Suara perawat dan instruksi medis terdengar terburu-buru dari balik tirai. Walaupun mereka berusaha meredam kebisingan, suasana tetap terasa kacau —monitor berbunyi lebih cepat, langkah-langkah cepat memenuhi koridor UGD.Erik berdiri tepat di depan tirai, wajahnya tegang. Gina menggenggam lengan bajunya, sama paniknya.Sementara itu, Alan masih terpaku di tempat. Tubuhnya kaku, seolah dipaku ke lantai. Matanya kosong, syok, dan dipenuhi sesuatu yang tidak pernah terlihat sebelumnya:Takut. Menyesal. Hancur.Kata-kata Felisha masih menggema di telinganya.“Erik … jangan pergi dulu…”Bukan namanya. Bukan suaminya. Bukan lelaki yang sudah ia nikahi secara sah. 'Yang ia panggil, adalah pria yang barusan berdiri melindunginya dariku,' batin Alan nyeri. Alan menutup wajah dengan telapak tangan. Napasnya kacau. “Astaga, Feli … apa yang sudah kulakukan padamu?”Di detik itu, keangkuhan dan sikap dominan Alan seolah lenyap tak terlihat. Sementara itu, di dalam bilik UGD, beberapa perawat be
Última actualización : 2025-12-05 Leer más