LOGIN"Mas, kenapa kamu mengatakan itu? Itu salah, itu fitnah! Bagaimana kalau nanti Oma, Mami, dan yang lainnya menonton?" tanya Renjana di dalam mobil setelah acara selesai. Renjana mendapat bayaran lebih setelah Andra mengatakan hal itu, karena menjadi tayangan perdana. Andra tidak menggubris. Ia sibuk melihat saldo Renjana yang semakin menggemuk. "Sudahlah, gapapa, Renjana. Bagus itu, toh kamu juga lagi program hamil sama Naren!" jawab Andra enteng, membuat Renjana menghela nafas panjang dan membuang wajah ke arah jendela. Ia merasa teramat kecewa dengan perlakuan Andra yang semakin semena-mena. "Tapi bagaimana kalau gagal?" tanya Renjana kembali menatap Andra. "Jangan khawatir, Naren subur. Makanya sering-seringlah minta sama dia selama kalian menjalani proses ini. Aku tak akan menyentuhmu, biarkan kamu fokus bersama Naren!" jelasnya, dan ucapan terakhir itu sukses membuat hati Renjana seolah diremas dengan kuat. "Mas, kamu enteng banget ngomongnya!" "Diam, Renjan
"Wah, sepertinya bakal ada kejutan, nih, Sobat Ambyar!" sela sang host dengan senyum semringah. "Kejutannya apa? Jangan ke mana-mana, ya. Kita kembali lagi setelah jeda iklan!" Ucapan itu sontak memancing rasa penasaran para penonton. Tak sedikit yang terdengar mengeluh karena harus menunggu. Beberapa saat kemudian, acara pun memasuki jeda iklan. Selama siaran dihentikan sementara, seluruh kru, host, dan para bintang tamu memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sejenak, makan, atau minum sebelum kembali melanjutkan acara. "Minum dulu, Mbak," ucap seorang remaja perempuan menghampiri Renjana, menyerahkan roti dan sebotol minuman. "Tunggu, Nak..." cegah Renjana saat gadis itu hendak pergi. "Iya, Kak?" "Kamu bekerja?" Gadis itu mengangguk pelan. "Lalu... kamu masih sekolah?" Perlahan, gadis itu menggeleng. Tatapannya jatuh ke lantai. "Kenapa, Sayang?" tanya Renjana dengan suara yang jauh lebih lembut. Ia bangkit, lalu menuntun gadis itu untuk duduk di kursi yang s
Keesokan harinya benar saja, Renjana dituntut sudah harus sembuh oleh Andra. "Sayang, kamu kemana saja? Kenapa jarang ada di rumah akhir-akhir ini? Aku sakit, Mas, apa-apa serba sendirian," keluh Renjana saat pagi buta Andra baru pulang dengan keadaan yang sudah kusut masai. Mendengar itu, Andra mendelik tajam. "Jangan lebay, Renjana! Kamu gak apa-apa sendiri, ada pembantu yang ladenin kamu!" desisnya sambil fokus membuka semua bajunya, berencana ingin mandi. "Mas, tunggu... tunggu..." sela Renjana saat melihat leher Andra merah, ada beberapa bercak di sana. "Ada apa itu, Mas? Tanda ini lagi?" pekiknya sambil menyambar tangan Andra dengan cepat. Pria itu langsung tertegun, lalu detik kemudian ia menepis tangan Renjana dengan kasar. "Apasih, Renjana! Ini nih yang aku males dari kamu. Pulang kerja bukannya disambut, malah dicurigai mulu! Kamu mau aku pulang ke rumah Mami lagi dan mengadukan lagi kalau kamu udah fitnah aku?" ancamnya, membuat Renjana mengatupkan bibirny
"Enggak, kenapa aku jadi gini?" tanyanya pada diri sendiri, menatap atap langit dengan pandangan yang sulit ia jelaskan. "Ini salah. Apa yang aku lakukan tadi? Apa yang aku katakan tadi pada Naren?" "Apa tadi aku tersipu?" ucapnya lagi, terus memikirkan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan sejak tadi dalam tubuhnya. "Ah, ini salah!" teriaknya frustrasi dengan meraup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya itu. Ia menggigit bibirnya dengan kuat, sampai-sampai... "Aw..." pekik Renjana pelan. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya terlalu kuat karena terus memikirkan kejadian tadi. Belum sempat ia menenangkan diri, suara ketukan di pintu tiba-tiba memecah keheningan. Renjana sontak menoleh ke arah pintu. "Nyonya, buburnya sudah siap," teriak asisten di luar sana. Dikarenakan kamarnya kedap suara, ia langsung bangkit dan membuka pintu dari dalam. "Simpan saja di atas meja, Bi," ucap Renjana yang langsung mendapat anggukan dari sang asisten. Renjana mulai meny
