LOGINAcong berjongkok di samping mayat itu. Tangannya menyentuh senapan sniper yang masih hangat, lalu matanya menyapu ke arah jendela. Dari posisi ini, dia bisa melihat pelataran markas Naga Hitam di kejauhan. Lima ratus meter. Dengan scope berkualitas tinggi, tembakan sniper dari jarak ini memang bisa dilakukan oleh penembak profesional.Tapi menembak balik dari jarak yang sama, dengan senapan pendek, tanpa scope, dan mengenai target di dahi... Itu sesuatu yang sangat berbeda. Acong menelan ludahnya dengan susah payah."Kak Acong," salah seorang anak buahnya yang ikut naik menatap mayat di lantai dengan wajah pucat. "Ini... siapa yang menembak orang ini?"Acong berdiri dan berbalik. Wajahnya datar, tidak menunjukkan apapun."Entahlah," katanya pendek. "Mungkin dia bunuh diri setelah gagal menembak Nyonya Sonya."Anak buahnya menatap Acong dengan ekspresi bingung yang jelas mengatakan bahwa dia tidak percaya penjelasan itu, tapi dia cukup pintar untuk tidak bertanya lebih lanjut.Acong b
Waktu melambat.Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, pikiran Wiro memproses segalanya. Jarak. Sudut. Lintasan peluru. Kecepatan angin. Waktu yang tersisa sebelum peluru meninggalkan laras.Dia tidak sempat menjelaskan. Tidak sempat berteriak memberi peringatan. Hanya sempat bertindak.Wiro melompat ke arah Sonya.Tangannya meraih pinggang wanita itu dan menariknya ke bawah, tubuhnya menutupi tubuh Sonya saat mereka berdua jatuh ke lantai pelataran.Suara tembakan memecah udara sore yang damai.Peluru berkaliber tinggi melesat di atas mereka, tepat di posisi kepala Sonya berada sedetik yang lalu, dan menghantam tugu pelantikan dengan kekuatan destruktif yang mengerikan. Batu granit tugu itu pecah, serpihan-serpihannya berterbangan ke segala arah, dan suara ledakannya bergema di antara gedung-gedung di sekitar pelataran.Kepanikan meledak.Orang-orang berteriak dan berlarian. Beberapa menjatuhkan diri ke tanah secara refleks. Para pengawal langsung bergerak, tubuh-tubu
Setelah rombongan Frans menghilang sepenuhnya, Sonya menoleh ke arah Acong."Acong."Acong yang sedang ber-tos ria dengan beberapa orang langsung menegakkan tubuhnya. "Ya, Nyonya Sonya?""Pria muda yang mengalahkan Wenggo. Dia siapa?""Oh, itu Wiro. Murid saya." Acong menjawab dengan dada yang dibusungkan.Sonya memiringkan kepalanya sedikit. Matanya memandang Acong dengan tatapan yang datar dan menilai."Muridmu.""Benar.""Acong, selama ini yang aku tahu, kemampuanmu... bagaimana mengatakannya secara halus...""Biasa saja?" Acong menelan ludahnya."Sangat biasa saja."Beberapa orang di sekitar mereka menahan tawa.Acong berdehem keras-keras. Dia menegakkan tubuhnya setinggi mungkin, merapikan kerah bajunya, dan memasang ekspresi yang berusaha terlihat misterius tapi lebih menyerupai orang yang sedang menahan buang angin."Nyonya Sonya," katanya dengan suara yang dibuat-buat berat dan bijaksana, "selama ini saya memang tidak pernah menunjukkan kekuatan saya yang sebenarnya. Saya seng
Wenggo terbaring di lantai seperti gunung yang runtuh. Retakan di marmer menjalar dari tubuhnya ke segala arah. Debu halus masih beterbangan di udara.Dan di tengah keheningan yang mencekam itu, Sonya Sanjaya berdiri dari kursinya.Bukan berdiri dengan ragu-ragu. Bukan berdiri dengan gemetar. Tapi berdiri dengan punggung tegak dan bahu yang terangkat, seolah beban yang selama empat hari ini menghimpitnya baru saja terangkat oleh tangan yang tak terlihat.Matanya yang tadi redup kini menyala. Bukan kobaran api yang liar, tapi nyala lilin yang mantap, jenis cahaya yang tidak akan padam meskipun diterpa angin sekeras apapun.Sonya melangkah dari balik meja dan berjalan ke tengah ruangan. Langkahnya terdengar jelas di antara keheningan yang masih menggantung. Gaun hitam berkabungnya berkibar pelan di setiap langkah.Dia berhenti tepat di hadapan Frans Sadikin."Kau sudah berjanji, Frans," kata Sonya. Suaranya tenang tapi tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang meragukan ketegasan di
