Elena terdiam sejenak, senyumnya sedikit memudar. "Ya, aku pernah ikut tinggal disana. Tapi, mungkin karena dulu kita masih terlalu kecil untuk mengerti, Aiden. Ibuku selalu bercerita kalau kamu itu anak yang sangat pendiam saat bayi. Sedangkan aku... Aku selalu ingin menggendongmu, tapi ibuku melarang karena aku masih terlalu kecil." Aiden tertawa, sebuah tawa yang hangat. Ia meraih tangan Elena, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Jadi, kita sebenarnya sudah dijodohkan oleh takdir sejak kecil? Dan.. Dan sejak awal kamu sudah mengenali ku, Elena?" "Jangan terlalu percaya diri, Tuan Shaquille. Takdir hanya mempertemukan, tapi kita yang memutuskan mau lanjut atau tidak, lagi pula.. Kamu Tuan muda Shaquille yang manja sejak kecil.." balas Elena dengan nada menggoda, meski pipinya mulai merona merah. Sentuhan tangan Aiden berpindah ke tengkuk Elena, menarik wanita itu perlahan agar wajah mereka semakin dekat. Di tengah hembusan angin laut dan aroma makanan yang menggugah
Ler mais