로그인Halo pembaca tersayang. Terima kasih masih setia menunggu cerita ini update. Aku menyayangi kalian ❤️
Sunny terjaga dengan napas memburu, selimut tipis kusut di sekitar kakinya. Mimpi itu lagi—bayangan buram yang tidak jelas bentuknya, hanya perasaan tercekik dan suara langkah kaki yang mendekat tanpa wajah yang bisa dikenali. Jantungnya masih berdebar kencang saat dia duduk, menatap kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya bulan tipis dari celah jendela.Dia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Tenggorokannya terasa kering. Perlahan, Sunny bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju pintu kamar, berniat mengambil air minum di dapur.Namun langkahnya terhenti di lorong.Cahaya lilin yang redup menari-nari dari arah ruang tamu, memantul lembut di dinding kayu rumah mereka. Sunny mengintip dari balik tirai kain yang memisahkan lorong dengan ruang depan, dan mendapati ibunya, Jane, masih duduk di sana—bukan tidur, melainkan menatap kosong ke arah jendela yang gelap, jemarinya memutar-mutar secangkir teh yang sudah dingin."Ibu?" Sunny melangkah masuk, suaranya pelan.Jane ter
Marvin melangkah mendekat, mencoba mengintip layar ponsel yang masih digenggam erat oleh Ryuse. "Kak, biar aku lihat."Tanpa berkata apa-apa, Ryuse membalik ponsel itu dan menyerahkannya. Matanya sendiri masih menatap kosong ke arah jendela, seolah pikirannya sudah lebih dulu terbang ke Sanabu.Marvin menatap foto itu, dan wajahnya berubah seketika. Rahangnya mengeras, jari-jarinya mencengkeram ponsel lebih kuat dari yang seharusnya."Ini..." Suaranya tertahan di tenggorokan. "Ini Sunny... Dia sedang diawasi.""Aku tahu," sahut Ryuse datar, terlalu datar untuk seseorang yang baru saja melihat foto orang yang dia rindukan sedang diawasi tanpa dia sadari.Marvin mengembalikan ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Luigi berani-beraninya—pasti ini ulah gadis manja itu lagi. Bisanya Hanyar mengandalkan kekuatan ayahnya.""Ini bukan sekedar pesan biasa." Ryuse memotong, suaranya turun satu oktaf, dingin dan tajam seperti pisau yang baru diasah. "Ini ancaman. Dia ingin aku tahu bah
Setidaknya dua minggu telah berlalu sejak Sunny kembali ke desanya. Namun, rasanya seolah baru kemarin dia meninggalkan Ryuse. Hatinya masih berdebar setiap kali dia memikirkan Ryuse, dan perasaan-perasaan menyiksa itu membuatnya semakin merindukan lelaki itu. Senyumannya yang menawan, tatapannya yang mengintimidasi namun hangat, dan caranya berbicara pada Sunny masih terekam dalam ingatannya."Sepertinya kau berada di duniamu sendiri," ujar Paman Huben, yang sadar akan perubahan suasana hati Sunny.Sunny menghela napas dan segera menutupi kehampaannya dengan tersenyum ceria. "Aku hanya teringat pada seseorang."Paman Huben meletakkan ikan yang baru saja dikeluarkannya dari keranjang. "Cinta, ya? Itu sesuatu yang bisa membuat hati berbunga, tapi bisa juga menjadi penderitaan," ujarnya.Sunny mengulas senyum lagi dan menyikut lengan Paman Huben dengan lembut. "Paman bicara seperti penyair di alun-alun. Jangan-jangan Paman berguru kepadanya?" godanya."Dasar gadis nakal. Ah, terserah ka
Sunny menatap Ryuse dengan mata terbelalak ketika tangan lelaki itu mendekapnya erat. Raut wajah Sunny menggambarkan kebingungan dan ketidakpercayaan. Detak jantungnya berdegup kencang dan Sunny bersumpah bahwa napasnya seolah berhenti—memikirkan apakah yang terjadi benar-benar nyata. “Ryu, apa yang kau lakukan?” Sunny berusaha menyusun kata-kata, namun suaranya terdengar seperti bisikan lembut. “Tetaplah seperti ini sebentar,” sahut Ryuse berbisik. Tangan Ryuse mengusap lembut punggung Sunny. Ryuse tidak tahu mengapa dia harus melakukan hal konyol dan tidak tahu malu seperti ini. Tindakannya yang tiba-tiba ini bukan menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Perbuatan romansa dan hubungan intim antara lelaki dan wanita, Ryuse tidak peduli dengan semua itu sebelumnya. Namun kehadiran Sunny merubah segalanya. Ryuse pun tidak menyadari perasaan itu. Dia hanya tahu itu adalah perasaan empatinya terhadap kisah Sunny. “Jangan salah paham,” imbuh Ryuse. “Aku melakukan ini sebagai ucapan perp
