LOGINAbigail 'Abby' Montlace begitu terkejut saat terbangun di dalam hutan antah berantah setelah pesta ulang tahunnya yang ketujuh belas. Hal semakin aneh terjadi saat Maxwell Ignatius de Albertine, tokoh dongeng yang dibacakan neneknya saat kecil, menyelamatkannya. Kali ini giliran Abby menyelamatkan Maxwell dari kutukan yang membuatnya dibuang dari kerajaannya. Berhasilkah ia?
View MoreNamaku Abigail Montlace. Semua orang memanggilku Abigail atau si bungsu dari keluarga Montlace.
Tapi nenekku memanggilku Abby. Aku sangat menyukai nama itu. Sebenarnya aku menyukai apa saja yang dikatakan nenek.
Beliau adalah pendongeng yang hebat. Cara penyampaiannya benar-benar bagus seolah semua dongeng yang diceritakan adalah kisah nyata. Tapi ada sebuah cerita yang paling kusukai yaitu mengenai Pangeran Maxwell. Pangeran malang itu dibuang oleh keluarganya karena sebuah kutukan yang menjadikannya seekor kucing saat matahari tenggelam. Ia akan kembali menjadi manusia saat lewat tengah malam.Dan hanya cerita itu saja yang tidak kuketahui akhirnya.Pernah suatu ketika aku menanyakan hal itu. Kalau tidak salah, saat usiaku masih tujuh tahun.Nenek dengan senyum hangatnya, menjawab bahwa ia masih belum menemukan akhir cerita yang pantas untuk pangeran Maxwell."Jadi, Nenek membuatnya sendiri?""Tentu saja tidak, Abby. Angin yang memberitahukan padaku.""Angin? Bagaimana caranya?""Saat angin berhembus, pejamkan matamu dan dengarkan apa yang ia katakan. Angin merupakan perantara dan pencerita yang jujur. Aku yakin kau akan menyukainya."Saat itu aku hanya mengangguk tanpa tahu maksudnya. Setelah itu aku selalu mencobanya. Tapi tak membuahkan hasil.Aku bahkan memejamkan mata sambil menangkupkan tangan ke belakang telinga. Hanya terdengar suara tak berkata.Aku mengadukan hal ini pada Nenek. "Mungkin ia masih malu untuk menyampaikan sesuatu padamu.""Bagaimana cara Nenek akrab dengan angin? Aku ingin tahu cerita selanjutnya, Nek.""Abby, kadangkala bukan hanya angin. Tapi seluruh alam ini mencoba untuk berkomunikasi dengan para manusia. Mereka menggunakan bahasa dan cara pendekatan yang berbeda-beda. Para manusia hanya perlu mendengar lebih dalam.""Mendengar lebih dalam? Apa maksudnya?"Senyum Nenek nampak misterius saat itu, "Nanti kau akan mengetahuinya."Tapi tidak.Bahkan sampai saat umurku hampir menginjak tujuh belas. Aku sama sekali tak mengerti.Saat aku berumur delapan tahun, Ayah mendapat pekerjaan di kota yang sekarang kami tinggali.Pekerjaan Ayah sebagai pedagang berkembang dengan baik. Sehingga kami bisa hidup berkecukupan.
Tidak perlu mencari kayu bakar di hutan lagi. Tidak perlu berbagi selimut lagi saat musim dingin tiba.Tapi Nenek tidak mau ikut pindah bersama kami. Ia tak ingin meninggalkan gubuk tuanya. Bahkan saat aku menangis dan merengek kepadanya, ia sama sekali tak berniat merubah pikirannya."Aku ingin selalu bersama, Nenek. Bagaimana bisa aku hidup tanpamu?""Saat di kota nanti, aku yakin banyak hal menyenangkan yang kau temui. Kau mungkin akan melupakan nenek tua ini.""Tentu saja, tidak! Aku akan tinggal bersama Nenek!""Jangan begini, Abby. Nanti orang tuamu sedih. Kau tidak suka membuat mereka sedih, bukan?"Dengan lembut, Nenek menyeka air mata dan ingus dari wajahku. "Begini saja. Aku akan memberikanmu sebuah hadiah. Sebagai tanda, bahwa aku akan selalu bersamamu, dimanapun kau berada."Sebuah amulet dari batu hijau dengan kalung berupa rantai kecil perak. Nenek mengalungkannya di leherku dan menutupinya dengan syal milikku."Pastikan kau selalu menjaganya dan jangan sampai ada orang lain yang mengetahui keberadaan amulet ini.""Bahkan pada Ayah atau Ibu?""Amulet ini terbuat dari batu emerald. Beberapa orang menyebutnya batu zamrud. Melambangkan perlindungan dan kebijaksanaan. Harganya sangat mahal dan aku takut, mungkin orang tuamu akan menjualnya." Wajah Nenek tampak sedih. Kerutan di dahinya semakin dalam. Mendadak ia terlihat sepuluh tahun lebih tua. "Kalau itu terjadi, satu-satunya penghubung di antara kita akan hilang. Mungkin saja, aku tak bisa bertemu lagi denganmu."Tangisku pecah dan aku segera memeluk Nenek. Aku berjanji akan menjaga amulet itu beserta dengan hubungan