ANMELDENHalo pembaca tersayang. Terima kasih masih setia menunggu cerita ini update. Aku menyayangi kalian ❤️
Suara Marvin di seberang telepon masih bergetar panik ketika Ryuse sudah berlari keluar ruangan, mantel hitamnya disambar cepat dari sandaran kursi."Di mana posisimu sekarang?" Ryuse membentak ke arah ponsel, suaranya keras menggema di lorong rumah yang mendadak sepi."Taman dekat jalan Kenanga, Kak. Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk membeli minuman—tidak lebih dari lima menit. Tapi begitu aku kembali, dia sudah tidak ada.""Lima menit sudah cukup," gumam Ryuse pahit, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Marvin.Sunny berlari mengejarnya, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar saat mencoba mengambil mantelnya sendiri dari gantungan dekat pintu. "Aku ikut.""Sunny, sebaiknya kau tetap di sini—""Itu adikku, Ryuse!" Suara Sunny pecah, matanya sudah berkaca-kaca sebelum mereka bahkan sampai ke taman. "Aku tidak bisa hanya duduk diam menunggu kabar."Ryuse menatapnya sejenak, memahami bahwa argumen apa pun tidak akan berhasil menahan seorang kakak yang ketakutan kehilangan
Ponsel itu masih bergetar di atas meja, layarnya berkedip terang dalam ruangan yang mendadak terasa jauh lebih dingin dari beberapa menit sebelumnya. Ryuse menatap nama itu lama, rahangnya mengeras, sebelum akhirnya meraih ponsel itu dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja merasakan dadanya berdegup kencang.Sunny berdiri di dekatnya, tangannya masih menggenggam ujung lengan baju Ryuse, matanya penuh tanya melihat perubahan drastis dalam raut wajah orang yang baru saja memeluknya dengan begitu hangat.Ryuse menekan tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Luigi."Suara di seberang terdengar renyah, nyaris ramah—jenis keramahan yang justru membuat bulu kuduk siapa pun yang mengenalnya ikut meremang."Ryuse. Sudah lama kita tidak bicara langsung, bukan? Biasanya kau lebih suka mengirim orang untuk bicara atas namamu.""Katakan apa maumu," jawab Ryuse dingin, tidak tertarik berbasa-basi.Di seberang telepon, terdengar suara tawa pelan, seolah nada dingin
Sepanjang hari itu, Sunny nyaris tidak bicara. Dia menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya, pikirannya masih terjebak pada kata-kata Camila yang terus terngiang di kepalanya. Menjelang sore, dia berdiri lama di depan jendela kamarnya, menatap halaman belakang tempat kemarin malam dia dan Ryuse duduk berdampingan di ayunan, tempat segalanya terasa begitu sederhana untuk sesaat. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Dengan langkah yang mantap meski hatinya bergejolak, Sunny akhirnya memutuskan menemui Ryuse di ruang kerjanya. Pintu itu sedikit terbuka, dan dia bisa melihat Ryuse duduk di balik mejanya, jarinya menekan pelipis seolah menahan pusing yang tidak kunjung reda sejak pagi tadi. "Ryuse," Sunny mengetuk pelan pintu itu sebelum melangkah masuk. Ryuse mengangkat wajah, dan seketika raut lelahnya melunak melihat Sunny berdiri di ambang pintu. "Sunny. Masuklah." Sunny melangkah masuk, namun tidak duduk di kursi yang b
"Katakan," bisik Sunny, jantungnya mulai berdebar dengan alasan yang berbeda dari sebelumnya.Ryuse menatapnya lama, bibirnya terbuka, namun kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya. Dia menghela napas, mencoba menyusun kembali kalimat yang sudah lama dia tahan."Ada hal-hal dari masa laluku yang belum kuceritakan padamu," katanya akhirnya, suaranya pelan namun penuh beban. "Hal-hal yang mungkin akan membuatmu melihatku berbeda."Sunny menggenggam tangannya sendiri erat-erat, mencoba menyiapkan diri untuk apa pun yang akan keluar dari mulut Ryuse selanjutnya.Namun sebelum Ryuse sempat melanjutkan, pintu di belakang mereka terbuka. Marvin muncul dengan wajah yang sedikit canggung, jelas tidak bermaksud mengganggu, tapi juga tidak punya pilihan lain."Maaf mengganggu, Kak," katanya, "tapi Rury memaksa ingin tidur di kamar sebelahmu malam ini. Katanya dia takut sendirian di rumah baru."Momen itu pecah begitu saja. Ryuse menutup mulutnya, menatap Sunny dengan raut wajah yang me
