LOGINHalo pembaca tersayang. Terima kasih masih setia menunggu cerita ini update. Aku menyayangi kalian ❤️
Mereka meninggalkan pantai ketika langit mulai berubah warna. Gelap perlahan menipis di ujung cakrawala, meninggalkan semburat abu-abu kebiruan yang memantul di permukaan laut. Sunny berjalan di sisi Ryuse dengan langkah pelan. Mantel pria itu masih menyelimuti tubuhnya, terlalu besar untuk bahunya yang kurus.Ryuse tidak banyak bicara. Ia hanya menyesuaikan langkah agar Sunny tidak perlu terburu-buru. Sesekali matanya turun, memastikan gadis itu masih berjalan di sampingnya dan tidak kembali menoleh ke laut.Ketika mereka tiba di rumah, Rury sudah menunggu di beranda. Begitu melihat Sunny, ia segera berlari menghampiri.“Kak!”Sunny berhenti. Rury memeluk pinggangnya tanpa berkata apa-apa. Tubuh kecil itu masih berbau matahari dan debu, sementara bahunya bergetar menahan tangis yang sejak tadi ditunggu-tunggunya.Sunny menunduk, lalu membelai rambut adiknya. ”Maaf membuatmu khawatir.”Rury menggeleng cepat. “Jangan pergi lagi tanpa bilang kepadaku.”Sunny menutup mata sejenak. Jemar
Suara ombak datang dan pergi dalam gelap, menyeret buih putih ke pasir sebelum menariknya kembali ke laut. Angin malam menampar wajah Sunny, tetapi ia tetap berdiri di sana dengan ujung gaun yang basah dan syal merah Jane yang diremas di antara jemarinya.Ryuse berhenti beberapa langkah darinya. Napasnya memburu setelah berlari menyusuri jalan setapak, tetapi pemandangan di hadapannya membuat seluruh tubuhnya terasa kaku.Sunny tampak begitu rapuh di hadapan laut yang luas. Rambutnya kusut diterpa angin, kulitnya pucat, dan matanya menatap ombak tanpa benar-benar melihatnya.“Sunny.”Kali ini gadis itu menoleh.“Ryuse?” Suaranya nyaris hilang di antara gemuruh ombak.Ryuse melangkah mendekat, lalu berhenti ketika air kembali menyapu kaki Sunny. “Jangan berdiri terlalu jauh. Airnya semakin pasang.”Sunny menunduk, memperhatikan buih yang pecah di sekitar pergelangan kakinya. “Aku hanya ingin melihat laut.”“Rury bilang kau sering datang ke sini sampai malam.”“Rury menyuruhmu datang?”
Bunyi monitor itu berubah menjadi garis panjang yang tidak putus-putus.Sunny berdiri di sisi ranjang dengan wajah memucat. Tangannya masih menggenggam jemari Jane, tetapi genggaman itu perlahan kehilangan balasan. Seolah tubuh ibunya sedang menjauh sedikit demi sedikit, sementara Sunny tidak punya cara untuk menariknya kembali."Dokter! Tolong!"Pintu ruang perawatan terbuka lebar. Dua perawat bergegas masuk, disusul dokter yang tadi memeriksa Jane. Mereka segera mendorong Sunny ke belakang. Seseorang menarik tirai, memisahkan dirinya dari ranjang yang selama ini menjadi tempat ibunya berbaring."Tunggu di luar, Nona.""Tidak! Itu ibu saya!" Sunny berusaha menerobos, tetapi Paman Huben menahan bahunya dari belakang."Sunny, biarkan dokter bekerja.""Lepaskan aku, Paman! Aku harus berada di sana!"Dari celah tirai yang belum tertutup sempurna, Sunny melihat tubuh Jane tersentak di atas ranjang. Perawat menekan dadanya, dokter memberi instruksi cepat, dan selang-selang bening bergoyang
Sunny menatap punggung Anne sampai menghilang di balik mobil. Perasaan kesal yang bercampur was-was menguasai pikirannya. Sunny mengenal Anne, sebaik dia mengenal bibi Joice. Jika Anne mengatakan akan membalasnya, maka itu bukan hanya ancaman kosong belaka dan itu membuat Sunny gelisah.Sejak tiba di rumah Paman Huben, tangannya tidak berhenti bergerak. Ia menimbang ikan, mencatat pesanan, mengangkat peti-peti kecil berisi hasil kebun, lalu berlari dari gudang ke halaman ketika salah satu pelanggan datang terlambat mengambil pesanannya. Bau asin ikan bercampur tanah basah dan keringat yang menempel di tengkuknya, tetapi Sunny tidak memedulikannya.Pikiran tentang Anne masih mengganjal di kepalanya."Sunny, kau dengar aku?"Suara Paman Huben membuatnya tersentak. Pria itu berdiri di samping meja kayu, memegang buku catatan yang ujungnya sudah melengkung."Maaf, Paman. Ada apa?""Pesanan ini harus diantar sebelum siang. Kau bisa membawanya?"Sunny mengangguk cepat. "Bisa."Ia baru saja