serta kenangan kami yang berharga.Nenek balas memelukku dan mengatakan bahwa aku harus menjadi anak baik.Aku menenggelamkan kepala dalam lengannya. Tercium aroma campuran kayu manis dan roti panggang yang baru keluar dari oven. Aku pasti akan merindukannya.Itulah terakhir kalinya kami bertemu.Aku hampir tak bisa menghitung berapa jumlah apel yang aku makan sambil menunggu Maxwell menebas para Ogre malang itu di dekat gua. Dia bilang karena sudah menggunakan banyak energi sihir, aku dilarang untuk membantunya.Yah, aku bahkan tidak berniat untuk mengeluh. Membunuh makhluk dengan ingus raksasa bukan masuk daftar keinginanku. Jadi kubiarkan dia melenturkan ototnya yang kaku setelah memarnya sembuh.“Senang bertemu anda lagi, Nona Abby.”Perhatianku teralihkan ke arah suara merdu itu. Grische, si elf tampan itu datang dan menghampiri dengan senyum ramah. Aku menganggukkan kepala dan karena tak mengerti harus bicara apa, kuulurkan sebutir apel untuknya, “Kau mau?”Senyum Grische semakin lebar saat mengambil apel itu dan memakannya sambil duduk di semak belukar yang ada di sampingku, “Terima kasih. Aku hampir saja pingsan karena lapar.”Mendengar hal itu, kuulurkan keranjang berisi apel padanya. Kami berencana menjualnya karena buah apel memiliki harga yang cukup mahal apalagi
Gematra sedang duduk di singgasanan batunya itu saat kami kembali. Senyumnya masih seramah sebelumnya tapi aku bisa melihat ekspresi semacam ‘Ah, kalian ternyata masih hidup?’Maxwell membungkuk sopan sebelum berkata, “Kami telah melakukan perintah anda, Dewi.”“Itu bagus sekali! Sekarang aku bisa tidur nyenyak.”Aku menahan diri untuk tidak mendengus. Tak ada rasa bangga karena hampir kehilangan nyawa untuk menjaga jadwal tidur sang dewi. Buru-buru kuambil kantung dan menunjukkan isinya padanya, “Dewi, saya mempersembahkan Persion untuk anda.”Mata ungu milik Gematra bersinar cerah. Ia menggerakkan jarinya dan kantung berisi Persion itu melayang ke arahnya, “Ah, Persi! Akhirnya kau kembali ke bentuk asalmu.”Ucapan tersebut membuat Maxwell dan aku slaing bertikar pandang. Dia bilang apa barusan?Persion mendesis lebih keras. Mungkin tersinggung karena dipandangi seperti mainan baru. Jadi dia mencoba terlihat menakutkan dengan membuka mulutnya untuk mengeluarkan api kecil sambil meng
Semoga di dunia ini tidak ada dewa atau dewi yang bisa membaca pikiranku. Karena baru kali ini aku merasa ingin menonjok wajah seorang dewi. Atau setidaknya memakinya.Persion, si ‘kadal’ itu mulai bergerak kesana kemari karena si kucing bersayap ini menyakarnya dari beberapa arah. Sementara serangan sihirku yang masih sulit kukendalikan, malah membuatnya semakin murka..Untunglah, Maxwell berhenti saat aku hampir saja mabuk udara.“Ini ide terburuk yang pernah kau punya,” gumamku sambil mencengkeram bulu di tengkuknya erat-erat.“Setidaknya aku punya masih punya ide yang layak dicoba. Tapi, aku akan senang jika kau mau membantu.”Yang benar saja! Apa ia tidak tahu jika mengendalikan sihir sambil menahan muntah itu sulit!Naga itu mengangkat kepala perlahan. Setiap gerakan sisiknya menggesek batu, menimbulkan suara “sraaak” yang membuat bulu kudukku meremang. Uap panas keluar dari lubang hidungnya, menciptakan kabut tipis yang berbau seperti besi terbakar.Maxwell menegang di bawahku,
Max mengusap dahinya yang penuh keringat sebelum memanggil namaku. "Abby, kau baik-baik saja? Kenapa diam saja?""Maaf, aku nyaris ketiduran." Max menyeringai saat menyadari kesinisan dalam nada bicaraku. "Sepertinya aku terlalu bersemangat. Sini, berjalanlah di dekatku. Aku masih bisa mencium bau mereka dalam sepersekian meter." Aku mengangguk dan memutuskan untuk fokus pada jalan yang kulalui. Mayat-mayat Ogre bersimpah darah jatuh berserakan di atas tanah. Baru beberapa langkah, aku menyadari sesuatu yang aneh pada mereka. "Apa benda hijau di balik lengan mereka ini?" Alis lelaki itu naik sebelah, "Benda hijau?" "Seperti kancing." Kataku sambil mengangguk. Max menggunakan pedangnya untuk menyetuh bagian tubuh yang kumaksud. Untungnya ia masih memakai sarung tangan hitam saat meraih kancing bulat bewarna
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore