Home / Urban / Wiro sang Penakluk / 3 Melampiaskan Dendam pada Ibu dan Kakak Krisno

Share

3 Melampiaskan Dendam pada Ibu dan Kakak Krisno

Author: Heartwriter
last update Last Updated: 2026-01-28 16:05:41

Di dalam kamar, Widya berlutut di depan Wiro, tangannya gemetar membuka ikat pinggang celananya. Saat celana terbuka, matanya membelalak kaget. kejantanan Wiro yang luar biasa besar dan gagah membuatnya terpana.

"Ya ampun... ini... Kok bisa segede ini. Emph" gumamnya, sebelum bibirnya langsung melumatnya dengan rakus, penuh hasrat yang tak terkendali.

Wiro terkejut, tapi kekuatan baru dalam dirinya membuatnya tak menolak, malah, ia merasakan gelombang kenikmatan yang membuat dendamnya sejenak terlupakan. Siapa sangka, kalung ajaib itu bukan hanya untuk balas dendam, tapi juga membuka pintu baru dalam hidupnya...

***

Di dalam kamar tidur Widya yang mewah, suasana semakin panas.

Widya, dengan mata berbinar penuh nafsu, terus menikmati batang besar Wiro yang gagah dengan mulutnya yang rakus. Lidahnya berputar-putar, menghisap dengan lahap sambil bergumam penuh kekaguman, "Ahh... batangmu ini luar biasa, Nak! Besar sekali, keras seperti besi... Ibu belum pernah rasain yang segede dan sekuat ini. Kamu pejantan sejati!"

Wiro hanya menggeliat nikmat, tangannya meremas payudara montok Widya, merasakan kekuatan liontin yang membuatnya seperti ahli ranjang berpengalaman.

Tak puas hanya begitu, Widya mendorong Wiro ke kasur dan naik ke atasnya dalam posisi woman on top. Ia menurunkan pinggulnya perlahan, merenggangkannya oleh ukuran raksasa Wiro. "Aaaahhh! Gede banget! Masuk semua... oh ya ampun, enaknya!"

Widya mulai bergoyang liar, naik-turun dengan ritme gila, payudaranya berguncang hebat. Ia berteriak-teriak kegirangan, "Ini baru pria tangguh! Suamiku nggak ada apa-apanya dibanding ini! Aku klimaks terus... aaahh!"

Tubuhnya bergetar hebat, tapi Wiro masih kuat, mendesak balik dari bawah hingga Widya meraung-raung tak terkendali.

***

Sementara itu, di luar rumah, Krisno baru saja tiba dengan mobil mewahnya, membawa Lisa yang tersenyum manja di sisinya. "Ayo, sayang, aku kenalin kamu ke Ibu. Dia pasti suka kamu," kata Krisno sambil memeluk pinggang Lisa.

Mereka masuk, disambut pelayan rumah.

"Dimana ibuku?"

"Tuan Krisno, Nyonya sedang di kamar tidur bersama seorang pemuda tampan," lapor pelayan polos.

Krisno mengerutkan dahi. Ia tahu orang tuanya tak harmonis, ayahnya punya wanita simpanan, tapi ibunya, Widya, selalu menjaga image. "Apa? Bersama seorang pemuda? Itu nggak mungkin!" gumamnya.

Saat mereka mendekat ke koridor, suara keras dari kamar ibunya terdengar jelas, kamar itu memang tak kedap suara. "Aaaahh! Batangmu bikin Ibu gila! Lebih besar dari suamiku! Lagi... kasih lagi!" erang Widya.

Lisa terbelalak, tapi Krisno lebih heran lagi.

Saat itu, kakak perempuannya Krisno, Santi, seorang wanita 25 tahun yang seksi dengan tubuh atletis dan rambut panjang, keluar dari kamarnya. Ia juga mendengar suara ibunya yang vulgar itu. "Apa-apaan ini? Ibu kok begitu?" gumam Santi, tapi anehnya, suara rintihan itu justru membangkitkan gairahnya. Tubuhnya panas, celana dalamnya mulai basah.

***

Di dalam kamar, Widya mencapai klimaks luar biasa, meraung panjang sambil menyemprotkan cairannya deras ke batang Wiro. "Aaaahhhh! Klimaksnya gila! Kamu dewa ranjang!"

Saat itulah ketukan pintu terdengar. Wiro, dengan senyum licik, bangkit dan membuka pintu sedikit.

Santi berdiri di sana, matanya melebar melihat Wiro yang telanjang, badannya berotot dan aura maskulinnya memabukkan.

Wiro langsung menariknya masuk dan menutup pintu rapat, tanpa sempat dilihat Krisno dan Lisa yang masih di ujung koridor.

