로그인Di sebuah gedung tua yang tersembunyi di pinggiran kota, Armand duduk di depan deretan layar monitor resolusi tinggi. Armand menyesap wine merahnya sambil tersenyum lebar melihat drama yang terjadi di layar. Kamera tersembunyi di ruangan Meera masih berfungsi, memberikan sudut pandang sempurna dari kemarahan Sakha. "Lihat itu," Armand menunjuk ke arah layar. "Sakha terlihat sangat gagah saat marah, bukan?" Seorang wanita yang berdiri di kegelapan di sampingnya mendengus. "Dia sudah menutup akses gedung. Rencanamu untuk menariknya keluar dari sana bisa berantakan kalau kamu terlalu lama menonton." Armand tertawa rendah, suara yang terdengar parau dan tidak menyenangkan. "Oh, tidak. Justru ini yang aku inginkan. Aku ingin dia merasa dia memiliki kendali, sebelum aku menarik karpet dari bawah kakinya." Armand mencondongkan tubuh ke depan, matanya yang dingin menatap tajam ke arah sosok Sakha di layar. "Dia pikir dia bisa melindunginya hanya dengan mengunci gedung? Sangat naif."
Suasana di lantai eksekutif Mahesa Group yang biasanya tenang dan elegan mendadak berubah menjadi mencekam. Meera berdiri mematung di tengah ruangannya yang luas. Ponsel asing di tangannya terasa sangat berat, seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Di layarnya, sebuah video sedang berjala menampilkan sudut depan rumah pribadinya secara real-time. Ada satu titik merah kecil yang berkedip di sana. “Satu langkah lagi dan aku masuk.” Pesan singkat itu terus terngiang di kepalanya seperti kutukan. Meera merasa oksigen di sekitarnya menipis. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ia teringat sesi latihan mental yang baru ia mulai tadi pagi bersama Sakha. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan degup jantungnya yang liar. "Fokus, Meera. Jangan biarkan dia menang," bisiknya pada diri sendiri. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia menekan nomor panggilan cepat. Satu-satunya nomor yang bisa memberikannya rasa aman. Di belahan kota yang lain, Sakha s
Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menerangi ruang tamu kecil yang semalam menjadi saksi pertarungan. Namun meskipun bekas-bekasnya sudah dibersihkan, suasana di rumah itu tidak pernah benar-benar sama lagi. Meera berdiri di dapur. Tangannya sibuk menyiapkan sarapan. Namun pikirannya menerawang jauh. Semalaman ia tidak benar-benar tidur. Bayangan Sakha yang bertarung dengan pria-pria yang tergeletak di tanah. Dan satu nama yang terdengar yaitu, Armand. Terus berputar di kepalanya. “Sakha…” gumam Meera pelan. Kemudian Meera melirik ke arah ruang tamu. Pria itu sedang duduk di sana, membaca sesuatu di tablet dengan tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun Meera tahu bahwa ketenangannya itu adalah kepalsuan di permukaan. Sakha menatap layar di tangannya. Ia membaca laporan yang dikirim oleh Darren. Semua pergerakan semalam sudah dianalisis. Dan hasilnya tidak sederhana yang dibayangkan. “Ada tiga titik pengamatan di sekitar rumah,”
Sakha berdiri di depan pintu. Empat pria di hadapannya bukan orang biasa. Dari cara mereka berdiri, lalu tatapan mata mereka yang tajam, dan aura yang mereka bawa. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa dengan kekerasan. Namun Sakha tidak mundur satu langkah pun. “Aku sudah memperingatkan kalian,” ucapnya dingin. Salah satu pria di depan tersenyum miring. “Oh ya, kami sudah mendengarnya.” “Sayangnya…” ia melangkah maju sedikit. “Kami tidak datang untuk mendengar itu.” Sakha menyipitkan mata. “Pergi kalian!" usirnya, sedikit menggeram. Pria itu tertawa kecil. “Kalau kami pergi… kami pulang dengan tangan kosong. Dan itu bukan tujuan kami.”Mendengar itu membuat Sakha melangkah turun dari teras, kemarahan terus membuncah di dadanya. Kini jarak mereka hanya beberapa langkah. “Kalau begitu…” suara Sakha rendah. “Kalian cari mati di sini." Salah satu pria langsung menyerang. Gerakannya cepat mengarahkan tinjuannya ke arah wajah Sakha. Namun, Sakha lebih cepat. Tangannya berger
