopinya. Dia tidak berniat menyembunyikan apapun dari Vian
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Udara di kamar itu dingin oleh hembusan AC yang konstan, namun kehangatan tetap terasa dari dua tubuh yang saling berpelukan di atas ranjang king size berlapis seprai sutra.Viana menyandarkan kepalanya di dada Wiro, jemarinya mencengkeram ujung kaus pria itu bahkan dalam tidurnya. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya damai tanpa beban. Seolah dunia di luar kamar ini tidak pernah ada.Wiro tidak tidur.Matanya terpejam, napasnya teratur, tapi kesadarannya menyala terang seperti obor di tengah kegelapan. Setiap detak jantungnya adalah radar. Setiap hembusan angin yang menyusup dari celah ventilasi tercatat oleh indra perasanya yang tajam.'Tiga orang di koridor timur. Dua orang di balkon lantai bawah. Satu lagi di atap.'Wiro sudah merasakannya sejak sejam yang lalu. Enam titik energi asing yang bergerak perlahan, menyusup seperti ular dalam kegelapan. Gerakan mereka terlatih, langkah mereka nyaris tanpa suara. Profesional.
Setelah sesi *lotus* yang membuai di ranjang, Viana dan Wiro terbaring berpelukan, napas mereka teratur, namun sisa-sisa gairah masih terasa hangat di tubuh mereka. Kontol Wiro yang besar masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan puas. Keintiman yang baru saja mereka alami telah menyatukan mereka dalam level yang lebih dalam. Namun, Viana, yang merasakan kehangatan di hatinya, ingin mengakhiri sesi ini dengan sentuhan paling personal dan penuh kasih sayang. Viana mengangkat kepalanya dari dada Wiro, menatap mata pemuda itu dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Wiro..." bisiknya lembut, jari-jarinya yang ramping mengelus pipi Wiro yang berkeringat. "Aku ingin mengakhiri ini dengan yang paling mesra. Aku ingin kamu di atasku... aku ingin kita saling menatap, saling mencium, sampai kita tertidur bersama." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah eksplorasi liar dan intim, Viana menginginkan kepulangan ke posisi
Setelah eksplorasi doggy-style yang liar dan brutal, Viana dan Wiro ambruk di ranjang, tubuh mereka basah oleh keringat, napas terengah-engah, namun puas. Kontol Wiro yang besar dan panjang masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan sedikit membengkak. Meskipun baru saja merasakan gairah yang eksplosif, Viana merasa ada kerinduan akan sentuhan yang lebih dalam, lebih terhubung secara emosional. Ia ingin merasakan setiap inci Wiro menyatu dengan dirinya, namun dengan kelembutan yang membuai. Viana menggeliat pelan, memutar tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Wiro. Ia menatap mata pemuda itu, mengusap pipinya yang masih memerah. "Wiro... aku ingin kamu lagi," bisiknya serak, "tapi kali ini aku ingin kita saling menatap, saling merasakan setiap sentuhan. Aku ingin posisi lotus. Aku ingin kamu di dalamku, duduk berhadapan, seperti kita adalah satu." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah badai gairah yang menggila, Viana membutuhkan ketenangan, ke
Setelah keintiman mesra spooning yang membuai, Viana dan Wiro berbaring pelukan erat di ranjang sutra merah apartemen mewahnya. Napas mereka tenang, tapi hasrat Viana—gadis Tionghoa berusia 22 tahun dengan nafsu tak terbendung—kembali membara. Ia geliat pelan, putus pelukan, tatap Wiro dengan mata sipit berkilat liar. "Wiro... aku pengen yang lebih ganas sekarang," bisiknya serak, suara penuh godaan. "Aku mau kamu sodok dari belakang... mainin pantatku sampe puas. Explore doggy-style ini bareng aku." Wiro tersenyum tipis, kontolnya langsung tegang dengar kata-kata itu. Ia tahu Viana suka variasi, dan doggy-style jadi favoritnya buat eksplorasi dalam. "Siap, Viana. Aku bakal bikin kamu jerit nikmat," balasnya, suara rendah penuh janji. Viana bangkit cepat, berlutut di ranjang, posisi merangkak sempurna. Punggung rampingnya melengkung sensual, pantat bulat kenyal terangkat tinggi, belahan pantat terbuka lebar perlihatkan memek basah mengkilap rambut tipis dan lubang pantat pink mungil
Tapi tidak ada yang bergerak."PENGECUT! LO SEMUA PENGECUT!"Beni sendiri yang akhirnya maju. Tapi kali ini, dia tidak mengandalkan tinju. Dari balik jaketnya, dia mengeluarkan sebilah pisau lipat—pisau dengan mata yang panjang dan berkilat."Gue tusuk lo, bangsat!" desisnya sambil menyerang.Pisau
Wiro menyadari bahwa matahari sudah tinggi. Perutnya memang sudah mulai keroncongan—sarapan tadi pagi sudah lama tercerna."Belum.""Kalau begitu, aku traktir makan. Sebagai ucapan terima kasih sudah menolongku tadi.""Tidak perlu repot-repot, Mbak—""Wilona saja," potong wanita itu. "Jangan panggi
Siang itu, hujan deras mengguyur kota, membuat jalanan licin dan gelap. Wiro, pemuda berusia 19 tahun dengan tubuh atletis, membawa barangnya ke kosannya.Setelah itu, dengan naik taksi online, kini, dia, dan Wilona menuju kosannya Wilona. Wilona, gadis 23 tahun dengan rambut panjang bergelombang
Setelah sesi panas yang melelahkan di ruang tamu, Wiro dan Hartini terbaring di sofa, tubuh mereka basah keringat dan cairan cinta yang bercampur. Napas Hartini masih tersengal, dadanya naik-turun cepat, sementara Wiro memeluknya lembut dari samping, tangannya menyusuri punggungnya yang kini beba