Sensasi memabukkan dari ciuman itu masih terasa ketika keduanya akhirnya duduk kembali di ayunan masing-masing, jarak di antara mereka tidak lagi sedekat tadi, namun juga tidak sejauh sebelum semuanya terjadi.Sunny menatap kedua tangannya sendiri yang terlipat di pangkuan, tidak berani mengangkat wajah. Jantungnya masih berdebar tidak keruan, dan dia yakin jika Ryuse melihat wajahnya sekarang, warna merah di sana pasti belum juga memudar.Ryuse sendiri duduk kaku di ayunannya, matanya menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan di ujung halaman. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Dia masih bisa merasakan kehangatan bibir Sunny, masih bisa mendengar suara napas gadis itu yang tertahan saat ciuman mereka semakin dalam.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perhitungan dan kendali, Ryuse merasa benar-benar kehilangan arah."Ryuse," Sunny akhirnya bersuara, memecah keheningan yang mulai terasa canggung."Ya?""Apa yang terjadi barusan..." Sunny berhenti, mencoba m
Malam turun perlahan di atas rumah Ryuse.Lampu-lampu di ruang makan menyala hangat, memantulkan cahaya keemasan pada meja panjang yang sejak tadi dipenuhi piring, gelas, dan suara tawa. Rumah besar itu—yang selama ini terasa terlalu luas untuk ditinggali—kini seolah memiliki napas sendiri, hidup oleh kehadiran dua orang yang baru saja menjadi bagian darinya.Rury duduk di antara Marvin dan Gordon, sibuk memilih potongan daging paling besar dari piring saji."Yang ini milikku," katanya sambil menusukkan garpu penuh percaya diri."Kenapa milikmu?" Gordon memprotes. "Kau bahkan belum mencicipinya.""Karena aku melihatnya lebih dulu.""Kalau begitu, aku juga melihat kentang itu lebih dulu."Marvin buru-buru menarik piring kentang ke arahnya. "Terlambat. Aku sudah menyentuhnya duluan."Rury menatap kedua pria itu dengan mata menyipit, seolah menghadapi lawan yang tidak sepadan. "Kalian berdua bertengkar seperti anak-anak.""Kami hanya memastikan kau tidak menghabiskan semua makanan," kata
“Aku tak akan peduli soal ketakutanmu atau pun keberanianmu padanya,” Sunny berusaha meyakinkan Marco bahwa dirinya tidak tertekan oleh ancaman apapun. “Aku hanya peduli dengan bagaimana kau jatuh.”“Kau ... ”Marco hampir memukul wajah Sunny, namun Ryuse cekatan menangkap tangan Marco dan menghemp
“Tuan-tuan, silakan duduk dengan tenang dan bersabar. Kalian bisa memiliki gadis ini asal kesepakatan harga kita cocok. Lihatlah, betapa wajah ini begitu lugu.” Marco menyentuh wajah Sunny. “Dan—dia masih polos, sangat polos seperti kertas yang belum dicoret.”Ryuse merasakan tekanan darah di dalam
“Kakak Ryu, mengapa kau termenung?” Marvin menepuk pundak Ryuse yang tengah menatap hampa pemandangan di luar jendela. Ryuse mendesah dalam diam panjang. Dia melirik Marvin yang menatapnya dengan ekspresi penasaran. Ryuse memutar langkah, dia kembali ke meja kerjanya. Kaki terangkat ke atas meja
Bibi Joyce mati! Bibi Joyce mati! Kata-kata itu bergaung dalam benak Sunny. Selanjutnya mungkin dirinya akan menyusul bibi Joyce. Bibi Joyce terlentang di lantai, tidak ada luka yang berarti, hanya ada bekas jerat di leher bibi Joyce. Rambut ikal gonjesnya terlihat berantakan, bibir membarany







