LOGINDikhianati karena dianggap terlalu kuno, Freya memilih satu malam bersama pria asing untuk melupakan segalanya. Sialnya pria yang dia kira hanya seorang gigolo, ternyata adalah pemilik perusahaan raksasa. Hasrat yang awalnya salah, berubah jadi candu yang tak bisa dihentikan—hingga sebuah fakta menghancurkan segalanya. Pria yang malam itu berhasil menaklukkannya, adalah suami kakaknya sendiri. Terlarang. Berbahaya. Namun, terlalu nikmat untuk dilepaskan.
View More“Ahh! Um! Jangan begini, nanti ada yang melihatnya.”
“Aku rindu. Seminggu ini kau menjaga jarak denganku.” “Kau tahu alasannya.” “Kapan kau akan meninggalkannya? Kau bilang mencintaiku. Apa itu hanya bualanmu saja?” “Tentu saja tidak. Aku benar-benar mencintaimu.” Freya berdiri di depan pintu yang tak tertutup rapat. Mendengar obrolan yang tak seharusnya di dengar. Adegan selanjutnya, suara desah-desah laknat terdengar mendayu. Dia tak bisa menahan diri lagi. “Bajingan! Beraninya kau berselingkuh di belakangku.” Freya berteriak, menyerbu masuk ke dalam ruang perawatan di mana Anthony, kekasihnya, tengah bercumbu panas dengan seorang wanita. Keduanya memisahkan diri. Anthoni menatapnya kaget. “Ini tidak seperti yang kau bayangkan.” “Memangnya kau tahu aku membayangkan apa?” Wanita itu tertawa. “Kabar itu sudah terdengar lama, sayang baru hari ini aku menyaksikannya langsung. Tidak ada ruang bagimu untuk mengelak, Anthony.” “Rora, kau salah paham. Dia ini Jane, pasienku. Kau tahu bukan, dia sudah jadi pasienku beberapa tahun ini.” Freya menatap wanita berwajah pucat itu dengan senyum sinis. “Aku tidak peduli. Lakukan apa pun yang kau inginkan. Kita putus!” “Aku tidak mau!” pekiknya. “Rora, tunggu! Kau tak bisa meninggalkanku. Dengarkan dulu penjelasanku.” Anthony mengejar sang kekasih, menarik tangannya dengan keras untuk menghentikan langkah kakinya. Namun, dalam sekali sentak, Freya berhasil melepaskan tangan pria itu. “Apa pun penjelasanmu tak akan mengubah kenyataan jika kau pria bajingan yang suka berselingkuh.” “Itu karena kau terlalu kuno. Kita akan menikah tahun depan, dan kau masih keukeuh untuk tak mau disentuh. Aku pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis, Rora.” “Kita sudah membicarakannya dan kau setuju. Aku tidak pernah memaksamu, kau bebas menentukan dan kau tetap memilihku.” Freya keluar dari ruang perawatan sambil membanting pintu. Dia tidak menangis, tapi tetap saja hatinya terluka. Menjalin kasih bersama Anthony sudah enam tahun lamanya. Tahun depan mereka berencana mengakhiri masa lajang dan hidup bersama. Namun, rencana itu hanya akan jadi wacana. Patah hati membawanya ke bar. Duduk diam sambil menikmati alkohol yang diharapkan bisa membuatnya melupakan sakit hati. “Sudah kubilang berulang kali jika pria itu tidak cocok untukmu. Dia penjahat kelamin.” Bartender itu menggerutu seraya terus menuang minuman ke dalam gelas. “Jangan membahasnya, Elben,” gumamnya malas. “Sekarang lihat dirimu. Kau sakit hati, terluka dan berakhir duduk