Tapi Wiro tahu Krisno ada di dekat sana; ia sempat dengar suaranya. 'Sempurna untuk balas dendam,' pikir Wiro. 'Krisno tiduri Lisa? Jadi Aku balas dengan akan tiduri ibu dan kakaknya!*

Santi langsung terpana melihat kejantanan Wiro yang masih tegak berdiri, basah oleh cairan Widya. "Kamu... siapa? Tapi... wow, gede banget!" katanya, gairahnya meledak.

Widya tertawa mesum dari kasur, "Ini pemuda ajaib, San! Coba rasain, kamu bakal ketagihan!"

Wiro tak buang waktu. Ia posisikan Santi doggy style, membungkuk dari belakang sambil dia menusuk Santi dalam-dalam.

"Aduh! Sakit! Tapi enak... gede banget, sobek rasanya!" jerit Santi kegirangan.

Sambil itu, jari-jari Wiro yang lincah, pengetahuan instan dari liontin, meski ia perjaka sebelumnya, dia kini dengan lihay, mengobrak-abrik kemaluan Widya yang masih basah.

Widya menggeliat, "Jarimu ajaib... oh ya, disitu! Bikin Ibu basah lagi!"

Wiro memuaskan keduanya secara bergantian: missionary pada Widya sambil Santi menunggang wajahnya, lalu reverse cowgirl pada Santi dengan Widya menciumnya di seluruh tubuhnya.

Bahkan saat Wiro klimaks hebat, menyemprotkan benihnya deras ke dalam Santi, secara ajaib batangnya langsung mengeras lagi, besar, keras, siap tempur.

"Ini nggak habis-habis! Kamu monster!" pekik Widya, sementara Santi meraung, "Lagi, Wiro! Jangan berhenti! Kami milikmu sekarang!"

Kedua wanita itu semakin ketagihan, tubuh mereka lemas tapi haus akan kejantanan Wiro yang tak terkalahkan.

Di luar kamar, Krisno dan Lisa hanya bisa mendengar rintihan demi rintihan, tanpa tahu bahwa dendam Wiro baru saja terbalaskan...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wiro sang Penakluk   9 Hujan Ciuman

    Setelah gelombang kenikmatan mereka mereda dalam posisi menyamping, Wiro perlahan menarik kontolnya yang masih setengah tegang dari memek Hartini yang basah dan penuh cairan mereka. Hartini menggeliat pelan, memutar tubuhnya menghadap Wiro dengan senyum lelah tapi penuh hasrat. “Aku ingin melihat wajahmu saat kita lakukan lagi,” bisiknya, tangannya menyentuh pipi pria itu lembut. Wiro mengangguk, matanya menatap mata Hartini yang berbinar, lalu ia bergeser ke atas, memposisikan tubuh macho-nya di antara paha wanita itu yang terbuka lebar.Hartini berbaring telentang di atas seprai yang kusut, rambutnya tersebar seperti mahkota hitam di bantal. Tubuhnya yang montok naik-turun pelan dengan napasnya, payudaranya yang besar bergoyang ringan. Wiro mencondongkan tubuhnya, tangan kanannya menopang berat badannya di samping kepala Hartini, sementara tangan kirinya menyusuri perutnya yang lembut, turun ke pinggul. “Kau cantik sekali, Tante,” gumamnya, suaranya dalam dan penuh kelembutan, s

  • Wiro sang Penakluk   8 Kau Luar Biasa

    Setelah beberapa saat berbaring saling peluk, napas mereka mulai tenang, tapi hasrat masih membara di antara keduanya. Hartini bergeser pelan, memutar tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dada Wiro yang lebar dan hangat. “Peluk aku dari belakang, sayang,” bisiknya lembut, tangannya meraih tangan Wiro dan menariknya melingkar di pinggangnya. Wiro tersenyum, tubuh macho-nya menyesuaikan posisi, kakinya menyatu dengan kaki Hartini dalam pelukan intim itu. Kontolnya yang mulai mengeras lagi menekan pantat bulat Hartini, merasakan kelembutan daging di sana.Hartini menggeliat pelan, pinggulnya bergoyang mundur untuk menggesekkan memeknya yang masih basah dan licin oleh campuran cairan mereka sebelumnya. “Masuk lagi, Wiro... pelan-pelan,” desahnya, suaranya penuh kelembutan mesra. Wiro mengangguk, tangan kirinya naik meraih payudara Hartini yang montok, jarinya memijat putingnya dengan lembut sementara tangan kanannya turun ke bawah, meraih batang kontolnya yang tebal. Ia mengarahka

