Untuk kita!, untuk kita!. Itu untukmu, hanya untukmu, bagaimana kau mengatakan itu untuk kita?." Bagas ingin meneriakkannya dengan keras. Sebesar apa kekuatan kemarahan dan kecewa yang di miliki, sebesar itu dorongan diri untuk segera bersuara. Namun, mengingat apa dan mengapa kehidupan rumah tangganya sampai di titik sekarang, tenggorokan Bagas seolah mengatup kuat. Tak ada perkataan apapun yang meluncur dari sana. Bagas hanya bisa bungkam dan tidak menyahuti sama sekali. Sejenak ruang menjadi hening, keduanya hanya saling tatap dengan pikiran masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian Bagas mulai membuka suara. "Een...Aku lelah, biar aku pikirkan dulu. Kita lanjutkan lagi nanti." Pria itu membaringkan tubuh tanpa menunggu persetujuan Angel, bahkan entah itu sengaja atau kebetulan, ia memunggungi sosok wanita yang terpaku di tepi ranjang. "Tapi mas." Sahut Angel reflek, nada penolakan mengakhiri pembicaraan diantara keduanya jelas terasa. Ia tahu bahwa Bagas sengaja ingi
Last Updated : 2022-08-02 Read more