LOGINPagi datang dengan cara yang kejam bagi Nayara karena terlalu terang, terlalu cepat, dan terlalu jujur. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai apartemennya, memantul di lantai, seakan menertawakan malam yang penuh kegelisahan. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi ponsel yang sejak tadi dingin di genggamannya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.Entah mengapa, itu membuat dadanya terasa lebih sesak.Nayara menghela napas, lalu berdiri. Rutinitas pagi ia jalani dengan gerakan otomatis: mandi, berpakaian rapi, menyematkan kartu identitas kantor. Ia memilih setelan paling sederhana, blus krem dan rok hitam, seolah kesederhanaan bisa menjadi tameng dari perasaan yang tidak ia undang.Di cermin, ia menatap dirinya sendiri.“Profesional,” bisiknya. “Kamu harus profesional.”***Kantor sudah ramai ketika Nayara tiba. Denting keyboard, suara printer, percakapan ringan antarpegawai, semua terasa seperti jangkar yang menahannya tetap di dunia nyata. Ia langsung menuju mejanya, menyalakan k
Lampu kota berpendar seperti garis-garis cahaya yang memanjang di kaca depan mobil. Kendrick tetap fokus ke jalan, namun pikirannya terbelah dua—satu pada Nayara yang tertidur lelap di kursi penumpang, satu lagi pada mobil hitam di belakang yang konsisten menjaga jarak.Ia menurunkan kecepatan sedikit, berpura-pura santai. Mobil hitam itu ikut melambat.Kendrick menegangkan rahang.“Bukan kebetulan,” gumamnya hampir tak bersuara.Tangannya bergerak cepat, menekan tombol di setir untuk menghubungi seseorang lewat sistem hands-free. Nada sambung terdengar sekali sebelum suara berat di seberang menjawab.“Bos?”“Reno. Aku di jalan pulang. Ada satu mobil mencurigakan mengikutiku sejak keluar kantor.”“Ciri-ciri?”“Sedan hitam. Lampu redup. Jaga jarak terlalu rapi untuk disebut kebetulan.”Hening sepersekian detik. “Saya kirim tim. Bos mau saya arahkan ke rute tertentu?”Kendrick melirik Nayara lagi. Wajah gadis itu terlihat damai, sama sekali tak menyadari ketegangan yang mengisi udara di
Suara ketikan keyboard dan deru pendingin ruangan berpadu dalam harmoni monoton yang memenuhi ruang kantor sore itu. Lampu-lampu putih mulai redup menandai waktu kerja hampir berakhir, namun hanya satu orang yang masih tampak sibuk berkeliling dari satu meja ke meja lain — Nayara.Gadis itu menggenggam tumpukan berkas tebal di tangannya, matanya fokus, langkahnya cepat, dan rambut yang diikat seadanya mulai berantakan karena terlalu lama bekerja. Sementara staf-staf lain sudah mulai bersiap pulang, dia masih menata map-map biru dan memasukkan dokumen penting ke dalam laci kabinet.Dari arah ruang kerja, Kendrick baru saja keluar. Kemejanya sudah sedikit terbuka di bagian atas, dasi hitam yang tadi rapi kini dilonggarkan. Tatapannya langsung jatuh pada sosok Nayara yang masih sibuk, seperti tak mengenal lelah.Ia berdiri sejenak di depan pintu, menyilangkan tangan di dada. Bibirnya menahan senyum kecil — campuran antara kagum dan heran. “Perempuan ini benar-benar tidak tahu arti istira
Nayara membuka kulkas dengan sisa tenaga yang ada. Matanya masih sedikit sayu karena semalaman tak bisa tidur nyenyak, ditambah sekarang dia harus menghadapi mood Kendrick yang berubah-ubah seperti cuaca di musim pancaroba.Dia menarik keluar beberapa bahan makanan seadanya seperti telur, roti dan sosis. Dia pun mulai memasaknya dengan gerakan cepat. Wajahnya menegang, bukan karena marah, tapi karena sedang berusaha keras menahan diri untuk tidak meledak di hadapan Kendrick yang selalu ingin menang sendiri."Aku ini bekerja di rumah majikan, bukan di istana raja," gumam Nayara pelan sambil memecahkan telur di atas wajan.Suara langkah kaki dari arah ruang tamu membuatnya menoleh sekilas. Kendrick sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian rapi, kemeja putih dan celana hitam pas badan. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru itu yang membuat sosok pria itu tampak terlalu menawan untuk orang yang menyebalkan.“Sudah selesai?” suaranya berat dan berwibawa, tapi terdengar sepert
Nayara duduk di sofa dengan helaan napas yang panjang. Dia merasa sedikit lega karena bisa memisahkan diri dari Kendrick juga Yuri.Tangan Nayara langsung merogoh pada saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam.Dia berusaha menenggelamkan diri untuk tidak merasa bosan selama menunggu Kendrick dan Yuri di dapur sana.Setengah jam berlalu.Nayara baru tersadar jika diri masih berada di ruang tamu sendirian dan belum melihat Kendrick atau pun Yuri keluar dari sana. Dirinya hanya ingin memastikan dan membawa tasnya yang tertinggal di sana untuk diri dapat pergi dari rumah Kendrick sesegera mungkin.Akan tetapi, dirinya harus segera pergi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang sudah tertunda dan harus segera dia selesaikan hari itu juga.Alhasil, dirinya hanya bisa mondar-mandir naik turun tangga untuk menuju ke arah dapur."Kamu sedang apa?" tanya Kendrick yang memecahkan lamunan Nayara yang sedang hanyut dalam pikirannya sendiri.Seketika Nayara langsung menghen
Yuri yang baru saja menghidangkan makanan di atas meja makan dia agak sedikit tertegun melihat kemesraan yang dilakukan Kendrick pada Nayara. Sedangkan Nayara sendiri dia agak merasa canggung diperlakukan seperti itu oleh Kendrick. Dia jelas tak biasa bersikap seperti itu pada bosnya. “Maaf aku tak sempat memberitahu pihak kantor karena tadi terlalu khawatir mengetahui keadaan Kendrick yang demam tinggi tadi pagi!” tutur Yuri sambil duduk di kursi, dia berusaha untuk memperlihatkan sikap yang dewasa dan tak kekanakan. Tak cemburu walaupun hatinya saat ini tengah memberontak atas dirinya yang hanya diam saja melihat seseorang yang dia sukai malah mesra dengan wanita lain. Nayara menarik napas. Dia ingin menghilangkan sikap canggungnya di depan Yuri. Dia pun duduk di kursi di samping Kendrick. “Tak masalah! Saya malah harus mengucapkan terima kasih pada Kak Yuri karena telah merawat Kendrick untuk saya!” ujar Nayara dengan senyuman yang membuat Yuri semakin kesal karen







