تسجيل الدخولWiro baru saja bergabung dengan Naga Hitam, organisasi mafia paling ditakuti di Kota Delta. Hari pertama, ia selamatkan Sonya, pemimpin berusia 28 tahun yang cantik dan kejam, dari pembunuhan. Sonya, wanita berambut hitam panjang, kulit putih mulus, dan tubuh montok sempurna, kagum pada Wiro. Hesty, asisten Sonya, panggil Wiro ke suite mewahnya. Saat masuk, Sonya berendam telanjang di kolam kecil kamarnya, air uap basahi payudara kencang dan pinggul lebarnya. "Ambilkan handuk," perintahnya lembut. Wiro ambil handuk, bentang. Sonya keluar dari kolam, tubuh telanjang basah mengkilap, air tetes di puting merah muda dan memek berambut tipis. Ia berdiri dekat Wiro, harap diserang. Tapi Wiro diam, tatap lurus. Sonya kecewa, lipat handuk di tubuh. "Kenapa nggak serang aku? Tubuhku kurang indah?" tanya dingin, mata tajam. Wiro tenang, "Untuk tidur sama gue, wanita yang harus agresif, bukan gue." Sonya tersenyum licik, lempar handuk. "Tantangan diterima!" dia Langsung serang: tangannya ro
Acong berjongkok di samping mayat itu. Tangannya menyentuh senapan sniper yang masih hangat, lalu matanya menyapu ke arah jendela. Dari posisi ini, dia bisa melihat pelataran markas Naga Hitam di kejauhan. Lima ratus meter. Dengan scope berkualitas tinggi, tembakan sniper dari jarak ini memang bisa dilakukan oleh penembak profesional.Tapi menembak balik dari jarak yang sama, dengan senapan pendek, tanpa scope, dan mengenai target di dahi... Itu sesuatu yang sangat berbeda. Acong menelan ludahnya dengan susah payah."Kak Acong," salah seorang anak buahnya yang ikut naik menatap mayat di lantai dengan wajah pucat. "Ini... siapa yang menembak orang ini?"Acong berdiri dan berbalik. Wajahnya datar, tidak menunjukkan apapun."Entahlah," katanya pendek. "Mungkin dia bunuh diri setelah gagal menembak Nyonya Sonya."Anak buahnya menatap Acong dengan ekspresi bingung yang jelas mengatakan bahwa dia tidak percaya penjelasan itu, tapi dia cukup pintar untuk tidak bertanya lebih lanjut.Acong b
Waktu melambat.Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, pikiran Wiro memproses segalanya. Jarak. Sudut. Lintasan peluru. Kecepatan angin. Waktu yang tersisa sebelum peluru meninggalkan laras.Dia tidak sempat menjelaskan. Tidak sempat berteriak memberi peringatan. Hanya sempat bertindak.Wiro melompat ke arah Sonya.Tangannya meraih pinggang wanita itu dan menariknya ke bawah, tubuhnya menutupi tubuh Sonya saat mereka berdua jatuh ke lantai pelataran.Suara tembakan memecah udara sore yang damai.Peluru berkaliber tinggi melesat di atas mereka, tepat di posisi kepala Sonya berada sedetik yang lalu, dan menghantam tugu pelantikan dengan kekuatan destruktif yang mengerikan. Batu granit tugu itu pecah, serpihan-serpihannya berterbangan ke segala arah, dan suara ledakannya bergema di antara gedung-gedung di sekitar pelataran.Kepanikan meledak.Orang-orang berteriak dan berlarian. Beberapa menjatuhkan diri ke tanah secara refleks. Para pengawal langsung bergerak, tubuh-tubu
Setelah rombongan Frans menghilang sepenuhnya, Sonya menoleh ke arah Acong."Acong."Acong yang sedang ber-tos ria dengan beberapa orang langsung menegakkan tubuhnya. "Ya, Nyonya Sonya?""Pria muda yang mengalahkan Wenggo. Dia siapa?""Oh, itu Wiro. Murid saya." Acong menjawab dengan dada yang dibusungkan.Sonya memiringkan kepalanya sedikit. Matanya memandang Acong dengan tatapan yang datar dan menilai."Muridmu.""Benar.""Acong, selama ini yang aku tahu, kemampuanmu... bagaimana mengatakannya secara halus...""Biasa saja?" Acong menelan ludahnya."Sangat biasa saja."Beberapa orang di sekitar mereka menahan tawa.Acong berdehem keras-keras. Dia menegakkan tubuhnya setinggi mungkin, merapikan kerah bajunya, dan memasang ekspresi yang berusaha terlihat misterius tapi lebih menyerupai orang yang sedang menahan buang angin."Nyonya Sonya," katanya dengan suara yang dibuat-buat berat dan bijaksana, "selama ini saya memang tidak pernah menunjukkan kekuatan saya yang sebenarnya. Saya seng