Dua pria suruhan Luigi masih berdiri kaku dalam bayangan gudang, jantung mereka berdegup kencang menyaksikan sosok-sosok diam yang mengelilingi rumah Paman Huben dari berbagai penjuru. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan mencolok. Hanya kehadiran yang terasa begitu pekat, seperti udara sebelum badai."Kita harus pergi," bisik salah satu dari mereka, suaranya nyaris tercekat. "Sekarang.""Bagaimana dengan perintah Bos?""Persetan dengan perintah. Kalau kita tetap di sini, yang pulang bukan laporan, tapi mayat kita." Dia sudah mulai melangkah mundur perlahan, matanya tak lepas dari bayangan-bayangan itu. "Orang-orang Ryuse sudah tahu kita di sini. Ini bukan lagi soal mengintai—ini jebakan."Rekannya tidak membantah. Mereka berdua bergerak mundur dengan hati-hati, menyusuri sisi gudang yang gelap, lalu menyelinap ke arah mobil van yang terparkir jauh dari jangkauan pandang. Mesin dinyalakan pelan-pelan, hampir tanpa suara, dan kendaraan itu melaju menjauh dari Sanabu tanpa lampu utama men
Sunny terjaga dengan napas memburu, selimut tipis kusut di sekitar kakinya. Mimpi itu lagi—bayangan buram yang tidak jelas bentuknya, hanya perasaan tercekik dan suara langkah kaki yang mendekat tanpa wajah yang bisa dikenali. Jantungnya masih berdebar kencang saat dia duduk, menatap kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya bulan tipis dari celah jendela.Dia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Tenggorokannya terasa kering. Perlahan, Sunny bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju pintu kamar, berniat mengambil air minum di dapur.Namun langkahnya terhenti di lorong.Cahaya lilin yang redup menari-nari dari arah ruang tamu, memantul lembut di dinding kayu rumah mereka. Sunny mengintip dari balik tirai kain yang memisahkan lorong dengan ruang depan, dan mendapati ibunya, Jane, masih duduk di sana—bukan tidur, melainkan menatap kosong ke arah jendela yang gelap, jemarinya memutar-mutar secangkir teh yang sudah dingin."Ibu?" Sunny melangkah masuk, suaranya pelan.Jane ter
“Aku tak akan peduli soal ketakutanmu atau pun keberanianmu padanya,” Sunny berusaha meyakinkan Marco bahwa dirinya tidak tertekan oleh ancaman apapun. “Aku hanya peduli dengan bagaimana kau jatuh.”“Kau ... ”Marco hampir memukul wajah Sunny, namun Ryuse cekatan menangkap tangan Marco dan menghemp
“Tuan-tuan, silakan duduk dengan tenang dan bersabar. Kalian bisa memiliki gadis ini asal kesepakatan harga kita cocok. Lihatlah, betapa wajah ini begitu lugu.” Marco menyentuh wajah Sunny. “Dan—dia masih polos, sangat polos seperti kertas yang belum dicoret.”Ryuse merasakan tekanan darah di dalam
“Kakak Ryu, mengapa kau termenung?” Marvin menepuk pundak Ryuse yang tengah menatap hampa pemandangan di luar jendela. Ryuse mendesah dalam diam panjang. Dia melirik Marvin yang menatapnya dengan ekspresi penasaran. Ryuse memutar langkah, dia kembali ke meja kerjanya. Kaki terangkat ke atas meja
Bibi Joyce mati! Bibi Joyce mati! Kata-kata itu bergaung dalam benak Sunny. Selanjutnya mungkin dirinya akan menyusul bibi Joyce. Bibi Joyce terlentang di lantai, tidak ada luka yang berarti, hanya ada bekas jerat di leher bibi Joyce. Rambut ikal gonjesnya terlihat berantakan, bibir membarany







