LOGINDikhianati karena dianggap terlalu kuno, Freya memilih satu malam bersama pria asing untuk melupakan segalanya. Sialnya pria yang dia kira hanya seorang gigolo, ternyata adalah pemilik perusahaan raksasa. Hasrat yang awalnya salah, berubah jadi candu yang tak bisa dihentikan—hingga Freya pulang ke Indonesia dan menemukan satu fakta yang menghancurkan segalanya. Pria yang setiap malam menaklukkannya, adalah suami kakaknya sendiri. Terlarang. Berbahaya. Tapi terlalu nikmat untuk dilepaskan.
View More“Ahh! Um! Jangan begini, nanti ada yang melihatnya.”
“Aku rindu. Seminggu ini kau menjaga jarak denganku.” “Kau tahu alasannya.” “Kapan kau akan meninggalkannya? Kau bilang mencintaiku. Apa itu hanya bualanmu saja?” “Tentu saja tidak. Aku benar-benar mencintaimu.” Freya berdiri di depan pintu yang tak tertutup rapat. Mendengar obrolan yang tak seharusnya di dengar. Adegan selanjutnya, suara desah-desah laknat terdengar mendayu. Dia tak bisa menahan diri lagi. “Bajingan! Beraninya kau berselingkuh di belakangku.” Freya berteriak, menyerbu masuk ke dalam ruang perawatan di mana Anthony, kekasihnya, tengah bercumbu panas dengan seorang wanita. Keduanya memisahkan diri. Anthoni menatapnya kaget. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan.” “Memangnya kau tahu aku membayangkan apa?” Wanita itu tertawa. “Kabar itu sudah terdengar lama, sayang baru hari ini aku menyaksikannya langsung. Tidak ada ruang bagimu untuk mengelak, Anthony.” “Rora, kau salah paham. Dia ini Jane, pasienku. Kau tahu bukan, dia sudah jadi pasienku beberapa tahun ini.” Freya menatap wanita berwajah pucat itu dengan senyum sinis. “Aku tidak peduli. Lakukan apa pun yang kau inginkan. Kita putus!” “Aku tidak mau!” pekiknya. “Rora, tunggu! Kau tak bisa meninggalkanku. Dengarkan dulu penjelasanku.” Anthony mengejar sang kekasih, menarik tangannya dengan keras untuk menghentikan langkah kakinya. Namun, dalam sekali sentak, Freya berhasil melepaskan tangan pria itu. “Apa pun penjelasanmu tak akan mengubah kenyataan jika kau pria bajingan yang suka berselingkuh.” “Itu karena kau terlalu kuno. Kita akan menikah tahun depan, dan kau masih keukeuh untuk tak mau disentuh. Aku pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis, Rora.” “Kita sudah membicarakannya dan kau setuju. Aku tidak pernah memaksamu, kau bebas menentukan dan kau tetap memilihku.” Freya keluar dari ruang perawatan sambil membanting pintu. Dia tidak menangis, tapi tetap saja hatinya terluka. Menjalin kasih bersama Anthony sudah enam tahun lamanya. Tahun depan mereka berencana mengakhiri masa lajang dan hidup bersama. Namun, rencana itu hanya akan jadi wacana. Patah hati membawanya ke bar. Duduk diam sambil menikmati alkohol yang diharapkan bisa membuatnya melupakan sakit hati. “Sudah kubilang berulang kali jika pria itu tidak cocok untukmu. Dia penjahat kelamin.” Bartender itu menggerutu seraya terus menuang minuman ke dalam gelas. “Jangan membahasnya, Elben,” gumamnya malas. “Sekarang lihat dirimu. Kau sakit hati, terluka dan berakhir duduk di sini sambil mabuk.” “Hey! Meski tidak sakit hati, aku rutin mengunjungimu setiap minggu.” Freya mendongak, sorot lampu kelap-kelip membuat kepalanya semakin pusing. “Tambahkan lagi.” “Sudah cukup. Kau sudah mabuk.” Freya terkekeh. “Belum, aku masih sadar. Jika aku mabuk, kau takkan bisa mengajakku berdebat, Elben.” “Freya Aurora!” Tak ada pilihan, selain terus menuangkan minuman untuk wanita patah hati di depannya. Dia keras kepala dan mungkin akan pergi ke tempat lain jika keinginannya tidak dituruti. Ketika musik semakin keras, Freya turun menuju lantai dansa. Ikut bergerak dan meliukkan tubuhnya sesuai irama yang menghentak. Rasa pusing kian melanda, tubuhnya hampir saja terjengkang ke belakang andai tidak ada yang menahan. “Kau baik-baik saja?” bisikan lembut menyentuh telinganya. Freya mengangguk. “Sedikit oleng tapi belum cukup mabuk.” “Mau menari denganku?” Ajakan pria berparas tampan itu tak bisa ditolak. Pesonanya cukup menarik perhatian. “Sure.” Freya melingkarkan