로그인คาเตอร์และม่านฟ้าเพื่อนสนิทตั้งแต่ประถม เรียกได้ว่ารู้ไส้รู้พุงกันดี เกิดพลาดท่าไปมีความสัมพันธ์ลึกซึ้งด้วยความเมา จึงเกิดเป็นความสัมพันธ์ครึ่งๆ กลางๆ ชวนสับสน งานหวงเพื่อนเกินเบอร์ต้องเข้า
더 보기“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.
Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan.
Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat.
Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan.
Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana.
“Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba.
Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya.
Abra tersedak spontan, dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar.
“Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… Harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.”
Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui.
Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.”
Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya.
“Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu.
“Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri.
Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa.
Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar.
Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima.
Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu.
Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya.
“Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.”
Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya.
“Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri.
Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan.
“Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan.
Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima.
Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh.
“Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu.
“Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah.
“Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal.
Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah.
Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun.
“Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan.
“Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin.
Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya.
“Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar.
Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan.
“Ceraikan Serayu, Abra!”
"ขอบคุณนะคะ เรื่องแต่งงานเดี๋ยวเราคุยกันอีกที ม่านยังอยากใช้ชีวิตตอนนี้ให้เต็มที่ก่อน""เฮ้ออออ~ โอเค แต่คืนนี้ค้างกับเคนะ คิดถึงแฟนจ๋าจะแย่อยู่แล้ว"ใบหน้าหล่อเหลาเคลื่อนเข้ามาใกล้ เกยคางชิดหัวไหล่หญิงสาวพร้อมกะพริบตาปริบ ๆ ท่าทางน่ารักน่าเอ็นดู จนม่านฟ้าไม่อาจกลั้นรอยยิ้มเขินอายเอาไว้ได้ สุดท้ายก็
แต่ก็เบาใจเพราะไม่มีใครเข้ามาวุ่นวายจนเธอรู้สึกอึดอัด มีแค่หยอก แซว ตามประสาเท่านั้นหลายสัปดาห์ผ่านไป ม่านฟ้าจึงได้เริ่มใช้ความรู้จากที่ร่ำเรียนในมหาลัยทดลองงานจริง ซึ่งก็เป็นงานประเภทช่วยคำนวณโครงสร้าง เช็กสเป็กของเครื่องจักรให้ตรงตามที่ลูกค้ากำหนด หลังจากต้องทนเดินงานเอกสาร แม้กระทั่งซื้อข้าวซื้อ
หลายเดือนผ่านไปร่วงเลยจนเข้าสู่เทอมที่สองของชั้นปี 4 ม่านฟ้าก็เป็นคนหนึ่งที่เลือกฝึกงานแทนการทำโครงงานจบ เพื่อที่จะได้ใช้โอกาสนี้ศึกษางานในบริษัทของครอบครัวร่างเล็กสวมเสื้อนักศึกษาคลุมทับด้วยเสื้อช็อปวิศวะสีกรมท่าขนาดพอดีตัว ท่อนล่างสวมเป็นกางเกงยีนขายาวดูเรียบร้อย เพื่อความกระฉับกระเฉงคล่องแคล่ว
"อะไรเหรอ?""ของขวัญการเป็นเด็กดีครับ"เขาตอบอ้อม ๆ พลางเก็บมันใส่กระเป๋าเช่นเดิม ก้าวตรงมาหาร่างยั่วยวนของหญิงสาวที่นั่งไขว้ขาอยู่บนเตียง มุมปากแสยะยิ้มร้ายเริ่มปลดกระดุมเสื้อเชิ้ตออกทีละเม็ดในท่าทางที่แสนร้อนแรงเร้าอารมณ์ ซึ่งครั้งนี้ม่านฟ้าไม่ได้แสดงท่าทีเลิ่กลั่กแตกตื่น เธอทำเพียงอมยิ้มแล้วส่งสา
"อ๊าาา...ไม่เอาแล้ว...อยากเล่นน้ำ~" ม่านฟ้าดีดดิ้นงอแง แต่ฝ่ามือใหญ่ก็ไม่ยอมหยุดรุกรานโดยง่าย ลูบไล้ฟอนเฟ้นไปทั่วหน้าอกอิ่มคู่สวยอย่างหลงใหล พร้อมซุกใบหน้าเข้าหาเนินอกสูดกลิ่นกายหอมหวานเข้าปอด"เล่นน้ำเคดีกว่าครับ เสียวด้วย""งื้ออออ~ ไม่เอาน้า ตั้งแต่มายังไม่ได้ว่ายน้ำเลย นะคะ พลีสสสส~"ร่างเล็กช้อ
ม่านฟ้าหน้าเสียกับคำพูดกระทบกระเทียบเช่นนี้ เมื่อหันกลับไปมองก็พบว่าเป็นพิ้งค์รุ่นน้องที่เคยมาขอความช่วยเหลือเรื่องคาเตอร์ครั้งก่อนกับเพื่อนเธอยืนคุยกันจากตำแหน่งนี้ คิดว่าพวกเธอคงจงใจพูดให้ม่านฟ้าได้ยิน"เอ้า! ปากน่าโดนตบไหมน้อง มีปัญหาอะไรก็มาเคลียร์กันดี ๆ อย่าดีแต่เห่าหอนทำตัวเป็นผีร้องขอส่วนบุ
เช้าวันต่อมาร่างเล็กบิดกายขับไล่อาการเกียจคร้านพร้อมพลิกร่างหันไปอีกฝั่ง ถูไถไปหน้าสวยเข้าหาหมอนนุ่ม ช่วงเอวบางคอดมีท่อนแขนกำยำวางพาดเอาไว้ มือน้อยยกขึ้นขยี้ตาก่อนจะค่อย ๆ กวาดมองรอบห้องที่ยังคงมืดสนิทจากผ้าม่านหนาที่ปิดกั้นแสงภายนอกได้เป็นอย่างดี คงมีเพียงใต้ม่านสีเข้มเท่านั้นที่มีแสงสว่างเล็ดลอดท
ทันทีที่คาเตอร์ลากม่านฟ้ากลับวิลล่าส่วนตัวก็เป็นเวลาของพวกเขาแล้วแก๊ปเป็นคนแรกที่เหมือนจะอดทนรอต่อไปไม่ไหว ช้อนร่างปิ่นสาวน่ารักตัวเล็กผิวสีแทนนวลเนียนขึ้นในอ้อมอกในท่าเจ้าสาว ก้าวฉับ ๆ ตรงเข้าที่พัก สาวน้อยหัวเราะร่านัยน์ตาหยาดเยิ้มด้วยฤทธิ์แอลกอฮอล์และเพลิงพิศวาสที่กำลังแผดเผาเธอทีละน้อยครามก็กร