LOGINAda jeda sebentar sebelum kami berdua menemukan suara. Groki tidak hanya mengatakan bahwa Maxwell sendiri yang tahu bagaimana cara mematahkan kutukan, namun Groki tahu siapa Maxwell sebenarnya.“Saya turut berduka cita atas yang menimpa anda. Mm, anda lebih suka dipanggil Maxwell?”“Yah, bagaimanapun Itu nama saya. Tolong bersikap biasa saja. Dan soal kutukan itu saya tidak mengerti.”Groki mengangguk sebelum ia duduk di sofa yang berbentuk jamur raksasa, “Aku masih muda saat kutukan itu dijatuhkan padamu. Baginda raja memerintahkan semua penyihir serta peramal untuk mengatasi kutukan itu. Beliau sangat khawatir. Saat itu, penyihir suci sedang tidak ada di tempat dan kami semua berusaha begitu keras sampai akhirnya beliau menyerah dan yah, kau yang paling tahu kelanjutannya.”Maxwell mendengus saat mendengar hal itu, tapi dia memilih untuk tidak berkomentar. “Saat itu sedang terjadi banyak kekacauan jadi mungkin saja kau mendengar banyak desas-desus. Tapi aku percaya akan hal itu. Ba
Kami berangkat pagi sekali sebelum menyewa kereta kuda menuju Hutan Pinus. Sejak semalam, Maxwell dan aku tidak banyak bicara. Kami hanya bicara seperlunya dan membuat perjalanan kami diliputi keheningan sementara tanganku terus memegang amulet.Kereta kuda berhenti tepat di papan nama hutan yang ditulis di atas kayu yang agak lapuk. Maxwell maju lebih dulu dan aku mengikutinya. Jarak pepohonan yang rapat membuat suasana hutan menjadi suram dan gelap meskipun aku yakin ini baru pukul delapan pagi.Dari kejauhan, kami bisa melihat menara tinggi yang dicat dengan warna pastel yang menyala. Maxwell mendengus, “Firasatku buruk. Menara itu kelihatan seperti kue ulang tahun untuk anak lima tahun. Siapapun yang ada di dalamnya, aku… tak yakin.”“Memangnya kapan firasatmu pernah baik? Lagipula, menaranya terlihat imut. Aku suka.”Ia memutar bola matanya, “Mungkin ini termasuk hal-hal yang hanya dimengerti oleh para penyihir. Yah, kurasa Fabio benar. Para penyihir ini memang agak.. tidak biasa
“Kau yakin?” tanya Maxwell untuk kesekian kalinya setelah kami keluar dari Ausbant dan kembali ke perpustakaan. “Kita ini sedang membicarakan Grische si tukang pembuat kesialan. Bagaimana kalau kita malah dituduh mencuri dan malah dijebloskan di penjara?”“Tinggal kabur saja, apa susahnya? Lagipula kau bisa berubah jadi kucing terbang itu dan kita bisa cari cara untuk menyelinap ke tempat arsip kuno. Setidaknya percaya dirilah sedikit, kita sudah pernah menghadapi naga. Apalagi yang perlu kita takuti?”Maxwell bersungut-sungut saat berkata, “Abby, aku serius.”“Aku juga. Lagipula hanya ini satu-satunya cara yang kupikir bisa dicoba. Kecuali kau punya ide lain, aku akan mendengarkannya.”Laki-laki itu hanya menghela nafas dan tidak mengatakan apapun saat kami akhirnya kembali ke perpustakaan. Petugas perpustaakan yang sama dengan sebelumnya menyambut kami dengan senyum samar saat kami pergi menuju konternya.Tanpa ragu, aku langsung menunjukkan token burung hantu padanya, “Apa ini bisa
Aku melongo saat melihat kuda terbang di langit pagi pada kota Tusban. Atau kelinci bersayap atau kucing berkaki enam. Perjalanan tiga hari dari desa Blackthorn itu terasa seperti mimpi jika dibandingkan dengan pemandangan yang ada di depanku.Aku melirik Maxwell yang nampak biasa saja ketika kami melewati gerbang setelah menunjukkan identitas pengenalnya. Karena aku tak punya kartu identitas, dia harus membayar ekstra untuk menjadi penjaminku.“Kenapa tidak bilang kalau banyak hewan aneh disini?”Maxwell mengangkat alisnya, “Kau sudah melihat, ogre, laba-laba raksasa, dan juga harpy, tapi masih terkejut melihat kuda terbang?”Oh, jadi maksudnya ini normal. Maxwell kemudian melanjutkan jika hewan-hewan disini dulunya liar dan akhirnya diternakkan dan dipelihara oleh para penyihir disini. karena Tusban memiliki populasi penyihir yang paling besar, secara otomatis hewan-hewan itu akan tinggal disini karena kekuatan sihir bisa membantu menjinakkan mereka.Setelah kami memesan dua kamar d