tangan di leher pria itu, lalu bertanya, “Siapa namamu?” “Maverick. Dan kau?” “Aurora.” “Nama yang cantik. Secantik rupamu, Nona.” Freya merona. Bukan karena malu, tapi merasa lucu dengan dirinya. Baru saja meratapi nasib karena patah hati, sekarang sudah menggoda pria lain. Aroma maskulin pria itu menenangkan. Tubuhnya tersentak saat Maverick memeluk pinggangnya, menundukkan kepala dan menyatukan bibir mereka. Awalnya kaget, tapi Freya menikmatinya. “Sudah cukup.” Maverick mengangguk. Dia duduk di sebelah Freya dan meminta minuman yang sama. Tidak ada obrolan. Mereka kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal. Entah sudah berapa gelas yang sudah dihabiskan, tubuh Freya akhirnya limbung. Menjatuhkan kepala di meja sambil memejamkan mata dan meracau tak karuan. Sementara Maverick diam-diam masih mengawasinya. “Freya! Aku akan memanggilkan taksi langganan untukmu. Kau jangan ke mana-mana dulu. Oke?” Elden berkata cukup keras di depan gadis mabuk yang sudah pasti tidak akan mendengar suaranya. Seseorang menyenggol kursi tempat Freya terkapar. Membuat wanita itu kaget dan membuka mata kesal. “Sialan! Apa kau tidak bisa melihat kursi dan orang sebesar ini,” gerutunya kesal, menatap pria yang ada di depannya. “Kau mabuk, Cantik. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” “Jangan menyentuhku, Brengsek!” teriaknya saat pria itu dengan lancang menyentuh pipinya dengan gerakan menggoda. “Jangan jual mahal. Kau tidak tahu siapa aku? Aku Arlo. Arlo Martin,” katanya dengan sombong memperkenalkan diri. “Aku tidak peduli siapa namamu, Tuan. Pergilah! Jangan menggangguku,” sahut Freya sinis. Namun, pria itu tidak menyerah. Dia tetap menggoda Freya hingga wanita itu marah saat payudaranya diremas dengan kasar. “Aku akan memberimu kenikmatan, Cantik. Katakan saja berapa harga yang harus kubayar untuk menidurimu, Jalang?” Bastard sialan! “Cuih! Uangmu tak akan mampu membeliku, Bastard!” Freya meludah tepat di kaki. Membuat pria itu marah karena merasa terhina telah ditolak. “Wanita sialan! Sombong sekali!” Pria itu berniat memukul Freya, tapi sebelum tangan itu mendarat, ada sebuah tangan lain yang mencekalnya. “Siapa kau? Jangan ikut campur.” “Hanya seorang pecundang yang berani melawan wanita,” ucapnya mengejek. “Jangan ikut campur!” “Pergi, atau kau ingin merasakan tanganku dulu?” ucapnya dengan nada mengancam. Pria itu mengeluarkan aura menyeramkan yang membuat lawan bicaranya bergidik ngeri. Tanpa mengucap sepatah kata, pria itu berlalu. Freya menatap pria di depannya dengan kening berkerut. Mencoba mengingat wajahnya yang tak asing. Kakinya melangkah maju, dengan gerakan impulsif khas orang setengah mabuk, dia berjinjit lalu memberi kecupan pria di depannya. “Thanks!” “Kau harus berterima kasih dengan cara yang benar, Nona.” Freya memicingkan mata, lalu mendengus, “Ternyata pria sama. Hanya menginginkan tubuh wanita saja.” “Kau yang memulainya.” Pria itu menarik pinggang sang wanita hingga tubuh mereka semakin menempel sempurna. “Bagaimana rasanya?” Satu pertanyaan lolos dari bibir ranumnya. “Jangan katakan kau masih perawan?” “Apa ada yang salah dengan itu? Kurasa tidak. Di negaraku masih banyak yang menganut sex after married.” “Dan kau salah satunya?” Freya mengangguk. Lalu tiba-tiba menggeleng. “Tidak juga, aku ingin mencobanya hanya jika menemukan seseorang yang menarik perhatianku,” jawab Freya berdusta. “Apakah aku tidak menarik di matamu, Nona? Aku bisa membuatmu melayang dan melupakan masalah. Kau akan berteriak penuh kenikmatan dan menginginkannya lagi dan lagi.” “Benarkah? Apa kau seorang gigolo yang ingin mencari mangsa.” Mata sang pria berubah tajam, tapi hanya beberapa detik sebelum dia tersenyum. “Anggap saja begitu, Nona.” Freya tersenyum. Senyum aneh yang hanya dipahami olehnya. Setidaknya menyewa pria bayaran lebih baik karena kerahasiaannya pasti akan terjamin. “Kalau begitu. Buatlah aku berteriak kenikmatan Tuan,” tantang Freya seraya memainkan jemarinya di dada bidang pria itu. Bersambung ✍️“Waktu kalian terbatas, jadi saya tidak akan bertele-tele.” Suara baritonnya langsung menguasai ruangan.Beberapa dokter duduk dengan ekspresi serius, sementara di depan, Maverick berdiri dengan tenang—tatapannya tajam menyapu ruangan.