Pagi datang dengan cara yang kejam bagi Nayara karena terlalu terang, terlalu cepat, dan terlalu jujur. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai apartemennya, memantul di lantai, seakan menertawakan malam yang penuh kegelisahan. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang sejak tadi dingin di genggamannya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.Entah mengapa, itu membuat dadanya terasa lebih sesak.Nayara menghela napas, lalu berdiri. Rutinitas pagi ia jalani dengan gerakan otomatis: mandi, berpakaian rapi, menyematkan kartu identitas kantor. Ia memilih setelan paling sederhana, blus krem dan rok hitam, seolah kesederhanaan bisa menjadi tameng dari perasaan yang tidak ia undang.Di cermin, ia menatap dirinya sendiri.“Profesional,” bisiknya. “Kamu harus profesional.”***Kantor sudah ramai ketika Nayara tiba. Denting keyboard, suara printer, percakapan ringan antarpegawai, semua terasa seperti jangkar yang menahannya tetap di dunia nyata. Ia langsung menuju mejanya, menyalakan k
Last Updated : 2026-01-08 Read more