Aku berkedip dua kali sebelum berkata, “Aku tak mau bermain dengan anak ingusan. Jadi kembalikan kucing itu sekarang atau aku akan pakai kekerasan.”Kubuka kepalan tanganku, menunjukkan sebuah lingkaran api kecil. Aku tidak yakin dengan akurasi serangannya, tapi kupastikan ini akan sakit jika terkena kulitnya, “Kembalikan kucing itu. Sekarang.”Aku memastikan suaraku setegas mungkin tapi sepertinya tidak berhasil karena peri itu malah tertawa dan menggendong kucing hitam itu dengan erat, “Coba saja, Abigail. Aku tahu kamu tidak akan berani. Sejak dulu selalu begitu, ‘kan?”Sejak dulu? Apa maksudnya? Aku yakin benar kami tidak pernah bertemu selain di hutan ini.“Bagaimana kalau begini saja, kita main lima menit dan setelahnya aku kembalikan kucing ini padamu. bagaimana?”“Tidak ada permainan. Kembalikan saja kucingnya. Lagipula, kenapa terusmengajakku bermain? Aku sibuk.”Peri hutan itu mencemberutkan ujung bibirnya dengan wajah sendu, “Aku tak punya teman.”“Kudengar kau sering mencu
Read more