LOGINHalo pembaca tersayang. Terima kasih masih setia menunggu cerita ini update. Aku menyayangi kalian ❤️
"Katakan," bisik Sunny, jantungnya mulai berdebar dengan alasan yang berbeda dari sebelumnya.Ryuse menatapnya lama, bibirnya terbuka, namun kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya. Dia menghela napas, mencoba menyusun kembali kalimat yang sudah lama dia tahan."Ada hal-hal dari masa laluku yang belum kuceritakan padamu," katanya akhirnya, suaranya pelan namun penuh beban. "Hal-hal yang mungkin akan membuatmu melihatku berbeda."Sunny menggenggam tangannya sendiri erat-erat, mencoba menyiapkan diri untuk apa pun yang akan keluar dari mulut Ryuse selanjutnya.Namun sebelum Ryuse sempat melanjutkan, pintu di belakang mereka terbuka. Marvin muncul dengan wajah yang sedikit canggung, jelas tidak bermaksud mengganggu, tapi juga tidak punya pilihan lain."Maaf mengganggu, Kak," katanya, "tapi Rury memaksa ingin tidur di kamar sebelahmu malam ini. Katanya dia takut sendirian di rumah baru."Momen itu pecah begitu saja. Ryuse menutup mulutnya, menatap Sunny dengan raut wajah yang me
Sensasi memabukkan dari ciuman itu masih terasa ketika keduanya akhirnya duduk kembali di ayunan masing-masing, jarak di antara mereka tidak lagi sedekat tadi, namun juga tidak sejauh sebelum semuanya terjadi.Sunny menatap kedua tangannya sendiri yang terlipat di pangkuan, tidak berani mengangkat wajah. Jantungnya masih berdebar tidak keruan, dan dia yakin jika Ryuse melihat wajahnya sekarang, warna merah di sana pasti belum juga memudar.Ryuse sendiri duduk kaku di ayunannya, matanya menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan di ujung halaman. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Dia masih bisa merasakan kehangatan bibir Sunny, masih bisa mendengar suara napas gadis itu yang tertahan saat ciuman mereka semakin dalam.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perhitungan dan kendali, Ryuse merasa benar-benar kehilangan arah."Ryuse," Sunny akhirnya bersuara, memecah keheningan yang mulai terasa canggung."Ya?""Apa yang terjadi barusan..." Sunny berhenti, mencoba m
Malam turun perlahan di atas rumah Ryuse.Lampu-lampu di ruang makan menyala hangat, memantulkan cahaya keemasan pada meja panjang yang sejak tadi dipenuhi piring, gelas, dan suara tawa. Rumah besar itu—yang selama ini terasa terlalu luas untuk ditinggali—kini seolah memiliki napas sendiri, hidup oleh kehadiran dua orang yang baru saja menjadi bagian darinya.Rury duduk di antara Marvin dan Gordon, sibuk memilih potongan daging paling besar dari piring saji."Yang ini milikku," katanya sambil menusukkan garpu penuh percaya diri."Kenapa milikmu?" Gordon memprotes. "Kau bahkan belum mencicipinya.""Karena aku melihatnya lebih dulu.""Kalau begitu, aku juga melihat kentang itu lebih dulu."Marvin buru-buru menarik piring kentang ke arahnya. "Terlambat. Aku sudah menyentuhnya duluan."Rury menatap kedua pria itu dengan mata menyipit, seolah menghadapi lawan yang tidak sepadan. "Kalian berdua bertengkar seperti anak-anak.""Kami hanya memastikan kau tidak menghabiskan semua makanan," kata
Sunny setuju ikut bersama Ryuse.Keputusan itu terasa ringan di bibir, tetapi berat ketika benar-benar diwujudkan. Pagi berikutnya, ia berdiri di depan rumah dengan sebuah tas kecil di tangan. Rumah tua itu tampak lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari menembus celah atap dan jatuh di lantai, menyoroti debu yang menari perlahan.Sunny memandang pintu depan cukup lama.Di balik pintu itu ada terlalu banyak kenangan. Suara Jane memanggilnya dari dapur. Aroma roti hangat. Tawa Rury ketika masih kecil. Bahkan retakan di dinding pun terasa seperti bagian dari hidupnya yang tidak mungkin ia bawa pergi.“Kalau kau terus menatapnya seperti itu, rumah ini mungkin akan mengira kau berubah pikiran.”Suara Ryuse membuat Sunny menoleh. Pria itu berdiri di samping mobil, mengenakan kemeja gelap dengan lengan yang digulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya tertuju pada Sunny seolah ia sudah membaca semua keraguan yang berputar di kepala gadis itu.“Aku hanya ingin mengucapkan selam
