MasukBegitu jam kerja usai dan ganti pakaian, Rafa segera pulang. Matanya berbinar saat melihat sosok anak laki-laki kecil berkaos biru sedang asyik menendang bola bersama teman-temannya di lapangan dekat kompleks.Rafa memarkir motornya di pinggir jalan lalu melangkah mendekati lapangan. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak mainan mobil-mobilan remote control yang sengaja ia beli tadi saat dalam perjalanan."Rafi!" panggil Rafa, mengulas senyum hangat.Bocah kecil itu menghentikan jalannya bola lalu menoleh. "Om Rafa!" serunya dengan polosnya, berlari kecil mendekati Rafa sementara teman-temannya tetap bermain."Lagi main bola, ya?" tanya Rafa seraya berlutut agar tingginya sejajar dengan sang putra. Hatinya bergetar saat menyadari wajah mungil Rafi yang ternyata sangat mirip dengannya itu. "Nih, Om punya sesuatu buat Rafi."Mata Rafi seketika berbinar gembira. "Wah, mobil-mobilan! Buat Rafi, Om?""Iya, buat Rafi—""RAFI! NGAPAIN KAMU DI SITU?!"Sebuah suara melengking mendadak
"Tapi Rafi butuh sosok ayah yang utuh, Dewi! Bukan sekadar seseorang yang sesekali datang!" desak Rafa. Ia merangkul kedua lutut Dewi, berusaha mengikis jarak yang membentang di antara mereka. "Kita bisa memulai semuanya dari awal. Belajar saling menyembuhkan luka masing-masing."Namun, Dewi menggeleng kuat-kuat. Ia melepaskan genggaman tangan Rafa dari kakinya dan berdiri, memandangi Rafa yang masih bersimpuh di lantai."Keputusanku udah bulat, Rafa," kata Dewi dengan dingin. "Rafi hanya butuh tahu siapa ayah kandungnya, tapi aku... aku nggak butuh pria yang baru datang setelah segalanya hancur. Hubungan kita udah lama usai, dan nggak ada yang perlu diperbaiki lagi selain kewajibanmu pada anakmu.""Dewi, tolong—""Aku harus pulang," potong Dewi cepat, mengabaikan tatapan memohon dari mata pria itu. "Rafi bisa terbangun kapan aja kalau menyadari aku nggak ada di rumah. Tolong, jangan ikuti aku."Dengan gerakan cepat, Dewi berbalik melangkah menuju pintu. Ia tak memberi kesempatan
"Kamu jangan terus mengelak, Dewi! Aku punya buktinya!" seru Rafa dengan menatap lurus ke arah wanita di hadapannya yang kini mulai berkaca-kaca."Apa buktinya?" balas Dewi cepat, berusaha menantang meski nada suaranya bergetar menahan rasa ketakutan di dalam dada.Rafa langsung mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat dari saku celananya, lalu menyodorkannya di hadapan Dewi."Silakan baca baik-baik."Dewi meraih lembaran kertas putih tersebut. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris istilah medis yang tertera, hingga pandangannya terpaku pada kolom kesimpulan di bagian paling bawah.Persentase kecocokan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen membuat napasnya seketika tercekat. Kedua matanya membelalak lebar."Da... darimana kamu dapat tes ini?" Suara Dewi memelan, menatap Rafa dengan pandangan tidak percaya. "Ini pasti palsu, kan? Kamu cuma mau membohongiku!""Aku nggak mungkin selicik itu, Dewi," potong Rafa. Rasa bersalah terpancar jelas di matanya. "Kal
Tanpa membuang waktu, Rafa segera menyodorkan lembaran kertas itu ke hadapan Liam.Liam meraihnya cepat dan mulai membacanya dengan saksama. Baris demi baris, angka demi angka ia cermati sampai matanya tertuju pada persentase keakuratan DNA yang mencapai 99,9%. Liam mendongak, lalu tanpa ragu memeluk sahabatnya itu."Selamat, ya! Aku benar-benar nggak menyangka kalau Rafi itu ternyata anak kandungmu," ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung Rafa. "Ini artinya, aku punya keponakan baru yang harus secepatnya kamu kenalkan padaku!"Rafa terkekeh pelan, melepaskan pelukannya sembari merapikan kertas tersebut. "Tunggu dulu, Liam. Malam nanti, aku baru mau bicara dari hati ke hati dengan Dewi.""Dia bersedia?" tanya Liam memastikan."Ya, dia berjanji akan datang," jawab Rafa penuh keyakinan.Ketika malam akhirnya tiba, suasana di kediaman Rafa terasa berbeda. Demi menyambut kedatangan sang pujaan hati, Rafa sibuk membersihkan rumah yang ia sewa itu. Mulai dari menyapu lantai, merapika
Mesin sepeda motor butut yang dikendarai Rafa batuk-batuk kecil sebelum akhirnya mati di dekat portal pintu keluar kompleks perumahan. Atensinya teralih pada sesosok wanita yang baru saja keluar dari gang samping, menuntun sepeda motor matic berwarna merah.Langkah Rafa terhenti. Penglihatannya terkunci pada sosok Dewi yang nampak rapi dan cantik mengenakan seragam rapi khas SPG sebuah brand tas mewah ternama.Ada rasa terkejut yang sempat menyenggol dada Rafa. Melihat Dewi berjuang sekeras ini mendadak menghimpit hatinya.Dewi menyadari keberadaan Rafa, tetapi berusaha keras mengacuhkannya sembari memasang helm.Namun Rafa malah mendekatinya. "Tunggu dulu, Dewi!" serunya."Rafa? Ada apa? Aku mau pergi kerja," kata Dewi berusaha tak menatap mantan kekasihnya itu."Nanti malam, bisa kita bicara sebentar?" tanya Rafa, penuh harap."Soal apa? Kurasa, nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Hubungan kita sudah selesai di masa lalu. Jadi, maaf, aku nggak bisa."Dewi mencoba memutar
Tubuh Rafa melemas saat dirinya mencoba bangun setelah ketiduran di sofa tadi siang. Rafa mengusap wajahnya lalu mengambil ponsel. Diusapnya layar ponsel yang menunjukkan pukul setengah empat sore. "Sudah lebih dari tiga jam ternyata aku ketiduran," gumamnya lirih. Banyak pesan yang masuk di ponselnya tak membuat Rafa ingin segera membuka. Dia memilih memijit pelipis kepalanya yang berdenyut-denyut dengan pelan. Memang hal yang tak biasa bagi Rafa untuk tidur siang, terlebih dia tidur selama kurang lebih tiga jam. Setelah itu ketukan pintu disertai suara salam kembali terdengar. "Assalamu'alaikum."Rafa menajamkan pendengarannya, merasa pernah mendengar suara tamu tersebut di suatu tempat. "Wa'alaikumsalam," serunya seraya mencoba bangkit berdiri.Dengan langkah sedikit terhuyung, Rafa berjalan dengan pelan karena penglihatannya juga terasa berkunang-kunang. Rafa menyipitkan mata karena efek sakit kepala yang dirasakannya."Siapa ya-" Suara Rafa terhenti saat ia membuka pintu dan m
Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil
Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak
Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.
Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a







