Se connecter"ขอร้องล่ะค่ะพี่ อย่าดันเข้ามาอีกเลย ฉันจะขาดใจตายอยู่แล้วนะ" ท่ามกลางคอนเสิร์ตที่ผู้คนเบียดเสียดจนแทบไม่มีที่ว่างให้หายใจ ชายคนหนึ่งที่ยืนซ้อนอยู่ข้างหลังฉันพยายามเบียดกระแทกสะโพกเข้าหาบั้นท้ายของฉันอย่างต่อเนื่อง ที่เลวร้ายกว่านั้นคือ วันนี้ฉันดันเลือกใส่กระโปรงสั้นกุดอวดเรียวขา โดยที่มีเพียงกางเกงในจีสตริงตัวจิ๋วปกปิดไว้เพียงน้อยนิดเท่านั้น แต่แล้วชายคนนั้นกลับอุกอาจถึงขั้นเลิกชายกระโปรงของฉันขึ้น แล้วกดแนบส่วนแข็งขืนเข้ากับร่องก้นของฉันโดยตรงอย่างไร้ยางอาย บรรยากาศในงานเริ่มร้อนแรงและเร้าอารมณ์ขึ้นทุกขณะ ฝูงชนด้านหน้าเบียดโถมเข้ามาจนฉันเสียหลักถอยหลังไป ทันใดนั้น ร่างกายของฉันก็พลันเกร็งกระตุกด้วยความเสียวซ่าน ดูเหมือนบางสิ่งบางอย่างจะสไลด์เข้าไปข้างในเสียแล้ว...
Voir plusBaru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.
Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.
Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit.
Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.
“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”
Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”
Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”
Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.
Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!
“T-Tuan…”
Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.
Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.
Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik.
Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?
Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.
“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”
Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.
Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.
Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.
Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.
Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.
"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.
“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.
"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.
Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.
"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.
Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”
Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.
Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.
Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.
“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”
Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”
Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.
Ardan menoleh. “Benar?”
“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”
Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.
Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.
Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.
“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.
Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.
"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.
"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.
Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.
"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.
Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.
Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.
“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”
Prang!
Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.