di sini sambil mabuk.” “Hey! Meski tidak sakit hati, aku rutin mengunjungimu setiap minggu.” Freya mendongak, sorot lampu kelap-kelip membuat kepalanya semakin pusing. “Tambahkan lagi.” “Sudah cukup. Kau sudah mabuk.” Freya terkekeh. “Belum, aku masih sadar. Jika aku mabuk, kau takkan bisa mengajakku berdebat, Elben.” “Freya Aurora!” Tak ada pilihan, selain terus menuangkan minuman untuk wanita patah hati di depannya. Dia keras kepala dan mungkin akan pergi ke tempat lain jika keinginannya tidak dituruti. Ketika musik semakin keras, Freya turun menuju lantai dansa. Ikut bergerak dan meliukkan tubuhnya sesuai irama yang menghentak. Rasa pusing kian melanda, tubuhnya hampir saja terjengkang ke belakang andai tidak ada yang menahan. “Kau baik-baik saja?” bisikan lembut menyentuh telinganya. Freya mengangguk. “Sedikit oleng tapi belum cukup mabuk.” “Mau menari denganku?” Ajakan pria berparas tampan itu tak bisa ditolak. Pesonanya cukup menarik perhatian. “Sure.” Freya melingkarkan tangan di leher pria itu, lalu bertanya, “Siapa namamu?” “Maverick. Dan kau?” “Aurora.” “Nama yang cantik. Secantik rupamu, Nona.” Freya merona. Bukan karena malu, tapi merasa lucu dengan dirinya. Baru saja meratapi nasib karena patah hati, sekarang sudah menggoda pria lain. Aroma maskulin pria itu menenangkan. Tubuhnya tersentak saat Maverick memeluk pinggangnya, menundukkan kepala dan menyatukan bibir mereka. Awalnya kaget, tapi Freya menikmatinya. “Sudah cukup.” Maverick mengangguk. Dia duduk di sebelah Freya dan meminta minuman yang sama. Tidak ada obrolan. Mereka kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal. Entah sudah berapa gelas yang sudah dihabiskan, tubuh Freya akhirnya limbung. Menjatuhkan kepala di meja sambil memejamkan mata dan meracau tak karuan. Sementara Maverick diam-diam masih mengawasinya. “Freya! Aku akan memanggilkan taksi langganan untukmu. Kau jangan ke mana-mana dulu. Oke?” Elden berkata cukup keras di depan gadis mabuk yang sudah pasti tidak akan mendengar suaranya. Seseorang menyenggol kursi tempat Freya terkapar. Membuat wanita itu kaget dan membuka mata kesal. “Sialan! Apa kau tidak bisa melihat kursi dan orang sebesar ini,” gerutunya kesal, menatap pria yang ada di depannya. “Kau mabuk, Cantik. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” “Jangan menyentuhku, Brengsek!” teriaknya saat pria itu dengan lancang menyentuh pipinya dengan gerakan menggoda. “Jangan jual mahal. Kau tidak tahu siapa aku? Aku Arlo. Arlo Martin,” katanya dengan sombong memperkenalkan diri. “Aku tidak peduli siapa namamu, Tuan. Pergilah! Jangan menggangguku,” sahut Freya sinis. Namun, pria itu tidak menyerah. Dia tetap menggoda Freya hingga wanita itu marah saat payudaranya diremas dengan kasar. “Aku akan memberimu kenikmatan, Cantik. Katakan saja berapa harga yang harus kubayar untuk menidurimu, Jalang?” Bastard sialan! “Cuih! Uangmu tak akan mampu membeliku, Bastard!” Freya meludah tepat di kaki. Membuat pria itu marah karena merasa