Beberapa bulan kemudian, hidup Kanaya berjalan dengan ritme baru. Ia tidak kembali ke kehidupan lamanya. Ia membangun yang lain.Pagi-paginya kini diisi dengan ruang kelas kecil berwarna cerah. Dindingnya penuh gambar matahari, rumah, dan wajah-wajah dengan senyum lebar yang digambar tangan-tangan kecil.Kanaya duduk bersila di lantai, sejajar dengan anak-anak.“Kalau kamu merasa takut,” katanya lembut, “kamu boleh bilang. Takut itu nggak papa, kok.”Seorang anak perempuan mengangkat tangan, ragu-ragu. “Kalau takutnya lama?”Kanaya tersenyum, senyum yang tidak dibuat-buat. “Kalau lama, berarti takutnya butuh ditemani lebih lama juga.”Ia menjadi relawan trauma, bukan karena ingin menjadi pahlawan, tapi karena ia tahu rasanya tidak ditemani.Ia tidak berharap bisa menghapus luka anak-anak korban bencan. Ia hanya mengajarkan mereka cara hidup berdampingan dengan luka-luka itu tanpa perlu merasa tersakiti lagi, sampai suatu hari luka itu seperti tak terlihat lagi.Di luar jam relawan, Ka
Last Updated : 2026-01-30 Read more