แม่ของเขาชี้นิ้วด่าทอไปที่เขา "ไอ้ลูกเนรคุณ! แกรรู้ไหมว่าแกกำลังทำอะไรอยู่? หน้าตาของตระกูลเฉินถูกแกทำป่นปี้หมดแล้ว!"คุณพ่อของพี่สาวเองก็มีสีหน้าโมโหเช่นกัน "เฉินเฉิง ถ้าแกกล้าถอนหมั้นล่ะก็ การร่วมมือกันของทั้งสองตระกูลถือเป็นอันจบสิ้นกัน!"เฉินเฉิงก้าวออกมาบังฉันไว้ทางด้านหน้า น้ำเสียงของเขาเรียบเฉยแต่หนักแน่น "คุณแม่ครับ คุณอาหวัง ผมขอโทษครับ งานแต่งงานครั้งนี้เดิมทีมันก็เป็นความผิดพลาดอยู่แล้ว ผมไม่อาจปล่อยให้มันผิดพลาดต่อไปได้อีก ส่วนเรื่องของบริษัท ผมจะหาทางแก้ไขเอง จะไม่ให้ใครต้องมาเดือดร้อนด้วยครับ""แกจะหาทางแก้ไขงั้นเหรอ? แกจะมีปัญญาทำอะไรได้!"แม่ของเขาสั่นเทิ้มด้วยความโกรธ "ที่แกทำแบบนี้ เป็นเพราะยัยเด็กนี่ใช่ไหม!"สายตาของนางมองมาที่ตัวฉัน พร้อมกับความเกลียดชังอย่างรุนแรงทันใดนั้นพี่สาวก็เอ่ยปากขึ้นด้วยน้ำเสียงแหบพร่า "คุณแม่คะ คุณพ่อคะ พอเถอะค่ะ"ทุกคนต่างหันไปมองที่เธอ เธอเช็ดน้ำตาแล้วมองไปที่เฉินเฉิง จากนั้นก็หันมามองที่ฉันน้ำเสียงของเธอแฝงไปด้วยความรู้สึกปล่อยวาง "ความจริงแล้ว หนูรู้มาตั้งนานแล้วค่ะว่าในใจของเฉินเฉิงมีคนอื่นอยู่ ตอนงานแต่งงานสายตาที่เขามองเธอ
"ผมคุยกับเธอแล้ว" เฉินเฉิงพูดขัดขึ้นมา "พองานแต่งจบลง พวกเราก็เซ็นข้อตกลงกันทันที ว่าเมื่อถึงเวลาที่เหมาะสม จะหย่ากันด้วยดี คนในใจของเธอเองก็รอเธออยู่ตลอดเหมือนกัน"ฉันเงยหน้าขึ้นขวับ จ้องมองเขาด้วยความตกตะลึง "พี่สาวรู้เรื่องนี้เหรอคะ?""รู้สิ" เขายิ้มขื่นออกมาหนึ่งที "เราสองคนต่างก็เป็นเหยื่อของการแต่งงานเพื่อผลประโยชน์นี้ด้วยกันทั้งคู่ เพียงแต่ผมไม่คาดคิดว่าจะได้มาเจอกับคุณ"รถจอดสนิทลงที่ริมแม่น้ำ ลมจากแม่น้ำพัดผ่านหน้าต่างรถเข้ามา หอบเอาความเย็นเยียบติดมาด้วยเฉินเฉิงยื่นมือออกมา กุมมือฉันไว้เบาๆ ฝ่ามือของเขายังคงอบอุ่นเหมือนเดิม เหมือนกับในคืนนั้นไม่มีผิด"ผมรู้ว่าแบบนี้มันไม่ยุติธรรมกับคุณนัก ที่ต้องให้คุณมาติดอยู่ตรงกลางด้วยความลำบากใจ แต่ผมไม่อยากจะพลาดโอกาสนี้ไปอีกแล้ว"หัวใจของฉันเต้นรัวเร็วเหลือเกิน ปลายนิ้วสัมผัสได้ถึงอุณหภูมิจากฝ่ามือของเขา ความสับสนในใจเริ่มพังทลายลงทีละนิด แต่แล้วความกังวลระลอกใหม่ก็ผุดขึ้นมา "แล้วถ้าครอบครัวไม่เห็นด้วยล่ะคะ? แล้วถ้าพี่สาว...""เรื่องพวกนั้นปล่อยให้เป็นหน้าที่ของผมเอง" เขากระชับมือฉันให้แน่นขึ้น แววตามั่นคงเด็ดเดี่ยว "ผมจะไม่ยอมใ
คำพูดนี้เป็นเหมือนสายฟ้าฟาดที่ทำเอาสมองของฉันขาวโพลนไปหมดถ้อยคำสารภาพรักเอ่อล้นขึ้นมาถึงปลายลิ้น แต่แล้วภาพของพี่สาวในชุดเจ้าสาวก็พลันวูบเข้ามาในความคิดฉันถอยหลังไปก้าวหนึ่งเพื่อหลบสายตาของเขา "พี่เขยคะ พี่สาวกำลังรอพี่อยู่ค่ะ"แววตาของเขาหม่นแสงลงเล็กน้อย และไม่ได้พูดอะไรต่อฉันหมุนตัวเดินจากมาทันที และแววได้ยินเสียงเขาถอนหายใจเบาๆ จากทางด้านหลังเมื่อกลับไปถึงที่นั่ง พี่สาวกำลังคล้องแขนเขาอยู่พร้อมกับรอยยิ้มที่เปี่ยมไปด้วยความสุขฉันมองดูมือของทั้งคู่ที่กุมประสานกัน ในใจรู้สึกเจ็บปวดราวกับถูกมีดกรีดถ้าฉันพูดออกไป งานแต่งงานของพี่สาวอาจจะพังพินาศ แต่ถ้าไม่พูด ฉันคงต้องแบกรับความเสียดายนี้ไปชั่วชีวิตเมื่อถึงเวลาเลิกรา เฉินเฉิงแอบยัดกระดาษแผ่นหนึ่งใส่มือฉัน บนนั้นมีเบอร์โทรศัพท์ของเขา"รอจนกว่าเธอจะคิดได้นะ" เขามากระซิบที่ข้างหูฉัน "ไม่ว่าเธอจะเลือกทางไหน ผมก็แล้วแต่คุณ"กระดาษแผ่นนั้นถูกฉันกำจนยับยู่ยี่ ตัวเลขบนนั้นแทบจะฝังเข้าไปในฝ่ามือฉันยืนอยู่หน้าประตูโรงแรม มองดูรถวิวาห์ของพวกเขาทะยานจากไปไกลความรู้สึกในใจซับซ้อนสับสนจนถึงขีดสุดสรุปแล้วฉันควรจะเติมเต็มความสุขให
ฉันหวนนึกถึงเหตุการณ์ที่เกิดขึ้นเมื่อคืน แล้วเล่าออกมาว่า"ตอนแรกฉันนึกว่าเป็นนิ้วมือที่มาโดนตัว ก็เลยไม่ได้ใส่ใจอะไร แต่พอตอนหลังเริ่มรู้สึกว่ามันไม่ใช่ นิ้วนี้มันทั้งใหญ่ ทั้งแข็ง แถมยังร้อนผ่าว มันตั้งโด่ดันบั้นท้ายของฉันอยู่ตลอดเวลา"ดวงตาของรูมเมทเป็นประกายวาววับ รีบถามฉันทันทีว่า"แล้วตอนถูกดันน่ะรู้สึกยังไง? เสียวไหม? สบายหรือเปล่า?"ฉันเล่าต่อไปว่า "ความรู้สึกแบบนั้นน่ะ ถ้าแกไม่ไปคิดถึงมันก็คงไม่เป็นไรหรอก แต่ถ้าลองได้คิดขึ้นมาล่ะก็ ความรู้สึกมันจะเตลิดจนหยุดไม่ได้เลยล่ะ พอฉันเริ่มสังเกตว่านิ้วนั้นมันคืออะไร ฉันก็รู้สึกคันยุบยิบที่ก้นไปหมด จนร่างกายเริ่มมีน้ำไหลเยิ้มออกมา"สีหน้าของรูมเมทเริ่มเปลี่ยนเป็นตื่นเต้นตามไปด้วย น้ำเสียงของเธอเริ่มส่อไปในทางลามก"แล้วยังไงต่อล่ะ? หลังจากนั้นมันเข้าไปได้ยังไง?"ฉันรู้สึกเขินอายมาก จึงตอบกลับไปพร้อมใบหน้าที่แดงก่ำ"หลังจากนั้นเขาก็พยายามมุดแทรกเข้ามาข้างในอย่างหนัก แรงเขาน่ะมหาศาลเหมือนวัวเลยล่ะ ฉันขวางเขาไว้ไม่อยู่เลย ทำได้แค่ขมิบก้นหนีบเขาไว้สุดแรง"รูมเมทหลุดหัวเราะพรืดออกมาอาจเป็นเพราะเสียงของพวกเราสองคนดังเกินไป รูมเมทอีก