terhina telah ditolak. “Wanita sialan! Sombong sekali!” Pria itu berniat memukul Freya, tapi sebelum tangan itu mendarat, ada sebuah tangan lain yang mencekalnya. “Siapa kau? Jangan ikut campur.” “Hanya seorang pecundang yang berani melawan wanita,” ucapnya mengejek. “Jangan ikut campur!” “Pergi, atau kau ingin merasakan tanganku dulu?” ucapnya dengan nada mengancam. Pria itu mengeluarkan aura menyeramkan yang membuat lawan bicaranya bergidik ngeri. Tanpa mengucap sepatah kata, pria itu berlalu. Freya menatap pria di depannya dengan kening berkerut. Mencoba mengingat wajahnya yang tak asing. Kakinya melangkah maju, dengan gerakan impulsif khas orang setengah mabuk, dia berjinjit lalu memberi kecupan pria di depannya. “Thanks!” “Kau harus berterima kasih dengan cara yang benar, Nona.” Freya memicingkan mata, lalu mendengus, “Ternyata pria sama. Hanya menginginkan tubuh wanita saja.” “Kau yang memulainya.” Pria itu menarik pinggang sang wanita hingga tubuh mereka semakin menempel sempurna. “Bagaimana rasanya?” Satu pertanyaan lolos dari bibir ranumnya. “Jangan katakan kau masih perawan?” “Apa ada yang salah dengan itu? Kurasa tidak. Di negaraku masih banyak yang menganut sex after married.” “Dan kau salah satunya?” Freya mengangguk. Lalu tiba-tiba menggeleng. “Tidak juga, aku ingin mencobanya hanya jika menemukan seseorang yang menarik perhatianku,” jawab Freya berdusta. “Apakah aku tidak menarik di matamu, Nona? Aku bisa membuatmu melayang dan melupakan masalah. Kau akan berteriak penuh kenikmatan dan menginginkannya lagi dan lagi.” “Benarkah? Apa kau seorang gigolo yang ingin mencari mangsa.” Mata sang pria berubah tajam, tapi hanya beberapa detik sebelum dia tersenyum. “Anggap saja begitu, Nona.” Freya tersenyum. Senyum aneh yang hanya dipahami olehnya. Setidaknya menyewa pria bayaran lebih baik karena kerahasiaannya pasti akan terjamin. “Kalau begitu. Buatlah aku berteriak kenikmatan Tuan,” tantang Freya seraya memainkan jemarinya di dada bidang pria itu. Bersambung ✍️Freya menatap Maverick beberapa saat. Tatapan pria itu memang tetap tenang, tetapi rahangnya mengeras. Ujung jarinya bahkan masih menggenggam ponsel terlalu kuat.Dia mengenal Maverick cukup baik untuk tahu satu hal. Pria itu hanya memasang wajah seperti itu ketika ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya.“Siapa yang membuatmu setegang ini, Rick?” tanya Freya akhirnya.“Bukan siapa-siapa.”“Rick.”“Aurora.” Maverick balas menatapnya. “Jangan ikut campur.”Freya menghela napas pelan. “Aku hanya bertanya.”“Tidak untuk urusan ini.”“Kenapa?”“Karena aku tidak ingin menyeretmu.”Freya terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa hangat. Maverick memang tidak pernah pandai merangkai kata-kata romantis. Cara pria itu melindunginya selalu terdengar dingin dan memerintah. Namun, Freya tahu maksudnya. Maverick mencium keningnya singkat sebelum berdiri.“Aku harus pergi.”“Sekarang?”“Ada beberapa orang yang harus kutemui.”Freya ikut bangkit. “Hati-hati.”