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Bahkan suara kendaraan di luar rumah seolah meredup, memberi ruang bagi ketegangan yang memenuhi udara di dalam ruang tamu kecil itu.Meera duduk diam. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya. Matanya tak lepas dari Sakha. Menunggu dengan sedikit rasa takut.Sementara itu, Sakha berdiri diam di hadapannya. Bukan karena ia ragu, melainkan karena ia tahu. Sekali ia membuka semuanya, tidak akan ada jalan kembali.“Namaku…” Sakha menggelengkan kepalanya, lalu berkata. "Lebih tepatnya…”Sakha menatap Meera sangat lekat. “Aku adalah pewaris keluarga Munthe.”Saat kalimat itu meluncur keluar, mendadak hening seketika seolah waktu berhenti.Meera tidak langsung bereaksi. Otaknya belum bisa memproses.“Apa…?” suara Meera nyaris tak terdengar.“Aku adalah cucu dari pemilik lama Munthe Group,” lanjut Sakha dengan tenang. “Dan sekarang… seluruh perusahaan itu berada di bawah kendaliku.”Meera menatap Sakha dengan tatapan kosong, tidak percaya.“Tidak…
Malam turun perlahan di kota B. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, membentuk lautan cahaya yang indah dari kejauhan. Namun di balik keindahan itu, sesuatu yang gelap mulai bergerak. Sesuatu yang selama ini tersembunyi. Dan kini mulai bangkit. Di dalam rumah, suasana terasa berbeda. Meera duduk di meja makan, menatap Sakha yang baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya. Tatapan pria itu tidak seperti biasanya. Ada ketegangan dan kewaspadaan Yang paling membuat Meera gelisah adalah, seperti ada jarak antara mereka berdua. “Sakha…” panggilnya pelan. Pria itu menoleh, kembali memasang ekspresi tenang seperti biasa. “Kenapa?” “Siapa tadi?” tanya Meera, mencoba terdengar santai meskipun hatinya tidak. Sakha menarik kursi dan duduk di depannya. “Teman lama,” jawabnya singkat. “Teman lama? Apa aku kenal?” “Tidak, Kamu tidak mengenalnya." Meera menggigit bibirnya pelan. “Aku istrimu, Sakha. Jangan sembunyikan sesuatu” Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan. Namun
Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin dunia yang mulai bergerak lebih cepat. Di kamar, Meera terbangun dengan perasaan aneh. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya karena kontrak yang kini menjadi kenyataan, tapi juga perasaan yang sulit dijelaskan tentang Sakha. Ia menoleh ke sampi
Di ruang utama kediaman Mahesa, semua orang masih berkumpul. Namun kali ini, suasananya berbeda. Jika sebelumnya Meera dipandang rendah. Sekarang, tatapan mereka penuh perhitungan. “Meera…” suara Nyonya Mahesa terdengar lebih lembut dari biasanya. “Kamu harus menceritakan semuanya dengan jelas.
Langkah kaki Meera terasa ringan. Seolah ia sedang berjalan di atas mimpi yang belum sepenuhnya ia yakini sebagai kenyataan. Kontrak itu masih ada di tangannya, benar-benar terasa nyata. “Sakha…” suaranya bergetar. Pria itu berjalan di sampingnya dengan santai, tangan dimasukkan ke dalam saku
Langit malam kota B tampak tenang. Namun ketenangan itu hanya ilusi.Di balik gedung-gedung tinggi yang menjulang, sesuatu sedang bergerak perlahan… sesuatu yang bahkan belum disadari oleh keluarga Mahesa. Di dalam kamar sederhana mereka, Meera duduk di tepi tempat tidur dengan kedua tangan salin






