"Teman yang serasa saudara lebih penting daripada saudara yang terasa jauh karena keegoisan sendiri."Sando tiba-tiba muncul dari pintu belakang, wajahnya tampak serius, langsung menuju ke arah Arga dan Maya.“Arga, Maya,” katanya, suaranya berat, nyaris berbisik. “Ada masalah baru. Sesuatu yang gawat. Ryan…”Seketika, keriuhan perayaan yang baru saja membumbung di gudang itu runtuh, digantikan oleh keheningan mencekam. Semua perayaan dan kegembiraan di gudang mendadak menghilang. Maya memucat pasi, matanya membulat. Pertanyaan yang tak terucapkan menggantung di udara, memakan seluruh kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan.“Apa maksudmu, Sando?” Arga berdiri, mendekat. Sorot matanya tajam, menuntut penjelasan. “Ryan kritis, tapi dokter bilang ada perbaikan. Apanya yang gawat?”Sando menarik napas panjang, tampak kesulitan mencari kata yang tepat. “Bukan cuma kritis lagi, Arga. Racun yang ada di tubuhnya… dia bermutasi. Lebih agresif. Dokter tidak pernah melihat yang seperti itu.
Read more