“Ini kamarmu. Juga kamarku,” ucap Marco datar sambil meletakkan kunci mobil di atas meja rias.Mereka sudah tiba di sebuah mansion milik Marco yang begitu luas dan megah, dengan penjagaan yang ketat. Semua anak buahnya menggenggam senapan di tangan masing-masing.Gia menatap sekeliling dengan napas memburu. “Aku ingin kamar terpisah. Aku tidak sudi tidur dengan pembunuh sepertimu,” ucapnya dengan datar.“Tidak bisa!” tolaknya sambil melepaskan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya dia gulung hingga siku, memperlihatkan tato gelap yang melilit otot lengannya.Dia lalu duduk di pinggiran ranjang King Size dan menatap Gia dengan mata abu-abu yang dingin.“Duduk, Gia. Aku akan membacakan aturan di rumah ini sekali saja,” perintah Marco.“Aku bukan anak buahmu!” sergah Gia.Marco mengabaikan bantahan itu. “Pertama, tidak ada privasi. Semua barangmu, ponselmu, bahkan apa yang kau pakai adalah urusanku. Pelayan akan memeriksa kamarmu setiap jam saat aku tidak ada.“Kedua, tida
Last Updated : 2026-04-23 Read more