“Namun, itu hanyalah sebuah benda,” ujar Ryuse. “Aku masih bisa membelinya. Melihatmu yang bertanggung jawab, aku akan membiarkanmu.” “Maafkan aku, Paman. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ryuse memijat keningnya dan mendengus. “Jangan panggil aku paman. Aku tidak setua itu. Panggil saja aku sesukamu asal jangan sebutan yang tua.” Rury mengangguk dan tersenyum ceria. “Baik, Kakak keren.” “Kakak keren?” Ryuse menaikkan satu alis. “Tentu saja. Aku melihatmu bertarung waktu itu dan itu sangat keren,” ungkap Rury gembira. Ryuse tersenyum tipis dan menimpali dengan wajah tenang, “Itu tidak buruk. Aku suka.” Sementara Marvin tersenyum puas melihat sikap Ryuse terhadap Rury. Dia menang taruhan. Makan malam sepuasnya di Cozy resto akan menjadi hal yang paling menyenangkan untuk Marvin. Setidaknya dia terbebas dari makan roti lapis setiap harinya. Pekerjaannya yang sering menghabiskan waktu di malam hari, membuat Marvin sering mengabaikan makan malam. “Hei, aku menang. Jangan lupakan
Ketika Rury pertama kali memasuki rumah mewah milik Ryuse, matanya terbuka lebar. Dia terdiam sejenak di pintu masuk, menelan ludah dengan pemandangan yang begitu mewah di hadapannya. Langit-langit tinggi, lukisan-lukisan mahal, perabotan klasik, dan hiasan-hiasan yang tersebar di seluruh ruangan. Rury bisa merasakan jawaban di ujung lidahnya, bibirnya bergerak tanpa suara saat dia mencoba untuk menggambarkan betapa takjubnya dia pada kekayaan dan keindahan rumah Ryuse. "Wow, ini... ini luar biasa," gumamnya gemetar. Rumah ini jauh lebih baik dari rumah mereka, jauh lebih nyaman. Tidak ada nyamuk yang akan mengganggu tidur mereka, atau angin laut yang merebak masuk melalui lubang dari jendela mereka. Tatapan Rury berkeliling dengan takjub, membenamkan diri dalam keelokan dan berharap dalam hatinya bahwa dia ingin mempunyai rumah sebesar ini. Itu adalah Rury di hari pertama. Namun yang terjadi sekarang di hadapannya bukanlah hal baik. Setelah tiga hari terlewati dengan bersenang-b
Sunny membeku. Pikirannya seolah tidak berkordinasi baik dengan tubuhnya. Dia ingin menghindar, tapi bagian dirinya yang lain seolah tidak ingin menjauh. Dalam jarak sedekat ini, Sunny bisa melihat fitur menawan wajah Ryuse dalam kegelapan. Mata Ryuse berkelebat dengan cahaya yang aneh ketika menata
“Aku tak akan peduli soal ketakutanmu atau pun keberanianmu padanya,” Sunny berusaha meyakinkan Marco bahwa dirinya tidak tertekan oleh ancaman apapun. “Aku hanya peduli dengan bagaimana kau jatuh.”“Kau ... ”Marco hampir memukul wajah Sunny, namun Ryuse cekatan menangkap tangan Marco dan menghemp
“Tuan-tuan, silakan duduk dengan tenang dan bersabar. Kalian bisa memiliki gadis ini asal kesepakatan harga kita cocok. Lihatlah, betapa wajah ini begitu lugu.” Marco menyentuh wajah Sunny. “Dan—dia masih polos, sangat polos seperti kertas yang belum dicoret.”Ryuse merasakan tekanan darah di dalam
“Kakak Ryu, mengapa kau termenung?” Marvin menepuk pundak Ryuse yang tengah menatap hampa pemandangan di luar jendela. Ryuse mendesah dalam diam panjang. Dia melirik Marvin yang menatapnya dengan ekspresi penasaran. Ryuse memutar langkah, dia kembali ke meja kerjanya. Kaki terangkat ke atas meja







