Aroma daging lembu berbumbu rempah gaib yang dipanggang di atas bara kayu cendana memenuhi seluruh lantai tiga Kedai Bintang Perak. Kedai termewah di pusat Kota Benteng Astral itu kini sepenuhnya dikuasai oleh Martis dan kelompoknya. Di bawah tekanan aura Martis serta ketakutan akan kemurkaannya, Tuan Muda Baud tak hanya mengosongkan seluruh kedai dari pengunjung lain, tetapi juga memerintahkan puluhan koki terbaik untuk terus menyajikan hidangan tanpa henti. Estias tampak sangat menikmati perannya. Pria berbadan raksasa itu telah menghabiskan lima paha binatang berbobot ribuan pon, menyisakan tumpukan tulang belulang yang menggunung di samping mejanya. "Ah! Sungguh nikmat!" Estias meneguk secangkir cawan batu berisi arak bernuansa emas, lalu menepuk dadanya puas. "Martis, jujur saja, bertualang bersamamu adalah keputusan terbaik dalam ratusan tahun hidupku. Makanan enak, musuh rata dengan tanah, dan tidak ada yang berani menagih pembayaran!" Ririn, yang duduk di samping Martis,
Read more