Wenggo terbaring di lantai seperti gunung yang runtuh. Retakan di marmer menjalar dari tubuhnya ke segala arah. Debu halus masih beterbangan di udara.Dan di tengah keheningan yang mencekam itu, Sonya Sanjaya berdiri dari kursinya.Bukan berdiri dengan ragu-ragu. Bukan berdiri dengan gemetar. Tapi berdiri dengan punggung tegak dan bahu yang terangkat, seolah beban yang selama empat hari ini menghimpitnya baru saja terangkat oleh tangan yang tak terlihat.Matanya yang tadi redup kini menyala. Bukan kobaran api yang liar, tapi nyala lilin yang mantap, jenis cahaya yang tidak akan padam meskipun diterpa angin sekeras apapun.Sonya melangkah dari balik meja dan berjalan ke tengah ruangan. Langkahnya terdengar jelas di antara keheningan yang masih menggantung. Gaun hitam berkabungnya berkibar pelan di setiap langkah.Dia berhenti tepat di hadapan Frans Sadikin."Kau sudah berjanji, Frans," kata Sonya. Suaranya tenang tapi tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang meragukan ketegasan di
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Di pihak Sonya, wajah-wajah pucat saling berpandangan dengan tatapan putus asa.Frans Sadikin menyilangkan tangannya di dada. "Masih ada yang mau maju?"Tidak ada yang bergerak.Frans melangkah mendekati Sonya. Setiap langkahnya membuat orang-orang di sekitarnya menyingkir."Lihat, Sonya," katanya dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh orang-orang terdekat. "Kau cantik. Aku akui itu. Mamat memang punya selera yang bagus. Dan aku orang yang menghargai kecantikan."Dia mengulurkan tangannya, jarinya yang panjang berusaha meraih dagu Sonya."Kau boleh tetap menjadi pemimpin," katanya dengan seringai yang menjijikkan. "Asalkan kau menjadi istriku. Atau kalau kau tidak keberatan, selirku juga boleh. Dengan begitu, menjadi istri pemimpin sama saja dengan pemimpin, bukan? Semua orang senang. Kau tetap di atas, dan aku..."Tamparan Sonya mendarat di pipi Frans Sadikin sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.Suara tamparan itu berge
Setelah gelombang kenikmatan mereka mereda dalam posisi menyamping, Wiro perlahan menarik kontolnya yang masih setengah tegang dari memek Hartini yang basah dan penuh cairan mereka. Hartini menggeliat pelan, memutar tubuhnya menghadap Wiro dengan senyum lelah tapi penuh hasrat. “Aku ingin melihat
Setelah beberapa saat berbaring saling peluk, napas mereka mulai tenang, tapi hasrat masih membara di antara keduanya. Hartini bergeser pelan, memutar tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dada Wiro yang lebar dan hangat. “Peluk aku dari belakang, sayang,” bisiknya lembut, tangannya meraih tan
Setelah gelombang orgasme kedua mereda, Wiro dan Clarissa masih meringkuk dalam posisi spooning yang hangat, kontol Wiro perlahan menyusut di dalam memek Clarissa yang basah dan penuh sperma. Cairan campuran menetes pelan ke paha mereka, tapi tak ada yang peduli. Napas mereka mulai tenang, tapi ha
Wiro berdiri di ambang pintu kamar mandi, napasnya masih tersengal setelah sesi panas tadi. Tubuhnya yang kekar, berotot dari latihan gym, basah oleh keringat dan air sisa mandi. Kontolnya yang masih setengah tegang bergoyang pelan saat ia melangkah keluar, siap menuju kamar tidur untuk berpakaia