Alula bangun dengan kepala yang pusing luar biasa setelah semalam mengamuk dan menangis sepanjang malam.Matanya bengkak, hidungnya memerah, kantung mata hitam seperti seseorang yang tidak tidur berhari-hari.Pandangannya menyapu ke ranjang di samping yang terlihat rapi dan dingin. Menandakan jika semalam Maverick sama sekali tak mendekati ranjang.“Aku harus bagaimana lagi untuk meluluhkan hatimu, Maverick?” batin hatinya perih. Dia sudah berusaha, membuang seluruh harga diri untuk memohon pada pria yang menjadi suaminya, tetapi sekalipun pria itu tak pernah menganggap kehadirannya lebih dari pajangan.Alula menghubungi kepala pelayan untuk bertanya tentang Maverick yang ternyata masih tinggal. Mendengar penuturan itu dia segera membersihkan diri dan mematut dirinya dengan cantik, lalu keluar dan menghampiri ruang kerja yang ternyata kosong.“Di mana suamiku?” tanya Alula pada pelayan yang lewat.“Sepertinya ada di ruang gym, Nyonya.”Alula segera membawa langkahnya naik menuju lant
“Rick, semuanya baik-baik saja?”“Ya. Kau tidak perlu cemas. Istirahat saja. Aku akan keluar menemui Ryan.”“Kau menginap?”“Jika tidak ada hal penting aku akan kembali.”Sebelum pergi Maverick mendaratkan ciuman di bibir kekasihnya. Pria itu memutuskan langsung pulang begitu laporan Ryan mengatakan jika salah satu dari mata-mata yang mengikutinya berhasil lolos.Siapa bajingan gila yang berani menguntit kehidupan pribadinya?Sesampainya di dalam mobil, Ryan menyerahkan iPad yang berisi sebuah rekaman video. Salah satu pria duduk terikat di sebuah kursi di ruangan yang tak asing.Maverick menekan tombol play hingga video berdurasi lima menit itu berputar.“Apa menurut Anda, Nyonya Alula yang melakukannya?” tanya Ryan hati-hati.“Tidak. Alula tidak memiliki akses ke sana. Mustahil. Terlalu nekat jika dia sampai melakukannya.”“Kami masih menyelidiki latar belakang pria itu.”“Informasi apa yang dibawa pria yang kabur?”“Hanya informasi tanpa bukti. Kami berhasil mengambil ponsel dan ka
“Kenapa memblokir nomorku, Rora? Dasar tidak tahu diri. Dasar cucu durhaka.”Wajah Areta memenuhi layar ponsel. Wanita tua itu menggunakan video call dengan nomor ponsel Nadya. Ya, sejak terakhir kali wanita tua itu memarahinya, Freya memang memblokir nomornya.“Karena Nenek terlalu berisik. Pasti menghubungiku marah-marah begini setelah mendengar cucu kesayangannya mengadu,” jawab Freya berani.“Freya Aurora, beraninya kau menghina dan mengatakan hal buruk pada Alula. Apa kau sudah gila? Dia saudarimu. Bukannya membantu kau malah membuat kakakmu tertekan.”“Nenek marah-marah kalau aku menghina Alula dan ibunya, tapi kau sendiri sering sekali menghina ibuku. Apa aku sebagai anaknya hanya boleh diam saja? Kalau kau tidak mau dihina, maka jangan suka menghina. Berkaca. Akal dipakai sebelum mulut bicara.”Freya berkata tanpa peduli lagi dengan sopan santun. Toh itu juga tidak akan pernah ada artinya di depan Areta. Apa pun sikap baik yang ditunjukkan, baginya Freya tetap tak pernah benar
“Aku baru saja keluar dari area operasi.”“Aku melihat wanita yang pakaiannya mirip denganmu bersama Maverick.”“Hah?” tanyanya setenang mungkin.Freya refleks menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih tulang dan blazer krem sederhana. Sangat normal. Sangat umum. Namun, kalimat Alula
“Nona Whitmore perhatian sekali dengan Dokter Anthony. Sampai rela memasak makanan kesukaan dokter walaupun sedang hamil muda. Beruntung sekali memiliki pasangan yang sama-sama memiliki effort dan feedback.”“Jelas sekali kalau cinta mereka setara.”Bisik-bisik di cafetaria rumah sakit itu masih je
Lorong rumah utama tampak sepi. Lampu-lampu dinding menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin.Freya berjalan pelan. Langkahnya ringan, tapi pikirannya berat. Dia hanya ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di meja makan, lalu kembali ke paviliun.Namun, langkah
Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu, memantulkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan terlihat hangat sekaligus mewah.Gaun-gaun elegan, jas mahal, dan tawa para tamu berpadu menjadi satu menjadikan suasana begitu hidup.Di tengah semua itu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore