首頁 / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 29: Suami dengan Kelainan

分享

Bab 29: Suami dengan Kelainan

last update publish date: 2026-05-09 12:14:36

Gia menghentakkan kaki ke lantai marmer dengan geram, menimbulkan suara dentingan hak sepatu yang menggema tajam di seluruh ruangan.

Dia menarik napas panjang, merasakan sesak di dadanya yang bukan karena gaun sutra ketat itu, melainkan karena harga dirinya yang baru saja diinjak-injak tanpa ampun.

“Luar biasa. Benar-benar luar biasa,” desis Gia sambil menatap pintu ruang kerja yang tertutup rapat. Lalu mendekat ke arah cermin besar di lorong, memperhatikan pantulan dirinya sendiri yang tampak
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Yes! Please, Daddy   Bab 31: Keputusan Berbulan Madu

    Gia kini berada di balkon kamarnya sambil menatap kosong ke depan. Pikirannya masih dipenuhi oleh sorot mata dingin Marco di ruang kerja tadi.Dia merasa seperti barang rongsokan yang baru saja dibuang setelah tidak lagi menarik perhatian pemiliknya. Namun, kesunyian itu pecah saat suara pintu kaca balkon digeser dengan sentakan pelan.Gia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum maskulin yang tajam bercampur bau tembakau mahal langsung memenuhi indra penciumannya.“Bersiaplah. Kita berangkat dua jam lagi,” suara bariton Marco memecah kesunyian malam.Gia memutar tubuhnya dengan cepat, matanya melebar karena terkejut. “Berangkat? Ke mana? Ini sudah hampir tengah malam!”Marco berdiri dengan tangan di saku celana kainnya, menatap lurus ke arah cakrawala tanpa sedikit pun riak emosi di wajahnya. “Pulau pribadi di selatan. Kita akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan pengantin baru.”Marco menoleh pelan ke arah Gia. “Bulan madu.”Gia tertawa hamba

  • Yes! Please, Daddy   Bab 30: Penolakan Sang Monster

    Pintu kayu jati itu terbuka dengan dentuman pelan saat Gia melangkah masuk tanpa permisi. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja tunggal yang menciptakan bayangan panjang dan tajam di dinding.Di tengah keheningan yang menyesakkan, Marco duduk di balik meja besarnya, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan tiga layar monitor yang menyala redup.Gia berdiri tepat di depan meja itu, sengaja membiarkan cahaya lampu menyoroti gaun sutranya yang memamerkan kulit bahunya yang mulus.Dia membusungkan dada, mencoba menggunakan daya tarik fisiknya sebagai senjata untuk meruntuhkan tembok es yang dibangun suaminya.Namun, Marco bahkan tidak mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya. Ujung pena pria itu terus menari, menggoreskan tanda tangan dengan ritme yang stabil dan dingin.“Apa kau sedang mencoba menjadi pahlawan kesepian sekarang?” tanya Gia dengan nada yang sengaja dibuat menghina. “Atau kau terlalu malu untuk mengakui bahwa istrimu jauh lebih menarik daripada angka-angka membosa

  • Yes! Please, Daddy   Bab 29: Suami dengan Kelainan

    Gia menghentakkan kaki ke lantai marmer dengan geram, menimbulkan suara dentingan hak sepatu yang menggema tajam di seluruh ruangan.Dia menarik napas panjang, merasakan sesak di dadanya yang bukan karena gaun sutra ketat itu, melainkan karena harga dirinya yang baru saja diinjak-injak tanpa ampun.“Luar biasa. Benar-benar luar biasa,” desis Gia sambil menatap pintu ruang kerja yang tertutup rapat. Lalu mendekat ke arah cermin besar di lorong, memperhatikan pantulan dirinya sendiri yang tampak begitu memikat.“Aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk ini. Aku memakai gaun yang bahkan membuatku malu saat melihat cermin, dan dia bahkan tidak berkedip? Apa dia benar-benar terbuat dari batu?”Gia menyentuh garis leher gaunnya yang rendah, jari-jarinya bergetar karena emosi.“Dia menatapku seolah aku adalah tumpukan berkas yang membosankan. Dasar pria gila. Kau menculikku, memaksaku menikahimu, mengancam nyawa orang-orangku, tapi saat aku berdiri di depanmu seperti ini, kau justru melenggan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 28: Jadilah Pajangan yang Patuh