Sesampainya di mansion, Renjana justru disambut dengan suasana yang begitu sepi. Rumah seluas itu terasa hampa karena tak ada siapa pun. Tanpa sadar, Renjana mengembuskan napas panjang. Renjana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah yang terasa begitu lengang. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga tergopoh-gopoh menghampirinya dan dengan sigap mengambil tas yang masih dijinjingnya. "Maaf Nyonya, saya tidak mendengar nyonya masuk," ucapnya hati-hati sambil terus menundukkan kepalanya, merasa sangat malu dan bersalah. Renjana hanya tersenyum simpul. "Gak apa-apa, tapi lain kali jangan gitu ya, takut ada tamu penting. Kamu kan ditugaskan di depan," tegurnya dengan secara sehalus mungkin. Asisten rumah tangga itu mengangguk hormat. Ia mempersilakan sang nyonya masuk ke kamar terlebih dahulu, lalu mengikuti di belakangnya. "Bi, tolong siapkan bubur ayam sama buah-buahan segar," titah Renjana pada sang asisten, yang langsung ditanggapi dengan angguk
"Get well soon sahabat cantikku!" Renjana membaca caption itu, namun yang menjadi masalah bukan itu, tapi di sana foto itu benar-benar buruk dengan rambut yang diikat asal dan wajah sangat pucat tanpa polesan make up sama sekali. Renjana menghela napas, mematikan layarnya dan menyimpannya kembali ke atas meja. Naren yang memperhatikan itu tak berniat bertanya sama sekali, ia sibuk dengan mengunyah apel. Sementara itu di sisi lain, Selena menatap komentar-komentar dalam postingan dirinya bersama Renjana. "Sengaja banget dia foto sama Renjana dengan keadaan begitu biar dia dibilang cantik mungkin!" "Caper banget neng biar disebut cantik makanya jatuhin orang dengan foto begitu." " Sel, yakin kmu lebih cakep dari renjana?" "Kalau mendung ya mendung aja deh, Sel. Nggak usah kepedean." "Kelihatan banget takut kalah saingnya." Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang sama sekali Selena tak menyangka. "Kurang ajar, bukannya dapat pujian malah dapat hujatan!" gumamn
Suara pecahan kaca terdengar nyaring di udara. Gelas yang dipegang Renjana terjatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai dapur. Suara bising itu tentu saja langsung terdengar oleh Naren yang kebetulan posisinya memang berada tidak jauh dari area dapur utama. Naren segera melangkah cepat me
"Tuan Andra, maaf jika saya terkesan lancang. Tapi, saya ingin meminta permintaan pertama saya. Bukankah Tuan Andra sudah bersepakat, bahwa apa pun permintaan saya, Anda akan mengabulkannya?" ucap Naren dengan suara baritonnya yang tenang namun mengintimidasi. Wajah Andra seketika memerah menaha
"Ini, Kak. Saya lagi mencari sesuatu," balas Naren dengan mode biasanya—dingin, datar, dan tanpa ekspresi. Damar hanya mengangguk saja tanpa ada niatan untuk bertanya lebih jauh atau menyelidik. "Ya sudah, saya duluan ya, Ren." Naren mengangguk pelan memberikan penghormatan. Cklek. S
"Kak Damar?" Renjana berkata dengan suara yang hampir berbisik. Ia melotot tak percaya mendapati sang kakak ipar tiba-tiba sudah berada di hadapannya, pasang badan membela dirinya dari amukan Andra. "Jangan kasar sama perempuan, Ndra. apa kata Mama nanti kalau dia tahu anak laki-laki kesayangan







