ANMELDENMatahari sore membiaskan cahaya keemasan yang tenang, menembus celah-celah daun pohon palem yang berbaris rapi di area luar rumah sakit privat klan Rossi.Setelah perdebatan taktis mengenai kepulangan Marco yang keras kepala itu diredam oleh ketegasan Gia, wanita Valerius itu akhirnya mengajak Marco untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit yang kebetulan di sana cukup sepi untuk Marco yang benci kerumunan banyak orang itu.Suasana taman yang asri dan sunyi menjadi benteng perlindungan sementara dari pengawasan dewan tetua.Gia duduk di bangku taman yang terbuat dari besi tempa hitam, sementara Marco berada di kursi roda taktis, menyandarkan tubuh tegapnya dengan tangan kiri yang masih memegang selang infus portable.Sepasang mata abu-abunya menatap air terjun buatan di sana, menikmati gemercik air yang perlahan menyapu ketegangan pasca-operasi.Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya menyentuh Gia. Wanita itu duduk dengan punggung tegak, namun tatapannya kosong, melayang jauh menembus
Matahari pagi menembus tirai kaca kamar rawat VIP, memantulkan pendar terang yang menyinari lantai ubin yang bersih. Suasana sunyi sisa malam tadi langsung menguap begitu derap langkah sepatu dokter senior klan Rossi menggema masuk ke dalam ruangan.Di besok paginya, dokter memeriksa kondisi Marco dengan saksama, menempelkan stetoskop dan memeriksa perkembangan perban di perut kirinya.Marco yang sudah duduk tegak di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menatap dokter itu dengan pandangan dingin yang tidak sabaran. Aura diktatornya telah kembali sepenuhnya seolah rasa sakit semalam hanyalah angin lalu.Belum sempat dokter itu mencatat grafik pemulihan di papan klipnya, Marco meminta agar hari ini dia bisa pulang, dia sudah bosan berada di rumah yang sangat tidak pantas untuknya itu."Siapkan dokumen kepulanganku sekarang, Dokter. Aku sudah bosan berada di rumah yang sangat tidak pantas untukku ini. Baunya memuakkan dan tempat tidur ini membuat ototku kaku," p
“Ya. Aku baik-baik saja.”Marco menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil mencoba menghalau rasa pening sekaligus rasa nyeri yang mendadak menyerang perut kirinya.Seringai miring sempat mencoba kembali ke sudut bibirnya, seolah ingin meyakinkan wanita di hadapannya bahwa luka ini bukan masalah besar bagi seorang Rossi.Namun, Gia tidak memberikan pria itu kesempatan untuk bersandiwara. Gia langsung memarahinya karena tidak nurut padanya sejak awal.Dengan gerakan taktis yang cepat, Gia bangkit sedikit dan menekan bahu kokoh Marco agar kembali bersandar sepenuhnya pada tumpukan bantal hospital."Sudah kubilang diam, Marco! Kau benar-benar keras kepala!" amuk Gia dengan suara tertahan, sepasang matanya menyala penuh amarah domestik yang bercampur aduk dengan kepanikan.Dia kemudian memeriksa tepian perban kasa di perut suaminya, memastikan tidak ada rembesan darah baru yang lebih parah akibat aksi nekat mereka tadi."Sekarang, aku meminta agar kau tidur! Jangan lagi meracau apalagi s
Gia langsung menatap Marco dengan tatapan kesalnya, membalikkan tubuhnya dengan sentakan taktis hingga mereka kini berhadapan langsung di bawah kungkungan selimut yang sama.Jarak di antara wajah mereka begitu kikis, menyisakan ruang tipis yang dipenuhi oleh deru napas yang memburu. Gia mengangkat satu tangannya, menahan dada bidang Marco agar pria itu tidak merangsek lebih dekat."Berhentilah mengoceh, Rossi. Aku meminta agar kau diam dan sebaiknya tidur saja! Luka perutmu itu bukan dekorasi, itu bisa merembes lagi jika kau terus menguras energimu untuk bicara omong kosong!" sergah Gia dengan nada rendah yang ketus, mencoba menegakkan kembali benteng pertahanannya yang mulai goyah akibat dekapan posesif dari suaminya.Marco menggeleng perlahan di atas bantalnya. Manik mata abu-abunya mengunci wajah Gia dengan tatapan yang begitu pekat dan intim, memancarkan aura dominasi yang melunak namun tetap tak terbantahkan. "Aku tidak bisa tidur, Gia. Dan aku bilang kalau aku belum menciummu ma
