Di luar, kota berdenyut dalam ritmenya sendiri. Dan di antara banyak langkah yang masih harus diambil, Felisha akhirnya tahu satu hal, ia tidak lagi berjalan untuk menyenangkan siapa pun.Ia berjalan untuk dirinya —dan untuk kehidupan kecil yang sedang tumbuh bersamanya.Sedetik kemudian saat kantuk mulai menyerang, bayangan Alan mendadak hadir dengan wajahnya yang sendu. Felisha —anehnya, tak terpengaruh sedikit pun.Namun, ketika sosok lelaki itu tiba-tiba menangis, ada rasa tak nyaman yang menggelayut hatinya. 'Bagaimana bisa ia serapuh itu?'Bayangan itu datang begitu saja, tanpa undangan. Wajah Alan yang sendu, matanya yang selama ini selalu tampak dingin dan penuh kendali, kini basah oleh sesuatu yang tidak pernah Felisha bayangkan sebelumnya. Tangis. Bukan isak yang keras. Bukan pula tangisan yang memohon. Hanya bahu yang turun perlahan, kepala yang tertunduk, dan sepasang mata yang kehilangan pijakan. Felisha membuka matanya. Langit-langit kamar kos kembali menyambutnya
Last Updated : 2025-12-22 Read more