LOGINWhen a chance encounter in a dimly lit club leads her into the orbit of Dominic Valente.The enigmatic head of New York’s most powerful crime family journalist Aria Cole knows she should walk away. But one night becomes a dangerous game of temptation and power. Dominic is as magnetic as he is merciless, and behind his tailored suits lies a man used to getting exactly what he wants. What begins as a single, reckless evening turns into a web of secrets, loyalty tests, and a passion that threatens to burn them both. As rival families circle and the law closes in, Aria must decide whether their connection is worth the peril or if loving a man like Dominic will cost her everything.
View More"Tidurlah denganku!" kata Dion yang membuat Renata membatu.
Air mata Renata merembes keluar, dirinya tidak menduga kalau Dion atasannya meminta hal yang tidak seharusnya diminta oleh seorang pria beristri.
Renata menatap Dion dengan tatapan yang tak biasa, dia tidak menduga jika Dion tega terhadap bawahannya sendiri.
Suami Renata sakit keras saat ini sehingga dia memerlukan banyak uang untuk biaya operasi sang suami dan Dion lah opsi terakhir Renata namun syarat dari Dion pantang dilakukan.
Apa ini, bagaimana bisa seorang istri tidur dengan pria lain saat suaminya sakit keras?
"Pak, suami saya sedang sakit keras bagiamana anda bisa meminta saya untuk tidur dengan anda?" tanya Renata dengan air mata yang terus mengalir.
Dion tertawa lalu beranjak dari kursi kebesarannya, dia mendekati Renata dan
meletakkan sebagian pantatnya di ujung meja dengan kaki yang ikut menumpu tubuhnya."Itu masalah kamu Renata, aku hanya memberikan dua opsi, pertama tidur denganku dan dapatkan uangnya. Kedua, kamu menolak permintaan aku dan melihat suami kamu meregang nyawa," kata Dion.
Air mata Renata mengalir semakin deras, hatinya sungguh tercabik, dilema kini bersarang di hatinya. Apa dia terima saja keinginan Dion, toh Andika suaminya juga nggak akan tau.
"Cepatlah Renata, aku tidak ada waktu menunggumu berpikir apalagi dibarengi dengan tangisan yang membuat aku muak," ucap Dion.
Renata mengiba dan memohon namun Dion tidak mau diajak berunding sehingga mau nggak mau dirinya menyetujui keinginan Dion.
"Baiklah," kata Renata.
Tersungging senyuman di bibir Dion, akhirnya dia dapat menyalurkan hasrat yang selama sebulan ini tak tersalurkan.
Dion adalah seorang CEO, dia memiliki istri seorang dokter, sedangkan Renata adalah staf di kantor Dion. kemungkinan Dion kurang perhatian dan sentuhan dari sang istri.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Dion.
"Satu Milyar," jawab Renata.
Dion membolakan matanya, tak disangka Renata memerlukan uang yang sangat banyak.
"Banyak sekali," sahut Dion.
"Anda bisa memotong dari gaji saya setiap bulan Pak?" ucap Renata.
Dion tertawa, kalau dipotong dari gaji, berapa tahun Renata baru bisa melunasinya.
"Karena kamu adalah staf aku jadi kamu nggak perlu hutang," tukas Dion.
Mata Renata berbinar tak disangka Dion masih berbiak hati padanya.
"Terima kasih pak," ucap Renata.
"Tapi satu kali kamu tidur denganku aku akan membayarnya seratus juta, kalau kamu memerlukan uang satu milyar bearti kamu harus tidur denganku sepuluh kali," ungkap Dion.
Lagi-lagi Renata membolakan matanya, dia kira Dion hanya sekali tidur namun Dion meminta lebih.
Kalau dipikir seratus juga adalah nilai yang kecil jika ditukar dengan harga dirinya tapi bagaimana lagi? biaya rumah sakit untuk pasien kanker memang tidak murah apalagi harus kemoterapi dan lain-lain.
"Kenapa harus begitu?" tanya Renata.
"Seratus juta itu sudah angka yang fantastis mengingat kamu tidak virgin lagi, tapi kalau menurut kamu harga yang aku tawarkan terlalu murah, kamu cari saja orang lain," jawab Dion lalu dirinya beranjak dan siap-siap untuk pulang.
Pikiran Renata kalut, dia sungguh dilema. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menerima harga yang ditentukan bos nya tersebut.