  • Wiro sang Penakluk   7 Hartini Ingin di Atas

    Wiro berdiri di ambang pintu kamar mandi, napasnya masih tersengal setelah sesi panas tadi. Tubuhnya yang kekar, berotot dari latihan gym, basah oleh keringat dan air sisa mandi. Kontolnya yang masih setengah tegang bergoyang pelan saat ia melangkah keluar, siap menuju kamar tidur untuk berpakaian dan meninggalkan rumah ini. Tapi tiba-tiba, tangan lembut Hartini meraih lengannya dari belakang, menahannya dengan kuat.“Tunggu dulu, sayang,” bisik Hartini dengan suara serak penuh nafsu. Wanita berusia 29 tahun itu, dengan lekuk tubuhnya yang montok dan payudara besar yang masih basah, menatap Wiro dengan mata penuh hasrat. Rambutnya yang panjang menempel di kulitnya yang mulus, dan bibirnya melengkung dalam senyum menggoda. “Kita belum selesai. Aku ingin lanjut lagi di ranjang. Kali ini, aku yang di atas.”Wiro berbalik, alisnya terangkat terkejut tapi senyum nakalnya langsung muncul. “Oh ya? Kau nggak puas dengan yang tadi di kamar mandi?” tanyanya sambil memandang tubuh Hartini dar

  • Wiro sang Penakluk   6 Mandi Bareng

    Setelah sesi panas yang melelahkan di ruang tamu, Wiro dan Hartini terbaring di sofa, tubuh mereka basah keringat dan cairan cinta yang bercampur. Napas Hartini masih tersengal, dadanya naik-turun cepat, sementara Wiro memeluknya lembut dari samping, tangannya menyusuri punggungnya yang kini bebas dari rasa sakit. Liontin di leher Wiro masih hangat, seolah memberi energi tak habis-habis. "Bu, kita mandi yuk? Tubuh kita lengket semua," usul Wiro dengan suara rendah, bibirnya menyentuh telinga Hartini. Hartini tersenyum malu-malu, pipinya merona meski usianya sudah matang. "Iya, Mas. Ayo... bareng." Matanya berbinar penuh hasrat sisa, tangannya meraba-raba dada berotot Wiro. Ia bangkit pelan, kakinya agak gemetar karena orgasme berulang tadi, tapi langkahnya lebih ringan, punggungnya benar-benar sembuh. Wiro ikut berdiri, memeluk pinggang Hartini dari belakang saat mereka berjalan ke kamar mandi utama di ujung koridor. Tubuh Hartini yang montok terasa hangat menempel ke dadanya,

  • Wiro sang Penakluk   5 Gairah Tak Terbendung

    Hartini merasakan tubuhnya. Tulangnya seperti sejajar kembali, rasa nyeri hilang seolah disedot ke udara. "Bu, coba gerakkan pinggangnya," kata Wiro. Hartini bangkit pelan, memutar tubuhnya. "Astaga... hilang! Sakitnya benar-benar hilang, Mas! Kamu tukang sulap apa?" Ia tertawa gembira, memeluk Wiro impulsif. Tubuhnya menempel ke dada Wiro, dan saat itu, aroma parfum ringan Hartini bercampur keringat tipis membuat Wiro merasakan tarikan liontin lagi. Hartini tak langsung melepaskan pelukan; matanya bertemu mata Wiro, dan ada percikan di sana. "Terima kasih banyak, Mas. Kamu selamatkan hidup saya," bisik Hartini, suaranya bergetar. Wiro tersenyum, "Senang bisa bantu, Bu." Tapi Hartini tak mundur. Wajahnya mendekat, bibirnya menyentuh pipi Wiro pelan. sebuah ciuman terima kasih yang berubah menjadi sesuatu yang lebih. "Saya... saya nggak tahan, Mas. Sentuhanmu tadi... bikin saya panas," akunya malu-malu, pipinya merona. Wiro terkejut, tapi kekuatan liontin membuatnya tak me

  • Wiro sang Penakluk   4 Teknik Memijat

    Di ruang tamu, Krisno dan Lisa menunggu dengan bingung. Suara itu semakin keras. Dua suara perempuan yang sangat dia kenali, suara ibunya dan kakaknya, bercampur dalam simfoni yang membuat perutnya mual. "MAMA!" Krisno berlari ke kamar ibunya, menggedor pintu dengan brutal. "MAMA! KAK SANTI! APA YANG TERJADI?!" Tidak ada jawaban. Hanya desahan dan teriakan yang semakin intens. Lisa berdiri di belakang Krisno, wajahnya pucat pasi. "Krisno... ini..." "BUKA PINTUNYA!" Krisno terus menggedor hingga tangannya memerah. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit yang terasa seperti neraka. Akhirnya, suara-suara itu mereda. Langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu terbuka dengan santai. Dan sosok yang muncul membuat Krisno merasa seluruh dunianya runtuh. "Wiro?!" Wiro berdiri di ambang pintu, bertelanjang dada, dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakangnya, di atas tempat tidur, Widya dan Santi terbaring dengan kondisi yang tidak perlu dijelaskan. "Hai, Krisno,"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status