Pagi datang dengan langkah pelan. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar kos, jatuh tepat di wajah Felisha. Ia terbangun dengan napas yang lebih teratur dari hari-hari sebelumnya, seolah malam tadi benar-benar memberinya ruang untuk bernapas.Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring, mendengarkan suara kehidupan di luar —derap langkah penghuni kos lain, termasuk klakson samar dari jalan besar. Dunia tetap berjalan, dan untuk pertama kalinya, Felisha tidak merasa tertinggal di belakangnya.Ia bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Tangannya refleks menyentuh perutnya.“Pagi,” gumamnya lembut, nyaris seperti kebiasaan baru yang belum sepenuhnya ia sadari.Di meja kecil, ponselnya menyala. Tidak ada pesan baru dari Alan. Tidak juga dari Erik. Dan anehnya, keheningan itu tidak menyesakkan. Justru terasa seperti ruang kosong yang bisa ia isi dengan pilihannya sendiri.Felisha mengambil map berisi dokumen-dokumen penting—KTP, kartu mahasiswa, hasil pemeriksaan dokter. Ia men
Last Updated : 2025-12-17 Read more