"Bagus, habis ini ikut aku ke hotel," kata Dion.
"Baik Pak," sahut Renata.
Setibanya di kamar hotel, Dion membersihkan diri lalu keluar dengan handuk kimono yang sudah di sediakan oleh pihak hotel sedangkan Renata hanya diam membatu di sofa sembari meremat jari-jemarinya.
Dion menghela nafas, dia sungguh kesal dengan Renata yang malah duduk mematung di sofa.
"Renata, apa kamu pikir dengan hanya duduk di sana hasrat aku akan tersalurkan?" protes Dion.
"Maaf pak, kalau begitu saya mandi dulu," sahut Renata lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setalah selesai mandi, Renata keluar dengan memakai pakaiannya kembali. Dion yang melihatnya menepuk tempat di sampingnya meminta Renata untuk mendekat.
"Kemari lah Renata," titah Dion.
Dengan langkah pelan dan tubuh gemetar, Renata mendekati Dion, dia duduk di tepi ranjang dengan pandangan ke bawah alias menunduk.
"Kalau kamu duduk membelakangi aku kira-kira kapan kita bisa memulai percintaan kita Renata." Lagi-lagi Dion protes pada Renata.
Dion sungguh heran perasaan Renata adalah wanita bersuami seharusnya dia tau bagaimana adabnya orang yang akan bercinta.
"Maaf Pak," kata Renata.
Renata menghela nafas, perlahan dia mendekat namun masih dengan pakaian lengkapnya.
"Kamu sungguh membuat aku pusing, aku memberi kamu pilihan, aku atau kamu sendiri yang melepas pakaian kamu," kata Dion dengan nada yang tinggi.
"Biar saya saja," sahut Renata dengan takut.
"Oh ya tapi aku ingatkan, kamu jangan sekali-kali baper dengan percintaan panas kita, ini hanya untuk kesenangan semata nggak lebih," kata Dion.
Renata mengangguk sambil melepas satu persatu kancing bajunya.
Setelah semua terlepas dari tubuhnya, Renata menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Aku heran denganmu, baju dilepas tapi kini tubuh dibungkus selimut, mau kamu itu apa?" tanya Dion heran.
"Saya malu pak," jawab Renata, seakan tidak ingin tubuhnya dinikmati oleh Dion.
"Buka!" bentak Dion, dirinya sudah kehilangan kesabaran.
Dengan gemetar Renata membuka selimut yang menutup tubuhnya dan kini tubuhnya polos di samping Dion.
Dion menelan salivanya, sungguh Renata memiliki tubuh putih bersih dengan bagian dada yang lumayan besar.
"Apa kamu siap dengan percintaan panas kita?" tanya Dion yang juga ikut melepas handuk kimono yang dia pakai.
Langsung saja Dion menerjang Renata, dengan hasrat yang terus bergejolak dirinya menikmati bibir manis Renata, tangannya terus bergerilya menjelajah seluruh tubuh wanita yang akan memuaskannya.
Air mata Renata lolos sudah, tubuh yang seharunya dia jaga untuk sang suami kini harus dia bagi dengan pria lain yang tak lain adalah bosnya sendiri.
"Maafkan aku mas Andika yang telah berhianat," batin Renata.
Lidah Dion terus menjelajah pucuk dada Renata sehingga membuat Renata mengeluarkan desahan lirih.
Puas dengan dada Renata dia segera menyatukan miliknya dan milik Renata.
"Aaahhhhhhh," lengu-han panjang dari keduanya terdengar nyaring.
Baik Dion maupun Renata sama-sama merasakan nikmat yang luar biasa. Goa yang masih sempit membuat Dion terasa dijepit.
"Nikmat sekali Renata, bagiamana bisa wanita bersuami memiliki goa yang begitu menggigit seperti ini," kata Dion yang mulai memaju mundurkan miliknya.
"Iya," sahut Renata dengan memejamkan matanya membayangkan kalau yang bercinta dengannya adalah Andika sang suami.
Renata memang masih memiliki goa yang sempit karena dirinya baru dua tahun menikah dan setahun terakhir ini dirinya jarang sekali disentuh karena sakit yang diderita Andika sang suami.
Keduanya hanyut dalam percintaan panas penuh nikmat hingga mereka lupa kalau mereka adalah istri dan suami orang.
