Sudah habis kesabarannya, Marco tidak lagi membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan kasar, dia menyambar tubuh Gia dari pangkuannya.“Akh!”Gia terpekik saat dia dibawa melintasi ruang makan, lalu dihempaskan ke atas ranjang king size yang terasa dingin. Sebelum Gia sempat berguling untuk melarikan diri, tubuh Marco sudah menindihnya dan mengurung setiap sudut geraknya.“Marco, tunggu. Jangan sekarang,” ucap Gia dengan napas yang masih tersengal.“Aku sudah bilang, aku tidak suka menunggu,” jawab Marco singkat. Tatapannya sama sekali tidak mencerminkan gairah yang penuh kasih; itu adalah tatapan seorang penakluk yang sedang menuntut upeti.Marco mencengkeram pergelangan tangan Gia, menyematkannya ke atas bantal dengan satu tangan yang kuat. Gia mencoba meronta, dengan memutar tubuhnya agar lepas, namun Marco menindih kakinya dengan lutut. “Lepaskan! Kau tidak bisa memaksaku begini!”“Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau padamu,” ujar Marco dingin. Dia tidak mau memberi ruang bagi
Dernière mise à jour : 2026-04-28 Read More