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Di pihak Sonya, wajah-wajah pucat saling berpandangan dengan tatapan putus asa.Frans Sadikin menyilangkan tangannya di dada. "Masih ada yang mau maju?"Tidak ada yang bergerak.Frans melangkah mendekati Sonya. Setiap langkahnya membuat orang-orang di sekitarnya menyingkir."Lihat, Sonya," katanya dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh orang-orang terdekat. "Kau cantik. Aku akui itu. Mamat memang punya selera yang bagus. Dan aku orang yang menghargai kecantikan."Dia mengulurkan tangannya, jarinya yang panjang berusaha meraih dagu Sonya."Kau boleh tetap menjadi pemimpin," katanya dengan seringai yang menjijikkan. "Asalkan kau menjadi istriku. Atau kalau kau tidak keberatan, selirku juga boleh. Dengan begitu, menjadi istri pemimpin sama saja dengan pemimpin, bukan? Semua orang senang. Kau tetap di atas, dan aku..."Tamparan Sonya mendarat di pipi Frans Sadikin sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.Suara tamparan itu berge
Orang-orang di pihak Sonya langsung tegang. Beberapa mundur secara refleks. Beberapa meraih senjata di pinggang mereka tapi tidak berani menariknya keluar.Karena di belakang Frans Sadikin, berdiri sesuatu yang membuat nyali siapa pun mengkerut.Seorang pria. Atau lebih tepatnya, sebuah gunung daging yang berbentuk manusia. Tingginya mencapai dua ratus dua puluh sentimeter, dengan lebar bahu yang nyaris menyentuh kedua sisi pintu saat dia masuk. Tangannya, yang masing-masing sebesar kepala orang dewasa, tergantung di samping tubuhnya seperti dua godam besi. Wajahnya lebar dan datar dengan mata kecil yang nyaris tersembunyi di balik dahi yang menonjol, hidungnya pesek dan sudah pernah patah berkali-kali, dan mulutnya terbuka sedikit, memperlihatkan gigi-gigi yang tidak rata.Wenggo. Si Raksasa.Reputasinya sudah melegenda di dunia bawah tanah kota Delta. Tubuhnya yang luar biasa besar itu bukan hanya untuk pajangan. Dia dikenal kebal pukulan, seolah kulitnya terbuat dari lapisan baja
Setelah malam penuh gairah yang melelahkan, Wiro dan Wilona terbangun pelan saat sinar pagi menyusup melalui tirai kamar. Tubuh mereka masih lengket oleh keringat dan sisa-sisa cairan kenikmatan dari sesi doggy style yang panjang itu. Wilona tersenyum malas, tangannya merayap ke dada Wiro yang bi
Setelah beberapa saat berbaring saling peluk, napas mereka mulai tenang, tapi api hasrat di antara Wiro dan Wilona belum padam. Tubuh Wilona masih bergetar ringan dari orgasme tadi, memeknya terasa penuh dengan sperma hangat Wiro yang bocor pelan ke paha dalamnya. Ia menggeser posisi, menatap waj
Pagi itu, kota terasa lebih cerah dari biasanya—setidaknya bagi Wiro.Semalam, setelah menyembuhkan Bu Hartini, Wiro kembali ke kosannya. Pagi ini, Wiro ingin mengambil barang-barangnya yang ditinggalkan di dekat cafe semalam. Dia berharap kardus berisi pakaian dan barang-barang pribadinya masih
Tapi tidak ada yang bergerak."PENGECUT! LO SEMUA PENGECUT!"Beni sendiri yang akhirnya maju. Tapi kali ini, dia tidak mengandalkan tinju. Dari balik jaketnya, dia mengeluarkan sebilah pisau lipat—pisau dengan mata yang panjang dan berkilat."Gue tusuk lo, bangsat!" desisnya sambil menyerang.Pisau