The Valente Penthouse loomed over Manhattan like a silent watchtower, glass and steel glinting beneath the bruised dusk. Inside, the atmosphere was heavy…precise. The city stretched beneath Dominic like a map of his empire — every building, every street, every shadow, a reminder of what he ruled… and what could burn if he ever lost focus. He sat at the long obsidian table, sleeves rolled to the elbows, a half-drunk glass of whiskey in front of him. The faint hum of the city filtered through the floor-to-ceiling windows, a steady pulse matching the quiet storm under his skin. Dominic Valente didn’t do mistakes. Yet he’d made one — and she had a name. Aria Cole. He said it in his head like a curse, but it came out more like an ache. The reporter who’d appeared out of nowhere, flashing those sharp eyes, those questions, that dangerous curiosity that had brushed too close to his truth. He should’ve cut her out of the picture weeks ago — should’ve erased her from the grid the mom
The morning light crept through the blinds, a pale intrusion against Aria’s fogged mind. The photograph lay on her coffee table..her body tangled with his, blurred at the edges but unmistakably intimate. Her stomach turned every time her eyes found it, a reminder of something she couldn’t define—half desire, half warning. Who would have sent this? Why now? She’d tried to convince herself it was a prank or a threat from one of her sources. But deep down, a voice she didn’t want to acknowledge whispered his name. Dominic Valente. She tucked the photo back into the envelope, her pulse tight. Whoever sent it knew where she lived. That alone was reason enough to panic. Her phone buzzed, “Meet me. Usual spot.” It was Jenna from the Tribune, the one friend Aria still trusted in that shark tank of a newsroom. Aria grabbed her coat and left, the envelope clutched like evidence of a crime she hadn’t realized she was part of. The smell of burnt espresso and rain-soaked streets filled the
Morning sunlight cut through the blinds of Aria’s apartment, carving the room into fragments of gold and shadow. The air still carried him, Dominic, the scent of smoke, rain, and danger. Her sheets were twisted, clinging to her like a secret she didn’t know how to bury.She hadn’t slept much. Every time she closed her eyes, she saw flashes of him , his jaw clenched in restraint, his voice rough with filthy words. She’d thought she understood power before; she’d written about men who owned the city from behind boardroom walls. But Dominic Valente wasn’t like them. He didn’t own the city; the city bent to him.Now, every thought was war.The journalist in her screamed to move on, to write, to file the story and end it.The woman in her couldn’t stop replaying the feel of his hands, the way he'd played her like a piano, the way danger and desire had tangled so completely that she no longer knew where one ended and the other began.Her camera sat on the counter, a silent witness. The mem
Aria woke to a morning so bright it felt staged, the city stretched beneath a thin winter sun. The night before still clung to her like smoke: the chase through the pier, the cold burn of rain, Dominic’s unreadable eyes. She made coffee twice as strong as usual and tried to convince herself that the flash drive on her desk was just another assignment.But the apartment felt smaller now. Each creak in the floorboard, each distant siren, sounded amplified, as if the world outside were pressing closer. She left the curtains half-drawn, nervous without knowing why.By early afternoon she’d written nothing. Her notes remained blank, her recorder untouched. She sat cross-legged on the couch, laptop open but screen dark, the flash drive a small, accusing weight beside it. She could almost feel the city breathing under her window: traffic in long sighs, a rhythm too deliberate to ignore.A soft knock broke the hush.Her first thought was that it was a neighbor, maybe a package. The second, sh
Rain drummed harder as Dominic signaled her forward, two fingers slicing the dark. Aria clutched the flash drive until the metal edges bit her palm. Behind them the single set of footsteps crept closer, deliberate, like someone savoring the hunt.Dominic moved with a silent precision that made the
The rain hadn’t stopped by morning. Aria stood at her kitchen sink, watching the gray skyline blur behind streaked glass, the last line of the night’s message replaying in her mind: “Your move”Her laptop glowed on the counter. Every instinct told her to pull the plug, to run a mile from Dominic Va
Rain drummed against the fire escape, a restless rhythm outside Aria’s window.She shut the door with her heel, tossed her damp coat across a chair, and went straight for the laptop. The heater rattled awake, but the one-room walk-up stayed cool, carrying the city’s metallic scent.The memory card
Rain slicked the alley outside club Vesper, turning the neon signs into rivers of pink and blue. Aria Cole pulled her hood tighter and checked the time on her phone, 11:58 p.m. Two minutes to midnight The tip had been maddenly vague:Valente's people meet on Thursdays. Black entrance. Midnight. Vag
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.