Langkah kaki Martis dan Estias menyusuri jalan setapak berdebu yang membelah bukit perbatasan Benua Utama. Bau debu kering dan pepohonan meranggas menyambut perjalanan mereka, hingga di balik tikungan tebing, sebuah permukiman luas membentang di dalam lembah kecil. Seharusnya, desa itu menjadi tempat yang asri. Sisa-sisa petakan sawah bertingkat dan bekas kincir air kayu di tepi sungai menunjukkan bahwa tempat ini dulunya makmur. Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata Martis dan Estias kini sangat kontras. Atap-atap rumah kayu banyak yang runtuh dan hangus terbakar. Dinding-dinding tanah liat retak berlubang, sementara jalanan desa dipenuhi dedaunan busuk yang tak disapu. Suasana begitu hening, sunyi dari gelak tawa anak-anak atau riuh aktivitas warga. "Martis... tempat ini baunya seperti gubuk hantu," bisik Estias. Tangannya refleks meraba perutnya sendiri, memikirkan apakah ada kedai makan yang buka di desa sesepi ini. "Waspada, Estias," sahut Martis pendek. Mata ke
Read more