Felisha menyandarkan punggungnya ke pintu yang baru saja tertutup. Sunyi menyambutnya—bukan sunyi yang menakutkan, tapi sunyi yang terasa kosong.Ia menoleh ke meja kecil dekat jendela. Biasanya, di sana akan ada kotak makan dengan catatan singkat, kadang hanya satu kalimat formal, kadang tanpa nama. Hal kecil yang selama ini ia abaikan, namun ternyata telah menjadi penanda, bahwa lelaki itu masih begitu perhatian padanya. Kini, meja itu bersih.Felisha menghembuskan napas pelan. “Ternyata begini rasanya,” gumamnya lirih.Ia menanggalkan sepatu, duduk di tepi ranjang, lalu memeluk lututnya sendiri. Perasaan yang datang bukan sedih. Juga bukan kehilangan yang menyakitkan. Lebih seperti kesadaran bahwa sebuah fase benar-benar ditutup —tanpa kata, apalagi tanpa perpisahan.Alan telah menepati ucapannya. Ia mencoba untuk melepaskan. Tidak seutuhnya, tapi memberikan jeda dan jarak. Tak ingin menganggu, yang hanya akan membuat sang istri semakin membenci. Malam itu, Felisha memasak sendir
Last Updated : 2026-01-08 Read more