Malam hari tiba, suasana kamar rawat menjadi sangat sunyi. Kegelapan pekat di luar jendela berpadu dengan remang lampu nakas yang temaram, menciptakan atmosfer yang mampat dan sarat akan ketegangan domestik yang tertahan.Setelah seharian penuh dengan drama yang dibuat oleh Marco, energi Gia telah terkuras habis. Tubuhnya yang lelah mendambakan istirahat, namun matanya tetap waspada menjaga perimeter sekeliling mereka.Gia bersiap tidur di sofa kecil yang terletak di sudut ruangan, menggelar selimut tipis dengan gerakan taktis yang efisien. Namun, pergerakannya terhenti seketika oleh suara bariton yang berat dari arah ranjang."Ke mana kau akan pergi, Gia?" tanya Marco dengan sepasang mata abu-abunya berkilat tajam di balik keremangan, memperhatikan setiap jengkal pergerakan istrinya. "Kemari. Tidur di sini."Gia lantas menoleh dan menatap suaminya dengan dahi berkerut. "Sofa ini cukup nyaman untukku, Marco. Lagipula, kau butuh ruang untuk memulihkan tubuhmu."Namun Marco menolak dan
Matahari pagi kembali merayap naik, membasahi kaca jendela kamar rawat VIP setelah badai semalam mereda. Di pagi harinya setelah bangun tidur, Gia yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri dokter yang kebetulan baru saja membuka pintu kayu kamar untuk memeriksa kondisi Marco.Namun, kali ini bukan dokter bedah senior yang masuk, melainkan seorang dokter muda pengganti bernama Dr. Adrian. Dengan jubah putih bersih dan stetoskop yang mengalung rapi, dokter itu melangkah masuk membawa map laporan medis."Selamat pagi, Tuan Rossi, Nyonya Rossi," sapa dokter muda itu, dengan nada suara yang terdengar lembut, mengabaikan atmosfer mampat yang selalu membungkus sepasang penguasa dunia bawah tersebut.Dr. Adrian melangkah mendekati ranjang untuk memeriksa kondisi penglihatan dan refleks Marco. Dia mengeluarkan sebuah penlight kecil, mengarahkannya ke manik mata abu-abu Marco, lalu mengetuk lutut pria itu dengan palu refleks medis.Sepanjang proses pemeriksaan, Marco hanya diam membeku.
Di sore hari, berkas cahaya matahari yang mulai meredup masuk melalui jendela besar kamar rawat VIP, memantulkan warna jingga temaram di atas dinding putih.Keheningan itu pecah ketika Marco mendadak mendengus gusar, berulang kali menarik kerah kemeja rumah sakitnya dengan guratan tidak nyaman di w
Seorang perawat muda berseragam klinis putih masuk dengan langkah ragu, membawa nampan berisi mangkuk bubur ayam hangat dan segelas air putih.Namun, baru saja wanita itu mengulurkan sendok, aura predator Marco langsung menyengat udara kamar. Sepasang mata abu-abu sang kepala klan Rossi berkilat se
Pancaran sinar matahari pagi menerobos celah gorden tipis ruang rawat VIP, memantulkan pendar keemasan di atas lantai ubin yang bersih. Aroma tajam cairan antiseptik perlahan berbaur dengan hangatnya udara pagi.Di atas ranjang pasien, kelopak mata Marco bergerak lambat. Efek mati rasa dari senyawa
Gia dan Rio berada di ruang operasi menunggu Marco yang masih di dalam ruang operasi. Koridor rumah sakit privat milik klan Rossi itu tampak sunyi, hanya menyisakan gema langkah kaki dan dengung lampu neon yang temaram.Bau disinfektan yang tajam menusuk hidung Gia, memicu kembali ingatan akan anyi







