LOGIN"Satu persatu senjata tersembunyi mulai muncul dan memunculkan bahaya baru. Perang ternyata adalah kondisi memuakkan yang berkelanjutan." Udara di ruang rapat itu masih terasa tegang, bukan hanya karena data-data finansial yang membingungkan, melainkan karena ancaman baru yang tak terduga. Penemuan server cadangan di bawah rumah Mr. Albert, lengkap dengan enkripsi misterius dan pulsa data acak, telah menyuntikkan kecemasan ke dalam perayaan kemenangan yang baru saja mereka raih. Arga, yang tadinya berusaha keras fokus pada pembagian aset, kini merasa dadanya sesak. Ia mencuri pandang ke arah Maya dan Sando, yang sedang berbisik membahas peta jaringan limbah. Entah mengapa, hati Arga terasa lebih berat dari biasanya.“Jadi, server itu mengirimkan pulsa data acak ke titik-titik bekas pembuangan Racun Aether?” Arga mengulang, suaranya kini lebih dingin dari biasanya. Matanya menyapu wajah-wajah serius di sekeliling meja. "Apa yang bisa dilakukan pulsa data semacam itu?”Maya mematika
"Harta hanya titipan, tetapi harta yang didapatkan dari jalan batil, akan berakhir membawa kepedihan bagi diri sendiri maupun orang lain."Udara di markas Arga masih bergetar dengan gema dari penemuan mengerikan mengenai Sando. Namun, kemenangan tak bisa menunggu lama untuk dirayakan atau diurus. Kekacauan yang ditinggalkan oleh Aliansi Tujuh Penguasa membutuhkan tangan-tangan baru yang bertanggung jawab, dan aset-aset raksasa yang dulunya mereka kuasai kini menjadi rebutan untuk keadilan.Di ruang rapat utama, layar-layar holografik memproyeksikan data-data finansial dan properti yang membingungkan. Gunung kekayaan yang dibangun di atas penderitaan, kini harus dibongkar dan dibagikan secara adil. Arga berdiri di kepala meja, sorot matanya tajam namun juga memendam kepedihan yang baru. Di sampingnya, Maya dengan cekatan memanipulasi konsol, data-data aset bergulir di hadapannya seperti gulungan takdir. Ryan, yang kondisinya kini sudah lebih stabil berkat penawar yang didapat dari
"Tak ada kecurangan terkecuali diada-adakan untuk menutupi kekurangan yang berpotensi terlihat."Udara di markas terasa berat, dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Layar-layar besar masih memancarkan informasi ‘Proyek Chimera’ yang mengerikan, sementara Arga dan Maya berdiri di sana, terdiam, terpaku oleh fakta baru yang baru saja terungkap. Cahaya biru monitor memantulkan kepanikan di mata mereka.“Sando… satu-satunya harapan kita?” Arga memecah keheningan, suaranya serak. Ia menoleh ke Maya, seolah mencari konfirmasi atas kekejaman takdir yang baru mereka temukan.Maya mengangguk pelan, air mata kembali menggenang. “Catatan di sini tidak mungkin salah, Arga. Dr. Benedict, kepala peneliti Mr. Albert untuk proyek itu, sangat teliti. Hanya Sando yang pernah menunjukkan resistensi parsial terhadap Racun Aether di fase awal. Bahkan setelah kematiannya. Ada anomali genetik yang dicatat.”“Berarti reinkarnasinya…” Arga menggantung kalimatnya, matanya menyipit, mencerna implikasi mengeri
"Musibah datang untuk menguji semua ketegaran manusia dalam memilah dan memilih langkah pencegahan dan mengatasinya."Detik-detik setelah teriakan Arga menggema di gudang, suasana mendadak pecah. Tidak ada lagi tawa atau sorakan kemenangan. Hanya raut panik, kekhawatiran, dan kemarahan yang membuncah. Arga sudah lebih dulu melesat, diikuti Darren dan Alan yang sigap mengarahkan tim masing-masing. Sirene kendaraan seadanya meraung, membelah malam Bumintara yang masih dipenuhi sisa-sisa euforia yang kini berubah jadi duka.Ketika mereka tiba di rumah sakit, pemandangan itu seperti mimpi buruk. Pintu utama hancur, kaca-kaca pecah berserakan, dan kepulan asap tipis masih membubung dari beberapa sudut. Tim keamanan Arga yang lebih dulu tiba sudah mengamankan lokasi, tetapi ketegangan masih terasa pekat di udara.Arga melompat dari mobil, matanya menyapu sekeliling. “Maya! Sando! Kalian di mana?!” suaranya tegas, ada nada cemas yang tak bisa ia sembunyikan.Tak lama, sosok Maya muncul dari
"Teman yang serasa saudara lebih penting daripada saudara yang terasa jauh karena keegoisan sendiri."Sando tiba-tiba muncul dari pintu belakang, wajahnya tampak serius, langsung menuju ke arah Arga dan Maya.“Arga, Maya,” katanya, suaranya berat, nyaris berbisik. “Ada masalah baru. Sesuatu yang gawat. Ryan…”Seketika, keriuhan perayaan yang baru saja membumbung di gudang itu runtuh, digantikan oleh keheningan mencekam. Semua perayaan dan kegembiraan di gudang mendadak menghilang. Maya memucat pasi, matanya membulat. Pertanyaan yang tak terucapkan menggantung di udara, memakan seluruh kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan.“Apa maksudmu, Sando?” Arga berdiri, mendekat. Sorot matanya tajam, menuntut penjelasan. “Ryan kritis, tapi dokter bilang ada perbaikan. Apanya yang gawat?”Sando menarik napas panjang, tampak kesulitan mencari kata yang tepat. “Bukan cuma kritis lagi, Arga. Racun yang ada di tubuhnya… dia bermutasi. Lebih agresif. Dokter tidak pernah melihat yang seperti itu.
"Kehilangan keluarga seperti kehilangan dari diri sendiri, sakit, beban tapi harus dilepaskan."Satu jam telah berlalu sejak Mr. Albert mengembuskan napas terakhir. Suasana di markas sementara, sebuah gudang logistik milik Darren yang kini disulap menjadi pusat komando, terasa campur aduk. Ada kelegaan yang membuncah, euforia atas kemenangan yang telah lama dinanti, namun juga bayangan duka dan kecemasan yang menggantung.Ribuan pengikut Arga, para aktivis, sukarelawan, dan warga sipil yang selama ini berjuang dalam bayang-bayang, mulai berkumpul. Lampu-lampu darurat yang remang-remang di gudang tak mampu menyembunyikan senyum lega di wajah-wajah yang lelah, mata yang memancarkan harapan. Aroma kopi instan dan mi rebus menyelimuti udara, perayaan sederhana untuk sebuah kemenangan luar biasa.Arga duduk di sebuah kursi lipat, memandang layar monitor besar yang menunjukkan laporan dari berbagai tim. Darren berdiri di sampingny







