"Tapi Rafi butuh sosok ayah yang utuh, Dewi! Bukan sekadar seseorang yang sesekali datang!" desak Rafa. Ia merangkul kedua lutut Dewi, berusaha mengikis jarak yang membentang di antara mereka. "Kita bisa memulai semuanya dari awal. Belajar saling menyembuhkan luka masing-masing."Namun, Dewi menggeleng kuat-kuat. Ia melepaskan genggaman tangan Rafa dari kakinya dan berdiri, memandangi Rafa yang masih bersimpuh di lantai."Keputusanku udah bulat, Rafa," kata Dewi dengan dingin. "Rafi hanya butuh tahu siapa ayah kandungnya, tapi aku... aku nggak butuh pria yang baru datang setelah segalanya hancur. Hubungan kita udah lama usai, dan nggak ada yang perlu diperbaiki lagi selain kewajibanmu pada anakmu.""Dewi, tolong—""Aku harus pulang," potong Dewi cepat, mengabaikan tatapan memohon dari mata pria itu. "Rafi bisa terbangun kapan aja kalau menyadari aku nggak ada di rumah. Tolong, jangan ikuti aku."Dengan gerakan cepat, Dewi berbalik melangkah menuju pintu. Ia tak memberi kesempatan
Read more