Mereka meninggalkan pantai ketika langit mulai berubah warna. Gelap perlahan menipis di ujung cakrawala, meninggalkan semburat abu-abu kebiruan yang memantul di permukaan laut. Sunny berjalan di sisi Ryuse dengan langkah pelan. Mantel pria itu masih menyelimuti tubuhnya, terlalu besar untuk bahunya yang kurus.Ryuse tidak banyak bicara. Ia hanya menyesuaikan langkah agar Sunny tidak perlu terburu-buru. Sesekali matanya turun, memastikan gadis itu masih berjalan di sampingnya dan tidak kembali menoleh ke laut.Ketika mereka tiba di rumah, Rury sudah menunggu di beranda. Begitu melihat Sunny, ia segera berlari menghampiri.“Kak!”Sunny berhenti. Rury memeluk pinggangnya tanpa berkata apa-apa. Tubuh kecil itu masih berbau matahari dan debu, sementara bahunya bergetar menahan tangis yang sejak tadi ditunggu-tunggunya.Sunny menunduk, lalu membelai rambut adiknya. ”Maaf membuatmu khawatir.”Rury menggeleng cepat. “Jangan pergi lagi tanpa bilang kepadaku.”Sunny menutup mata sejenak. Jemar
Suara ombak datang dan pergi dalam gelap, menyeret buih putih ke pasir sebelum menariknya kembali ke laut. Angin malam menampar wajah Sunny, tetapi ia tetap berdiri di sana dengan ujung gaun yang basah dan syal merah Jane yang diremas di antara jemarinya.Ryuse berhenti beberapa langkah darinya. Napasnya memburu setelah berlari menyusuri jalan setapak, tetapi pemandangan di hadapannya membuat seluruh tubuhnya terasa kaku.Sunny tampak begitu rapuh di hadapan laut yang luas. Rambutnya kusut diterpa angin, kulitnya pucat, dan matanya menatap ombak tanpa benar-benar melihatnya.“Sunny.”Kali ini gadis itu menoleh.“Ryuse?” Suaranya nyaris hilang di antara gemuruh ombak.Ryuse melangkah mendekat, lalu berhenti ketika air kembali menyapu kaki Sunny. “Jangan berdiri terlalu jauh. Airnya semakin pasang.”Sunny menunduk, memperhatikan buih yang pecah di sekitar pergelangan kakinya. “Aku hanya ingin melihat laut.”“Rury bilang kau sering datang ke sini sampai malam.”“Rury menyuruhmu datang?”
“Aku tak akan peduli soal ketakutanmu atau pun keberanianmu padanya,” Sunny berusaha meyakinkan Marco bahwa dirinya tidak tertekan oleh ancaman apapun. “Aku hanya peduli dengan bagaimana kau jatuh.”“Kau ... ”Marco hampir memukul wajah Sunny, namun Ryuse cekatan menangkap tangan Marco dan menghemp
“Tuan-tuan, silakan duduk dengan tenang dan bersabar. Kalian bisa memiliki gadis ini asal kesepakatan harga kita cocok. Lihatlah, betapa wajah ini begitu lugu.” Marco menyentuh wajah Sunny. “Dan—dia masih polos, sangat polos seperti kertas yang belum dicoret.”Ryuse merasakan tekanan darah di dalam
“Kakak Ryu, mengapa kau termenung?” Marvin menepuk pundak Ryuse yang tengah menatap hampa pemandangan di luar jendela. Ryuse mendesah dalam diam panjang. Dia melirik Marvin yang menatapnya dengan ekspresi penasaran. Ryuse memutar langkah, dia kembali ke meja kerjanya. Kaki terangkat ke atas meja
Bibi Joyce mati! Bibi Joyce mati! Kata-kata itu bergaung dalam benak Sunny. Selanjutnya mungkin dirinya akan menyusul bibi Joyce. Bibi Joyce terlentang di lantai, tidak ada luka yang berarti, hanya ada bekas jerat di leher bibi Joyce. Rambut ikal gonjesnya terlihat berantakan, bibir membarany