Keesokan harinya, Maxwell dan aku berpamitan setelah kami selesai sarapan. Evan baru saja mengirimkan surat dengan burung merpatinya saat mengantar kami hingga ke perbatasan desa.“Sayang sekali, tak ada kuda yang bisa kupinjamkan pada kalian. Tapi, jarak Tusban dari sini hanya tiga hari perjalanan kaki, kalian pasti bisa melaluinya dengan baik. Hati-hati di jalan dan terima kasih atas bantuan kalian. Jika para warga sudah kembali, kalian harus mampir lagi kesini. Desa kami terkenal dengan makanan penutupnya. Nona Montlace tentu harus mencobanya.”Aku melempar senyum kecil dan tak tahu harus berkata apa. Karena aku tak yakin bisa tinggal lebih lama setelah mematahkan kutukan Maxwell. Setelah mendapatkan beberapa saran dari Evan, kami akhirnya benar-benar pergi setelah mengucapkan selamat tinggal.“Berarti malam ini kita akan tidur di hutan lagi?” tanyaku saat melewati jalan setapak di dalam hutan yang akan membawa kami ke Tusban.“Tidak seperti Pegunungan Utara yang banyak hewan buas
Desa Blackthorn ternyata lebih dekat dari yang kupikir. Begitu keluar dari hutan dan melewati jalan setapak, kami disambut dengan papan kayu dengan tulisan nama desa tersebut.Bangunan-bangunan di dalam desa itu kebanyakan dibuat dengan batu bata dan semua pintunya tertutup. Barisan toko makanan dan perlengkapan lainnya terlihat sepi dan tak ada tanda kehidupan.“Tidakkah desa ini terlalu sunyi? Matahari sudah tinggi tapi tidak ada satu toko yang buka. Lihat, bahkan penginapan yang ada di seberang trotoar itu masih tutup,” kataku pada Maxwell yang berjalan di sampingku. Maxwell mengedikkan bahunya, “Kita akan cari tahu nanti setelah menjual tanduk-tanduk ini. Lihat, setidaknya ada Serikat petualang di sudut jalan itu. Ayo, kita pergi.”Aku mengernyitkan dahi saat melihat bangunan yang ditunjuk Maxwell juga tertutup rapat. Tapi, tak ada pilihan lain selain mengikutinya.Maxwell mengetuk pintu itu beberapa kali, “Permisi, apa ada orang disini?”Tak ada suara balasan.“Mungkin desa in
Entah dari mana aku mendapatkan keberanian itu, tapi tanganku sudah mencengkeram kerah bajunya. "Maxwell Ignatius de Albertine, aku sudah bertekad agar kau bisa menikah dengan seorang gadis manusia dan memiliki anak-anak manusia juga. Kau harus hidup bahagia dan terbebas dari kutukan sialan itu l
Maxwell mengangkat sebelah alisnya saat aku menyeruput sisa sup kentang buatannya dari mulut mangkuk.Entah karena lapar atau dia memang pandai memasak, tapi rasa supnya enak sekali. Aku bahkan tak menolak saat ia menuangkan sisa sup dari panci kepadaku."Kau tak bisa terus menggunakan
"Nona mengenal saya?" Tanyanya dengan dahi berkerut. Dia membungkuk sedikit sebelum melanjutkan, "Maaf atas ketidaksopanannya, tapi saya tidak yakin pernah menemui anda sebelumnya."Aku tergagap. Sepertinya tanpa sadar aku mengucapkan namanya keras-keras."Aku.. aku.. sebenarnya..
Dengan perasaan malu, aku harus mengakui kalau ucapan Nenek memang ada benarnya.Sesampainya di kota, aku nyaris melupakannya kalau tak ada amulet yang selalu bergantung di leherku.Kota ini benar-benar menyita perhatianku seolah ada aura magis yang menyelubunginya.Dulu, kami tinggal di