“Alat yang akan kalian gunakan adalah sistem navigasi bedah saraf berbasis AI. Teknologi ini mampu memetakan area otak secara real-time dengan akurasi tinggi—bahkan hingga milimeter terkecil.” Dia menekan remote. Tampilan otak 3D muncul, berputar perlahan di layar. “Kesalahan kecil dalam bedah saraf bisa berakibat fatal. Sistem ini dirancang untuk meminimalisir risiko itu. Ia membaca pergerakan tangan kalian, memprediksi lintasan, dan memberi peringatan sebelum kalian membuat kesalahan.”Beberapa dokter terlihat terkesima. Namun, Freya justru langsung bertanya, “Seberapa besar margin error-nya?”Beberapa dokter saling pandang mendengar pertanyaannya.Maverick menoleh, tatapannya mengunci Freya yang juga melihatnya.“Kurang dari satu milimeter.”Freya me
Freya berdiri di depan cermin, merapikan penampilannya. Wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi sorot matanya kembali tajam. Dia tidak akan membiarkan siapa pun mengacaukan hidupnya.Freya menghela napas pelan. “Fokus,” gumamnya pada diri sendiri.Namun, semua rencana itu hancur dalam sekejap begitu salah seorang perawat menghampirinya. “Dok, Anda dipanggil ke ruang direktur.”Freya mengernyit. “Sekarang?”Perawat itu mengangguk cepat. “Iya, sepertinya penting.”Freya tidak banyak bertanya. Dia langsung melangkah menuju ruang direktur.“Ini, Dokter Freya!”“Masuk.”Freya membuka pintu. Namun, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu dengan mata melebar. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Di dalam ruangan itu—bukan hanya direktur rumah sakit yang duduk di sana. Ada seseorang lagi. Duduk santai di kursi tamu, dengan kaki menyilang, seolah tempat itu miliknya.Pria itu.Senyum tipis terukir di bibirnya saat mata mereka bertemu.“Selamat pagi, Dokter Freya.”Suasana ruangan terasa me
Clara yang sejak tadi duduk di samping Freya akhirnya menoleh, mengamati pria yang berdiri begitu dekat dengan sahabatnya. Tatapannya menyipit, penuh curiga.Clara memandang keduanya bergantian. Atmosfer di antara mereka terlalu tegang untuk disebut biasa. Terlalu dalam untuk sekadar dikenalkan sebagai kenalan.“Okay… aku rasa aku butuh udara sebentar,” gumam Clara, berdiri pelan. “Kalian sepertinya punya urusan.”Freya tidak mencegah. Tidak juga menahan. Karena dia tahu apa pun yang terjadi setelah ini, bukan sesuatu yang bisa dibagikan dengan orang lain.Begitu Clara menjauh, Maverick langsung mengambil alih ruang itu. Duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Clara tanpa permisi. “Cuti masih cukup lama, kenapa mendadak kembali?”“Tidak apa, hanya bosan saja,” sahut Freya singkat. Dia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan. Tidak pada Maverick atau siapa pun. “Kenapa pula kau juga ada di sini? Seharusnya kau masih menikmati waktu bersama istrimu.”Maverick tersenyum. Sen
Langit siang tampak cerah, terlalu cerah untuk suasana hati Alula yang kusut. Dia turun dari mobil dengan langkah cepat, seolah ada sesuatu yang ingin segera dicapai.“Non Alula,” sapa salah satu pelayan dengan sopan saat pintu dibukakan.Alula hanya mengangguk singkat. “Rora di mana?”Pelayan itu terlihat ragu sejenak. “Kurang tahu, Non.”Alula mendecak pelan. Tanpa banyak bicara, dia langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, menciptakan bunyi berulang—cepat, tajam, gelisah.Ruang keluarga kosong. Ruang makan sepi. Tak ada tanda-tanda Freya di dalam rumah. Begitu pun di paviliun. Kamarnya terkunci dan saat Alula mengetuk berulang kali, tak ada sahutan sama sekali.“Apa Rora keluar, ya.”Biasanya Freya akan duduk di salah satu sudut rumah dengan buku atau laptopnya. Diam dan tenang seolah dunia di sekitarnya tidak pernah cukup menarik untuk diikuti.Langkah Alula berbelok menuju kamar orang tuanya.Tok! Tok! Tok!“Masuk,” suara Nadya terdengar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.