Hanya dengan memiliki keteguhan hati, baru bisa menghangatkan sebongkah batu!Setelah memberi semangat kepada diri sendiri, Tasya baru membalas pesan Yandi.[ Kalau begitu, kamu segera ke lantai dua. Bilang saja kamu itu pendamping pengantin pria, nanti bakal ada yang bawa kamu ke ruang ganti. ]Selesai mengirim pesan, beberapa detik kemudian, Yandi membalas satu kata lagi.[ Emm. ]Jawaban itu sungguh singkat!Tasya menunduk menyandarkan kepalanya ke sisi jendela dengan kecewa. Dia menatap bayangan punggung pria itu dengan tidak berdaya dan kasihan. Kemudian, dia bergumam, “Yandi, di kehidupan lampau, aku pasti sudah merampokmu dan membakar rumahmu, makanya aku datang membayar utangku pada kehidupan ini.”Tasya terus menatap Yandi hingga dia menyelesaikan satu rokoknya. Setelah itu, Yandi berdiri, lalu berjalan ke dalam vila. Tatapannya seolah-olah sempat melirik ke sisi jendela kamar Tasya. Tasya segera menghindar bersembunyi di belakang tirai jendela.…Yandi berjalan masuk dari pin
Baca selengkapnya