    “Aku tidak pernah kalah dalam hal apa pun, Gia. Jangan pernah mencampuradukkan kelelahan fisikku dengan kegagalan,” ucap Marco dengan suara rendah yang seolah menggetarkan permukaan meja makan.Gia tertegun, tangannya yang tadi hendak mengambil gelas anggur tertahan di udara. Keangkuhan dalam nada bicara pria itu masih tetap mutlak, tidak tergoyahkan oleh apa pun.Namun, saat mata mereka bertemu, Gia melihat sesuatu yang asing di balik manik abu-abu yang biasanya sedingin es tersebut. Ada gurat kelelahan yang sangat dalam, sebuah keletihan yang bukan berasal dari kurang tidur, melainkan dari beban besar yang baru saja dia pikul di pundaknya.“Lalu kenapa kau terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan dunianya?” balas Gia, meski suaranya kini tidak selantang tadi.Marco mendengus hambar, senyum tipis yang meremehkan muncul di sudut bibirnya.“Duniaku tidak sesempit yang kau bayangkan. Masalah di utara hanyalah pembersihan kecil dari hama yang mencoba menggigit tangan yang memberi

  • Yes! Please, Daddy   Bab 27: Memancing sang Iblis

    Ruang makan mansion Rossi yang biasanya terasa megah kini berubah menjadi kotak es yang menyesakkan. Gia duduk di ujung meja panjang, sementara Marco berada di sisi lain, menciptakan jarak yang terasa seperti bermil-mil jauhnya.Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar begitu nyaring, memecah kesunyian yang kaku. Gia hanya menyentuh saladnya sedikit, matanya lebih sibuk menguliti gerak-gerik pria di hadapannya.Marco tidak makan. Dia hanya mengaduk-aduk risotto di piringnya, sementara pandangannya tertuju kosong pada permukaan meja kayu mahoni yang mengilap.Gia meletakkan garpunya dengan sengaja, menimbulkan suara yang cukup keras untuk memancing reaksi. “Kau terlihat sangat menderita untuk seseorang yang baru saja pulang dari 'perjalanan bisnis'. Apa negosiasi di utara tidak berjalan sesuai rencana hebatmu, Tuan Rossi?”Marco tidak bergeming. Dia bahkan tidak mengangkat wajahnya, hanya jemarinya yang mencengkeram gagang pisau tampak memutih.“Atau jangan-jan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 26: Sambutan di Ambang Pintu

    Gia berdiri mematung di dekat pilar besar lobi utama, merasakan dinginnya lantai marmer merambat naik melalui tumit sepatunya yang tinggi. Gaun sutra hitam yang dia pilih tadi terasa seperti kulit kedua yang memamerkan setiap lekuk tubuhnya dengan provokatif, namun elegan. Meskipun batinnya memberontak dan rasa benci masih meluap, dia memilih untuk mematuhi perintah Viktor untuk menyambut sang tuan rumah.Suara deru mesin mobil di luar mereda, digantikan oleh suara pintu mobil yang dibanting keras. Pintu utama mansion terbuka lebar, membiarkan udara pagi yang dingin menyusup masuk. Marco melangkah masuk dengan langkah besar yang berat. Jasnya tampak sedikit berantakan, dan dasinya sudah dilonggarkan secara kasar. Namun, yang membuat napas Gia tertahan bukanlah penampilannya, melainkan raut wajah pria itu yang lebih gelap dari biasanya.Aura Marco benar-benar mencekam, seolah dia baru saja kembali dari medan perang yang penuh darah. Matanya yang abu-abu tampak berkilat dengan kemarah

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status