"Hanya ada satu cinta, satu keabadian, membela dan menegakkan keadilan di muka bumintara selamanya."Kini, beberapa hari setelah euforia kemenangan mereda, suasana di markas utama terasa berbeda. Bukan lagi gegap gempita perayaan, melainkan semacam kelegaan yang hampa, seperti hembusan napas panjang setelah menahan diri terlalu lama. Aset-aset para penguasa sudah dibagikan, keadilan ditegakkan, dan keluarga korban telah mendapatkan hak mereka. Namun, di tengah semua resolusi itu, ada satu hati yang terasa remuk.Arga berdiri di balkon atas markas, menatap langit malam yang bersih. Kota di bawahnya tampak tenang, damai, hasil dari perjuangan yang tak kenal lelah. Tapi damai di hatinya sendiri? Ia rasa belum.“Bos, sudah siap?” Ryan menghampirinya, suaranya pelan, seolah takut memecah kesunyian di antara mereka.Arga berbalik, mengangguk. Wajahnya terlihat tenang, tapi Ryan bisa melihat gurat lelah dan kesedihan yang tak dapat disembunyikan di balik mata Arga yang biasanya penuh semang
Read more